<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099</id><updated>2011-07-08T06:42:27.729-07:00</updated><category term='Ide Tua - Ide Muda'/><category term='Blind&apos;s Communication'/><category term='Aku - Kampung - dan Saudaraku'/><title type='text'>HanHarsa</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>53</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-3535898660444650226</id><published>2010-08-17T15:21:00.000-07:00</published><updated>2010-08-17T15:24:09.081-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ide Tua - Ide Muda'/><title type='text'>Sang Juara Kelima ?</title><content type='html'>Perayaan Tujuhbelasan kali ini tak jauh berbeda ...&lt;br /&gt;Tetap ada berbagai perlombaan. Dari sekadar meniup balon yang murah meriah, hingga lomba futsal yang menghabiskan jutaan rupiah. Pesertanya pun beragam. Dari anak-anak kecil yang baru mengerti apa itu bendera merah putih, hingga para peserta pasca dewasa yang tak sadar kalau sepertiga rambut di kepalanya sudah memutih. Semua menikmati perlombaan. Semua menikmati pertandingan. Seakan Tujuhbelasan cukup berhenti pada pertanyaan siapa pemenang menyanyi mars perjuangan ? Siapa pemenang bola Pingpong ala kampung ? Tujuhbelasan adalah tentang kesan menjadi pemenang. Bangsa Indonesia merayakan kemenangan mereka merebut kemerdekaan. Semangat menjadi pemenang inilah yang perlahan-lahan menciptakan ‘gelembung sabun’ tak berkesudahan. Kita merdeka. Bangga. lalu apa ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tadi malam, saat pengumuman para pemenang lomba tingkat anak-anak disampaikan, ibu-ibu berdiri berjejer berdesakan. Aku terjepit diantara banyak ragam parfum dan wewangian. Sambil menghirup segala macam bau itu, aku rasakan kebanggaan mereka melihat dan menyaksikan anak-anak menerima trophy dan piala. Seorang ibu berkata, “itu anakku yang pake baju biru,” Lalu melanjutkan dengan nada jumawa, “Dia juara satu mengikat sepatu,”. Disusul mulut ibu yang lain, “Anakku juara lomba sepeda,”. Mulut yang lain tak kalah seru menimpali, “Si Nita juara menari lho, “. Ditengah-tengah gumam dan pengakuan itu, seorang ibu, bersuara padaku, “Itu anak saya pemenang lomba menggambar bunga,” Sudut mataku langsung melirik. Putih, cantik, untuk ukuran seusianya. Anak itu mendapat juara. Tapi urutan kelima ! lho kok ada urutan juara sampai lima ? Otak ku tidak terima dengan urutan juara kelima. Biasanya juara yang tampil hanya sampai urutan tiga. Juara satu, juara dua, dan juara tiga. Cukup. Kenapa harus ada juara lima ? Mengapa bisa begitu ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dasar indera etnografi, tak puas sampai disitu, aku bergeser menjauh dari mereka. Aku dekati seorang ibu panitia lomba kenalan baikku. Iseng berbisik aku bertanya padanya, “Mengapa harus ada juara lima segala ?” . Sambil tersenyum si ibu yang jadi panitia lomba itu menjawab,”Itu juara titipan dari ibunya kok mas!”. Juara Titipan ? istilah apa pula itu ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ternyata yang terjadi adalah setiap kali pengumuman lomba tingkat anak-anak seperti itu, ada saja ibu-ibu yang sengaja membeli trophy dan piala dari uangnya sendiri lalu dititipkan pada panitia. Pesannya : nanti nama anaknya disebut dan diumumkan sebagai salah satu juara ! Anaknya maju ke depan. Menerima trophy atau piala. Ibunya bangga lalu bertukar cerita. Alasan mereka sederhana, mau menyenangkan dan membuat gembira anaknya. Kalau itu sih aku percaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi yang nampak lebih berbinar-binar adalah sang ibu saat melihat anaknya diberi piala. Piala dari dirinya. Yang nampak lebih keluar sombong dan jumawanya adalah sang ibu pula. Yang justru berkoar-koar bercerita sana-sini adalah mulut sang ibu juga. Ini yang aku tidak percaya. Kok tega-teganya bergembira dan berbangga di atas keluguan dan ketidakmengertian anaknya yang erat-erat mencengkram piala ? Piala yang tentu dia tidak tahu berasal dari ibunya sendiri ? Lalu makna juara kelima berikut piala itu sesungguhnya untuk siapa ? Kebanggaan ibunya, atau menyenangkan anaknya ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bangsa ini memang sakit. &lt;br /&gt;Kebanggaan sang ibu berikut segala binar mata saat mengklaim anaknya juara nampak seperti potret ironi perjalanan bangsa Indonesia. Kebiasaan membelikan piala untuk diterima anaknya sebagai sebuah kebanggaan, mempersetankan kenyataan anaknya berprestasi atau tidak. Kalau saya bisa membelikan dia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trophy&lt;/span&gt;, kenapa harus susah-susah memaksa dia mengukir prestasi. Andai semua bisa dibeli karena kelimpahan uang dan kekayaan, apa susahnya hanya sekadar menetapkan diri sebagai pemenang. Aku jadi ingat Abraham Maslow dengan paradigma motivasi dan aktualisasi diri. Kata dia, kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan tertinggi, di atas pangan, sandang, papan, dan tentu saja kemewahan. Tapi aktualisasi diri tanpa prestasi sama saja dengan penyakit akut pembohongan diri sendiri. Lupakan proses, pengakuan lebih penting. Setelah kaya raya, gunakan kekayaan itu untuk mendapat pengakuan dan simpati kekaguman. Kalau sudah kaya raya, buat apa susah payah sekolah. Beli aja sekolahnya, lalu ciptakan sistem peringkat yang membuat diri sendiri berada di puncak. Toh yang penting adalah hasil akhirnya. Toh yang penting adalah kebanggaan saat pengakuan. Sistem pendidikan di negeri ini adalah sistem pendidikan dengan orientasi dramaturgi. Yang diutamakan bukanlah proses memperoleh dan mendapatkan pengajaran, melainkan hasil nilai tertinggi membanggakan dan diakui banyak orang. Tak perlu paham dan terlalu mengerti seluruh mata pelajaran yang ada. Cukup berjibaku mempelajari mata pelajaran yang menjadi subjek Ujian Nasional saja. Keberhasilan bukan ditentukan oleh tiga tahun proses belajar sebagai siswa SMP maupun SMU, melainkan beberapa hari saat tes mata pelajaran ujian nasional dilalui. Cukup belajar itu saja, dan kalau nilainya tinggi, akan meraih penghargaan luar biasa. Proses belajar sebagai sesuatu yang mengasyikkan, telah tergantikan dengan nilai akhir sebagai sebuah tujuan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bangsa ini memang sakit. &lt;br /&gt;Keinginan untuk terlihat hebat membuat setiap orang berusaha menciptakan manajemen impresi (manajeman kesan). Prinsip menabung untuk perlahan memiliki barang tidak lagi dikenang. Kenapa harus menunggu punya barang, kalau kita bisa berutang ? Kenapa harus menunggu punya mobil dan rumah baru, kalau kita bisa kredit dulu ? Seperti sudah kodratnya sebuah menajemen kesan. Yang utama adalah penampilan dan diri di mata orang. Sang ibu merasa anaknya akan bahagia karena berdiri di atas panggung dan menerima piala. Ada kebanggaan di sana. Namun sesungguhnya tanpa disadari dia telah menanamkan virus berbahaya pada pikiran anaknya. Paling tidak ada dua. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, dia mengajari anaknya untuk tidak perlu bersusah payah mengejar posisi tertinggi. Kalau semua bisa dimanipulasi untuk hasil akhir nanti, mengapa proses harus dijalani ? Toh ujung-ujungnya adalah kebanggaan diri. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, kebiasaan itu menempatkan anaknya untuk selalu terbiasa menjadi pemenang dan juara utama. Anaknya kelak tidak akan pernah mengenal posisi nomor dua. Dia selalu melihat dirinya nomor satu. Padahal perjalanan hidup dia nanti akan sangat mungkin menempatkan dia di nomor dua bahkan tiga. Karena hidup memang tidak selalu sempurna. Itu sangat berbahaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perjalanan bangsa ini memang ironis. &lt;br /&gt;Kita sebagai bangsa terlalu sibuk merayakan kehebatan partai politik dan lomba berkampanye sebagai yang terbaik. Tentu tak lupa liputan wartawan infotainment sebagai media menampilkan rupa kita di televisi. Berkoar-koar kita. Melupakan ledakan tabung gas di mana-mana. Bersandiwara kita, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Saling berdusta antara kita, untuk menutupi perilaku keji di sana-sini. Tak mengapalah segala keburukan itu disembunyikan. Toh kita bisa tutup dengan memperdengarkan lagu keberhasilan dan harapan. Toh kita bisa tetap santai menikmati angka pertumbuhan produksi minyak dan gas bumi untuk diekspor ke luar negeri, tanpa peduli fakta sulitnya rakyat kecil mencari minyak tanah walau harus berkelahi. Semua kebaikan lebih baik disiarkan dan berakhir di layar televisi. Bagaimana fakta dan kondisi sesungguhnya, itu perkara nanti ! Memang tak ada ironi yang lebih menyedihkan, selain ironi perjalanan bangsa ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu tibalah saatnya pengumuman pemenang lomba tari balet, seorang ibu lagi-lagi bersuara, nyaris berteriak, “itu si Nikita, dia juara favorit menari balet,” lagi-lagi mataku menghunjam panggung. Anaknya cantik, lumayan tinggi untuk ukuran anak 5 tahun, memakai kostum Balerina, mempesona. Dia sedang disalami oleh ketua RW yang didaulat memberikan piala. Piala erat dicengkramnya. Besar juga. Mungkin 30 senti hingga sedikit menutupi wajahnya. Asal tahu saja, juara favorit adalah posisi juara di atas juara satu, dua, dan tiga. Sangat istimewa. Tapi di mataku, tetap saja yang muncul wajah lugu. Perlahan sang ibu panitia disampingku berbisik, “Itu si Nikita juga titipan dari ibunya,” sambil tersenyum dia lanjutkan, “Padahal dia sendiri tidak ikut saat acara lomba !” hah ?.... gubbraak ...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Baciro, Agustus 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-3535898660444650226?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/3535898660444650226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=3535898660444650226' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/3535898660444650226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/3535898660444650226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/08/sang-juara-kelima.html' title='Sang Juara Kelima ?'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-1481271871622480215</id><published>2010-08-14T17:11:00.000-07:00</published><updated>2010-08-14T17:12:41.315-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blind&apos;s Communication'/><title type='text'>Keong Racun &amp; Media Baru</title><content type='html'>Mulut kumat kemot&lt;br /&gt;Matanya melotot&lt;br /&gt;Lihat body semok&lt;br /&gt;Pikiranmu jorok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memelototi ulah nakal Shinta &amp; Jojo di Youtube, saya sedikit menikmati lirik lagu “Keong Racun” yang mereka bawakan secara lipsync. Entah sengaja atau tidak, upaya merekam diri seperti yang dilakukan Shinta &amp; Jojo menurut saya jauh lebih baik daripada apa yang dilakukan Ariel Peterporn. Keduanya sama sekali tidak bermaksud untuk menyimpan karya iseng itu sebagai manifestasi keakuan dalam konteks narsis. Mereka memilih untuk meng-upload gerak-gerik nakal di ruang tamu sebuah rumah di gang sempit kota Bandung di situs Youtube. Sengaja untuk menyebarkan, tanpa esensi mencari keuntungan dan popularitas. Diakui mereka bahwa tindakan itu iseng ala remaja-remaja semata, yang butuh ekspresi dan menemukan salurannya melalui media baru (new media). Media baru yang membuat Ariel menghuni penjara. Media baru yang membuat Shinta &amp; Jojo terkenal tanpa mereka sangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang dari situlah segala sesuatunya bermula… &lt;br /&gt;Yang mereka tidak sangka-sangka, wajah menarik, perilaku unik dengan gaya lepas dan bermain (ludens) yang mereka pertontonkan di Youtube itu membuat penggila dunia maya tertarik. Bahkan kata kunci Keong Racun sebagai judul lagu itu menempati posisi teratas dalam mikroblogging twitter beberapa waktu lalu. Padahal lagu itu sudah diciptakan 3 tahun lalu. Sudah dibuat video klip nya pula dengan penyanyi asli bernama Lissa. Namun fenomena yang muncul kemudian sangat unik. Si Charly ST 12 khabarnya sampai menggedor-gedor pintu rumah Buy Akur, sang pencipta lagu Keong Racun, di tengah malam. Charly bernafsu sekali membuat kesepakatan agar bisa menggubah ulang lagu itu (aji mumpung, tentunya). Group musik RAN memperbolehkan Shinta &amp; Jojo untuk menyanyikan lagu-lagu mereka (mengikuti jejak populer, maksudnya). Sementara si Lisa, sang penyanyi asli lagu itu menyesalkan, mengapa Charly ST 12 tidak mau menjadikan dirinya sebagai penyanyi latar dalam aransemen ulang lagu tadi (ini sih harapan, namanya). Pada akhirnya, bang Buy Akur sendiri berniat untuk ’mengunjungi’ Shinta &amp; Jojo, untuk mengucapkan ’terima kasih’ (rejeki nomplok, tentunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari situlah memang segala sesuatunya menjadi perkara...&lt;br /&gt;Bagi seorang Ariel, keberadaan media baru segera menggeser ranah privat yang menjadi urusan ’bawah perut’ dia menjadi ranah publik urusan ’polisi dan penjaga moral bangsa’. Niat menyimpan segala kenangan sebagai wujud keterkenalan dan keakuan dalam bentuk video ternyata burujung kehancuran karier dan popularitas positif diri. Imbasnya sangat negatif. Bagi duo Shinta &amp; Jojo, keberadaan media baru juga merubah ranah privat urusan ’iseng-iseng’ di ruang tamu, menjadi ranah publik urusan ’politik dagang’ hak cipta dan rejeki industri musik. Niat untuk sekadar lipsync dengan berekspresi bebas seadanya berujung pada ketertarikan media, industri, dan artis-artis ternama pada sosok mereka. Imbasnya sangat positif, minimal bagi mereka berdua. Dua imbas media baru ternyata memiliki implikasi yang jauh berbeda. Sangat disesali bagi Ariel, sangat disyukuri bagi Shinta &amp; Jojo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang begitulah media baru adanya...&lt;br /&gt;Sifat media baru yang menjadikan personal individual selayaknya sebuah institusi komunikator melembaga, membuat produsen pesan sangat mudah terjerembab pada posisi ironis. Maksud hati mungkin sekadar main-main, namun imbas tersebarnya informasi justru mematikan eksistensi. Maksud hati mungkin ingin sekadar nampang, namun akibatnya membuat masuk dalam masalah tak berkesudahan. Posisi ironis ini bermula dari kurang dipahaminya sifat media baru. Begitu cepat menyebar, begitu cepat pula buyar. Mengapa demikian ? sifat informasi yang disampaikan media baru adalah sekilas. Maksudnya segala sesuatu yang disampaikan begitu cepat terlewat dalam memori banyak orang. Begitu cepat terlewat karena dia begitu banyak. Tak terhitung dan tak terhingga. Saking banyak dan tak terhingganya, orang tidak bisa lagi memilih mana yang harus disimpan dalam waktu yang lama, dan mana yang sekadar singgah dan dilewatkan begitu saja. Artinya hanya dibutuhkan sebuah ’kebakaran yang lebih besar’ untuk mengalihkan perhatian dari sebuah ’kebakaran yang lebih kecil’. Hanya masalah siapa yang ’mencuri kambing’ untuk menyembunyikan ’pencuri ayam’. Namun efek rotasi media baru ini sangat berimbas pada sosok produsen pesan alias komunikator tadi. Metamorfosis media konvensional menuju media baru terbukti mempercepat penciptaan dan konstruksi ’kebakaran besar’ dan ’pencurian kambing’ itu tadi. Dalam laporannya tentang fenomena twitter, Kompas telah menyebut akselerasi media ini sebagai sebuah revolusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itulah memang yang telah dirasakan oleh Shinta &amp; Jojo...&lt;br /&gt;Saat saya mengetikkan kata kunci Keong Racun pada mesin pencari Google pagi ini, sebanyak 854.000 daftar web terhampar di depan saya. Dari situlah bisa dikatakan bahwa fenomena penggunaan media baru paling tidak menjadi jalan unik bagi Shinta &amp; Jojo untuk menjadi terkenal. Sebuah media yang mungkin tidak disadari namun hadir sebagai realitas sosial keseharian kita saat ini. Mungkin tak perlulah menggunakan media baru dengan gaya seperti Ariel Peterporn, cukup dengan menghadirkan diri sewajarnya dan memancing kontroversi seperti mereka berdua. Apabila memang disadari media baru lebih cepat menciptakan dan mengonstruksi dengan efek dua sisi mata uang (baik dan buruk) maka apa yang dilakukan Shinta &amp; Jojo minimal memberi contoh positif dari pemanfaatan media baru itu. Hal yang sama dulu pernah terjadi dan mampu mendongkrak serial Marimar. Jadi apabila masih ada sisi positif dari media baru, mengapa tidak dimaksimalkan dan menjadi ranah kajian menarik ? Minimal bisa dilakukan saat mata saya memelototi cantik dan nakalnya gaya Shinta &amp; Jojo, sambil otak saya terus mencerna lirik lagu Keong Racun (yang sungguh menyinggung saya secara pribadi)....wuak kk kk ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentang-mentang kokai&lt;br /&gt;Aku dianggap jablay&lt;br /&gt;Dasar koboy kucai&lt;br /&gt;Ngajak check-in dan santai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorry sorry sorry jack&lt;br /&gt;Jangan remehkan aku&lt;br /&gt;Sorry sorry sorry bang&lt;br /&gt;Ku bukan cewek murahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidakara, Agt 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-1481271871622480215?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/1481271871622480215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=1481271871622480215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/1481271871622480215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/1481271871622480215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/08/keong-racun-media-baru.html' title='Keong Racun &amp; Media Baru'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-5209717632794711395</id><published>2010-08-14T15:49:00.000-07:00</published><updated>2010-08-14T15:53:24.852-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ide Tua - Ide Muda'/><title type='text'>Wanita dan Betina : Mengundang Asa !</title><content type='html'>Betina memang selalu begitu ...&lt;br /&gt;Dia dekap aku dengan maksud memberikan keharuman dan kewangian badan. Keharuman tersaput lulur satu jam barusan. Meski dia tahu bahwa rangkaian slide power point di depanku masih menuntut penuntasan. Dia jadikan diri stimulan. Aku tersenyum. Menoleh. Menemukan wajah penuh gairah. Pelan, kutelusuri bibir itu dengan nakalnya lidah. Praktis ada hal lain yang juga menuntut untuk dituntaskan. Dia memelukku dari belakang. Pengalamanku memberi sinyal tentang sesuatu yang membuncah. Menunggu untuk dijamah. Biasanya aku tidak akan memberi jeda. Aku tidak akan membuat waktu terbuang percuma. Apalagi dengan keharuman lulur mandi. Sesegera mungkin kutuntaskan dan kuakhiri. Yang ada di otakku begitu mudah dinalar dan dilakukan, di 206 semua itu dimungkinkan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita tidak sesederhana itu ...&lt;br /&gt;Sambil menyeruput bir dingin dalam cawan, ekor mataku memperhatikan wajahmu. Tak tercium keharuman yang mengundang. Meski aku tahu dia baru saja bertabur sabun dalam bath tub jam dua malam. Wajahnya bersinar menandakan kecerdasan. Sedikit nampak jiwa yang kelelahan. Namun tetap saja tak tercandra sempurna. Persepsi memang tak pernah mampu mengakhiri diri. Aku mulai lontarkan kata membuka wacana. Tak ada sentuhan. Apalagi ciuman. Aku lebih suka mendengar lontaran kata cerdas dari bibirnya, ketimbang harus mengganyang bibir itu dengan ciuman penuh nafsu. Disamping itu, belum tentu dia mau ? Kenapa aku harus melakukan itu kalau aku yakin akan berakhir dengan malu ? Tak ada pesan atas hasrat yang tersampaikan. Sebagaimana pangalaman memberi pelajaran, aku akan terus ikuti wacana dan konsensus yang telah terpetakan. Yang ada di otakku begitu sulit untuk dinalar, terlebih untuk dipraktekkan. Meski mungkin segala konteks tempat dan waktu memungkinkan, di 152 tak perlulah semua itu dilakukan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amarah Betina memang begitu gampang terlampiaskan ...&lt;br /&gt;Bercerita dia tentang kondisi terpuruknya sehabis dibohongi sang mantan. Katanya, lelaki itu bajingan ! Setelah puas meniduri dan menghabisi rasa kasihnya sebagai sebuah investasi, ternyata lelaki itu memiliki anak dan istri. Menangkap asa dia ikuti lelaki itu ke Jakarta. Menahan geram setelah tahu hanya menjadi simpanan, tempat semua sperma dimuncratkan. Pantaslah kemudian dia menumpahkan segala kekesalan dan dendamnya di atas tubuhku. Dia nikmati aku. Dia lampiaskan amarah dengan menunda dan menunda ejakulasi. Dia ingin mempermainkanku. Sesedikit mungkin dia tahu aku begitu menikmati. Aku tak perduli. Dan tak perlulah dalih itu, aku selalu menikmati setiap permainan. Menikmati setiap sesi peralihan gaya dan gerakan. Mengikuti setiap ritme yang disodorkan. Menikmati wajah tersaput marah. Mata yang menatap sinis penuh jengah. Aku biarkan dia memuaskan diri. Aku sediakan diri menjadi objek kegamangan dan kelabilan. Toh aku berpikir bahwa ini hanya sebatas perpaduan Lingga dan Yoni. Seperti halnya aku menghayati Psikoanalisis Freud tentang cinta yang tak lebih dari sebuah kontak bodi mencari esensi. Tanpa pretensi main hati. Toh di 206 semua insting dan naluri bisa dilakoni.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misteri wanita tak mudah terpecahkan ....&lt;br /&gt;Bercerita dia tentang posisi esensialisnya. Sebuah posisi yang lahir dari patahan-patahan perjalanan hidup. Sebuah perjalanan hidup yang menurutku masih menunggu sebuah illuminati. Terperangkap pada kesemuan dan garis batas kekakuan. Dimana posisi objek dianggap subjek. Penuh keyakinan, namun memancing rasa kasihan. Tanpa kegeraman dia juga bercerita tentang sosok lelaki bajingan. Yang menutupi belang dengan kembang setaman. Aku bayangkan wajah lelaki itu sama seperti rupa Harut &amp; Ma’rut, sepasang malaikat yang diuji menjadi manusia. Munafik di setiap sudutnya. Kala itu, dia masih terlalu muda untuk mengerti dunia. Kala itu, dia masih terlalu rapuh untuk tidak tersimpuh. Kala itu, dia selalu mencoba berdamai dengan fenomena. Menahan asa dia tanggung derita. Menahan geram dia bereskperimen dengan tubuhnya. Mencoba mengurai definisi dari sebuah kata otonomi. Dari semua itu, bagiku langkah-langkahnya akan terbalut misteri. Mencari sesuatu yang samar. Sekaligus mudah tergelincir pada titik sumir berbuah getir. Otakku berupaya keras mencerna setiap kata. Meladeni benturan dua dunia. Mencoba menciptakan kotak diantara tesa dan antitesa. Tapi otakku buntu. Teringat Sartre yang cuma menawarkan dua area : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;being&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nothing ?&lt;/span&gt;  Setiap kali kita menoleransi menciptakan sintesa antara keduanya, kita akan masuk dalam labirin misteri. Bagaimana mungkin mendamaikan esensi dan eksistensi ?  Saat dia terus berusaha mendamaikan dua titik itu, dia akan membulatkan diri menjadi misteri tanpa henti. Ruang tiba-tiba menjadi penuh dengan segala panasaran dan pertanyaan tanpa jawaban. Satu hal yang bisa kusimpulkan, ini permainan keliaran pikiran. Begitu mengasyikkan. Aku tidak boleh memuaskan dan terpuaskan. Jangan dihentikan ! Ruang 152 memberi pelataran, bahwa semua masih mungkin dilanjutkan. Karena misteri memang tidak menuntut ejakulasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita dan Betina memang berbeda ...&lt;br /&gt;Keduanya menuntut ketepatan kadar dan ketepatan rasa yang tidak sama. Menikmati permainan adalah sejumput energi agar semua bisa berjalan. Berganti stimulus dan respon tanpa ada paksaan. Tiba-tiba aku teringat wajah arif Johan Huizinga. Sejarawan Belanda ini memberi empat ciri tentang permainan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, permainan itu suatu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;voluntary activity&lt;/span&gt; (aktivitas yang dilakukan sukarela), di dalamnya terkandung makna kebebasan tanpa tekanan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, bermain selalu dipandang bukanlah sungguhan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;play is not “ordinary” or “real” life&lt;/span&gt;). Dalam konteks permainan, pihak tertentu merasa bahwa apa yang sedang dimainkan bukanlah sebuah realitas kehidupan sesungguhnya ; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketiga&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, permainan itu secludedness, dia adalah keterbatasan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;limitedness&lt;/span&gt;). Sebuah permainan hanya dimainkan dalam batas-batas waktu dan tempat tertentu. Ia berlangsung dan bermakna dalam dirinya sendiri. Keempat, permainan menciptakan ketertiban (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;order&lt;/span&gt;). Bahkan ia adalah ketertiban itu sendiri. Dalam sebuah permainan, seluruh pihak yang bermain harus taat pada sebuah aturan khusus yang harus dipatuhi. Ketidakrelaan mengikuti aturan membuat permainan tidak bisa lagi dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, Betina adalah tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;not ‘ordinary’ or ‘real’ life&lt;/span&gt; , Wanita adalah tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;order&lt;/span&gt; dan kesepakatan. Berinteraksi dengan keduanya harus dijalani dengan prinsip &lt;span style="font-style:italic;"&gt;voluntary activity&lt;/span&gt;. Namun paling tidak aku semakin menyadari bahwa entah itu wanita, entah itu betina harus disentuh dengan dawai limitedness (keterbatasan). Sebab di situlah terletak kenikmatan permainan sebagai sebuah misteri tak berkesudahan. Semakin dibatasi, dia akan menuntut keliaran. Semakin dikekang, dia akan menerjang. Pada titik ini,  entah satu lima dua ataupun dua kosong enam hanya menyisakan keterbatasan. Keterbatasan atas waktu dan ruang. Yang masih menunggu untuk dilanjutkan. Berisi setumpuk asa yang digemakan. Sebuah asa akan permainan memabukkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda berbeda saran, atau hanya sebuah gumam ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustus, 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-5209717632794711395?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/5209717632794711395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=5209717632794711395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/5209717632794711395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/5209717632794711395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/08/wanita-dan-betina-mengundang-asa.html' title='Wanita dan Betina : Mengundang Asa !'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-434474591463859541</id><published>2010-07-20T20:41:00.000-07:00</published><updated>2010-07-20T20:55:22.338-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ide Tua - Ide Muda'/><title type='text'>Inception : Bermimpi Menonton Film Tentang Mimpi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“it (dream) is a perfectly valid psychic phenomenon, &lt;br /&gt;actually a wish-fulfilment”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Sigmund Freud, 1950)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi hampir selalu merupakan pemenuhan harapan. Dia memberikan daya katarsis atas beragam ketidakpuasan yang terjadi dalam dunia nyata. Namun bagaimana andai kita tidak bisa lagi membedakan dengan tegas mana dunia nyata dan mana dunia mimpi ? bukankah kemudian daya katarsis itu sendiri akan kebingungan untuk memilih objek mana yang akan diambil ? Christopher Nolan menghadirkan ketipisan dua realitas itu dengan cerdas melalui film menariknya, ‘Inception’. Bercerita tentang mimpi, film ini layak membuat kita mengaduk-aduk segala akar teoretis psikoanalisis yang didirikan Sigmund Freud (1856-1939). Dalam upaya menjelaskan sisi tergelap kehidupan manusia, Freud sampai pada kesimpulan betapa banyaknya perilaku manusia yang dituntun oleh motif-motif tidak sadar. Insting yang tidak terlalu berbeda dengan kondisi hewan. Tesis besar Freud adalah tentang ketidaksadaran (uncenciousness) yang menjadi dasar perilaku manusia, namun selalu diingkari oleh manusia itu sendiri. Ini tidak terlepas dari fase kemajuan pola pikir manusia untuk terus merenungi dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan paradigma rasionalistik yang dikumandangkan Rene Descartes (1596-1650) melalui diktum ‘berpikir’nya, membuat hampir setiap orang di abad ke-19 selalu berpikir bahwa manusia adalah sosok yang selalu memiliki akal sehat. Dengan akal sehatnya itulah manusia menjalani hidup hari demi hari. Hasil dari bekerjanya akal sehat adalah seluruh perilaku yang terkontrol, tertata, dan bisa terkendali sedemikian rupa. Freud hadir dengan sebuah antitesis. Manusia menurutnya adalah makhluk yang selalu dipenuhi dengan insting-insting tidak sadar. Banyak motif yang tidak bisa dijelaskan atas sebuah perilaku tertentu. Kemarahan, kebinalan, kesedihan, atau perilaku-perilaku tidak sesuai norma dan tata susila kemasyarakatan terus saja terjadi. Padahal katanya manusia adalah makhluk yang memiliki kekuatan menata diri dan masyarakatnya. Apa yang bisa menjelaskan beragam kasus pembunuhan, pemerkosaan, perzinahan, perampokan, dan beragam kasus yang dinilai negatif lain ? Freud sampai pada kesimpulan adanya energi terdalam dari manusia untuk melepaskan naluri-naluri kebinatangannya. Naluri yang selama ini terus menerus ditekan dan diawasi oleh gengsi kebernalaran manusia itu. Naluri yang dikendalikan terus oleh seperangkat norma dan aturan kemasyarakatan. Sisi yang pertama tercipta karena keberadaan akal manusia (ini sangat didukung oleh isi seluruh kitab-kitab agama Samawi). Sisi yang kedua tercipta karena bentukan budaya sebagai penanda manusia memiliki sensitifitas kemajuan melebihi binatang. Namun menurut Freud, keberadaan dua hal terakhir ini sama sekali tidak otomatis menghilangkan kekuatan instingtif manusia tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada diri manusia selalu ada keinginan untuk bebas melakukan apa saja. Bebas berbuat apa saja. Pokoknya apapun yang diinginkan selalu harus tertuntaskan. Termasuk bila perilaku itu sangat tidak sesuai dengan tata nilai dan aturan yang berlaku. Motif yang kuat inilah sepanjang sejarah manusia harus terus ditekan. Pada saat-saat tertentu dia boleh dilakukan melalui keabsahan dan apologi ala manusia. Membunuh diperbolehkan sejauh dalam tema peperangan, merampas diperbolehkan dalam konteks telah berkuasa atas tanah jajahan, memuaskan nafsu syahwat difasilitasi dalam konteks poligami, serta beragam apologi hasil olahan intelektual manusia. Namun, bila dicermati energi dasarnya tetap sama, gelap, hitam, dan penuh aroma kebinatangan. Sejauh dia terus ditekan, demikian Freud, energi ini akan terus berada di alam bawah sadar. Bagaimana katarsis agar tidak terjadi ketegangan pada diri manusia, sekaligus agar energi itu tetap tertumpahkan, sementara masyarakat dan gengsi manusia tetap terhargainya ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi menjadi jawaban Freud atas pertanyaan esensial tersebut. Pada mimpilah kita menemukan ‘jalan keluar’ sebagai katarsis atas kuatnya desakan energi utama tadi. Sebagai sebuah energi, dia akan mencari jalan keluarnya sendiri. Pada titik inilah tesis Freud semakin menarik. Manusia bukan hanya tidak memiliki kekuatan untuk menginventarisasi energi utama itu tadi, melainkan manusia juga tidak memiliki kontrol untuk mengatur kapan katarsis itu bisa dihadirkan. Artinya, disamping kita tidak bisa menjelaskan insting dan hasrat apa saja yang ada dalam benak kita yang meminta dipuaskan, kita juga tidak memiliki kekuatan untuk bermimpi agar desakan untuk melampiaskan insting tadi di alam nyata terwakili di alam mimpi. Tidak ada kekuatan untuk mengatur dan mengontrol mimpi. Tesis besar inilah yang dijungkirbalikkan Nolan. Tokoh utama dalam ‘Inception’, Cobb (Leonardo DiCaprio) bukan cuma bisa mengatur mimpi. Dia bisa mencuri mimpi orang lain !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi yang menurut Freud menjadi sebuah aktivitas alam bawah sadar itu sendiri, diangkat kepermukaan alam sadar oleh Cobb. Menggunakan alat berteknologi canggih, tim Cobb memasukkan obat ke dalam tubuh seseorang. Secara kimiawi, obat inilah yang memancing saraf untuk menciptakan mimpi sesuai dengan harapan setiap orang yang diinjeksi. Mimpi yang konsensusnya dianggap berada di luar kekuasaan manusia, telah mampu diciptakan oleh Cobb. Yang jauh lebih menarik lagi, dengan obat sedatif itu seseorang bisa meminta bermimpi lagi saat mereka tengah bermimpi. Jadi ada dua lapis mimpi ! ide ini sama sekali tidak terpikirkan, bahkan mungkin tidak pernah hadir dalam mimpi Freud ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tesis Freud, apabila kita bermimpi maka kita hanya memiliki dua realitas. Mimpi terjadi saat kita sedang tertidur sebagai realitas kedua. Apabila kita terbangun, maka kita menjadi sadar bahwa kita tengah bermimpi. Keterbangunan kita mengembalikan kita kepada realitas pertama. Realitas utama yakni kehidupan nyata. Mudah sekali untuk membedakannya. Namun dengan menggandakan tingkat mimpi, Nolan telah menghadirkan sebuah realitas maya lain dalam sebuah realitas maya. Pertanyaannya, lalu yang mana dari realitas itu yang muncul sebagai sebuah harapan ? apakah mimpi utama (tingkat satu) atau mimpi tingkat dua ? Meskipun terkesan mengada-ada, Nolan telah menghadirkan betapa rumitnya harapan manusia di abad 21 ini. Apabila mimpi pertama menjadi upaya pemenuhan harapan, maka mimpi kedua adalah sebuah pemenuhan harapan dari tidak terpenuhinya harapan di mimpi pertama. Artinya, mimpi pertama tidak cukup menuntaskan kebutuhan terpenuhinya harapan, dia harus ditindaklanjuti oleh katarsis tingkat lanjut di mimpi kedua. Berlapisnya harapan ini menandakan betapa kompleksnya hidup manusia dalam dunia, sehingga jangan-jangan saat kita merasa sudah terbangun (kembali ke dunia nyata) ternyata kita baru tersadar dari mimpi kedua menuju mimpi pertama. Jadi sesungguhnya kita masih bermimpi. Lalu, andai mimpi itu sendiri sudah menembus lapisan ketiga, maka saya membutuhkan tiga kali bangun untuk sampai pada realitas nyata. Lalu siapa yang bisa meyakinkan bahwa saya telah sampai pada realitas nyata yang utama ? Kesadaran Ariadne saat berbincang dengan Cobb di sebuah kafe di pinggir jalan kota Paris sebagai sebuah mimpi, ditindaklanjuti untuk masuk kembali dalam mimpi lapisan kedua. Meskipun ini ditentang oleh Cobb, namun tetap ada kemungkinan mimpi di lapisan kedua. Sebuah lapisan ketidaksadaran baru yang lahir dari kesadaran atas mimpi pertama. Demikian seterusnya, tercipta lapisan simetris atas kesadaran mimpi dan ketidaksadaran mimpi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi yang bisa dikontrol yang hadir karena kesadaran tentang mimpi pertama menunjukkan adanya upaya pemenuhan harapan lebih lanjut dari sebuah ketidak-utuhan pemenuhan harapan di level pertama. Hadirnya kemungkinan pemenuhan kebutuhan sistem berlapis itu tadi mengindikasikan kompleksnya kebutuhan insting manusia modern yang dikatarsisi oleh mimpi. Semakin tinggi harapan yang muncul karena kompleksitas kebutuhan itu, semakin seringlah manusia bermimpi. Pada titik yang semakin mengkhawatirkan, manusia tidak mau lagi terbangun dari mimpinya. Atau saat dia merasa telah bangun, dia sebenarnya tengah berada dalam lapisan mimpi tertentu yang sebenarnya belum menghadirkan dia ke realitas nyata. Akhirnya manusia benar-benar hidup di alam mimpinya. Tragedi yang dialami oleh Cobb karena istrinya, Mal (Marion Cotillard) tidak mampu lagi membedakan mana realitas mimpi dan realitas nyata menunjukkan ketidakmampuan manusia untuk mengontrol satu hal utama : harapan. Mal begitu memiliki harapan untuk hidup terus bersama Cobb sampai mereka tua. Dia merasa tengah bermimpi dalam sebuah dunia yang sebenarnya nyata. Untuk membangunkannya, dia harus bunuh diri. Dari sinilah segala petaka hidup Cobb berawal. Bermula dari sebuah ide sederhana dengan konsekuensi dan implikasi luar biasa. Membuat binasa. Ide itu adalah bahwa apa yang kamu rasakan, kamu alami, kamu nikmati adalah sesuatu yang tidak nyata. Imbasnya adalah kita hanya hidup di alam mimpi, yang celakanya tidak pernah nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini, saat kaki saya melangkah keluar dari gedung bioskop sehabis terpesona oleh visual efek ‘Inception’, hati saya bertanya gundah : “Apakah saat ini saya telah betul-betul bangun dari sebuah mimpi yang bernama kehidupan ?”, Kapankah saya benar-benar terbangun dari mimpi buruk tentang kenaikan harga-harga, meledaknya tabung gas di mana-mana, dan koruptor yang menghabisi uang negara ?, “Jangan-jangan saya hanya tengah bermimpi hidup di Indonesia, sebuah negeri yang tidak pernah lagi memberi rasa bangga ?” “Jangan-jangan saya hanya bermimpi telah menonton “Inception” ? ”, &lt;br /&gt;Entahlah ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepi Kali, Juli 19&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-434474591463859541?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/434474591463859541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=434474591463859541' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/434474591463859541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/434474591463859541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/07/inception-bermimpi-menonton-film.html' title='Inception : Bermimpi Menonton Film Tentang Mimpi'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-5833990271385891146</id><published>2010-07-11T21:09:00.000-07:00</published><updated>2010-07-11T21:15:04.578-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ide Tua - Ide Muda'/><title type='text'>Mengapa Saya Ingin Belanda Juara ?</title><content type='html'>Dalam laga final piala dunia 2010 tadi pagi (pukul 02.00 WIB dinihari) saya sejak awal selalu menjagokan Belanda yang muncul sebagai pemenang. Saya tahu bahwa pilihan ini mengandung resiko. Resiko &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt; saya kelihatan begonya, karena mungkin saja pasukan Belanda memiliki tingkat keahlian di bawah tim Spanyol. Saya tidak perduli dengan itu. Resiko &lt;em&gt;kedua &lt;/em&gt;saya dianggap tidak memiliki sensitifitas kebangsaan dan nasionalisme. Bekas penjajah kok didukung ! Saya tidak ambil pusing dengan anggapan itu. Yang pasti keinginan saya sejak awal mendukung Belanda andaikata dia bertanding dalam laga final melawan Spanyol, lebih didasari oleh keinginan untuk mengutarakan dua hal mendasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, saya ingin sekali melihat Belanda menang agar segala wujud ramalan dan separuh kebodohan manusia di dunia ini agak terpatahkan. Mengapa ? saya terlalu benci dan sangat tidak mengerti bagaimana bisa seekor Gurita bisa dijadikan referensi atas nasib sebuah negara dalam ajang sekaliber piala dunia ? Ini tentang sosok Paul. Si Gurita peramal. Makhluk ini dipercaya memiliki kemampuan semacam indera keenam untuk meramalkan negara mana saja yang akan muncul menjadi pemenang saat akan bertanding. Caranya di dalam aquarium yang menampung si Paul diletakkan dua kotak yang pada masing-masing kotaknya disematkan bendera negara bersangkutan. Nanti pelan-pelan si Paul ini akan turun dan akan cenderung memilih untuk memeluk (atau apalah istilahnya) salah satu kotak dengan bendera tertentu itu. Nah kotak dengan bendera yang dipilih si Paul lah yang dipercaya akan memenangkan pertandingan. Ini terjadi ketika Uruguay lawan Ghana, Jerman melawan Argentina, Jerman melawan Spanyol, dan beberapa pertandingan lain. Kebanyakan memang pelukan (atau apalah kita menyebutnya) si Paul tepat dengan kenyataan. Ini berarti pilihan kotak si Paul dianggap sebagai komunikasi eksplisit Paul meramal negara yang akan menang. Ini dianggap kemampuan supranatural yang langka. Banyak orang begitu yakin dan percaya. Si Paul menempati urutan selebritis yang selalu diberitakan. Bahkan menjelang ajang tanding Spanyol dan Belanda kemarin, Menteri Luar Negeri Spanyol bermaksud untuk memberikan perlindungan ‘khusus’ kepada Paul. Saya benar-benar tertawa. Tak habis mengerti. Terlepas dari tingkat probabilitas yang sangat sederhana (Paul khan hanya memilih salah satu : kalau tidak kotak A ya otomatis kotak B), sejak awal saya sudah menertawakan kepercayaan orang-orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman yang sudah sangat modern dan rasional ini, ternyata bukan cuma Indonesia yang terlalu gandrung dengan hal-hal yang gaib. Kalau di Indonesia saya tidak lagi bisa tertawa saat melihat begitu banyak orang yang sangat percaya lalu berbondong-bondong mendatangi rumah si Polari (Jawa Timur) untuk mendapat berkah dari batu mujizatnya. Saya tidak lagi bisa tertawa saat menyaksikan orang menyembah-nyembah ‘Jenglot’ untuk mendapatkan kesaktian ataupun kekayaan. Namanya saja Indonesia. Negeri dengan seribu takhayul dan seribu sinetron berisi wujud ular dan naga raksasa kelayaban di tengah kota. Tentu saya tak bisa lagi tertawa. Namun kalau itu juga terjadi pada level internasional dan melanda negara-negara tempat lahirnya Rene Descartes, Enstein, Galileo, Columbus, Marcopolo, dan beribu orang lagi yang berjuang mati-matian mematahkan mitos dan takhayul atas ramalan tak jelas atas dunia, saya jelas tertawa terbahak-bahak. Seperti halnya ramalan suku Maya yang lalu dibumbui di sana-sini. Antara mitos, takhayul, dan kekuatan ilmiah ilmu pengetahuan memang saling berlomba mendapatkan posisi dan popularitas di mata manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan kemenangan Belanda sebenarnya lebih dilandasi oleh keinginan melihat tumbangnya ramalan si Paul itu tadi. Mengingat dalam beberapa hari sebelum laga final Spanyol vs Belanda digelar, si Paul sudah yakin (katanya) memeluk kotak berbendera Spanyol. Paul meramal Spanyol akan menggilas Belanda. Publik pun lalu percaya. Apalagi kelakuan si Paul selalu jadi sorotan media massa. Pasar taruhan pun tiba-tiba jadi jomplang (miring). Begitu banyak yang menjagokan Spanyol. Belanda menjadi underdog. Tim dengan pendukung moral sangat sedikit. Terlepas dari akurasi perhitungan teknis dan keajaiban di tengah lapangan, ramalan si Paul turut mempengaruhi keyakinan seseorang. Bagi mereka yang enggan untuk menyuarakan jagonya, bekerjalah prinsip spiral of silent. Kalau diam berarti memberikan dukungan. Hampir semua pasar taruhan di facebook menjagokan Spanyol. Efek menarik tentu saja bertambahnya rasa percaya diri pada kelompok David Villa ini. Si Paul artinya memberi andil. Ditambah dengan kemenangan 1-0 Spanyol atas Belanda, maka ramalan si Paul semakin dianggap keramat dan tepat. Dunia kembali jatuh dalam keyakinan semu dan takhayul. Percaya pada seekor binatang. Lihatlah kalender, lalu catat bahwa hal ini terjadi hari ini, di abad 21. Abad di mana internet dan penerbangan ke luar angkasa menjadi seperti tamasya biasa. Lalu di mana akal sehat kita ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa begitu besar harapan saya agar Belanda keluar sebagai juara piala dunia 2010. Andai yang terjadi demikian, maka segala ramalan dan keyakinan atas perilaku si Paul akan terpatahkan. Semua akan kandas. Mungkin saja dengan salahnya ramalan itu, publik akan melihat dan menyadari bahwa setepat-tepatnya ramalan Paul, toh ternyata dia hanyalah SEEKOR GURITA ! binatang yang tak berotak, apalagi mengerti sepakbola. Jadi ingat perilaku kemampuan menjumlah dan menghitung lumba-lumba di Ancol tempo dulu. Waktu kecil saya terkagum-kagum sambil geleng-geleng kepala,”masak sih binatang bisa matematika ?”. Setelah besar baru saya tahu ternyata si lumba-lumba hanya menjalankan instruksi (non verbal) dari sang pelatih yang memberikan insyarat berapa kali sang lumba-lumba harus menghempaskan ekornya sebagai hasil penjumlahan dan pengurangan angka yang dituliskan di papan kala itu. Setelah tahu itu, saya tetap kagum sambil geleng-geleng kepala, “pintar sekali si pelatih membohongi kita, “ he he he he &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, saya ingin sekali melihat Belanda menang dalam pertandingan final 2010 karena tidak terlalu percaya bahwa suara orang banyak adalah suara Tuhan (&lt;em&gt;Vox populi, vox dei&lt;/em&gt;). Saat itu saya begitu tidak mengerti kenapa begitu banyak orang yang menjagokan Spanyol. Padahal dari statistik pertandingan demi pertandingan di laga World Cup ini, Sponyol tidak menunjukkan performa sebagai tim yang hebat. Jarang ada hasil pertandingan mereka yang spektakuler. Jumlah gol juga tidak seberapa. Mereka memang juara piala Eropa. Tapi itu bagi saya tidak berarti apa-apa. Justru penampilan Jerman, Argentina, Uruguay, Brazil, dan Portugal lebih menjanjikan. Tapi mungkin saja doa banyak orang begitu mujarabnya. Ketika banyak pihak yang menjagokan Spanyol masuk ke putaran final lalu kemudian banyak orang juga kemudian berdoa sambil beropini Spanyol menjadi juara, terwujudlah harapan itu. Opini publik memang energi. Saya tidak tahu apakah pelatih dan para pemain Spanyol menonton TV dan membaca koran, atau membuka situs di internet sepanjang perhelatan ini berjalan. Andai begitu, tentu mereka bisa melihat betapa kuatnya keinginan dan harapan publik untuk melihat mereka lolos menjadi juara. Lebih celaka lagi andai wasit dan official permainan itu terbawa sikapnya setelah membaca surat kabar, dan menonton TV ! Itulah energi seperti yang dikatakan Walter Lipmann tentang bagaimana opini bisa merubah keyakinan orang dan juga keadaaan. Tapi satu hal yang selalu saya yakini bahwa opini yang dianut oleh banyak orang tidak otomatis menegaskan bahwa opini itu adalah kebenaran. Ini dua hal yang berbeda : terbanyak dan benar. Benar tidak selalu adalah yang diamini banyak orang. Sementara pendapat yang diamini banyak orang tidak identik bahwa pendapat itu benar.  Sayangnya pelajaran opini publik justru melakukan manipulasi dan mengambil keuntungan dari frasa-frasa kuantitatif tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, menjelang perhelatan final kemarin begitu banyak suara yang menjagokan Spanyol. Tiba-tiba seperti muncul kesepakatan umum bahwa Spanyol akan keluar sebagai pemenang. Sebagai orang yang tidak terlalu suka dengan &lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt; alias kemapanan pendapat, saya selalu berdiri di sisi yang lain. Selaku the other yang memberikan &lt;em&gt;second opinion &lt;/em&gt;bagi saya sangat mengasyikkan. Ide awalnya mungkin simpel, saat dua orang bertaruh untuk menjagokan salah satu negara dalam piala dunia ini, tentu tidak lucu kalau dua-duanya memegang negara yang sama. Lalu bagaimana taruhan bisa berjalan ? andai dua orang yang akan bertaruh sama-sama menjagokan Spanyol, lalu yang menjagokan Belanda siapa ? andai semua selalu mau masuk Surga, lalu ntar siapa yang akan masuk neraka ? andai nanti tidak ada yang masuk Neraka, untuk apa neraka diciptakan oleh Tuhan ? wallah ini sudah ngelantur kemana-mana he he he ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada kekuatan opini publik sebagai energi kemenangan Spanyol tadi, saya merasa bahwa di abad modern ini kekuatan opini publik tidak memiliki signifikansi lagi. Apabila dahulu Walter Lippmann berharap bahwa dengan kekuatan opini publik akan menciptakan kebenaran dan kedamaian, maka di abad ini opini publik begitu berbahaya. Mengingat dia selalu disalahartikan demi kemenangan. Lihat saja itu Lembaga Survey Indonesia, lalu Lintas Survey Indonesia, lalu AC Neillsen Indonesia, semua bermain dengan kemampuan mengorganisir opini mayoritas atas segala sesuatu demi tujuan tertentu. Dalam setiap pemilu di Indonesia, kekuatan opini publik selalu dimainkan untuk menciptakan efek spiral of silent agar memiliki daya pengaruh menggerakkan perilaku yang menguntungkan pihak yang merekayasa opini. Hanya dibutuhkan sedikit riset dengan hasil popularitas calon pemimpin tertentu lalu mempublikasikan hasil itu, dan pendapat orang banyak akan tergiring untuk menguatkan hasil riset tersebut. Semua modus dan formula kerja lembaga riset yang berkaitan dengan kepentingan politik selalu seperti itu. Apa yang diingatkan dan di-“wanti-wanti” oleh Lippmann terbukti hari ini. Mengingat semua pelajaran itu, membuat saya selalu curiga dengan kekuatan opini publik yang tengah bekerja. Siapa yang menggelontorkan opini pertama ? lalu bagaimana dia bekerja, dan untuk kepentingan siapa ? alhasil jadilah saya si pencuriga atas segala opini publik yang bekerja. Itu terjadi juga setelah melihat kok semua orang seolah mendukung Spanyol untuk jadi juara dunia sepakbola 2010 ? ada apa dengan isi kepala mereka ? Keinginan untuk berada di sisi the other membuat saya mengambil keputusan untuk mendukung Belanda saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa begitu besar harapan saya agar Belanda berhasil keluar sebagai juara Piala Dunia 2010. Andai itu terjadi maka saya akan menjadi second opinion yang merobohkan vox populi itu. Menjadi semacam kekuatan antikemapanan yang memenangkan perseteruan pendapat dan keyakinan. Apabila itu terjadi, maka saya akan bisa menunjukkan pada banyak orang bahwa tidak selamanya pendapat dan opini mayoritas itu akan berbuah pada hasil yang sesuai dengan keinginan mayoritas itu. Banyak orang berharap dan berdoa untuk Spanyol, tapi kalau yang jadi juara adalah Belanda, maka akan ada definisi revolusioner untuk apa yang disebut juara. Belanda akan jadi lagenda. Memiliki kemampuan dan talenta menumbangkan stereotip tentang sang juara. Belanda akan jadi juara di dalam dan di luar lapangan. Itu dahsyat bagi saya. Mengingat mereka telah harus bertempur dengan ‘mental diri’ masing-masing sebelum mereka harus masuk ke lapangan. Kemenangan Spanyol bukanlah luar biasa, karena memang kesanalah energi publik bermuara. Namun kemenangan Belanda akan menjadi catatan sejarah penuh fenomena kuantum. Tak terduga dan berwujud chaos di mana-mana. Apa yang saya lihat ketika menit-menit perpanjangan waktu menunjukkan itu. Wajar Belanda kalah (mereka tinggal 10 pemain !), wajar mereka nyerah (takkala lebih banyak memperturutkan emosi mereka), wajar mata mereka basah (ini kesekian kali mereka hanya sebagai runner-up). Nampaknya sejak awal mereka tahu bahwa mereka bukanlah tim negara yang diunggulkan saat menghadapi Spanyol. Mereka sadar itu. Sehingga jawabannya adalah berjuang habis-habisan. Dan itu telah nampak dalam pola serangan dan ngototnya mereka bertahan sejak menit awal pertandingan. Kalah mungkin sudah diramal banyak orang, namun kalau bisa menang tentu akan membuat terperanjat setiap orang. Itu pembuktian bahwa tidak selamanya suara banyak orang akan berujung fakta yang lahir di lapangan. Andai kemenangan ada di tangan Belanda, tentu publik akan semakin percaya bahwa tidak ada kekuatan apapun yang mampu bermain di lapangan sepakbola, kecuali tekat kuat, strategi,  dan keterampilan tim. Tidak ada trial by the press (apa pula ini ?), tidak ada pengaruh dari mulut politis pengamat bola (Indonesia memang gudangnya !), bertanding ya bertanding ... itu saja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah dua alasan yang menjadi motif sikap saya. Ternyata fakta sosiologis berkata beda. Spanyol juara. Dari fakta ini kita hanya tinggal menunggu : empat tahun lagi si Paul akan menjadi selebritis kembali. Jangan-jangan ramalan dia akan dipakai untuk memprediksi kemenangan calon presiden (kalau gak percaya, pinjamkan saja gurita itu kepada Indonesia menjelang pemilu nanti !), calon bupati, atau calon kepala desa. Dari fakta ini pula kita hanya tinggal menunggu : permainan opini menciptakan perang urat syaraf dan teror mental yang selalu mengiringi perhelatan entah itu permainan ataupun pertandingan (kalo di Indonesia sih, ini fakta di luar sidang pengadilan !). Akhirnya, seberapapun keinginan saya untuk tidak percaya takhayul dan kekuatan opini publik, toh tetap saja Belanda kalah ... saya memang kalah jauh dibanding si Paul, terutama dalam urusan ramal-meramal he he he he ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepi Kali, Juli 10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-5833990271385891146?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/5833990271385891146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=5833990271385891146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/5833990271385891146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/5833990271385891146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/07/mengapa-saya-ingin-belanda-juara.html' title='Mengapa Saya Ingin Belanda Juara ?'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-660203187777238118</id><published>2010-07-01T04:07:00.000-07:00</published><updated>2010-07-01T04:12:03.124-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ide Tua - Ide Muda'/><title type='text'>Harga Sebuah 'Januari'</title><content type='html'>Sore itu, 10 Januari ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas udah nonton Virgin ?” … tanya itu muncul ketika untuk kesekian kalinya kita berdua duduk di ranjang empuk sebuah hotel di taman puncak, awal Januari, di tahun baru. Dua hari sebelum itu kita sebenarnya sudah menjadwalkan waktu kita untuk bertemu di tempat ini.&lt;br /&gt;“Belon … emang kenapa say ?” dahiku terangkat, kupandang wajahnya …&lt;br /&gt;“Engga aja seeh …. Itu film tentang keperawanan.” &lt;br /&gt;Aku masih menduga-duga arah pembicaraannya. Bagiku pertemuan ini merupakan penuh kenangan, karena kurang lebih tiga bulan kita telah berpisah. Menahan rintih rindu dalam dada, mengais asa hari demi hari, tiba-tiba kita bertemu, dan tanpa kuduga Ella menanyakan tentang sebuah film dengan tema yang cukup menyentuh  :  keperawanan.&lt;br /&gt;“teruuss …..?”&lt;br /&gt;“yaa cuma nanya doang sih …” dia membalik tubuh mulusnya yang tertutup selimut, menghadap kearahku : “apa batasan keperawanan menurut Mas ?” &lt;br /&gt;Wuaaahh pertanyaan menarik….. sejak dulu Aku paling sering mendiskusikan ini dengannya. Dan menurutku dia sudah bisa menangkap apa yang kupikirkan, tapi mengapa dia tanyakan lagi ?&lt;br /&gt;“Bagiku keperawanan tidak hanya masalah selaput dara..” Aku tatap matanya : “itu menyangkut esensi kedirian seorang wanita, apakah kepribadiannya matang atau tidak, apakah dia bisa menjaga dirinya dari pandangan pelecehan laki-laki ataukah tidak, dan selaput dara itu cuma konstruksi laki-laki atas diri wanita saja..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terdiam, matanya menerawang. Kamar itu kembali sunyi. Sesunyi lima puluh menit yang lalu saat kita berdua masuk dan memulai pagutan nafas penuh sesak. Kamar hotel yang selalu menjadi saksi bisu segala tumpahan kerinduan kita ini seolah mengerti dengan keheningan yang ingin kita ciptakan. Aku menggeliat. Telungkup menghadapkan mukaku ke wajahmu : wajah cinderella yang manis tak terkira. Pikiranku menerawang, mengapa pembicaraan kita lalu bergeser pada masalah keperawanan ? ada hubungan erat antara pertanyaan itu dengan perkembangan jalan kami berdua. Tak pernah Aku bermaksud menciptakan onak duri dalam hidupnya, tak pernah Aku  berpikir akan “memetik” kebahagiaan dengannya hanya sebatas nafsu lahiriah semata, tak pernah Aku berniat hanya memanfaatkan dirinya semata, tak pernah … tak pernah….. sedikitpun juga tak pernah atau terlintas niat busuk atas segala apapun yang telah kulakukan padamu. Semuanya mengalir begitu saja : dengan cinta dan canda ria. Kita jalani hari-demi hari bersama, kita pergi ke gunung dan menatap awat tersaput kabut, kita pergi ke pantai menikmati angin laut, kita tapaki hubungan ini layaknya orang dewasa yang mengerti dengan segala konsekuensinya. Dan tanpa kita pernah merencanakannya, sampailah kita pada suatu sore, di sebuah hotel di tengah kota. Saat mana semua terasa begitu mengambang nikmat tak terkira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cayaang …. Sakitkah ? “ tanyaku berbisik penuh cemas, saat Aku melihat ada percik darah diantara bagian tubuhmu yang begitu dipuja banyak lelaki manapun di dunia. Bagian yang seharusnya dia jaga penuh asasi dan rahasia. Tapi lima menit yang lalu, ditengah desahan dan lenguhan nafas yang terus kita hela bersama, bagian itu telah kau persembahkan padaku. Kau berikan dengan nafas tertahan dan senyum kebahagiaan. Tentu saja Aku merasa sangat bersalah apabila ingat bahwa Akulah yang telah menyebabkan rasa sakit itu, seiring dengan menetesnya warna merah darah dari bagian tubuhmu.&lt;br /&gt;“Engga sayaang … ahh “ masih terbuka bibir itu …. Segera kulumat sebagai tanda Aku sangat melindungi dan menyayangimu …..&lt;br /&gt;“Suerr Say …. ?  Aku mendesah ..&lt;br /&gt;“Iya sayang .. ga pa pa …” sambil dia merengkuh tubuhku lebih dalam, seakan tak mau dilepaskan. Tubuhmu bergoyang mengikuti irama tubuhku yang terus memacu naik turun, meresapi nikmat yang muncul dari gerakan naik dan turun itu. Dunia terasa berwarna-warni di mataku … tak kuasa untuk menghentikannya, tak kuasa untuk tidak meneruskannya. Aku nikmati semua senti bagian tubuhmu, seperti juga dia menikmati setiap inci bagian tubuhku, kita terus berpacu, meliuk liar menderu nafasmu dan nafasku. Hingga tiga puluh menit berlalu, Aku memekik tertahan diiringi dengan liukan dan getaran kuat dari tubuhmu. Kita sama-sama lepaskan unsur alami kehidupan. Aku berpeluh, dia berkeringat, mata kita setengah mengatup, nikmat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah saat mana Aku baru mengetahui bahwa keparawanan tidak harus dilepaskan dan dipetik dengan ketakutan, keperawanan tidak harus diberikan dengan rasa sedih dan gelisah tak terperikan, keperawanan bukanlah hanya masalah sakit dan tidak sakit. Dia memiliki dimensi yang maha luas yang tak tergambarkan. Jadi bukan cuma masalah selaput dara yang ada di selangkangan ! sore itu semuanya kita lakukan, dengan sadar dan dengan kegembiraan. Tak ada kesedihan yang kutangkap di matamu, sebaliknya wajah pucat dan ketakutanlah mungkin yang terbit diraut mukaku. Aku takut sayang …. Aku takut menyakitimu, Aku takut dianggap hanya “sang kumbang pengisap madu”, Aku risau dengan ketidakmampuanku mengendalikan diri, … Aku marah dengan ke-bajingan-ku !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok jadi melamun seehh …?” bisikan lirih itu menyentak lamunanku …&lt;br /&gt;Aku tergagap, ternyata Aku masih menatap wajahnya namun dengan pikiran menerawang entah kemana. Wajah manis cinderella itu tersenyum menggoda.&lt;br /&gt;“he he he …. Iya lahh.. abis tadi tanyanya gitu sih.”&lt;br /&gt;“Tentang keperawanan itu ?” dia menukas&lt;br /&gt;“iya… dan Aku sangat menghargai wanita lebih dari segala kepemilikan fisik yang melekat pada dirinya.” Aku memegang tangannya, kudekap di dada : “Karena itu ……”&lt;br /&gt;Aku tak melanjutkan kata-kataku melainkan menghela dirimu, mendekatkan tubuhmu ke tubuhku. Aku peluk erat, seolah ingin menumpahkan seluruh apa yang ada dalam pikiranku, tanpa harus mengucapkannya sepatahpun …. Karena memang Aku tak akan mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membalas pelukanku dengan lebih erat. Dan selalu begitu. Kubelai rambut hitamnya, kucium pelan kening itu, kelekatkan hidung mancungnya ke hidungku, …..&lt;br /&gt;“Aku sangat mencintai, dan menghormati mu ..” Aku berbisik lirih : hanya itu yang bisa kuucapkan ….&lt;br /&gt;“Aku juga sayang… sangat mencintaimu … sangaat …” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terlalu jauh memang jarak antara nafsu dan cinta yang terealisirkan. Hingga hari itu barulah aku mengerti mengapa mereka-mereka yang berdiam di bumi Barat sana kadang salah mengartikan cinta identik dengan sleeping together. Bagi mereka cinta bahkan sangat identik dengan hanya sekadar hubungan badan. Realitas membuktikan bahwa bentuk konkret dari betapa dua jiwa sudah menyatu adalah menyatunya jasmani. Bagaikan falsafah lingga dan yoni dalam peradaban hindu, begitulah terjemahan cinta masa lalu yang sebenarnya jauh lebih tua dari pada peradaban negara Barat itu. Aku jadi ingat bagaimana Inggris ketika berada di bawah pemerintahan ratu Victoria. Khabarnya pada masa itulah seks sangat dihargai sebagai sebuah perilaku wajib dalam hubungan pria dan wanita. Seks adalah puncak hubungan. Pada titik lebih dalam seks bahkan identik dengan rasa cinta. Hingga seberapa dalam rasa cinta pada dirimu akan dibuktikan dengan bagaimana dirimu mampu memuaskan hasrat birahi pasanganmu. Karena begitu dahsyatnya pengaruh seks itu, maka pada zaman itu bentuk tubuh, tampilan fisik, termasuk segala bentuk perhiasan dan aksesoris tubuh menjadi prioritas utama dari seseorang. Entah wanita, entah pria. Bisa ditebak kemudian bahwa pada masa ratu Victoria lah kemudian bentuk perhiasan dan segala macam aksesoris mencapai puncaknya. Semua cuma ditujukan untuk meraih perhatian lawan jenis saja. Lalu mereka tidur bersama. Sesudah itu terserah pada pendirian masing-masing : mau meneruskan hubungan, atau sudah cukup sampai disitu saja. Putus ditengah jalan. Saking hebatnya perjalanan sejarah masa itu, hingga orang kini menimbulkan pameo : saat itu orang menghindari cinta untuk seks, sementara pada saat kemudian orang menghindari seks untuk cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaliurang, Januari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-660203187777238118?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/660203187777238118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=660203187777238118' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/660203187777238118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/660203187777238118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/07/harga-sebuah-januari.html' title='Harga Sebuah &apos;Januari&apos;'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-44458389034758181</id><published>2010-06-28T00:04:00.000-07:00</published><updated>2010-06-28T00:08:06.808-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ide Tua - Ide Muda'/><title type='text'>Tentang ‘Di luar Rata-rata’ Malcolm Gladwell</title><content type='html'>Satu nasehat sederhana dari Malcolm Gladwell saat menutup bab pengantar buku ‘Outliers’ (2009) dapat kita jadikan renungan hari ini. Kita harus disadarkan bahwa tak akan mampu memahami mengapa seseorang selalu dalam kondisi sehat jika yang mereka pikirkan hanyalah tentang berbagai pilihan dan tindakan pribadi seseorang yang tidak dihubungkan dengan masyarakat sekitarnya, itu kata dia. Ceritanya tentang rahasia kesehatan penduduk imigran Italia di Bangor, Pensylvannia. Cerita kesehatan penduduk di sana menunjukkan bahwa memikirkan masalah kesehatan dari perspektif komunitas nyaris merupakan sesuatu yang terlupakan semua orang di sepanjang sejarah. Penduduk Italia yang berasal dari kota Roseto Valfortore, yang pada tahun 1882 menginjakkan kakinya di Bangor merasakan bahwa kesehatan diri mereka sangat tergantung dari sikap mereka dalam memandang relasi sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Stewart Wolf, seorang dokter yang telah bertugas lebih dari 17 tahun di New Roseto menemukan bahwa sangat jarang penduduk di Roseto baru yang mengidap penyakit jantung saat mereka berusia di bawah enam puluh lima tahun. Saat itu tahun 1950-an. Penyakit jantung adalah pembunuh utama tanpa obat di Amerika. Ini menarik, bagi Wolf. Dia tertantang untuk mengetahui mengapa fakta itu bisa muncul. Padahal semua orang di AS tak perlu menunggu 65 tahun, usia remaja juga mereka telah terserang penyakit jantung. Mengingat pola konsumsi yang sangat salah dan memprihatinkan di AS. Mulailah penelitian dilakukan. Mereka, para dokter itu berupaya menemukan berbagai alasan mengapa fenomena ‘kuatnya jantung’ para penduduk New Roseto itu bisa muncul dan kuat di wilayah itu saja. Berbagai dimensi penelitian telah dilakukan : sisi fisiologis dengan membandingkan apa yang dikonsumsi masyarakat New Roseto dengan penduduk kota lain di sekitarnya, mengecek kebiasaan istirahat dan gaya hidup masyarakat itu.  Secara ekstrim mereka melihat bahwa penduduk kota baru tiruan Italia itu sama sekali tidak menerapkan pola konsumsi dan gaya hidup yang terlalu beda dengan kota-kota lain. Mereka relatif hedon, rata-rata gemuk bahkan obesitas serius, memakan apa saja yang juga bisa dinikmati penduduk kota lain. Lalu apa ? merasa bahwa dimensi kesehatan kurang mampu untuk mengelaborasi dan memahami fenomena tersebut, akhirnya Wolf mengundang pakar-pakar Sosiologi untuk mencoba mengerti penyebab keunikan jantung dan langkanya peristiwa kematian karena penyakit jantung di New Roseto. Dan mereka menemukan jawabannya di jalanan. Bukan di laboratorium. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mereka tengah berjalan-jalan di sore hari menelusuri kota kecil tersebut, mereka baru menemukan sebuah unsur dan tata kehidupan yang membedakan New Roseto dengan kota lainnya. Penduduk saling bertegur sapa dengan wajah yang ringan tanpa beban. Mereka menggunakan bahasa Itali namun dengan dialek Roseto. Tak mau menggunakan bahasa lain (saya baru nyadar bahwa kemampuan untuk melestarikan bahasa asli –indigeneous- merupakan sebuah tameng budaya melawan neoliberalisme saat ini), terlebih bahasa Inggris yang menjadi bahasa resmi di AS. Mereka bisa dan menguasai bahasa Inggris, namun hanya menggunakannya untuk berbisnis. Bukan untuk membina relasi antarkomunitas. Dengan bahasa ibu itulah mereka saling sapa di jalan, di pekarangan, di gereja, dan berbagai fasilitas ruang publik lainnya.  Yang muncul bukanlah sebuah narsisisme sosial, melainkan sebuah upaya penghargaan dan apresiasi tingkat tinggi terhadap budaya asal mereka. Ini sejajar dengan penghargaan tanah leluhur mereka yang telah mereka tinggalkan. Kita tidak gampang menemukan hal ini dalam diri orang-orang dari negara berkembang yang karena kepintarannya berhasil meraih beasiswa sekolah ke luar negeri. Lalu kemudian lebih sibuk untuk memperlihatkan kapasitasnya dengan penuh kecongkakan. Berbahasa Inggris di mana-mana. Menggunakan istilah asing dan aneh semata-mata agar lawan bicaranya semakin tak mengerti. Bahkan dalam kasus yang lebih ekstrim, malu untuk menggunakan bahasa ibu sendiri. Aneh memang. Namun andai saja mereka sudah membaca buku Gladwell tentang kota Roseto, pasti mereka akan memikir ulang tentang kepongahan yang mereka bangun. Baru menyadari jebakan budaya yang dahsyat melalui bahasa. Efek lebih lanjut dari penggunakan bahasa ibu ini sangat menarik. Melalui penggunaan bahasa Ibu mereka tetap merasa sebagai satu keluarga utuh. Tetap menjadi orang Italia. Sesama orang Italia sudah seharusnya membantu secara tulus tetangga dan kerabatnya. Semangat inilah yang membuat mereka bisa saja memasak di pekarangan tetangga, untuk kemudian berbagi dan makan bersama. Tak ada kesusahan yang tidak ditanggung bersama. Semua menjadi satu. Komunalitas yang mampu mendatangkan kebahagiaan. Keceriaan. Dan akhirnya antibodi yang luar biasa untuk resisten terhadap penyakit. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kembali pada semangat penduduk Roseto. Cerita Gladwell menunjukkan bahwa kesehatan terkadang sama sekali tidak terkait dengan permasalahan fisiologis dan biologis tubuh saja. Ada hal lain yang ternyata menyumbangkan manfaat positif. Keutuhan dan penghargaan atas relasi dan interaksi sesama. Mengejutkan memang bahwa seseorang akan lebih sehat dengan lebih banyak bergaul ! mungkinkah itu ? jangan kaget. Ambil contoh sederhana. Bahwa dengan lebih banyak bergaul, seseorang akan lebih banyak tertawa, lebih banyak mengungkapkan duka hati, lebih banyak menyaring hal-hal yang jelek untuk kemudian melepaskan semua energi jelek. Tentu lebih banyak hal negatif yang bisa dilepaskan (bahasa kerennya sih curhat). Bayangkan saja seseorang yang selalu lebih banyak berdiam diri di rumah. Lebih banyak menekuri kesalahan lalu menyesali apa yang sudah dilakukan. Terlalu sering sibuk dengan pikirannya sendiri. Niscaya energi negatif akan terkungkung dalam dirinya. Tidak pernah ada saran dan pendapat dari orang di luar diri. Ini menjadi sangat merugikan bagi sosok bersangkutan. Intinya relasi sosial yang sehat telah membuat kebanyakan penduduk Roseto terhindar dari resiko menderita penyakit jantung. Tepat di saat penyakit itu menjadi momok bukan saja warga Pensylvannia, melainkan masyarakat Amerika pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta yang diintrodusir Gladwell di atas sekaligus juga menunjukkan bahwa mungkin sekali segala sakit, segala tidak enaknya diri, segala keluhan atas penderitaan sebenarnya merupakan sebuah problem psikologis. Tidak melulu terkait dengan kondisi badan secara parsial. Selalu ada ‘sesuatu’ di luar pakem. Dan inilah yang harus selalu digali. Diteliti. Dan dikembangkan. Celakanya studi-studi di dunia kesehatan, terutama kedokteran, terlalu asyik dengan prinsip-prinsip SOP (&lt;em&gt;standart operational procedure&lt;/em&gt;) penanganan tubuh si pasien, bukan kondisi psikologis mereka. Terlalu asyik dengan berapa kadar obat yang harus ditelan. Lupa untuk menghibur dan memberikan harapan sembuh lebih besar saat minum obat tersebut. Akhirnya melihat tubuh sebagai semata-mata tubuh. Tanpa jiwa dan rasa.  Fakta bahwa kebanyakan orang sakit bisa diobati dengan terapi dan konsultasi, tanpa harus memberi mereka obat dalam arti fisik, tentu menjadi sebuah energi yang layak diperhatikan dunia kesehatan. Tetap seperti apa yang dikatakan Gladwell, selalu ada yang lain di luar pakem ... selalu ada ‘yang lain’ di luar kebiasaan... tergantung sekarang ... kita mau percaya atau tidak. Menurut Anda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                &lt;br /&gt;                                                                Gorontalo, Juni 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-44458389034758181?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/44458389034758181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=44458389034758181' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/44458389034758181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/44458389034758181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/06/tentang-di-luar-rata-rata-malcolm.html' title='Tentang ‘Di luar Rata-rata’ Malcolm Gladwell'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-5346991082874508582</id><published>2010-06-16T09:10:00.000-07:00</published><updated>2010-06-16T09:12:37.274-07:00</updated><title type='text'>Grass Rock dan ‘Hidup’ di Masa Lalu</title><content type='html'>Mencoba untuk ‘mengingat’ kembali kenangan masa lalu terkadang menciptakan alur energi yang menyejukkan hati.  Nama keren-nya sih bernostalgia. Bagi kebanyakan orang, kata bernostalgia mungkin berkonotasi negatif. Kata mereka, itu sama saja dengan tidak mau melihat ke depan. Kata mereka, itu sama saja dengan hidup di masa lalu, takut untuk melihat hari esok. Tak siap dengan kemajuan. Dan seabrek konotasi negatif lainnya. Namun bagi saya pribadi, persetanlah semua kata orang itu. Tetap saja menghirup sejenak kenangan masa lalu menghasilkan energi mistis. Kadang membuat ketawa setengah meringis. Ingat segala kekonyolan dan cinta monyet. Terkadang memancing tangis. Ingat segala kealpaan dan kesalahan tragis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini kenangan itu mengalir seiring dengan alunan lagu ‘Gadis Tersesat’ milik group band fenomenal 90-an : Grass Rock. Terlepas dari segala kehebatan pentolan personil awal group yang terbentuk Mei  1984 ini, ada dua personil yang tidak pernah saya lupakan sampai saat ini. Dua orang itu adalah Edi Kemput (gitar) dan Dayan- Alm- (vokalis). Dua sosok ini sempat membuat saya bermimpi  menjadi seorang rocker. Maklumlah, saat itu saya masih berada di kelas dua SMU di Kalimantan sana. Edi Kemput, dengan gaya santainya mampu menghipnotis dengan raungan dan kecepatan jari di setiap kord gitarnya (kalo tidak salah ketika itu doi memiliki gitar berwarna hijau... hmm nampak jantan).  Sementara Dayan, menurut saya memiliki karakter vokal yang sangat sulit ditiru oleh para vokalis rocker saat ini. Doi punya suara tinggi dengan tingkat ketebalan (alias serak) yang menggoda. Sangat khas. Ingat saat itu, bersama band rock di SMU, kami harus latihan rata-rata 6 jam sehari hanya untuk mengusung dua lagu mereka : Bulan Sabit, dan Gadis Tersesat. Meskipun rada kedodoran di sana-sini (tentu saja, lha wong perangkat gitar berikut aksesoris yang saya miliki saat itu sangat sederhana, karena tak mampu beli yang berkelas), kami cukup puas karena mampu  membawakan dua lagu itu dengan gaya yang dimirip-miripkan Grass Rock. Ini hanya sebagian kecil dari kenangan akan group ini. Saya akan menceritakan satu kenangan tak terlupakan lainnya  terkait dengan syair lagu mereka. Lagu yang sangat membekas. Judulnya ya ... Gadis Tersesat tadi. Di bawah ini beberapa bait liriknya yang saya tetap ingat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis manis terlena&lt;br /&gt;Impian kotor juga, datang kawan baginya,&lt;br /&gt;Badai topan seakan melanda,&lt;br /&gt;Kawan datang membawa bencana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramai di sekitarmu&lt;br /&gt;Bingung dan juga pusing&lt;br /&gt;Ada apa disitu, gadis manis terlena&lt;br /&gt;Dalam genggaman arjuna bertaring Drakula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terang sangat terang&lt;br /&gt;Matamu memandang&lt;br /&gt;Kenyataan itu .. ternyata&lt;br /&gt;Menusuk pinggang ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik yang sangat dalam menurut saya. Kenangan akan lirik tersebut bermula dari ritual teman-teman satu kelas A3 (dulu khan gak ada istilah IPA dan IPS). Saat itu saya masih kelas 2 SMU di Sukamara, sebuah kota kecil di Kalimantan Tengah. Tepatnya tahun 1992. Setiap kenaikan kelas biasanya teman-teman cowok selalu melakukan semacam ritual melakukan hal-hal yang unik dan menantang. Dan pada tahun itu, kami memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang dengan berjalan kaki ke sebuah pantai. Namanya Lunci. Jarak tempuh berjalan kira-kira 12 Jam dari pusat kota. Waktu itu ada sekitar 20 anak yang menyatakan bersedia untuk berpetualang. Saya menjadi inisiator, dan kemudian rumah saya menjadi tempat penampungan teman-teman menginap satu malam sebelum kita berangkat esok paginya. Lalu apa hubungan lagu Gadis Tersesat itu dengan petualangan itu tadi ?  sabar sobat ... saya baru akan menceritakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua persiapan dipastikan oke, sekitar jam 5 subuh, 20 orang anak SMU itu tadi memulai langkah pertama mereka untuk berjalan sejauh 12 jam. Diperhitungkan apabila kami memulai jalan jam 5 subuh, maka paling tidak jam 5 sore kami akan sampai di Lunci. Saat itu musim hujan. Kami sama sekali tidak mengetahui akan segala bahaya yang bakal kami temui di jalan nanti. Padahal sebelum mencapai bibir pantai, kami harus mengarungi padang pasir seluas 20 KM tanpa perlindungan pohon atau sejenisnya. Apabila hujan tiba, maka padang itu akan berubah menjadi danau. Ular dan makhluk melata akan berpesta pora. Mungkin kaki-kaki kami akan menjadi sasaran empuk taring mereka. Belum lagi sambaran petir karena kami berada di tanah lapang. Ngeri juga kalau diingat-ingat. Namun semua itu luput dari perhatian kami. Entah karena kami bermental baja (hallaaah !), atau semata-mata karena tidak tahu saja (ini alasan sesunguhnya he he he ). Jadilah kami berjalan saja tanpa memikir banyak resiko di perjalanan. Yang pasti saya ingat perjalanan itu sangat diridhoi Tuhan he he he .. tentu saja, hujan tidak turun, cuaca mendung, sehingga kami tidak kepanasan. Tak ada ular. Tak ada petir. Seingat saya, ada dua kali kami harus berhenti dan beristirahat. Sepanjang perjalanan itu, ada satu hal yang tidak pernah saya lupakan hingga hari ini. Ada semangat yang tidak pernah mati untuk terus berjalan dan menikmati setiap meter pamandangan tanah lapang. Energi terus menyala, karena diiringi oleh sebuah lagu yang terus menerus diulang dan diputar melalui tape recorder bermerek Tens yang dibawa oleh Heru, teman akrab saya. Lagu yang terus diputar itu adalah lagu dari group band Grass Rock. Judulnya yaa ... Gadis Tersesat itu tadi ... usut punya usut ... ternyata hanya itu satu-satunya kaset yang dibawa oleh Heru. Albumnya Bulan Sabit. Usut punya usut, Heru ternyata tidak membawa baterai cadangan sebagai energi tape recorder merek Tens nya. Jadi selama 10 jam tape recorder itu terus berbunyi. Sesampai di pantai bisa Anda bayangkan, tape itu tidak mampu lagi mengeluarkan bunyi apa-apa. Baterainya terkuras habis he he he . Namun album Bulan Sabit itu sangat membekas. Di dalamnya ada lagu-lagu hits group band asal Surabaya ini. Gadis Tersesat adalah lagu favorit saya sejak hari itu hingga hari ini. Setiap kali mendengar lirik lagu itu, terbayang wajah almarhum Dayan. Menurut cerita, Dayan sangat puitis setiap kali menulis lirik. Ada kekuatan dalam setiap liriknya. Ambil contoh pesan moral yang tegas disampaikan Gadis Tersesat. Saya mau bercerita sedikit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini bercerita tentang betapa tragisnya dunia yang dialami seorang gadis polos. Segala khayalan keindahan dan ketentraman di kepala sang gadis berbanding terbalik dengan realitas yang ditemuinya. Ada lingkungan pertemanan yang tidak pernah beres (kawan datang membawa bencana). Ada hubungan asmara yang tidak pernah jujur (Arjuna bertaring Drakula). Serta sakitnya kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan (kenyataan menusuk pinggang). Dari ketajaman lirik itu, nampak Dayan berusaha memotret fenomena sosial kehancuran moral di kalangan kaum hawa. Bolehlah dibaca bahwa Dayan tengah mencoba bersimpati dengan para gadis yang selalu menjadi korban atas kotornya dunia. Saya sama sekali tidak ragu akan kemampuan eksplorasi Dayan dalam mencipta lirik. Wajar kalau selepas meninggalnya sang vokalis ini, Grass Rock bagai perahu patah kemudi. Group ini vakum. Hingga hari ini. Bukan Cuma lengkingan suaranya yang sangat berkarakter semata, Dayan menjadi roh group itu dalam menelurkan lirik-lirik bernas. Grass Rock betul-betul kehilangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini kenangan akan kedahsyatan group ini memaksa saya untuk browsing mengarungi dunia maya dengan seabreg kata kunci seperti “dayan”, “grass rock”, “Yudhy bassis Grass Rock”, pokoknya membaca kembali puluhan artikel tentang group ini mampu memanggil kembali memori saya atas kehebatan mereka. Sebuah kehebatan yang mempu memantik energi untuk berjalan selama 12 jam. Bagi saya, group ini boleh saja bubar, tapi beberapa lagunya membuat saya kembali menemukan bahwa tidak selamanya impian dan harapan kita akan disambut positif oleh kenyataan. Itulah logika sederhana dunia. Jadi seperti nada optimis diujung lagu Gadis Tersesat ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba engkau dengarkan&lt;br /&gt;Para ahli berkicau&lt;br /&gt;Beri nasehat jitu,&lt;br /&gt;Agar jalanmu tetap terang .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ada nada optimis untuk terus bersenggama dengan dunia. Sekalipun dunia berkali-kali mengkhianati kita ... ahh ... Grass Rock memang telah membongkar kembali memori saya. Malam ini saya telah bernostalgia. Sekalipun orang-orang mengatakan bahwa bernostalgia merupakan sebuah pertanda ketidakmampuan kita melihat masa depan.. atau ketakutan akan masa depan... saya tidak lagi terlalu peduli .... entahlah Anda ......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juni 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-5346991082874508582?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/5346991082874508582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=5346991082874508582' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/5346991082874508582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/5346991082874508582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/06/grass-rock-dan-hidup-di-masa-lalu.html' title='Grass Rock dan ‘Hidup’ di Masa Lalu'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-204479797405104736</id><published>2010-05-20T00:41:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T00:47:15.532-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ide Tua - Ide Muda'/><title type='text'>Publik, Modal Sosial &amp; Pemberdayaan Masyarakat</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang ... kodratnya bebas, sama sederajat, dan mandiri. &lt;br /&gt;Tidak ada orang yang dapat dilepaskan dari keadaan ini &lt;br /&gt;dan ditundukkan kepada kekuasaan politis orang lain&lt;br /&gt; tanpa kesepakatannya sendiri”&lt;/em&gt;-John Locke-1924&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses memberdayakan masyarakat secara nyata memang tidak segampang paparan teoretiknya. Begitu banyak pendekatan yang secara fungsional menyajikan sebuah langkah strategis memberdayakan masyarakat, pada gilirannya hanya menjadi sebuah konsep mati di atas kertas yang dibuang setelah dilipat-lipat. Dia sama sekali tidak bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Mewujudkan prosesnya pun sulit bukan kepalang, apalagi mengaplikasikannya di lapangan. Lalu bagaimana kita bisa melihat hasil untuk sebuah konsep yang tidak bisa diterapkan ? Kenyataannya hingga hari ini, konsep pemberdayaan masyarakat bagaikan jauh panggang dari api. Judul makalah ini sesungguhnya berupaya memberikan kerangka berpikir untuk menelaah masalah tadi. Kaitannya dengan masalah pemberdayaan masyarakat menurut saya adalah terlupakannya masyarakat sebagai unsur yang diberdayakan itu sendiri. Program-program yang dijalankan tanpa mengetahui siapa yang diberdayakan nyaris menjadi sebuah pengingkaran menyedihkan. Untuk itulah makalah ini akan mengupayakan sebuah strategi memberdayakan masyarakat melalui pengenalan maksimal terhadap satu konsep utama yang paling sering terlupakan saat membahasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencoba melihat lalu kemudian menawarkan bagaimana seharusnya masyarakat diberdayakan, maka konsep utama yang ditawarkan dalam makalah ini adalah publik. Selama ini pemerintah sebagai wujud nyata dari tiga pilar politik utama negeri ini selalu melihat masyarakat sebagai kumpulan orang-orang dengan satu kepentingan bersama. Diasumsikan bahwa itu akan mengikat mereka selamanya.  Padahal dalam kondisi tertentu, melihat masyarakat sebagai rakyat yang berhadapan dengan negara dan memiliki kepentingan untuk selalu diperhatikan dan diurus oleh negara akan membawa kita pada bias pemikiran. Untuk mengurai hal tersebut, makalah ini akan berangkat untuk memahami konsep publik, lalu kemudian secara sirkuler akan menempatkan publik ini sebagai energi membahas konsep model sosial (social capital). Dinamika kedua konsep itulah yang akan mengerangka sasaran penyajian makalah ini, pemberdayaan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Publik : Orang Sama, Kepentingan Berbeda !&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan publik berarti membicarakan pilihan ketertarikan dan kepentingan masyarakat secara spesifik. Artinya ada unsur yang mempersatukan setiap orang hingga membentuk sebuah kelompok dengan kepentingan khusus. Pada titik ini sangat tidak mungkin melihat konsep publik dalam makna tunggal. Di dalamnya terdapat beragam unsur yang heterogen. Seperti yang dikatakan Cutlip (2000:265) bahwa ragam indikator yang membentuk mozaik publik seperti etnik, ras, agama, geografi, politik, pekerjaan, sosial, dan kelompok kepentingan khusus yang semuanya berbeda-beda justru akan tercakup untuk memperkecil pamahaman konsep publik secara umum. Pembicaraan tentang publik tidak bisa dilakukan apabila gagasan yang muncul adalah ‘publik umum’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publik merupakan satu satuan sosial aktif yang terdiri dari pihak-pihak yang terpengaruh, yang mengenali masalah bersama dan karena itu mereka berupaya mencari solusi bersama. Pada titik itulah publik terbentuk karena pengenalan akan konsekuensi buruk yang ditimbulkan oleh suatu kepentingan umum. Apa yang mampu membentuk dan menciptakan publik ? tidak lain dan tak bukan adalah adanya komunikasi satu sama lain. Komunikasi merupakan esensi untuk membentuk publik lalu memeliharanya untuk tetap terikat erat. Tanpa kemunikasi maka publik akan tetap seperti bayang-bayang dan tak berbentuk, semrawut mencari dirinya sendiri, dan tetap terperangkap dalam bayangan itu daripada menyadari hakekat keterbentukannya. Menyadari bahwa setiap orang pasti memiliki kepentingan, maka tidak bisa terelakkan keterbentukan publik. Esensi utama keberadaan publik adalah bersatunya individu-individu karena kepentingan yang sama. Hal ini terkadang mampu melampaui batasan geografis. Sebagai contoh, usaha untuk melawan Satpol PP muncul dalam wujud kritik dari kelompok yang sama-sama antipati setelah kejadian dan konflik di Tanjung Priok pada bulan April 2010. Pada awalnya orang-orang ini terpisah-pisah menurut geografis, terpisah menurut kondisi ekonomi mereka, terpisah menurut kondisi sosial politik mereka. Namun setelah kejadian konflik di Priok itu, mereka tersatukan oleh satu semangat bersama : ketidaksukaan dan antipati terhadap satpol PP. Ketidaksukaan ini kemudian bisa jadi berbuah menjadi demonstrasi atau gerakan protes sosial lainnya. Inilah perubahan dari sebuah publik laten menjadi publik aktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Grunig (dalam Cutlip et,al : 2000: 268) terdapat tiga faktor yang menggerakan publik untuk berubah dari status latent menjadi berstatus aktif. Ketiga faktor itu adalah :&lt;br /&gt;1.Pengenalan masalah menggambarkan taraf ketika orang sadar bahwa ada sesuatu yang hilang atau keliru dalam sebuah situasi, dan dengan demikian tahu bahwa mereka membutuhkan informasi. &lt;br /&gt;2.Pengenalan akan hambatan menggambarkan taraf ketika orang melihat diri mereka dibatasi oleh faktor eksternal versus melihat bahwa mereka dapat melakukan sesuatu yang berhubungan dengan situasi itu. Jika orang berpendapat bahwa mereka dapat melakukan perubahan atau memberi efek pada situasi masalah itu, mereka akan mencari informasi untuk membuat rencana bertindak.&lt;br /&gt;3.Tingkat keterlibatan menggambarkan taraf ketika orang melihat diri mereka terlibat dan dipengaruhi oleh sebuah situasi. Dengan kata lain, semakin mereka melihat diri mereka terhubungkan dengan suatu situasi, semakin mungkin mereka mengomunikasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan Grunig di atas menunjukkan bahwa publik tidak akan bisa dipisahkan dari dinamika opini atau pendapat. Dalam berbagai buku teks dan referensi kedua istilah ini (publik dan opini) selalu disebutkan secara bersamaan (inheren) satu sama lain, opini publik. Terjemahan umumnya adalah pendapat umum.  Proses dinamisasi pendapat umum ini melekat erat dengan keberadaan ruang publik dalam beropini. Ini menjadi sebuah gejala bagi tumbuh kembangnya demokratisasi dalam sebuah negara. Bergulirnya opini pribadi menjadi sebuah opini publik nampaknya sangat sederhana. Sesederhana ide Jurgen Habermas sebagai sosok yang serius mengulas hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habermas menekankan bahwa pendapat pribadi seseorang, setelah disosialisasikan secara publik, belumlah dapat dijadikan sebagai opini publik hasil proses debat di dalam ruang publik. Opini semacam itu belumlah menempuh proses pembentukan opini melalui debat kritis rasional. Ia juga menyatakan bahwa jika demokrasi ingin diterapkan didalam masyarakat kompleks dan majemuk seperti dewasa ini, proses mencapai kesepakatan bersama melalui kehadiran fisik partisipan haruslah dilampaui, yakni warga negara, yang karena berbagai alasan tidak bisa hadir secara fisik didalam proses deliberasi, dapat menyumbangkan opininya secara tidak langsung, yakni secara virtual (Habermas, 2007). Virtualitas kehadiran partisipan tersebut bukanlah tanpa kritik. Habermas sendiri melihat kemunduran akibat rekayasa media atas subyek partisipan, dan kemudian menjatuhkan semua tanggungjawab pada para wartawan, yang kerap kali memanipulasi data untuk mendapatkan berita yang lebih sensional, dan lebih menjual. Apa yang ditulis secara gamblang oleh David S. Broder (1994) menunjukkan betapa stimulan public sphere yang diberikan wartawan hadir dalam kondisi yang jauh dari otentisitas realita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi semacam itu tidak akan pernah dapat menciptakan suatu bentuk opini publik yang otentik, yang sungguh-sungguh mengena ke inti permasalahan, dan kemudian mencari solusi dari inti permasalah tersebut. Opini publik yang otentik hanya dapat terbentuk, jika partisipan rasional ikut serta didalam debat politik rasional, yang menyangkut kepentingan bersama diantara pihak-pihak yang berbeda secara rasional. Pada titik inilah sesungguhnya kita harus meyakini bahwa spirit demokratis merupakan  sebab atas keterciptaan ruang publik, dan bukan menjadi akibat dari sebuah ruang publik. Menceritakan sebuah ruang publik tanpa energi dan spirit demokrasi merupakan sebuah langkah yang utopis. Seperti yang diintrodusir oleh Wilhelm (2003) bahwa semangat kesetaraan (baik dalam tataran kesempatan dan akses atas teknologi informasi) membuat seseorang bisa larut atau termarjinalkan dalam sebuah dinamika ruang publik. Secara lugas bahkan Hebermas menekankan, “proses komunikasi masyarakat, sesuai dengan ide akarnya, adalah sebuah prinsip demokrasi yang tidak hanya mengandaikan bahwa semua orang dapat berbicara, dengan kesempatan yang sama, tentang persoalan pribadinya, keinginan dan keyakinannya, proses komunikasi yang otentik hanya dapat dicapai di dalam kerangka bahwa semua pendapat pribadi ataupun kelompok dapat berkembang di dalam debat rasional kritis dan kemudian membentuk opini publik.” (Habermas, 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal abad ke-19, opini publik yang terbentuk dari debat rasional kritis menjadi proses resmi di dalam parlemen-parlemen di Jerman dan Inggris. Berbagai pidato politik dibacakan didepan parlemen, seperti yang juga dilakukan sekarang, dengan pertimbangan rasional atas kepentingan publik sebagai keseluruhan, sehingga pengaruhnya semakin besar didalam kehidupan masyarakat untuk mendorong kemajuan di semua bidang kehidupan sosial (Habermas, 2007). Didalam upayanya untuk membentuk opini publik yang otentik, media tampak belum maksimal menjalankan fungsinya, terutama karena media tidak memberikan ruang yang cukup untuk proses debat rasional, dan proses diskursif didalam pembentukan opini, dan yang lebih penting lagi didalam proses pembentukan kehendak politik. Proses komunikasi di dalam ruang publik berarti proses pembentukan opini publik yang otentik, yang dimatangkan di dalam proses debat kritis itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Habermas, upaya untuk merevitalisasi ruang publik terletak pada upaya pembentukan konsensus rasional bersama, daripada memanipulasi opini masyarakat umum demi kepentingan kekuasaan ataupun peraihan keuntungan finansial semata. Untuk itu, ia membedakan dua macam opini publik. Pertama, yakni sebagai opini publik yang bersikap kritis terhadap kekuatan politik dan ekonomi. Kedua, opini publik yang dapat dimanipulasi untuk mendukung orang-orang, institusi, ataupun ideologi tertentu, yang notabene ini bukanlah opini publik sama sekali. Yang pertama mensyaratkan energi demokratisasi di dalamnya, sementara yang kedua lebih melihat opini publik sebagai sebuah upaya rekayasa dan kemampuan mengorganisir pesan sedemikian rupa, lepas dari esensi moral dan manfaat bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari apa yang dipaparkan Habermas peling tidak kita mencoba menyadari bahwa ruang publik memiliki fungsi yang sangat besar di dalam masyarakat demokratis, yakni sebagai ruang dimana opini publik yang otentik, yang bersikap kritis terhadap kekuatan politik maupun ekonomi demi mencapai keseimbangan dan keadilan sosial, dapat terbentuk dan tersebar luas kepada seluruh warga negara, sekaligus sebagai penekan terhadap segala bentuk manipulasi ruang publik, yang seringkali digunakan untuk membenarkan aspek kekuasaan tertentu, dan itu juga berarti, membenarkan ketidakadilan tertentu. Lalu bagaimana memaksimalkan ruang publik, kepentingan bersama sebagai energi keterbentukan publik itu menjadi energi pemberdayaan masyarakat ? jawaban yang coba disodorkan adalah pemaksimalan modal sosial (social capital). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Modal Sosial : sebuah Kearifan Lokal ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pameo terang-terangan mengatakan begini, “yang penting bukanlah apa yang kamu ketahui, namun siapa yang kamu kenal !”. Kalimat ini mengindikasikan betapa pentingnya relasi dan hubungan sebagai prinsip hidup. Hubungan itulah yang menjadi konsep utama dalam membicarakan modal sosial (social capital). Beragam definisi dan pengertian modal sosial terkadang justru membingungkan daripada memberi penjelasan. Lebih mudah menceritakan contohnya daripada menghapalkan definisinya. Pernah melihat bagaimana mekanisme arisan dijalankan ? prinsipnya sederhana, setiap orang diminta untuk mengumpulkan dana mereka dengan besaran tertentu. Lalu dimulai ritual pencabutan nama dengan periode tertentu. Hasil dana yang terkumpul akan diberikan pada nama yang bisa terpilih dan dianggap menang dalam satu periode itu. Dia mendapatkan  seluruh dana yang dikumpulkan. Begitulah terus diulang-ulang hingga seluruh anggota mendapatkan bagiannya masing-masing. Prosesnya lama. Semua orang sabar menunggu. Yang menarik adalah saat kita mempertanyakan motif seseorang yang dengan ikhlas ikut di dalam kelompok arisan itu. Bisa saja orang mengikuti arisan karena ia memiliki tujuan tertentu, didasarkan pada kepentingan pribadi, dan tidak dipaksa oleh siapa pun (independen). Pertanyaannya, bagaimana bisa ia memercayakan uangnya (dalam bentuk iuran per periode) pada suatu kelompok tanpa jaminan apa pun ? Bagaimana bila sebelum ia mendapatkan kembali uangnya, semua anggota yang telah lebih dulu mendapatkan tidak mau melanjutkan iurannya atau bahkan melarikan diri? Mengapa ia tidak menabungkan saja iurannya tersebut di bank yang lebih aman dan bahkan mendapatkan bunga? Faktor apa yang membuat para peserta arisan mengabaikan semua pertanyaan tersebut ? Keyakinan bahwa tidak ada satu orangpun yang akan menipu dan berbohong dengan tidak lagi menyetorkan dananya itulah yang disebut dengan modal sosial. Ada energi luar biasa untuk mempercayai orang lain. Mau mengerti orang lain. Semua memiliki kesamaan minat dan kepentingan yang bisa menawar segala prasangka buruk karena kemungkinan tertipu. Motifnya tentu tidak lagi hanya semata-mata ekonomi, mendapatkan dana dan uang arisan. Ada kekuatan lain yang menggerakkan mereka menjadi anggota arisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan itulah yang disebut dengan modal sosial. Banyak dimensi yang digunakan kalangan ahli untuk menjelaskan modal sosial ini. Ambil contoh seperti Christian Grootaert &amp; Bastelaer (2002) yang mendefinisikan modal sosial sebagai “ Institutions, relationship, attitudes, and values that govern interactions among people and contribute to economic and social development”. Sementara itu, sosok terkenal karena konsep modal sosialnya, Robert Putnam meyakini bahwa modal sosial memiliki tiga bentuk utama, yakni kepercayaan (trust), norma (norms), dan jejaring (networks). Konsep dan interpretasi mengenai modal sosial memang sangat banyak dan beragam, tetapi tampaknya muncul sebuah konsensus bersama bahwa pada dasarnya modal sosial berarti kemampuan para pelaku (aktor) untuk mengamankan berbagai manfaat (benefits) melalui nilai-nilai luhur keanggotaan dalam jejaring sosial atau struktur-struktur sosial lain (Grootaert, 2001). Dalam konteks inilah Grootaert menekankan peran penting berbagai perkumpulan atau asosiasi lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Grootaert (2001), berbagai perkumpulan atau asosiasi lokal tersebut memainkan peran dalam tiga cara. Pertama, berbagi informasi diantara para anggota perkumpulan; kedua, mengurangi berbagai perilaku oportunistik, dan ketiga, memfasilitasi pengambilan keputusan kolektif. Dalam upayanya menceritakan tentang keberhasilan konglomerat-konglomerat di Asia, Joe Studwell (2007) secara implisit mengurai tentang betapa potensialnya kekuatan modal sosial tersebut. Pada titik lain, Francis Fukuyama (2002) telah menceritakan kuatnya modal sosial burujud kepercayaan (trust) menjadi sebuah fenomena budaya yang bermakna dilematis dalam berbagai budaya.  &lt;br /&gt;Sekalipun modal sosial memungkinkan orang atau sekelompok orang (masyarakat) memperoleh sesuatu yang bermanfaat dan produktif, modal sosial sekaligus juga memiliki potensi menyebabkan eksternalitas negatif. Aldridge (2002), misalnya, sebagaimana dimuat dalam ‘Social Capital’ mengemukakan bahwa modal sosial mendorong perilaku yang memperburuk dan bukannya memperbaiki kinerja ekonomi; berlaku sebagai hambatan bagi inklusi sosial dan mobilitas sosial; membuat masyarakat terbagi-bagi dan bukannya menyatu; bisa memfasilitasi tindakan kriminal, dan bukan menguranginya sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Modal Sosial &amp; Pemberdayaan Masyarakat : Tawaran Simpulan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan bahwa masyarakat akan memiliki sumber daya sendiri untuk melakukan gerakan pembangunan, tidak akan bisa dijalankan tanpa memiliki pemahaman kuat akan apa saja energi yang berada di masyarakat itu sendiri. Masyarakat sebagai publik akan bisa diinterpretasi sesuai dengan basis kebutuhan dan kepentingan masing-masing. Pemetaan atas kepentingan ini membawa pemerintah untuk melihat masyarakat sebagai publik tertentu dengan kepentingan tertentu pula. Pada titik inilah melihat masyarakat sebagai sejumlah opini (entah latent maupun aktif) dan bukan melihatnya sebagai sebuah kumpulan fisik individu akan memberikan alat analisis lebih menarik. Pada titik awal, mencermati berbagai opini yang berkambang dalam publik-publik yang telah terbentuk akan membuat kita bisa mengolah dan melihat itu sebagai kekuatan sosial yang harus dicermati. Pada titik selanjutnya, kekuatan sosial itu harus diarahkan agar mampu membentuknya menjadi kekuatan modal sosial (social capital) sebagai implementasi bekerjanya masyarakat secara mandiri. Pada titik inilah kemudian modal sosial menjadi pemantik agar pemerintah tidak lagi menganggap dirinya sebagai pihak yang melulu aktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya kekuatan itu dipindahkan ke pihak masyarakat. Energi positif yang ada pada masyarakat sebenarnya melebihi segala bentuk insentif dan sokongan pendanaan dari pemerintah dalam wujud proyek. Pemerintah selanjutnya akan memosisikan diri sebagai fasilitator, dengan meminimalisir keterlibatan dan campur tangan. Posisi sebagai pendamping ini akan membuat pemerintah tidak lagi menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas apapun yang terjadi di masyarakat. Apabila prinsip ini dipadukan dengan pengenalan mendalam atas opini publik dan kekuatan modal sosial, maka pemerintah akan menjadi pihak yang paling diuntungkan atas nama kestabilan untuk kemajuan masyarakatnya sendiri.&lt;br /&gt;Mungkin dengan diskusi kita akan lebih mampu mengembangkan gagasan ini ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;REFERENSI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calhoun, Craig (Ed). 1993. Habermas and the Public Sphere, New York : Massachusetts Institute of Technology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cutlip, Scott M. Allen H. Center, Glen M. Broom, Effective Public Relations, Eighth Edition, Prentice Hall International, Inc., 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grootaert, C. (2001, Juni). Does Social Capital Help The Poor? Working Papers (The World Bank) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habermas, Jurgen, 1970. Toward a Rational Society : Student Protest, Science, and Politics, New York : Beacon Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_______________, 2007. Ruang Publik : Sebuah Kajian Tentang Kategori Masyarakat Borjuis, Penerjemah Yudi Santoso, Yogyakarta : Kreasi Wacana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_______________, 2007. Teori Tindakan Komunikatif II : Kritik atas Rasio Fungsionalis,  Penerjemah Nurhadi, Yogyakarta : Kreasi Wacana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juliawan, B. Hari., 2004. Ruang Publik Habermas : Solidaritas tanpa Intimitas, tulisan dalam Majalah Basis No. 11 – 12, Tahun Ke- 53, November – Desember 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noer, Deliar, 2000. Pemikiran Politik di Negeri Barat (Edisi Revisi), Bandung : Penerbit Mizan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rousseau, Jean Jacques, 2007. Du Contract Social ( Perjanjian Sosial), Penerjemah Vincent Bero, Jakarta : Transmedia Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruben, Brent D., &amp; Lea P. Stewart, 1998. Communication and Human Behavior, Fourth Edition, London : Allyn &amp; Bacon,. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabato, Larry J, 1981. The Rise of Political Consultant : New Ways of Winning Elections, New York : Basic Books, Inc., Publisher.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-204479797405104736?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/204479797405104736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=204479797405104736' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/204479797405104736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/204479797405104736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/05/publik-modal-sosial-pemberdayaan.html' title='Publik, Modal Sosial &amp; Pemberdayaan Masyarakat'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-2211800678956643218</id><published>2010-04-19T14:22:00.000-07:00</published><updated>2010-04-19T14:26:20.380-07:00</updated><title type='text'>The End of Science : Kecemasan Sosok Horgan !</title><content type='html'>Membaca ulang buku John Horgan : &lt;em&gt;“The end of Science : Senjakala Ilmu Pengetahuan”&lt;/em&gt; (2005), membuat saya terus berpikir ulang pula tentang apa sesungguhnya yang dicari manusia dengan terus belajar dan menemukan sesuatu ? Bukankah apabila segala sesuatu telah ditemukan, maka tidak ada lagi misteri yang harus dipecahkan ? dan apabila tidak ada lagi misteri yang harus dipecahkan, maka hidup menjadi tidak menarik lagi ! Beberapa isu utama inilah yang mengilhami sang wartawan (saat itu) American Scientific ini untuk menulis dengan nada provokatif tentang “keberakhiran” ilmu pengetahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengantar buku (edisi Indonesia) tersebut, Yasraf A. Piliang menguraikan perspektif keakhiran (&lt;em&gt;the end&lt;/em&gt;) yang menjadi ide sentral Horgan. Yasraf menyebutnya dengan konsep kematian. Problema semantik dari konsep kematian menjadi awal elaborasi Yasraf atas karya Horgan. Yasraf menyimpulkan bahwa Horgan minimal telah menggunakan tiga makna “kematian ilmu Pengaetahuan”, yaitu kematian sebagai sesuatu yang melampaui batas untuk menuju titik ekstrem, peleburan dan pencampuradukan (trans), dan kondisi tidak ada lagi objek (ilmu pengetahuan) itu sendiri (hal. xvi). Beberapa nama besar dikutip oleh Yasraf untuk mendukung kategorisasi dan klasifikasi kematian tersebut : Francis Fukuyama, Baudrillard, John Leslie, Victor Burgin, Heidegger, dan Foucault. Masing-masing nama sebenarnya sangat kental dengan ide kematian dalam area mereka masing-masing. Dengan menggunakan nama-nama tersebut, Yasraf ingin menegaskan bahwa ide besar tentang kematian bukanlah murni diprovokasi oleh Horgan, melainkan sudah jauh muncul sejak kegelisahan Baudrillard, Foucault, dan Fukuyama diungkapkan dengan lantang melalui buku-buku cerdas mereka. Bahkan sosok seperti Baudrillard dengan konsep hiperrealitasnya menyatakan bahwa dunia nyata kita telah benar-benar “musnah” dari kerangka berpikir kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia telah dimanjakan secara massif oleh dunia-dunia “bayangan” yang lebih dipercaya dengan kenyataan riil hidup sehari-hari mereka. Foucault menjadi pendendang matinya peradaban dengan membongkar habis unsur kepentingan dari pihak-pihak pemegang otoritas untuk memaksakan kehendaknya melalui penindasan. Penindasan yang dibenarkan melalui hegemoni ilmu pengetahuan. Sementara itu sosok Fukuyama menyentak dunia dengan hal ihlal tentang kemenangan demokrasi liberal kapitalisme atas sosialisme. Ketiga orang ini pada dasarnya bermaksud memberitahukan berakhirnya sebuah kekuasaan, berakhirnya sebuah otoritas mutlak atas segala sesuatu. Pandangan umum telah mereka balikkan, mainstream telah mereka porak porandakan. Cerita pembongkaran mainstream dengan kekuatan ilmu pengetahuan ini menjadi cerita memilukan dalam sejarah peradaban. Persis ketika kematian ilmu pengetahuan dibekukan oleh dogma kepercayaan. Dan Brown melalui novel spektakulernya “Demon &amp; Angel” (2005) telah menceritakan itu dengan nada keprihatinan mendalam. Dialog antara Langdon, sosok peneliti dan ahli bahasa dengan Kohler, kurator kaya yang pintar pada bagian tengah konflik buku itu telah menunjukkan keberanian Brown untuk membongkar fakta sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tesis Dan Brown sangat lugas. Agama tak pernah sepakat dengan sains. Keduanya akan terus berhadap-hadapan. Tokoh-tokoh nyata semacam Socrates, Galileo, Copernicus, Stephen Hawkin, hingga tokoh-tokoh fiksi semacam Kohler dan Langdon terus menandai ‘pembangkangan’ ilmu pengetahuan sepanjang zaman. Mereka selalu melihat Agama menjadi institusi pengurung ‘kebebasan’ ekspresi ilmu pengetahuan yang terkadang butuh semacam keliaran tersendiri. Mungkin ini alasan mengapa kemudian sosok-sosok yang menghasilkan pemikiran besar pada zamannya, nyaris semua adalah sosok atheis. Mereka menafikan keberadaan Tuhan. Imbas dari spirit ini adalah mereka tidak lagi terlalu peduli dengan lembaga agama yang menyokong keberadaan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun banyak karya-karya yang mencoba mensintesakan keberadaan Tuhan dan kemampuan akal manusia untuk ‘merenungkan’ dan ‘mempelajari’ seluruh ciptaan-Nya (Yahya, 2001 ; Zaleski,1999 ; Jammer, 2004), namun tetap saja ketidaksepakatan dan sinisme hadir terus mewarnai relasi antara keduanya. Seperti perumpamaan Donni Gahral Adian bahwa ‘kenakalan’ sains hadir terus menerus untuk membuat risau agama yang ‘keras kepala’. Perdebatan yang tak pernah berakhir antara pembela nalar yang tak kenal lelah, dengan pembela iman yang keras kepala (Adian dalam Piliang, 2004). Apakah keimanan dalam teologi dan keagamaan selalu berhadap-hadapan dengan nalar dan ilmu pengetahuan untuk kemudian membunuh salah satunya ? jawabannya mungkin tidak mensyaratkan posisi berhadap-hadapan antara keduanya. Fakta menunjukkan bahwa masing-masing bidang ternyata menemukan ‘kematian’ melalui perenungan dan ketidakpuasan dirinya sendiri. Sosok Horgan maju dengan tesis kematian tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyinggung tentang bagaimana relasi antara agama dan sains, Louis Leahy (2006) menegaskan bahwa hubungan keduanya sering dikembangkan mulai dari beberapa masalah etik. Dalam fisika, misalnya, hubungan ini dikembangkan dari pengembangan energi nuklir, sedangkan dalam biologi dari tindakan manipulasi genetika. Melalui pemahaman ini, Leahy membentangkan bagaimana relasi keduanya dalam mencari makna. Makna kehidupan ini. Menurutnya, pada titik inilah hubungan keduanya diarahkan dan berakhir pada pertanyaan tentang Allah (&lt;em&gt;the problem of God&lt;/em&gt;). Apakah dengan demikian bermakna agama lebih tinggi posisinya dari sains ? tak ada jawaban eksplisit dari Leahy. Malah pada bab akhir bukunya. Dia berupaya menyandingkan keduanya untuk saling mensyukuri satu sama lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Senjakala : Keberakhiran Yang Diimpikan&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konklusi yang dihadirkan Horgan cukup menyentak. Menurutnya ilmu pengetahuan bukan dikalahkan oleh narasi besar keimanan dan keagamaan. Ternyata ilmu pengetahuan telah tewas oleh kerakusan dan kehebatan dirinya sendiri. Ibarat lagenda dewa Narsiscus yang mati hanya karena terpesona dan pengaguman berlebihan atas diri sendiri, ilmu pengetahuan telah jumawa dan lelah dengan dirinya. Kematian nalar dan ilmu telah semakin dekat. Tak ada lagi tantangan ilmu pengetahuan. Horgan menggunakan term senjakala untuk menyebut telah berakhirnya ilmu pengetahuan. Ada delapan wilayah pengetahuan yang diceritakan Horgan telah mengalami senjakala, berbekal investigasi dia dengan sosok pendekar ilmu pengetahuan yang masih hidup. Wawancaranya yang sangat kritis dengan Karl Popper, Sheldon Glashow, Stephen Hawking, Edward Wilson, Noam Chomsky, Christoper Langton, Clifford Geertz, dan banyak lagi ilmuwan lain (rata-rata pemenang nobel Fisika) membuat buku tersebut sampai pada sebuah kesimpulan : tidak ada lagi revolusi dalam ilmu pengetahuan. Tak ada gunanya lagi berlarut-larut dalam tumpukan gelas eksperimen laboratorium, tak ada makna lagi yang bisa direnung-renungkan oleh para filusuf. Semua telah selesai ! Saya tidak mungkin memaparkan satu demi satu dari betapa menariknya kupasan Horgan tentang senjakala. Disiplin ilmu sosial yang saya pelajari membuat saya hanya tertarik untuk mengupas bagaimana ‘kematian’ ilmu sosial versi Horgan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga sosok yang dikupas Horgan terkait dengan senjakala ilmu sosial. Ketiga orang itu adalah Edward Wilson, Noam Chomsky, dan Clifford Geertz. Saya akan mengupasnya secara terbalik. Pertama sosok Geertz. Kesimpulan Horgan tentang Geertz sebagai sosok yang skeptis tersiratkan dari kalimatnya : “Geertz sangat bertekat meluruskan apa yang ia rasakan sebagai kesan umum yang salah, bahwa ia adalah seorang skeptis universal yang tidak percaya ilmu pengetahuan bisa mencapai kebenaran yang bertahan lama” (hal. 208). Menyanggah Edward Wilson, Geertz melihat tidak ada kemungkinan bahwa ilmu sosial akan menciptakan sebuah landasan universal seperti halnya Fisika dan Biologi. Yang akan terjadi di masa depan adalah berkurangnya keteguhan keyakinan akan sebuah pedoman keilmuan, keraguan yang berlipat ganda. Ilmu sosial akan menjadi multiinterpretatif. Apakah ini sejajar nanti dengan paham anything goes-nya Fayerabend ? entahlah ….. namun yang jelas formula Fayerabend itu disatu sisi membuka peluang beragamnya teropong untuk melihat sebuah fenomena sosial (bermakna kekayaan), di sisi lain akan memunculkan kemustahilan bagi lahirnya sebuah formula universal yang justru telah menjadi semacam paten dalam ilmu pengetahuan (bermakna kematian). Akhirnya, seperti pengakuan Horgan, ilmu sosial ironis mungkin tidak membawa kita ke mana pun, tapi paling tidak bisa memberi kita sesuatu yang bisa dilakukan, untuk selamanya, jika kita menghendakinya. Nah atas dasar kehendak inilah ilmu sosial mencatat sejarah dengan lahirnya sosok pemberontak sekaliber Noam Chomsky sebagai sosok kedua.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noam Chomsky adalah seorang ahli linguistik terkemuka. Semua orang pernah mendengar tentang buku-bukunya yang lebih banyak bernuansa kritis atas hegemoni tanda dan makna. Dua puluh tahun terakhir hidupnya nampak lebih banyak dihabiskan untuk berkutat dengan segala sesuatu yang jauh sekali dari tetek bengek bahasa, yakni dunia politik. Bukunya tentang model propaganda Amerika Serikat melalui media massanya, telah menarik sosok ini kedalam kancah disiplin ilmu komunikasi. Meskipun mungkin Chomsky tidak pernah berpikir untuk menjadi ilmuwan komunikasi, namun “Manufacturing Consent” yang ditulisnya bersama Edward S. Herman (1999) telah melambungkan namanya dalam ranah kajian komunikasi, terutama studi media. Oleh Horgan sosok ini dinilai sebagai sosok pembangkang dalam demokrasi Amerika. Dialah yang selalu berdiri berhadap-hadapan dengan setiap kekuasan yang menindas dan mengabaikan nilai egaliter dan keadilan. Wawancara yang dilakukan Horgan pun lebih banyak menjustifikasi penilaian tersebut. Banyak yang ditanyakan Horgan, sejak beralihnya minat Chosmsky dari bahasa ke dunia politik, posisi ke-Yahudiannya yang justru menentang habis-habisan Zonisme, hingga kehidupan personal dirinya. Kesimpulan Horgan tak berubah : Chosmsky memang pembangkang !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain Chomsky lain pula Edward O. Wilson. Sosok peneliti spesies semut di Universitas Harvard ini merasa yakin bahwa kelak akan ditemukan sebuah teori sosial yang mampu menggambarkan seluruh fenomena kehidupan manusia. Disiplin tersebut adalah sosiobiologi. Dasar pijakannya adalah evolusi sosial Darwin. Wilson yang begitu percaya diri akan kelahiran sebuah teori utama ilmu sosial mengatakan bahwa sosiologi akan menjadi disiplin ilmiah yang benar, jika diserahkan pada paradigma Darwinian. Prinsipnya ada determinan sistem gen yang menentukan seluruh perilaku sosial dan budaya manusia. Seperti halnya semut yang selalu bergerak dengan gen dan instink dalam membina sistem kemasyarakatan mereka, manusia juga telah ditakdirkan untuk selalu dipengaruhi metabolisme dalam tubuhnya (hal.191-199). Nampak jelas prinsip reduksionisme dalam teori sosiobiologi. Seperti halnya Donald B. Calne (2005) yang menyimpulkan bahwa nalar hanyalah permasalahan mekanisme kerja otak semata, dan Richard Brodie (2005) yang mengatakan bahwa spesies manusia bertahan dengan kekuatan dan instink gen saja, jelas bahwa Wilson telah menganggap manusia sejajar dengan hewan meskipun upaya memahaminya sedikit mensyaratkan keseriusan. Bagi Wilson ilmu sosial sepenuhnya tergantung pada penjelasan fisiologis sisi manusia perindividu (hal yang kemudian sangat dibantah Geertz). Pada saat menganggap hanya ada satu jawaban atas berbagai permasalahan kehidupan sosial seperti tesis yang dikatakan Wilson inilah, maka ilmu sosial telah diambang ajal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilson, Chomsky, dan Geertz adalah sosok-sosok yang menurut Horgan berupaya dengan segala kecongkakan dan ketidak percayadirian telah membawa ilmu pengetahuan sosial pada senjakala, tanpa mereka sadari. Pesan moral dari Horgan adalah bahwa pada akhirnya kita harus menyadari bahwa kebanggaan berlebihan dan ketidakpercayaan diri yang melekat pada sosok ilmuwan merupakan virus utama yang menyebabkan ilmu tak lagi memiliki kemampuan menghadapi situasi anomali seperti yang dikatakan Thomas Kuhn (1969). Pilihannya : bersyukur akan keberilmuan dan berupaya menjawab setiap tantangan zaman, atau mematikan ilmu pengetahuan melalui kecongkakan dan kejumawaan. Mari kita renungkan …… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;REFERENSI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brodie, Richard, 2005. Awas ! Virus Akal Budi Ganas, Penerjemah T. Hermaya &amp; Christina M Udiani, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brown, Dan, 2005, Malaikat &amp; Iblis (Engels &amp; Demons), Penerjemah Isma B. Koesalamwardi, PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calne, Donald B., 2005. Batas Nalar : Rasionalitas &amp; Perilaku Manusia, Penerjemah Parakitri T. Simbolon, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horgan, John, 2005. The End of Science : Senjakala Ilmu Pengetahuan, Penerjemah Djejen Zainuddien, Teraju, PT Mizan Publika, Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jammer, Max, 2004. Agama Einstein : Teologi dan Fisika, Penerjemah Arya Budhi, Yayasan Relief Indonesia, Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leahy, Louis, 2006. Jika Sains Mencari Makna, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yahya, Harun, 2001. Mengenal Allah Lewat Akal : Membongkar Kesalahan Faham Materialisme, Penerjemah Muhammad Shadiq, Robbani Press, Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaleski, Jeff, 1999. Spiritualitas Cyberspace : Bagaimana Teknologi Komputer Mempengaruhi Keberagamaan Kita, Penerjemah Zulfahmi Andri, Mizan, Bandung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-2211800678956643218?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/2211800678956643218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=2211800678956643218' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/2211800678956643218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/2211800678956643218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/04/end-of-science-kecemasan-sosok-horgan.html' title='The End of Science : Kecemasan Sosok Horgan !'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-4759557399936235201</id><published>2010-04-07T04:30:00.000-07:00</published><updated>2010-04-07T04:38:00.177-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ide Tua - Ide Muda'/><title type='text'>Mencoba Bicara Cinta</title><content type='html'>&lt;em&gt;There is nothing either good or bad &lt;br /&gt;but thinking makes it so !&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(William Shakespeare)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya mau bicara cinta ...&lt;br /&gt;Cinta dalam beragam makna dan pikiran manusia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ranah filsafat modern, kita temukan pertentangan tentang arti cinta, juga tentang ada-tiadanya cinta. Saya mulai dengan pemikiran yang paling radikal dari Friedrich W. Nietzsche yang menolak cinta sebagai bagian dari upayanya menolak filsafat sokratik dan platonik. Dalam buku &lt;em&gt;"The Gay Science&lt;/em&gt;", Nietzsche menegaskan bahwa apa yang oleh orang-orang disebut cinta tak lain dari sebentuk egoisme yang ditutup-tutupi dengan ekspresi ‘sok peduli’ atau ‘pura-pura rela berkorban’. Pada dasarnya, setiap orang digerakkan oleh kehendak untuk berkuasa. Hubungan percintaan pun pada dasarnya adalah hubungan kuasa. Mereka yang terlibat dalam hubungan cinta berusaha untuk menguasai orang yang diakui sebagai yang dicintai. Setiap orang berusaha untuk menguasai hasrat orang lain dan itu sangat menonjol dalam cinta. Cinta dalam pandangan Nietzsche merupakan bentuk lain dari perbudakan, bahkan bentuk yang paling parah dari perbudakan. Dalam hubungan cinta, orang ingin menguasai hasrat orang lain, bukan hanya sekadar menguasai tubuh dan pikiran. Hasrat yang menjadi dasar dari kehendak merupakan bagian paling vital dari manusia. Menguasai hasrat seseorang berarti menguasai seluruh diri orang itu, menguasai seluruh aktivitas dan kehidupannya. Hubungan cinta menuntut orang hanya mengarahkan hasratnya kepada orang yang dicintai, menuntut keseluruhan jiwa, raga dan kehidupan dari orang yang terlibat di dalam, tanpa syarat, tanpa mempertimbangkan kondisi apa pun. Total. Ya, bagi Nietzsche, cinta adalah bentuk totalitarianisme paling ekstrem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya ...&lt;br /&gt;Hari ini saya mau bicara cinta,&lt;br /&gt;Cinta dalam kesejarahan yang tak menyejarah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah bukunya tentang filsafat “Memoar seorang Filosof”, Moore menyesalkan betapa banyaknya filsof yang sama sekali tidak memperdulikan cinta dan seksualitas sebagai salah satu bahasan dalam filsafat. Padahal itulah unsur dan titik utama munculnya kehidupan. Keberadaan itu sendiri. Mengapa sebuah ilmu yang selalu berbicara tentang “ada” jarang sekali membicarakan tentang penyebab pengadaan manusia ? yakni hubungan seksual itu sendiri. Mari kita mulai yang paling kasat mata dan tentu saja, terasa. Bersetubuh sebagai ritual tertua manusia ! kalau ini sih nampaknya cinta yang terlalu bersendikan materialisme ketubuhan... entahlah ...&lt;br /&gt;Dalam ringkasan Ihya Ulumuddinnya, Ghazali mengatakan bahwa kenikmatan bersetubuh menundukkan manusia karena dua faedah besar. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, dia menghasilkan kenikmatan. Janji akan kenikmatan ini jelas sekali terlihat dalam konsep-konsep bidadari yang akan menemani sosok beriman nantinya di akherat. Dalam buku &lt;em&gt;'Brides of Heaven' &lt;/em&gt;(2006:243) disebutkan bahwa kenikmatan memperoleh bidadari itu salah satu penyebab banyak sekali para pejuang Islam bersedia mati syahid. Kalau mati syahid nanti di Surga akan menikah dengan bidadari. Lalu mati menjadi pilihan yang melegakan. Meledakkan dirinya untuk membunuh sekawanan tentara Israel di Palestina. Saya sendiri tidak bisa membayangkan. Tentu saja dengan pertanyaan, iya kalo yang mati syahid itu laki-laki (tentu nikmat mendapat bidadari), tapi bagaimana kalau yang mati syahid itu perempuan (apa nanti lesbianisme dan poliandri akan dilegalkan di surga sono ? huss.. bagian itu tak perlu dibahas!). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;kedua&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, bersetubuh akan meniscayakan kelanggengan keturunan dan kekekalan eksistensi. Dua hal yang membuat Ha’rut dan Ma’rut sebagai malaikat tidak mampu menyandangnya, seperti ditulis dalam novel menarik karya Ali Ahmad Baktsir (2007) dengan setting kebesaran Babilonia. Mereka tergoda. Mulai menyesali mengapa mereka berani mengambil tantangan mencoba hidup sebagai manusia. Jauh lebih melegakan menjadi sosok malaikat. Hidup statis dan hanya menghamba kepada Tuhan. Tidak fluktuatif dan selalu dilanda kegelisahan seperti halnya manusia. Kembali kepada dua kenikmatan yang mampu menundukkan manusia kepada sebuah lubang kenistaan tadi, nampak ketertundukan manusia itu murni berasal dari instink kehewanan yang memang mendiami relung hati manusia yang paling dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini, Sigmund Freud harus diakui sebagai sosok yang mampu menyadarkan manusia akan betapa kuatnya instink kehewanan itu. Dia menggambarkan bahwa struktur kepribadian manusia pada dasarnya seperti ice montain. Gunung es yang berada di laut. Nampak muncul dipermukaan laut adalah puncak dari gunung es itu, itulah yang kita saksikan. Sementara bagian yang paling besar dan begitu kuat dari gunung es itu adalah dasar gunung yang berada di dalam laut. Tak ada yang bisa membayangkan seberapa besar bagian yang tertutup laut dan tak nampak itu. Sisi tak nampak itulah bagian terbesar dari kepribadian manusia. Bagian dari struktur kepribadian yang coba kita sembunyikan. Mengingat betapa tidak menarik dan memalukannya secara sosial apabila bagian itu muncul dan ketahuan. Dengan tegas dia mengatakan bahwa ada “dark side” pada diri hampir setiap manusia. Sisi gelap yang mampu menghancurkan. Sisi gelap yang terus menerus kita tekan. Tak mau kita akui, tak mau kita sadari. Namun sisi itu terus menekan untuk muncul kepermukaan. Pada banyak kesempatan kita mampu untuk bertahan untuk terus menekannya. Pada saat dan kesempatan lainnya, dia tak bisa kita tekan lagi. Lepas dan liarlah dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah jawaban atas perilaku munafik manusia. Ber-alim dan takwa ria di dalam masjid, namun menjadi sosok liar dan ugal-ugalan di jalanan. Menjadi mubalig penentang poligami, sementara memiliki lima istri. Manusia memang unik. Dan ini tidak bisa kita pungkiri. Dalam konsep lain, Irawan (2008) menyebut ini sebagai sisi ambiguitas manusia. Dengan menggunakan pemikiran Ponty dan Lacan, dia bisa menarik kesimpulan bahwa sepanjang hidupnya, manusia adalah makhluk yang ambigu dan mendua. Itulah takdir kita. Tak harus risau dengan kemendua-an kita. Nikmati aja, itu katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohamad Sobary suka sekali mengutip kata-kata pujangga besar India Tagore berikut ini,”Kita tak pernah tahu mengapa hari ini akhirnya kita tertawa menghadapi hal-hal yang dulu pernah membuat kita menangis, dan mengapa pula bisa terjadi sebaliknya, kita dibuat menangis oleh apa yang dulu kita terima dengan tertawa.” Waktu memang mengurai begitu panjang pemaknaan. Dalam bahasa yang lebih indah seorang pujangga lain dengan tepat mengatakan bahwa manusia adalah kitab lupa dan gelak tawa. Manusia mudah sekali berubah-ubah. Tak ada yang mampu menerka dalamnya hati dan tabiat manusia. Jauh di dalam sanubari kita masing-masing bersembunyi sesuatu yang sangat jahat maupun  sesuatu yang sangat baik. Keduanya hanya menunggu waktu untuk berlomba-lomba keluar dan menampakkan diri yang sesungguhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mulut kita hari ini dengan sangat tenang mengucapkan cinta pada seseorang, mungkin dalam hati kita bersemayam niat lain yang tidak semata-mata dipenuhi oleh konsep cinta tersebut. Di hati kita penuh dengan keinginan atas tubuh, keinginan atas penguasaan, keinginan atas birahi tak tertahan, atau rangkaian keinginan lain yang serta merta kita tekan apabila dia mulai mencoba muncul dalam ambang batas kesadaran. Inilah esensi id yang terus menerus dirasionalkan oleh ego dan ditekan sekuat-kuatnya oleh relasi kuasa super ego. Meskipun Freud menemukan teori dasar yang simpel itu berabad silam, namun relevansinya bisa dilihat ketika kita mencoba menjelaskan apa yang terjadi hari-demi hari kehidupan kita. Setiap hari kita bertarung untuk menekan id dengan memperbesar rasa ‘salah’ kita pada super ego. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya mau bicara cinta,&lt;br /&gt;Cinta yang mudah sekali membawa malapetaka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan keharusan melepaskan hasrat bawah sadar memang menarik. Namun, hal yang mungkin terlupakan oleh Freud adalah akibat sampingan dari pengungkapan dan pelepasan impuls-impuls ketidaksadaran yang kita tekan sepanjang hidup itu. Melalui imajinasi manusia mampu menciptakan segala sesuatu yang baru, namun imajinasi tidak melakukan seleksi yang sebenarnya. Ia liar. Namun mengobati rasa penasaran jiwa yang haus dan lara. Imajinasi luar biasa. Namun dia tidak “membuat komposisi”. Sebuah komposisi tercipta akibat saling pengaruh yang luar biasa antara imajinasi dan akal, atau antara pikiran dan renungan. Penyebabnya adalah akan selalu ada unsur kebetulan dalam proses kreatif. Saking asyiknya Freud dengan id sebagai sesuatu yang harus ditemukan dan ‘dilepaskan’ sehingga dia tidak cukup punya waktu untuk berbicara tentang ego. Apalagi super ego, yang selalu dia lihat dari kacamata kritis. Cinta menunjukkan betapa beratnya sebuah imajinasi yang coba kita komposisikan dengan bantuan nalar dan akal sehat. Hasilnya, menurut Allan Pease &amp; Barbara Pease (2010), manusia adalah satu-satunya makhluk hidup di dunia yang selalu bingung setiap berhadapan dengan masalah cinta dan seks ini. Sebagai manusia, kita adalah makhluk paling ahli dalam mempelajari perilaku berpasangan makhluk hidup lainnya. Kita dapat memperkirakan tindakan mereka, memodifikasi mereka, dan kita dapat secara genetis mengubahnya sehingga penampilan mereka menjadi begitu berbeda. Namun, kalau soal memilih pasangan bagi diri sendiri, tanpaknya hanya sedikit manusia yang berhasil. Apalagi untuk mendapatkan pemahaman sejati atas proses kejadiannya. Titik utamanya adalah pada usaha yang kebanyakan gagal untuk menyeimbangkan antara nalar dan akal sehat dengan tekanan nafsu syahwat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Leon Fastinger mencoba menjembatani kekurangan itu dengan konsistensi informasi, kita baru mulai menyadari bahwa banyak sekali alasan dan kepintaran telah menghamba pada kepentingan. Merokok bukanlah sesuatu yang berbahaya dan mematikan saat mana ada bukti bahwa kakek kita belum juga mati dan sakit-sakitan saat usia senjanya telah menunjuk angka 90, padahal dia merokok sejak usia 19 tahun ! kita berapologi dengan manjadikan kakek sebagai bumper. Semuanya tentu saja mengarah pada terpenuhinya kepentingan untuk tetap merokok tanpa rasa bersalah. Semua orang tahu betapa berbahayanya bermain dalam percintaan tanpa nalar dan akal sehat (Tiger Woods dan Werren Beatty, contohnya), semua orang tahu resiko mengumbar nafsu syahwat tanpa filter penghambat akan mengundang AIDS menjerat (Elizabeth Pisani menulisnya dengan memikat), namun toh sampai hari ini semua orang berapologi betapa nikmatnya mencoba ‘nakal’ sekali-kali sebagai tanda hidup berjalan normal dan sehat. "seperti orang-orang," katanya santai. Untuk membela diri tersebut, rangkaian argumen dan statement dibangun. Pasti. Nampak cerdas dan tak terbantahkan. Itulah unsur kepentingan yang lepas dari analisis Freud. Mungkin dia belum sempat membayangkan betapa manusia selain makhluk dengan instink dan libido liarnya, juga merupakan makhluk rasional dan memiliki nalar yang energinya akan dimaksimalkan sedemikian rupa saat menghamba pada kepentingan dan kekuasaan. Freud memang sudah terlalu tua untuk sekadar memikirkan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu buku Erich Fromm yang cukup menarik berjudul ‘&lt;em&gt;The Art of Loving’&lt;/em&gt;. Ketika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dia diberi judul yang sama namun dengan anak judul &lt;em&gt;“Memaknai Hakikat Cinta”&lt;/em&gt; (2005). Bagian awal buku itu banyak mempertanyakan apakah cinta itu identik dengan seni ? sesuatu yang mengalir begitu saja dalam jiwa dan perilaku orang-orang, tanpa harus kita sibuk memikirkan dan merasionalkan dia ? Jawaban yang diberikan Fromm niscaya sangat melelahkan bagi seorang “Buaya Darat”. Betapa tidak, cinta menurut Fromm membutuhkan sebuah upaya mengembangkan seluruh kepribadian. Pemenuhan cinta seseorang tidak dapat dicapai tanpa kemampuan untuk mencintai orang lain, tanpa kerendahan dan keteguhan hati, serta keyakinan dan kedisiplinan. Inilah yang membuat kemampuan mencintai semakin langka di abad kontemporer saat ini. Nah, tuh ... kemampuan mencintai saja menjadi sebuah prestasi langka ! luar biasa !! sepertinya pemerintah sebentar lagi akan mengeluarkan sertifikasi khusus : kompetensi pecinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang kemampuan mencintai, seorang teman yang kesunyian akan sering berkata, “tidak ada orang yang memperhatikan atau mencintai saya.” Anda langsung mungkin dapat mencoba menenangkan hatinya (pada dasarnya kita memang sok pahlawan sih), “Oh ya, orang tua anda mencintai anda.” Dia segera menukas,”Ya, tapi itu tidak sama.” “teman anda memperhatikan dan mencintai anda.” Ya, tapi bukan itu yang saya maksud.” Kita langsung melirik ke samping kirinya, melihat makhluk menjulurkan lidahnya disamping dia,”Anjing anda tampaknya menyukai anda.” “Ya, tapi itu juga bukan yang saya maksud.” Tahukah anda, bahwa yang sesungguhnya dimaksudkan orang ini adalah, dia tidak memedulikan atau mencintai siapapun juga. Adalah perbuatan memberi, bukan menerima, yang mengusir kesunyian.  Jangan-jangan kita hanya menyintai diri kita sendiri ... nabi narsis sejati ! Tepatlah apa yang dikatakan Nietzsche di awal tadi : kita hanya ingin berkuasa. Kita tunggangi cinta sebagai kereta !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ...&lt;br /&gt;Hari ini saya mungkin tidak bisa bicara apa-apa,&lt;br /&gt;Mungkin cinta tidak akan mampu dibicarakan dari sisi mana saja,&lt;br /&gt;Jelas Anda yang membaca tulisan ini pasti bingung tak terkira. Tulisan ini tak jelas mau menceritakan apa, tak tahu mau mengatakan apa. Kebingungan menjadi satu pertanda ketertarikan. Kebingungan pasti mengasyikkan. Itulah cinta. Setiap kali kita akan mencoba mengidentifikasi cinta, kita hanya akan sampai pada kebingungan demi kebingungan. Justru saat kita merasa mengetahui cinta sedemikian rupa. Kita pasti tengah tidak tahu apa-apa. Karena cinta memang tidak untuk dipikirkan. Cinta hanya perlu dirasakan. Dinikmati, tanpa memusingkan diri dengan rangkaian teori. Cinta ... anda punya pendapat berbeda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung di pinggir kali, April 10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-4759557399936235201?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/4759557399936235201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=4759557399936235201' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/4759557399936235201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/4759557399936235201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/04/mencoba-bicara-cinta.html' title='Mencoba Bicara Cinta'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-7573634236321189539</id><published>2010-03-10T17:05:00.000-08:00</published><updated>2010-03-10T17:09:35.101-08:00</updated><title type='text'>Communication Unconsciousnes</title><content type='html'>&lt;em&gt;“Apa yang ada dalam benak anda …&lt;br /&gt;Tidak identik dengan apa yang anda sadari, &lt;br /&gt;apa yang terjadi di dalam pikiran anda,&lt;br /&gt;dan apa yang anda dengar darinya, &lt;br /&gt;Adalah dua hal yang berbeda”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu postulat yang ditebarkan oleh aliran Psikoanalisis adalah bahwa kita tidak sepenuhnya mengendalikan diri kita setiap waktu. Kita dipengaruhi oleh cara yang sulit untuk kita mengerti, dan kita melakukan sesuatu untuk alasan yang tidak kita mengerti atau kita tidak mengakui diri kita sendiri. Pendeknya, kita tidak sepenuhnya makhluk yang rasional lalu bertindak atas alasan dan basis logika dan kecerdasan, namun sebaliknya, justru emosional dan hal lain yang tidak rasional atau irasional (Berger, 1999 : 72). Seperti yang dikatakan Ernest Dichter bahwa banyak sekali dari keputusan kita sehari-hari justru diambil dalam kondisi ketidaksadaran dan motivasi yang tidak bisa kita kendalikan. Prinsip ini dinamakan Blink oleh Malcolm Gladwell (2005), dan dinamakan &lt;em&gt;click whirr behavior &lt;/em&gt;oleh Robert Cialdini (2000). Singkat kata, menurut paham psikoanalisis manusia itu kebanyakan sama sekali tidak menyadari tentang apa yang telah dilakukannya. Mudah sekali bingung dan tertipu dengan apa yang ada didepannya, sehingga dia tak mampu memilih tindakan apa yang akan dia lakukan. Paradoxnya manusia adalah bahwa dia harus memilih disaat dia sama sekali tak sadar bahwa dia harus melakukan pilihan. Bahkan ketika dia sudah memilih-pun, ternyata dia sama sekali tidak sadar telah memilih. Lalu satu tanya menarik : kapan kita menyadari bahwa kita telah berkomunikasi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi begitu inheren dalam kehidupan manusia. Saking melekatnya, dia bahkan dianggap tidak ada sama sekali. Bagaikan udara bagi manusia. Bagaikan air bagi sang ikan. Komunikasi telah hadir di mana-mana, sehingga kehadirannya tidak terasa (nikmat sekali andai cinta telah hadir di mana-mana, mengatasi benci, iri, dengki, dan dendam membara !). Justru karena manusia sudah terlalu terbiasa dengan apa yang disebut komunikasi, maka manusia tidak pernah merasa ada yang perlu dilakukan dengan komunikasi. Komunikasi sudah instingtif. Komunikasi sudah berjalan dengan sendirinya, tanpa perlu menekan tombol On. Dia telah melekat dengan kehidupan manusia. Saking telah melekatnya, maka manusia menyepelekannya. Persis seperti perilaku buruk manusia terhadap udara. Merasa bahwa udara selalu ada buat dirinya, mulailah manusia membuat polusi di mana-mana, merokok di mana saja, membuang gas kemana saja, dan setelah lapisan ozon semakin tipis, barulah disadari bahwa udara (sehat) tidak dengan sendirinya selalu tersedia bagi manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan komunikasi. Tidak selamanya sebuah komunikasi yang sehat selalu mengiringi kita hari demi hari. Berdasarkan apa yang ditelisik Marshall B. Rosenberg (2010), ternyata komunikasi manusia merupakan ajang kekerasan simbolik yang sudah begitu umum terjadi. Pernahkah kita menghitung berapa banyak kalimat dan kata yang kita keluarkan telah menyakiti hati orang lain ? entah dalam kondisi bercanda maupun dalam kondisi serius, entah dalam situasi sadar maupun tidak sadar, entah dalam kondisi bersama ramai-ramai dalam komunikasi kelompok, atau hanya berdua dalam komunikasi interpersonal ? rasanya jarang sekali. Kita kadang tersentak betapa kalimat kita telah membuat wajah teman di depan kita memerah, marah. Kita kadang terkejut saat hidung kita ditonjok beberapa detik selepas satu dua kalimat meluncur dari mulut kita tanpa bisa dikontrol. Begitulah, kata Rosenberg, kita melancarkan kampanye anti kekerasan. Tak boleh berperilaku kasar dan keras. Namun kita lupa bahwa kata-kata keras dan pedas, alias sarkasme selalu meluncur dari mulut kita. Celakanya, itu mengalir begitu saja, tanpa kita sadari (hmm ... andai Freud bersama kita, tentu ia akan mengumbar tawa). Jadi yang ingin saya katakan adalah, postulat besar psikoanalisis di awal tulisan tadi sebenarnya telah berlaku umum dalam dunia komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri utama dari proses komunikasi adalah dia terjadi begitu saja tanpa terlalu disadari. Sehingga proses dan akibat terkadang tidak mudah untuk diramal dan diperkirakan. Paling tidak ada empat ciri mendasar komunikasi antar manusia yang penting sebagai alasan mengapa dia terkadang begitu sering tanpa disadari. Komunikasi itu (1). &lt;em&gt;Inescapable&lt;/em&gt;, (2). &lt;em&gt;Irreversible&lt;/em&gt;, (3). &lt;em&gt;Complicated&lt;/em&gt;, dan (4). &lt;em&gt;Contextual.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Inescapable&lt;/em&gt; adalah sifat hakiki komunikasi yang melekat pada diri manusia. Manusia tidak mungkin menghindari komunikasi. &lt;em&gt;“we can’t not communicate &lt;/em&gt;!” begitu katanya. Komunikasi hadir seiring dengan hadirnya manusia itu sendiri. Tak pernah sedetikpun manusia terlepas dari komunikasi. Bahkan ketika dia tidur sekalipun. Tentu saja disaat tidurnya (ngorok ?) memberi makna bagi orang lain. &lt;em&gt;Irreversible&lt;/em&gt; marupakan kata yang pas untuk mengatakan bahwa proses dan hasil dari komunikasi merupakan sebuah momen ‘sekali jadi’. Artinya dia tidak mungkin dianulir (diulang) baik dalam kesamaan proses pengiriman pesan maupun dalam hasil dan akibat yang telah muncul. Kita tidak akan bisa menciptakan dua efek kemarahan sama persis dalam selang waktu dua jam antara kemarahan pertama dan kemarahan kedua. Begitu juga disaat mengutarakan perasaan (cinta ?) tak akan mungkin menghasilkan efek yang sama pada dua tempat yang berbeda (apalagi dua orang yang berbeda khan ?). ini terjadi karena komunikasi adalah sesuatu yang &lt;em&gt;complicated&lt;/em&gt;.  Kompleksitas komunikasi terjadi meliputi setiap sosok yang berkomunikasi, baik pembicara maupun pendengar memiliki kompleksitas sendiri-sendiri baik secara sosial maupun personal. Belum lagi apabila menyangkut media dan pesan-pesan yang terkirim. &lt;em&gt;Contextual&lt;/em&gt;, menyangkut keberadaan proses komunikasi yang melekat pada tempat dan waktu di mana komunikasi itu terjadi. Tata cara dan perilaku berkomunikasi di sebuah kampung di Sumatera tidak bisa digunakan di sebuah kampung yang lain di pulau Jawa. Akan muncul masalah karena begitu berbeda dan bertolak belakang makna interaksinya. Karena itulah komunikasi antarbudaya, antaretnik, antarbangsa menjadi sangat menarik untuk dipelajari. Paling tidak kita tahu bahwa sejak peradaban diciptakan dengan heterogenitasnya, komunikasi dan bahasa menjadi masalah utama menghubungkan manusia satu sama lain. Empat ciri utama dari komunikasi manusia itu tadi membuat komunikasi menjadi sesuatu yang terkadang terjadi begitu saja, tanpa kita sadari. Lalu adakah saat kita menjadi sadar bahwa kita tengah berkomunikasi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi yang disadari adalah komunikasi yang sangat disarankan para ahli psikologi. Komunikasi yang tertata dan memiliki alur dan tujuan (positif) harusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila komunikasi dilakukan dengan kesadaran, maka proses transaksi makna baik itu verbal maupun non-verbal akan sangat terkontrol. Hasilnya ? kita akan lebih peka dengan perasaan lawan bicara kita. Kita akan mampu menjaga segala ucapan, &lt;em&gt;gesture&lt;/em&gt;, serta perilaku non-verbal lainnya. Pada titik inilah yang terkadang paling sulit. Komunikasi yang mengalir sedemikian lupa, mudah membuat kita lupa bahwa kita sedang berkomunikasi. Karena kita lupa sedang berkomunikasi, lupa pula kita dengan siapa kita berkomunikasi, lupa pula dengan kemungkinan efek yang diakibatkan dari satu dua kata yang terucap. Begitu banyak yang terlupa saat proses komunikasi terjadi. Itulah kita .... manusia .... seperti yang memang sudah ditegaskan oleh aliran psikoanalisis tadi, banyak sekali yang berada di luar kesadaran kita. Anda punya pendapat yang berbeda ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepi kali, Maret 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-7573634236321189539?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/7573634236321189539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=7573634236321189539' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/7573634236321189539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/7573634236321189539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/03/communication-unconsciousnes.html' title='Communication Unconsciousnes'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-4228029802258316406</id><published>2010-02-07T07:37:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T07:44:17.912-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blind&apos;s Communication'/><title type='text'>Naratif &amp; Media Televisi</title><content type='html'>Hari ini hujan mengguyur Yogya sejak siang. Cuaca berubah drastis. Dari panas menyengat, menjadi dingin yang kian merambat. Menghidupkan televisi nampaknya pilihan tepat. Mungkin lebih nikmat bila berteman teh panas, sebungkus kacang, atau sejumput coklat. Sayangnya acara televisi tidak menarik. Saya sudah begitu muak melihat sinetron dan acara ketawa-ketiwi yang hanya berisi Luna Maya, Olga, maupun Ruben Onsu. Sama muaknya seperti melihat akting para anggota DPR panitia Pansus yang cuma omong melulu. TV saya matikan. Melirik &lt;em&gt;‘The Lost Symbol’ &lt;/em&gt;yang baru saya baca separuhnya. Rasanya malas juga untuk mengikuti khayalan Dan Brown. Mata saya berpindah pada buku Helen Fulton. Judulnya &lt;em&gt;‘Narrative and Media’ &lt;/em&gt;(2005). Buku yang mungkin bisa menjadi jawaban atas rasa muak saya dengan acara-acara televisi yang hanya ketawa-ketiwi. Buku ini bercerita tentang media yang semakin menaratifkan diri dalam penyajiannya. Itu artinya, entah apapun format acara televisi : dari sinetron hingga jingkrak-jingkrak di panggung gaya In-Box dan Derings, semuanya harus disajikan dengan narasi tertentu. Ada pembukaan, konflik, lalu solusi. Alurnya harus demikian. Tak cuma dalam acara santai, untuk berita yang serius pun juga harus menggunakan cara yang sama. Alasannya simpel : menyenangkan penonton. Narasi adalah alur cerita. Kita suka mendengarkan cerita yang jelas alurnya, tertata sajiannya, jelas tokohnya, dan menyimpan harapan tentang happy ending-nya. Itulah narasi. Dia ibarat dongeng yang selalu menyertai kehidupan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebagai manusia memang suka didongengi. Sejak kecil saya selalu tidur dengan ditemani dongeng lembut almarhum ibu. Masa kanak-kanak saya begitu menyenangi dongeng guru ngaji tentang kehebatan Islam. Saat remaja saya didongengi oleh film-film cengeng tentang menangnya kebajikan atas kebatilan. Saat kuliah saya dijejali dengan dongeng sejarah alternatif tentang orde baru yang membuat saya terperangah. Hingga hari ini saya masih tetap didongengi. Dan saya tetap menyenangi itu. Tanpa sadar sayapun selalu mendongeng dalam setiap kuliah yang saya berikan. Dongeng ternyata menjadi inheren dalam hidup saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng adalah narasi yang teratur. Jelas plotnya. Jelas alurnya. Menjanjikan penyelesaian di ujungnya. Dan Helen Fulton melihat bahwa semua itu termanifestasi dalam penyajian isi media massa. Namanya narasi. Untuk menelitinya, mereka menyebut dengan pendekatan naratif. Terkait dengan televisi, salah seorang kontributor dalam buku itu menguraikan tentang berita televisi sebagai sebuah naratif. Namanya Anne Dunn, seorang pengajar senior di Departemen Media dan Komunikasi University of Sydney. Berikut ini saya akan menguraikan beberapa pokok pikirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anne Dunn dalam buku tersebut mencoba untuk meyakinkan betapa bergunanya narasi dalam sebuah berita televisi (&lt;em&gt;news&lt;/em&gt;). Seperti diketahui bahwa televisi adalah media audio visual yang memanjakan khalayaknya. News dalam hal ini adalah sesuatu yang nampak serius dan terkadang membutuhkan perhatian lebih dari audiens untuk tekanan-tekanan tertentu. Dia memberi contoh ketika perang, pemberitaan yang dibuat oleh reporter dan tenaga jurnalistik lainnya tidak lagi berupa kenyataan perang sesungguhnya. Itu sudah sebuah konstruksi atas peristiwa perang. Menurutnya, berita tidak merupakan sebuah kenyataan atau realitas sesungguhnya. Berita menjadi suatu konstruksi atas realitas melalui sebuah proses seleksi editorial dengan melibatkan elemen-elemen audio visual. Semua pilihan dan pertimbangan itu bukan semata-mata sesuatu yang bersifat ideologis, melainkan juga terkait dengan teknis penceritaan. Tentu saja agar berita itu menjadi menarik untuk disajikan, terlepas dari beragam kepentingan ideologis yang melatarbelakanginya. Ambil contoh saat peristiwa serangan 11 September 2001, meskipun antara televisi Al Jazeera (Arab) dan stasiun televisi di dunia Barat (AS) berbeda setting dan kepentingan ideologis, namun masing-masing stasiun menyajikan berita layaknya sebuah kisah. Ada plot dan alur di dalamnya. Di sinilah pentingnya narasi dalam mengupas berita di televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan news sebagai sebuah naratif akan dimulai dengan sebuah konsep penting dalam dunia jurnalistik. Konsep tersebut adalah nilai berita (&lt;em&gt;news values&lt;/em&gt;). Menurutnya news values ini merupakan hal yang paling penting untuk didapatkan seorang profesional di bidang jurnalistik melalui proses pencarian, penyeleksian, penulisan, dan penyajian berita. Ada dua kriteria utama dalam memandang &lt;em&gt;news values &lt;/em&gt;ini : &lt;em&gt;timeliness&lt;/em&gt; (it is ‘new’) atau &lt;em&gt;currency&lt;/em&gt; (it is already in the news). Keduanya harus dipercaya memiliki pengaruh signifikan terhadap orang-orang berikut kehidupan mereka, memiliki sisi proksimitas dengan audiens, untuk itu mampu merangkai kejadian-kejadian agar layak diberitakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip utama dalam menciptakan &lt;em&gt;news values &lt;/em&gt;adalah tentang ‘&lt;em&gt;bad news is good news’&lt;/em&gt;, biasanya berita tentang sesuatu yang buruk-buruk akan serta merta menarik perhatian orang. Anne Dunn mengatakan ada dua hal yang perlu diketahui untuk menelusuri bagaimana seseorang bisa menciptakan nilai berita. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, tentang &lt;em&gt;‘known’ &lt;/em&gt;yakni seseorang yang dengan namanya saja sudah menjadi sebuah berita. Ini artinya, apabila memberitakan presiden, para menteri, maupun selebritis, bisa dianggap memiliki kemampuan menciptakan nilai berita. &lt;em&gt;Kedua, ‘unknown’ &lt;/em&gt;yakni orang yang namanya sama sekali tidak dikenal, dan untuk itu perlu untuk mengulas tentang apa yang dilakukan orang tersebut. Seorang anak yang menolong anjing kecil yang terperangkap karena banjir besar, petugas pemadam kebakaran yang bertaruh nyawa menyelamatkan seorang anak yang terperangkap di tingkat 15 sebuah gedung yang terbakar. Semuanya memiliki nilai berita terkait apa yang dilakukan, bukan siapa yang melakukan. Artinya kita tak perlu kenal siapa anak dan siapa petugas pemadam kebakaran yang heroik tadi. Kita hanya terkesan dengan perbuatannya. Intinya Known menciptakan nilai berita dengan hanya mengatakan ‘&lt;em&gt;who they are and doing what they do’&lt;/em&gt;, semantara &lt;em&gt;Unknown&lt;/em&gt; menciptakan nilai berita melalui &lt;em&gt;‘doing or having done to them something extraordinary’.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerapkan analisis naratif terhadap berita televisi sepenuhnya akan dipengaruhi oleh kerangka kerja jurnalisme televisi. Ini terkait erat dengan prinsip pemberitaan dan penyusunan berita. Dalam dunia jurnalistik terkenal dua jenis berita : &lt;em&gt;hard news &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;soft news&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Hard news &lt;/em&gt;sejajar dengan &lt;em&gt;hot news &lt;/em&gt;biasanya selalu berkaitan dengan berita-berita yang harus segera ditayangkan, disiarkan karena menyangkut sesuatu yang maha penting bagi hajat hidup orang banyak. Sementara &lt;em&gt;soft news &lt;/em&gt;biasanya berkaitan dengan hal-hal human interest yang tidak terlalu urgen untuk diberitakan dengan segera. Meskipun keduanya harus menerapkan unsur-unsur 5 W + 1 H dalam proses penyusunan berita, namun memiliki esensi yang berbeda dalam susunan pemberitaannya. &lt;em&gt;Hard news &lt;/em&gt;selalu menuntut penyusunan berita yang menganut prinsip piramida terbalik (&lt;em&gt;inverted pyramid&lt;/em&gt;) : hal-hal yang penting harus diletakkan dan disajikan di awal penyajian. Yang kurang penting diletakkan dibagian belakang saja. Sementara &lt;em&gt;soft news &lt;/em&gt;melakukan prinsip sebaliknya : dari hal yang kurang penting menuju pada esensi-esensi utama. Pertanyaannya : mana yang lebih menarik dari sisi kajian naratif ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada pemikiran Espen Ytreberg (2001) seorang teoretis pemberitaan yang mencoba membandingkan antara prinsip piramida terbalik dengan penggunaan struktur naratif dalam berita televisi, Dunn percaya bahwa prinsip naratif akan memberikan nuansa tersendiri saat diterapkan dalam sebuah pemberitaan televisi. Naratif akan lebih menarik dengan piramida tegak ! Penelitian Ytreberg menunjukkan perbedaan yang terlihat dalam teknologi dan format pemberitaan NRK TV News  (Norwegia) pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Para reporter masa-masa sekarang (setelah 1990-an), menurutnya lebih banyak menggunakan bahasa gambar dibanding menggunakan kata-kata dalam melaporkan kejadian pada setiap voice over mereka. Untuk menganalisis hal tersebut, Ytreberg membagi prinsip kerja reporter tadi dalam dua terminologi besar yakni ‘&lt;em&gt;information tradition’ &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;‘communication tradition’ &lt;/em&gt;(2001:362-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perspektif &lt;em&gt;information tradition &lt;/em&gt;melihat bahwa wartawan cuma sekadar memberitakan kejadian berdasakan prinsip-prinsip &lt;em&gt;inverted pyramid &lt;/em&gt;tadi. Melaporkan peristiwa, menyebutkan jumlah korban atau pahlawan, mewawancarai orang-orang, dan hal-hal lain untuk sekadar menjawab 5 W + 1 H. Dalam perspektif &lt;em&gt;communication tradition &lt;/em&gt;seorang jurnalis memiliki kepekaan atas prinsip kemenarikan (&lt;em&gt;engage&lt;/em&gt;) dan kemudahan (&lt;em&gt;easy&lt;/em&gt;) dalam menyusun laporan. Apabila yang pertama berstruktur kaku dan tegas dalam merangkai peristiwa, maka yang kedua berstruktur lentur dengan sudut pandang beragam dan gaya penyampaian yang mudah dicerna. Unsur kedua sangat memanjakan audiens. Untuk menegaskan model terakhir ini, Dunn menyitir pemuka eksekutif NBC, Reuven Frank, &lt;em&gt;“every news story should, without any sacrifice of probity or responsibility, display the attributes of fiction, of drama. It should have structure and conflict, problem and denouement, rising action and falling action, a beginning, a middle and an end. These are not only the esentials of drama; they are essentials of narrative”. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengganti istilah &lt;em&gt;soft news &lt;/em&gt;yang terkesan sangat beroposisi biner dengan &lt;em&gt;hard news&lt;/em&gt;, Dunn mengusulkan terminologi &lt;em&gt;other news&lt;/em&gt;. Kesimpulannya, hard news sebagai upaya menghadirkan berita yang memiliki news value memiliki struktur yang penyajiannya tidak terlalu sensitif pada kepentingan dan kenyamanan audiens, sementara &lt;em&gt;other news &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;soft news&lt;/em&gt;) memiliki kelenturan untuk menomorsatukan perasaan audiens saat menonton dan menyimak berita televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila menyimak pembacaan Anne Dunn tentang esensi naratif pada berita televisi tadi, nampaknya kreator acara di Indonesia cukup cepat menangkap fenomena. Sebagai audiens, kita dimanjakan oleh berita-berita yang sudah diolah sedemikian rupa dengan struktur naratif dan pembingkaian menarik. Sisi human interest yang selalu dimunculkan tim kreatif dan tim produksi membuat kita melihat bencana gempa, tsunami, banjir, dengan sisi naratif dan terkadang cukup menarik. Saking menariknya, kita sudah dijejali oleh cerita kesedihan dengan angle beragam. Termasuk kesedihan si Luna Maya karena ulah tak sengaja para wartawan. Juga kesedihan si Olga yang telah kehilangan ibunya dengan setting cerita rumah baru (gak nyambung banget !).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya menghadirkan narasi tertentu sesuai dengan kepentingan masing-masing. Bisa jadi dia sponsor utama program (minum-minum suplemen mereka tertentu dalam Take Him Out), bisa jadi kepentingan promosi sosok penyanyi (penderitaan duda ditinggal istri gaya Anang Krisdayanti), atau pencitraan menjadi sosok malaikat baik hati sok berempati (air mata kesedihan dengan slow motion dalam ‘Andai Aku Menjadi’). Apapun bentuk dan format acaranya, dia harus disampaikan dalam bentuk naratif. Penonton senang karena diberi alur dengan gampang, sekaligus tak perlu berpikir rumit sambil menikmati pop corn atau sepiring kacang. Terlepas dia melenakan atau mendidik, gaya naratif memang menarik. Tapi ... ehh .. ngomong-ngomong, mana kacang dan coklat tadi ? ahh ternyata sudah habis, jangan-jangan sambil bercerita tentang naratif, saya juga tengah menaratifkan diri ? entahlah ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepi Kali, Februari 10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-4228029802258316406?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/4228029802258316406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=4228029802258316406' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/4228029802258316406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/4228029802258316406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/02/naratif-media-televisi.html' title='Naratif &amp; Media Televisi'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-1881295619233350085</id><published>2010-01-31T17:48:00.000-08:00</published><updated>2010-01-31T17:58:57.264-08:00</updated><title type='text'>Homo ludens Huizinga : Kritik Senyap Modernitas</title><content type='html'>“&lt;em&gt;Historical imagination dwelt by preference on crusades,&lt;br /&gt;Tournaments, khights-errant. Since then history has become democratic”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;-Huizinga, The Wanning of the Middle Ages (1924)-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A.Pengantar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah panjang upaya untuk menjelaskan dan menjawab problema peradaban manusia yang dilanda ketidakadilan, telah tersaji dalam beragam terminologi. Bermula dari label Homo Erectus (manusia tegak) di zaman pra-sejarah, menjadi penanda berbedanya manusia dengan makhluk lain, yang melata dengan empat kakinya. Lalu era modern ditandai oleh prinsip Homo Sapiens (manusia cerdas) yang menjadi penanda manusia semakin mengandalkan rasionalitasnya, seperti diungkapkan Rene Descartes (Scruton, 1986 ; Strathern, 2001). Masing-masing terminologi menyajikan kompleksitas dan dinamika yang berbeda-beda. Khusus untuk menjawab problem modernitas hasil kapitalisasi industri yang faktanya mendehumanisasi manusia, kritik utama Marxisme melahirkan istilah Homo Faber (manusia pekerja). Terma yang terakhir ini menggambarkan fakta pengisapan tenaga manusia pekerja oleh manusia lainnya sang pemilik modal, peradaban ingin diformulasi ulang dalam kerangka produksi dan persamaan kelas oleh Karl Marx.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti rata-rata argumen utama pendukung mazhab Frankfurt, istilah manusia pekerja dinilai mewakili situasi dehumanisasi manusia. Segala aktivitas manusia hanya dipandang sejajar dengan logika produksi kapitalis. Sang ”iblis” di sini adalah spirit kapitalisme. Semua menghamba pada prinsip produktifitas dan efisiensi. Pencapaian yang dinikmati peradaban manusia dengan berkonsumsi ria (Baudrillard,1998), sebagai hasil mesin kapitalisme melahirkan kerinduan akan semangat humanisme. Upaya melawan efek buruk kapitalisme dengan konsep masyarakat tanpa kelas ala Marxisme terbukti gagal dan tenggelam dalam utopia. Dibutuhkan sebuah kerangka pemikiran untuk menjelaskan mengapa Marxisme gagal membumikan teori tanpa kelasnya tanpa memantik paranoid seperti catatan sejarah yang ditinggalkan Lenin, dan Stalin. Bagaimana upaya menjelaskan fenomena masyarakat yang tetap asyik berbelanja, sementara mereka sendiri sadar akan fakta begitu miskinnya orang disekelilingnya. Struktur kognitif tidak lagi mampu memandu segala perilaku. Kritik utama yang diarahkan kaum Marxis pada fenomena modernitas bersendikan pada tibanya masyarakat yang serba berkesadaran. Contohnya adalah antitesis Marx atas kondisi alienasi yang uncenciousness. Kritik ini gagal. Ternyata masyarakat sendiri begitu menikmati kondisi ketidaksadaran ini. Tak perlu ‘sadar’ untuk berbelanja dengan kartu kredit (yang penting gesek), tak perlu ‘sadar’ untuk kredit mobil dan rumah (yang penting angsuran ringan), dan masih banyak ketidaksadaran lain yang ternyata begitu dinikmati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang ternyata dilupakan oleh kaum Marxis adalah begitu kuatnya area ketidaksadaran itu melekat pada masyarakat. Bagaikan insting yang inheren dalam diri manusia. Insting ‘permainan’ melekat erat dalam kehidupan. Sebagaimana layaknya insting, dia tidak perlu rasional dan bernalar. Insting membuka peluang pada hati nurani dan semangat humanisme untuk muncul kepermukaan. Johan Huizinga (1872-1945) mengintrodusir terminologi homo ludens untuk menjelaskan dan menjawab problematika manusia modern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bermaksud mengurai konsep homo ludens tersebut dengan mengambil setting kemunculan sikap kritik atas modernitas dalam berbagai segi. Diyakini bahwa konsep homo ludens sebenarnya memiliki roh dan semangat kritik serupa, untuk memeriksa kondisi sosial politis masyarakat di Eropa. Tulisan diawali dengan penjelasan hubungan antara Marxisme dan psikoanalisis. Psikoanalisis bercerita tentang ketidaksadaran, demikian pula homo ludens. Berbeda dengan mazhab Frankfurt yang sukses menuai popularitas sebagai teori kritis, pemikiran Huizinga tidak diketahui banyak pihak. Tawaran untuk membaca ulang pemikiran Huizinga melalui perspektif kritis akan dihadirkan dengan mengembalikan konsep ludens tadi sebagai sebuah hasrat. Psikoanalisis akan digunakan sebagai dasar pijakan penjelasan. Lalu barulah analisis selanjutnya akan dikerangkai dengan pendekatan postmodernisme melalui konsep Skizofrenik dari Gilles Deleuze &amp; Felix Guattari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B.Kritik Atas Kehancuran Peradaban Manusia : Memasok Psikoanalisis dalam Marxisme&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya &lt;em&gt;“Civilization and Discontents”&lt;/em&gt; (Pertama kali terbit tahun 1955), Sigmund Freud melihat sebuah masa depan peradaban yang suram. Sesuram instink dari id yang pada akhirnya tidak bisa lagi dibendung oleh super ego, terlebih oleh ego itu sendiri. Masa dimana kehancuran melanda, saat manusia hanya diperbudak oleh nafsu dan keinginan kehewanan mereka. Nafsu yang selama ini tertekan oleh katup pengaman norma dan relasi sosial kemasyarakatan, tiba-tiba secara bebas memberontak. Dia menyeruak bukan karena terus ditekan, melainkan norma dan nilai masyarakat sebagai katup pengaman telah terjalari pula oleh instink id itu sendiri. Boleh dikata karya Freud ini adalah sebuah puncak penggambarannya akan id yang semakin liar. Seperti ide besar yang ditawarkan oleh Freud pada buku-buku utamanya tentang relasi id, ego, dan super ego (Wollheim &amp; Hopkins, 1982; Freud, 1998; )  Id yang tidak lagi bertahta dalam singgasana kedirian seseorang, namun telah keluar menuju ranah sosial mempengaruhi lingkungan manusia. Sebuah dimensi sosial yang terjalari oleh id tanpa kekuatan super ego untuk mengamankan id yang semakin ‘nakal’ dan ‘tak terkendali’. Itulah inti dari kekhawatiran Freud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali upaya untuk mulai mengeritisi ranah sosial dengan pendekatan psikoanalisis ini tenggelam di tengah-tengah kepopuleran Freud sebagai ahli terapis yang hanya berhubungan dengan orang sakit jiwa (neurosis). Freud meninggal di tengah-tengah upaya memulai elaborasi tersebut. Untunglah kemudian pemikirannya tidak lantas selesai seiring dengan kematiannya. Elaborasi selanjutnya atas kritik ideologi yang diberikan Freud dilanjutkan oleh Erich Fromm. Seorang anggota mazhab Frankfurt yang berhasil menghubungkan antara psikoanalisis dengan pendekatan Marxian. Psikoanalisis yang sangat personal individual, terhubungkan dengan Marxisme yang sosial komunal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum masuk ke sekolah Frankfurt, Fromm sudah menulis suatu karya The Dogma of Christ (1963). Para tokoh Frankfurt menganggap bahwa karya tersebut sebagai contoh konkret integrasi ajaran Freud dan Marx. Dalam karyanya tersebut, Fromm menunjukkan bahwa Marxisme membutuhkan psikoanalisa, sebab psikoanalisa dapat makin mempertajam kritik ideologi dari Marx. Pemahaman Marx melihat bahwa segala sesuatu hanya demi meteri, dan untuk memeroleh materi itu orang kemudian melakukan manipulasi (ini dia namakan konsep ideologi) dengan orientasi membenarkan segala perilaku dan keinginannya. Dalam prakteknya, ideologi yang sebenarnya merongrong martabat insani diterangkan dan dibenarkan atas nama gagasan-gagasan luhur. Penganut ideologi berusaha menegaskan bahwa praktek ini dan praktek itu sesuai dan dituntut oleh gagasan ini dan gagasan itu. Jadi segala sesuatu yang mengontruksi kebutuhan atas materi itu sebenarnya berasal dari penciptaan gagasan-gagasan saja. Terkait dengan ideologi, menurut Marx ideologi itu lahir bukan dari kesadaran manusia itu sendiri tapi dari kebutuhan dan kepentingan material manusia secara nyata. Melalui pemaparan inilah Fromm menawarkan “proyek damai” antara psikoanalisa dan Marxisme.&lt;br /&gt;Seperti yang diajarkan Freud, Fromm (2001; 2002) menunjukkan bahwa dalam psikis terdapat dua naluri dasar yang selalu berkonflik, yakni naluri seksual dan naluri mempertahankan diri (self preservation drive).  Satu Eros dan yang lainnya Thanatos. Naluri mempertahankan diri selalu minta dipuaskan secara langsung, misalnya rasa lapar hanya bisa dipuaskan dengan makanan. Sedang naluri seksual dapat digantikan, disublimasikan dan dipuaskan dalam fantasi. Jadi naluri seksual itu lebih luwes terhadap kondisi sosial yang tidak dapat memuaskannya, sedangkan naluri mempertahankan diri sangat kaku terhadap lingkungannya. Maka ideologi mestinya ditinjau dalam hubungan dengan naluri seksual ini, karena ideologi adalah semacam fantasi yang dapat memuaskan naluri seksual itu. Naluri seksual itulah kunci untuk memahami ideologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fromm (2002), ideologi justru merupakan semacam represi atau penundaan terhadap kebutuhan tersebut. Patut dikemukakan bahwa dorongan-dorongan psikis itu tidak hanya bersifat biologis, melainkan juga historis. Artinya mereka juga merupakan produk dari situasi sosial tertentu. Dengan demikian, psikoanalisa tidak hanya dapat menerangkan gejala-gejala yang sifatnya individual, tapi juga sosial. Analisa terhadap dorongan-dorongan psikis yang sifatnya sosial ini, tentu akan makin membantu untuk menyelami berbagai bentuk “rasionalisasi sosial” yang terkandung dalam ideologi. Bagi mazhab Frankfurt, usaha Fromm untuk mengintegrasikan psikoanalisa Freud dengan ajaran Marx dari sudut teori tentang naluri itu memang merupakan sumbangan besar untuk makin memperkaya kritik ideologi mereka. Namun mereka beranggapan bahwa teori Freud tentang superego lah yang paling memberi kunci untuk menjalankan kritik ideologi. Sebab teori superego itu paling memberi keterangan tentang manipulasi dan dominasi sebagai unsur-unsur yang menjadi minat mazhab Frankfurt dalam menjalankan kritik ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tafsir yang diberikan Fromm, teori superego memberi alasan jelas mengapa masyarakat dapat memanipulir naluri-naluri bawaan demi suatu identifikasi yang disodorkan masyarakat. Dengan teorinya tentang Oedipus kompleks yang diterapkan kepada masyarakat secara luas, Freud menerangkan bahwa “ego ideal” atau “superego” dapat berbentuk pribadi, kelompok yang mungkin saja dibenci dan dimusuhi secara aktif (seperti anak terhadap bapak dalam sebuah keluarga) namun individu atau kelompok tertarik dan kagum padanya. Secara ringkas ajaran Freud itu bisa berbunyi, kendati penguasa itu dibenci dan tidak disukai, ternyata kelas yang ditindas oleh penguasa tetap tertarik secara emosional kepada penguasa tersebut. Superego bisa berbentuk rasionalisasi atau ideologi penguasa yang terus-menerus menentukan dan mungkin memaksa anggota masyarakat, tapi anggota masyarakat mematuhinya. Padahal dibalik superego tersebut tersembunyi berbagai kepentingan untuk manipulasi dan menindas. Jelaslah bahwa teori superego ini dengan demikian bisa memberi penjelasan makin mantap tentang pengertian dan timbulnya ideologi. Lewat kritik terhadap superegolah maka bisa dijalankan kritik ideologi yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan tokoh-tokoh Mazhab Frankfurt untuk menggabungkan gagasan-gagasan Freud dengan Marx menjadi kekuatan aliran ini untuk mengkritisi situasi modernitas yang merugikan peradaban manusia. Catatan sejarah mereka yang sama-sama teraniaya karena perlakuan Nazi Jerman ternyata sanggup menghasilkan pemikiran yang kritis bahkan bukan hanya pada pihak Nazi itu sendiri, melainkan mampu melebarkannya pada aras sosial lainnya. Muncul kekuatan kritis yang menghasilkan banyak sekali pemikiran pendobrak atas keterjajahan manusia karena kekuatan modern itu sendiri (baca misalnya Kolakowski, 1978; Elster, 2000; Berman, 2002). Pada titik akhir sulit untuk memisahkan pemikiran kritis mereka yang pada awalnya bernuansa meterialisme (dan buta filsafat) lalu terus bergeser semakin masuk ke ranah filsafat. Untuk itu saya harus mundur sedikit kebelakang, untuk menjelaskan pemikiran sosok lain yang berkeyakinan bahwa psikoanalisis bisa digunakan untuk memperjelas kritik ideologi.&lt;br /&gt;Sosok itu adalah Harbert Marcuse (1898-1979). Salah satu karyanya yang menonjol untuk melihat relasi tersebut adalah “Eros and Civilization” (Pertama terbit tahun 1970). Buku ini mencoba menggunakan berbagai kategori-kategori psikologis yang menyeruak jauh sekali kepada kategori politis. Dari buku ini terlihat bahwa apa yang dilakukan Fromm telah pula dilakukan oleh  pemikiran Marcuse. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marcuse memulai penulisan bukunya (1970) dengan melihat kondisi manusia di zaman ini, batas-batas ruang psikologis individual dengan filsafat politik dan filsafat sosial telah semakin kadaluwarsa dan kabur. Ini artinya, menerapkan hukum dan sudut pandang secara parsial untuk masing-masing permasalahan di dua ruang terpisah tadi nampaknya juga harus ditinggalkan.  Apa yang pada mulanya murni diterima sebagai masalah-masalah psikologis (berarti menjadi unit analisis dari kajian psikologi) dan hanya sebatas proses kejiwaan yang otonom dan dapat diidentifikasi sebagai semata-mata masalah kejiwaan, pada saat ini telah diserap oleh fungsi, peran individu di dalam masyarakat negara. Ini mutlak wilayah kajian filsafat publik dan filsafat sosial (berarti menjadi unit analisis kajian sosial). Masalah-masalah psikologis segera saja berubah menjadi masalah politis. Dalam bahasa Marcuse (2004: v-vi), segala macam gangguan, masalah personal, sekarang dapat secara lebih langsung merefleksikan gangguan-gangguan, masalah-masalah masyarakat secara keseluruhan, dan penyembuhan atau pengobatan gangguan atau masalah personal tersebut semakin tergantung secara langsung  pada penyembuhan masyarakat secara keseluruhan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ada alasan kuat mengapa Marcuse menggunakan pendekatan psikologis untuk menyelesaikan masalah-masalah sosiologis. Psikologi menurutnya hanya akan memiliki kekuatan analisis andai individu yang berada dalam konteks kekuatan sosial politik itu memiliki kekuatan untuk membentuk kebebasan dirinya sendiri. Namun andaikata kekuatan ranah sosial telah berhasil menekan dan membuat sang individu tidak lagi memiliki kekuatan untuk menjadi diri sendiri, dia akan teralienasi. Dalam kondisi demikian, menerapkan psikologi dalam analisis peristiwa-peristiwa sosial dan politik berarti menggunakan suatu pendekatan yang telah dilemahkan oleh peristiwa-peristiwa pengekangan itu sendiri. Ini tidak ada gunanya untuk dilakukan. Marcuse akhirnya menawarkan sebuah formula baru dalam buku sebelas chapter tersebut. Dia bermaksud mengambangkan beragam substansi politis dan sosiologis dari psikologi. Energinya adalah psikologi, namun diarahkan untuk mengungkap fenomena politik dan sosial yang berlaku pada zamannya. Apa yang dirisaukan oleh Marcuse sebenarnya adalah kekecewaan terhadap situasi umat manusia yang berada dalam kondisi ketidaksadaran (unconsciousness) atas pembudakan sukarela yang dilakoni atas nama kemajuan ekonomi dan peradaban itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Marcuse, psikoanalisa telah berubah fungsinya dalam kebudayaan dewasa ini, dia harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan sosial fundamental yang terjadi selama paruh awal abad 20. Ambruknya era liberal berikut janji-janji, semakin meluasnya kecenderungan totalitarian dan upaya meredam kecenderungan tersebut, terpantul dalam kajian-kajian yang dilakukan oleh psikoanalisis (Marcuse, 2004 : 306). Sejajar dengan realitas id yang terus bergerak liar, segala keinginan ideologi kapitalis sebagai mesin liberalisme, berikut segala ikutan di belakangnya menjadi sebuah energi penggerak masyarakat modern. Marcuse meyakini bahwa arah baru kemajuan manusia berikut peradabannya sangat tergantung pada apa yang dia sebut sebagai “seksualitas polimorf” (bersegi banyak). Istilah itu mengacu pada kesempatan menghidupkan, membangkitkan kebutuhan-kebutuhan organik, kebutuhan-kebutuhan biologis yang tertindas dan ditahan, intinya menjadikan tubuh manusia sebagai instrumen kesenangan, bukan sebagai instrumen kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan tentang Prinsip Realitas yang baru ini didasarkan pada asumsi bahwa prasyarat material (teknis) bagi pengembangan Prinsip Realitas tersebut telah tersedia ataupun dapat disediakan dalam masyarakat industri maju seperti saat ini. Penjabaran kemampuan teknis ini ke dalam realitas sama artinya dengan revolusi. Namun cakupan dan keefektifan introyeksi demokrasi telah membenamkan sang subjek historis, sang agen revolusi : manusia bebas tidak merasa membutuhkan pembebasan, dan mereka yang merasa tertindas tidak cukup kuat untuk membebaskan diri mereka sendiri. Kondisi ini mendefinisikan kembali konsep utopia : pembebasan adalah kemungkinan historis yang paling realistis dan konkret juga sekaligus adanya kemungkinan ketertindasan secara rasional dan efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat yang makmur dengan caranya sendiri mempersiapkan diri menghadapi kondisi keterkekangan dengan mengorganisir ‘hasrat akan keindahan’ dan ‘kehausan akan komunitas’, pembaharuan ‘cara berhubungan dengan alam’, pengayaan pikiran dan penghargaan atas ‘penciptaan demi penciptaan itu sendiri’. Kegagalan dalam menerapkan tujuan-tujuan semacam itu adalah pertanda bahwa dalam sistem yang ada, aspirasi-aspirasi tersebut diterjemahkan ke dalam aktivitas-aktivitas kultural yang diatur, didukung oleh pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar. Mereka bertindak sebagai perluasan kakuasaan eksekutif pada jiwa-jiwa massa. Merupakan sebuah kerja yang sulit, menurut Marcuse, untuk melihat isi aspirasi ini kecuali kembali mendefinisikan isi Eros (konsep kehidupan dalam terma psikoanalisis) dan transformasi otonomnya dari lingkungan dan eksistensi yang represif. Jika tujuan-tujuan yang dapat didefinisikan ini dapat dipenuhi tanpa konflik yang terdamaikan dnegan persyaratan-persyaratan ekonomi pasar, tujuan-tujuan tersebut harus dipuaskan di dalam kerangka kerja perdagangan dan keuntungan. Namun demikian, pemenuhan semacam ini pasti akan banyak menimbulkan penolakan, karena energi erotis inting kehidupan tidak dibebaskan dalam kondisi yang tidak memanusiakan dalam masyarakat makmur yang berorientasi pada profit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan paling mendasar yang dialamatkan Marcuse pada perjalanan peradaban adalah saat insting untuk mempertahankan kehidupan berhadapan langsung dengan ilusi pencapaian kehidupan yang lebih baik namun bersendikan thanatos. Kapitalisme yang nampaknya menjanjikan kehidupan lebih baik pada dasarnya adalah thanatos berselimut eros. Dia menjanjikan kemajuan dengan menciptakan kemunduran di sisi lain. Dia menawarkan kesejahteraan bagi penduduk di negara maju dengan mengeksploitasi dan menggerogoti negara-negara berkembang. Bahkan menurut Marcuse, sisi tergelap dari perjalanan peradaban adalah munculnya insting menikmati thanotos itu sendiri dengan berlagak mengibarkan panji-panji eros. Berbendera perdamaian bagi pasukan perang sama saja dengan menciptakan ilusi. Berdalih menciptakan kedamaian dan ketentraman namun pesawat tempur mereka terus membombardir rumah sakit, sekolahan, dan rumah-rumah penduduk sipil yang sama sekali tidak tahu menahu tentang perang berikut segala alasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi kemudian adalah pengingkaran eros. Protes tentu saja terus berlanjut atas semua itu. Sebuah protes yang menurut Marcuse berawal dari insting mendasar mempertahankan kehidupan itu sendiri. Munculnya sosok-sosok yang berjuang demi Eros melawan kematian. Mempertaruhkan kehidupan mereka sendiri. Mereka melawan kematian, dan melawan peradaban yang berusaha memperpendek ‘perjalanan kembali menuju kematian’ (2004, hal.xxviii). sementara mereka sadar betul bahwa mereka telah terjebak dalam peradaban yang memiliki kuasa kontrol sarana-sarana yang memperpanjang atau memperlama perjalanan menuju kematian itu. Upaya mengontrol itu harus dilawan dengan kekuatan tandingan untuk mengatasi kontrol pula. Cara yang segera harus dilakukan adalah mensinergikan antara pemahaman eros itu sendiri dengan sebuah kerangka strategi politik yang berdimensi sosial. Simpul Marcuse menyebutkan bahwa abad ini adalah sebuah abad di mana perjuangan kehidupan, perjuangan demi eros itu sendiri, adalah sebuah perjuangan politik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seperti yang diakui oleh Dauglas Kellner, kekuatan filsafat menjadi roh analisis Harbert Marcuse atas fenomena sosial politik. Dengan mengelaborasi beberapa karya utama Marcuse, Kellner mengatakan bahwa, ”his (Marcuse) articulations of philosophy with social theory, cultural criticism, and radical politics seem an enduring legacy”. Disaat para pemikir lain melupakan filsafat sebagai basis analisis, Marcuse datang dengan, “critical theorists provide philosophy with an important function within social theory and cultural criticism and develop philosophical perspectives in interaction with concrete analyses of society, politics, and culture in the present age.” Jadi dengan penilaian Kellner ini, saya kira cukuplah paparan kontribusi Harbert Marcuse dalam memberikan kritik terhadap perjalanan peradaban manusia.  Sebuah kritik yang mampu menyandingkan pendekatan Marxian dengan psikoanalisis Freud dalam sinergi yang mengejutkan. Terlihat nyata bahwa psikoanalisis telah bermetamorfosis pada ranah sosial sebagai sebuah kritik. Kritik itu membawa kembali insting kehidupan (eros) dan kematian (thanatos) ke dalam ranah perdebatan. Keduanya bergerak untuk menjelaskan salah satu aspek mendasar kehidupan manusia yang begitu terlupakan oleh modernitas. Aspek itu adalah hasrat (desire) yang sangat terkait erat dengan tokoh-tokoh pemikir posmodernisme. Saya akan menjelaskan sisi keterlupaan ini terlebih dahulu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau mau jujur, hasrat (&lt;em&gt;desire&lt;/em&gt;) merupakan sebuah konsep yang ‘dilupakan’ oleh para pejuang Mazhab Frankfurt ketika membangun teori kritis mereka. Itu terjadi saat Mazhab itu terlalu menjadikan kritik Marx sebagai pintu masuk menelaah modernitas. Perhatian atas hasrat baru disuarakan oleh Harbert Marcuse, lalu kemudian Erich Fromm. Tepat pada saat Fromm menemukan pintu masuk untuk mengawinkan psikoanalisis dengan Marxian, para pengusung pendekatan dan pemikiran posmodern telah bergerak begitu jauh melampaui apa yang digelisahkan dan dianalisis pengeritik modernitas tadi. Akhirnya para pemikir dan pengeritik aspek negatif modernitas tidak terlalu mengenal konsep hasrat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mencoba menarasikan lanskap teori-teori sosial modern, tidak ada satu katapun dalam index buku George Ritzer &lt;em&gt;“Modern Sociological Theory”&lt;/em&gt; (1996) yang menuliskan kata hasrat (desire). Kritik terberat pada modernisme yang mengagung-agungkan rasionalitas justru tidak melalui kekuatan oposisi biner rasionalitas, melainkan pada prinsip-prinsip kemanusian penuh kerinduan akan keselarasan, persamaan hak, romantisme sejarah, yang pernah diagung-agungkan pasca revolusi Prancis. Terlalu fokusnya Mazhab ini pada inti rasionalitas justru membuat mereka membuang lawan utama rasionalitas itu sendiri. Nalar yang terlalu kuat justru akan mematikan insting primitif manusia untuk ‘mengada’ secara natural. Kemampuan produksi yang dikritik oleh Mazhab ini memang terlalu berada dalam diskursus Marx atas logika produksi yang disadari. Padahal kalau melirik sejenak pada ide besar munculnya alienasi pada diri manusia, kita akan menemukan pintu masuk Marx yang mulai bermain-main dengan aspek psikologis dan filsafat dalam membongkar kejahatan produksi. Dua upaya Max Horkheimer untuk menelisik ulang rasionalitas hanya jatuh pada sebuah kerangka inventarisasi negatifnya rasionalitas tanpa nilai-nilai kemanusiaan semata. Dia meninggal sebelum dia sampai pada sebuah usulan konkret melawan rasionalitas produksi yang begitu menggila. Kemampuannya membeberkan ciri dan sifat dasar irasionalitas manusia dalam logika produksi menarik pemikiran filsafat yang justru bermaksud menaikkan prinsip rasionalitas dalam segala dalil dan argumennya. Hasil yang muncul sebagai muara analisis adalah terlupakannya hasrat dalam ranah kritik tersebut. Sebuah konsep yang begitu menonjol dalam pemikiran-pemikiran posmodernisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hasrat sungguh terlupakan oleh para tokoh dialektika modernitas yang melakukan kritik ideologi ? Mungkin di Jerman sebagai pusat aliran kritis hal itu terjadi. Mungkin pula hal itu juga dialami para tokoh pengkritik ideologi di Amerika. Namun sesungguhnya energi untuk memaparkan tentang hasrat sebagai elemen penting untuk menghadapi himpitan hidup dan menghilangnya nilai-nilai humanisme telah dihembuskan sejak 1930-an. Seorang tokoh sejarawan Belanda telah melakukan itu. Namanya Johan Huizinga. Salah satu karyanya telah mengangkat elemen hasrat menjadi begitu penting dalam kehidupan manusia. Hasrat itu adalah insting bermain (&lt;em&gt;ludens&lt;/em&gt;) manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.Huizinga &amp; Play Element of Culture &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johan Huizinga lahir di Groningen, Belanda pada tahun 1872, sebagai putra Dirk Huizinga, guru besar Fisiologi. Sejak berusia dua tahun Huizinga telah menyandang anak piatu karena ibunya, Jacoba Tonkens, meninggal dunia saat Huizinga baru berusia dua tahun. Sebuah kehidupan piatu yang membuat dia tidak mendapatkan kasih sayang dan sentuhan seorang ibu. Kondisi batiniah yang kelak akan sangat terlihat di beberapa bukunya yang selalu tidak jauh dari kesepian, pesimisme, dan kerinduan akan kebersamaan. Dengan kondisi ekonomi yang relatif baik, Huizinga menempuh pendidikan di atas rata-rata anak seusianya. Dia masuk ke pendidikan universitas tahun 1891, dan mendapatkan gelar dalam bidang bahasa Indo-Jerman pada 1895.  Huizinga kemudian belajar ilmu bahasa perbandingan di Universitas Leipzig, dan setelah kembali dari Jerman dia mendapat Ph.D. nya di 1897. Disertasinya adalah tentang topeng dalam drama sangsekerta. Sejak awal Huizinga sangat meminati sejarah sebagai sebuah kajian yang mempesona. Namun karena keterbatasan dosen pembimbing berikut pengajar pada bidang itu, maka minatnya beralih pada linguistik. Selama tahun-tahun berikutnya ia mengajar sejarah di sebuah sekolah menengah di Harlem dan pada tahun 1903-1905 menjadi pengajar tentang sejarah kuno di Universitas Amsterdam.  Pada 1905 ia menjadi guru besar sejarah di Groningen.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kematian istri pertamanya, Maria Vincentia Schorer (1877-1914), dia pindah dari Groningen ke Leiden, di mana ia diangkat pada tahun 1915 sebagai guru besar umum sejarah di universitas terbesar di Belanda tersebut. Ketika menulis pemikirannya tentang bermain menjadi sebuah buku berjudul Homo Ludens, dia berstatus sebagai rektor universitas Leiden. Buku inilah yang menurut Mangunwijaya (1990) memiliki ide yang belum tertandingi karena menceritakan sebuah hal yang nampak terlalu biasa namun memiliki akibat sangat luar biasa dalam peradaban manusia. Diakui oleh Huizinga, pada buku inilah emosinya begitu terlibat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul “Homo Ludens : a Study of the Play Element in Culture”  (1955) itu telah diterjemahkan juga ke dalam bahasa Indonesia dengan judul singkat : Homo Ludens (1990). Pengakuan Huzinga bahwa dia begitu terlibat dalam proses penyusunan buku itu bukanlah tanpa alasan dan bukti kuat. Dia mengakui bahwa untuk mengintrodusir konsep ludens sebagai sesuatu yang inheren dalam kebudayaan, dia berjuang pada setiap kesempatan yang tersedia. Bahkan setiap kali menyampaikan ide itu entah di seminar, atau acara akademis serupa, Huizinga akan memerotes keras panitia yang mengubah judul makalahnya dari “The Play Element of Culture” menjadi “The Play Element in Culture”. Setiap kali panitia mengoreksi “of Culture” nya menjadi “in Culture”, maka dia langsung memprotes keras.  Dia langsung mengutarakan maksudnya untuk menganggap dan menegaskan bahwa kebudayaan itu sendiri di dalamnya mengandung karakter permainan. Budaya bermain bukan cuma menjadi salah satu wujud dari manifestasi lain sebuah kebudayaan. Permainan itu inheren dalam kebudayaan. Bahkan kebudayaan adalah permainan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca keseluruhan buku &lt;em&gt;Homo Ludens &lt;/em&gt;itu membuat kita terbawa pada romantisme Huizinga tentang kedahsyatan abad pra-sejarah. Menurutnya, hanya manusia-manusia pada zaman Arkhais-lah yang sangat terlibat dengan insting bermain mereka. Insting itu dalam perjalananan sejarahnya sempat hilang ditelan peperangan dan kehancuran zaman, namun kemudian muncul dengan kuat selepas manusia mengenal  renaisans. Abad Renaisans telah menghidupkan kembali kedua khayalan kehidupan ludik yang utama, yakni mengenai kehidupan di pedesaan dan mengenai kehidupan ksatria. Sementara itu dua dunia yang sangat kuat semangat kebermainan di dalamnya manurut Huizinga adalah  dunia sastra dan dunia pesta (Huizinga,1990:251). Hal yang sama diakui oleh Alison (2009) tentang betapa cintanya masyarakat era renaisans terhadap buku-buku, sekolah, seni dan arsitektur. Salah satu ciri khas yang begitu kuat bagi masyarakat yang hidup di zaman renaisans adalah humanisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus kepada istilah humanisme, tampaklah bahwa apa yang telah kita catat tentang ciri permainan dari renaisans juga berlaku bagi humanisme. Lebih daripada renaisans, humanisme terbatas kepada mereka yang tergolong orang dalam dan mereka yang “tahu”. Kaum humanis mengejar suatu rumusan ideal tentang kehidupan dan kerohanian yang dirumuskan dengan ketat. Mereka bahkan mampu mawarnai pengungkapan kepercayaan kristiani mereka dengan unsur-unsur pagan antik dan dengan bahasa klasik mereka (Huizinga, 1990:252). Dalam mencoba memberikan contoh kuatnya insting bermain dalam kehidupan masyarakat abad pertengahan itu, Huizinga mengambil kasus penggunaan wig dalam konteks sosial kemasyarakatan. Untuk menjelaskan mengapa mode wig bisa bertahan begitu lama (membentang dari abad ke-17 hingga ke-18, menurut Huizinga,  kita harus bertolak dari kenyataan bahwa pemeliharaan rambut panjang dengan segera akan menimbulkan tuntutan-tuntutan yang lebih besar daripada apa yang dapat dipenuhi oleh kebanyakan kaum pria. Dan begitu wig sudah menjadi mode, ia tidak lagi dianggap sebagai rambut tiruan atau rambut palsu dan menjadi unsur corak mode. Hampir sejak lahirnya mode itu dalam abad ke – 17, wig merupakan suatu hasil seni. Dalam arti yang paling harfiah, wig dimaksudkan sebagai “bingkai” wajah, sebagaimana lukisan diberi bingkai. Wig tidak dimaksudkan untuk meniru-niru, melainkan untuk mengisolasi wajah, sehingga akan kelihatan lebih muda, lebih indah. Maka dari segi ini, wig merupakan yang paling barok dari segala Barok (Huizinga, 1990:255). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad ke-19 tampaknya tidak punya banyak tempat lagi bagi fungsi permainan sebagai faktor dalam proses kebudayaan. Terdapat kecenderungan-kecenderungan yang semakin kuat yang tampaknya tidak memungkinkannya untuk terjadi sebagai basis kehidupan manusia. Sudah sejak abad ke-18, umpamanya, utilitarianisme yang prosais dan berkepala dingin (ini yang fatal bagi Barok) dan ideal Borjuis tentang kesejahteraan sosial, sudah mulai berpengaruh dalam masyarakat. Menjelang akhir abad itu, revolusi industri dengan keefektifan teknisnya yang semakin meningkat memperkuat kecenderungan-kecenderungan itu. Kerja dan produksi menjadi ideal dan hampir menjadi idola di zaman tersebut. Eropa mengenakan seragam kerja. Kesadaran sosial, tujuan pendidikan dan pengetahuan ilmiah merupakan faktor-faktor yang menentukan proses kebudayaan. Semakin meningkat perkembangan industri dan teknik, mulai dari mesin uap sampai kepada tenaga listrik, semakin kuat ilusi yang diciptakannya, bahwa dalam dirinyalah terletak segala kemajuan peradaban. Akibatnya terbukalah kemungkinan bagi manusia untuk menyusun dan menganut konsepsi yang keliru dan yang memalukan; seolah-olah peristiwa di dunia ini ditentukan dan dikuasai oleh kekuatan dan kepentingan ekonomi (Huizinga, 1990:265).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Huizinga menjelaskan unsur permainan abad modern setelah memudarnya budaya Arkhais abad ke-18 ? Minimal ada beberapa simpulan yang bisa diperoleh dari dia. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, semuanya begitu terkait dengan kegiatan olehraga. Olahraga dengan segala kompleksitas dan sifatnya masih menjadi habitat subur dimana insting bermain itu tidak pernah benar-benar mati. Dikatakan oleh Huizinga, sesuatu yang penting bagi kita adalah peralihan dari permainan hiburan yang dilakukan sesekali ke sistem perkumpulan dan pertandingan yang terorganisasi.  Meskipun begitu, ada perbedaan substantif antara masa arkhais dengan dunia modern dalam memaknai olahraga sebagai sebuah aktivitas ludik. Dalam masyarakat terkini, olahraga menduduki tempat tersendiri, terpisah dari proses kebudayaan yang sesungguhnya, yang berlangsung di luarnya. Dalam kebudayaan arkhis, kompetisi merupakan bagian dari pesta sakral. Kompetisi selalu bermuara pada harapan akan datangnya kesejahteraan, tidak dapat ditiadakan. Dalam olahraga modern, hubungan dengan ritus itu sudah hilang sama sekali. Ia sudah menjadi profan sepenuhnya dan tidak mempunyai ikatan organis lagi dengan struktur masyarakat, sekalipun kegiatannya diharuskan oleh pemerintah. Ia masih merupakan pengungkapan mandiri dari naluri-naluri agonal daripada suatu faktor semangat kemasyarakatan yang subur (Huizinga, 1990:273). Suatu perusahaan besar dengan sadar telah memasukkan faktor permainan ke dalam lingkungannya sendiri, untuk kemudian berlomba mengukir prestasi demi prestasi. Orang terjebak di dalamnya. Prosesnya sudah dibalikkan : permainan menjadi sungguhan. Seorang atlit sepakbola internasional saat ini tidak bisa lagi hanya sekadar menikmati permainan sepakbola sebatas permainan riang gembira memainkan si kulit bundar, namun sudah terlalu sibuk dengan berapa gol yang akan tercipta sekaligus harga transfernya, berapa gaji bulanannya, berapa asuransi kakinya, berapa iklan yang akan dia bintangi selama dia menjadi bintang. Sepakbola telah menjadi bisnis dan tidak ada lagi unsur ludik di dalamnya. Semua ditaksir dan diprediksi sedemikian rupa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, terdapat kecenderungan bahwa kegiatan-kegiatan yang pada mulanya sangat terimpit dengan kepentingan, keharusan, atau kebutuhan (sama sekali tidak menunjukkan bentuk-bentuk permainan) secara sekunder mengembangkan suatu sifat yang hanya dapat dinamakan sifat permainan. Validitas kegiatan-kegiatan itu hanya terbatas dalam suatu lingkungan yang tertutup, dan aturan-aturan yang berlaku di dalamnya kehilangan finalitas umumnya. Contoh konkret dunia modern adalah anggapan bisnis yang semakin kehilangan sisi kesungguhannya dan berubah menjadi semi permainan. Cerita tentang jual menjual saham dari para spekulan tak lebih dari sebuah permainan angka-angka numerik di papan keyboard komputer mereka. Tak lagi dapat dipungkiri bahwa krisis ekonomi terbesar abad ini nampaknya hanya bermula dari semangat iseng seorang spekulan raksasa dalam mengkalkulasi tarik ulur dana di berbagai pasar saham dunia. Menganggap dunia permainan saham sebatas permainan games telah menyengsarakan banyak orang dengan tak terkendalinya nilai mata uang. Beberapa manajer puncak perusahaan-perusahaan global merasa bahwa dalam dekade terakhir mereka lebih banyak terlibat dalam suasana kompetisi yang lebih mirip sebuah permainan ketimbang tuntutan profesional pekerjaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tesis utama Huizinga adalah bahwa kebudayaan itu sendiri mengandung karakter permainan. Secara ekstrim dia bahkan mengatakan bahwa peradaban muncul dan berkembang di dalam dan sebagai permainan (1955). Usahanya untuk mencoba mengintegrasikan konsep permainan ke dalam kebudayaan, nampaknya hingga hari ini tenggelam ditengah-tengah semangat humanisme yang ditiupkan generasi baru abad 20. Sekalipun sesungguhnya apabila direnungkan, Huizinga telah berupaya memberikan jawaban atas ketertundukan manusia sebagai Homo Faber logika produksi. Mengapa demikian ? karena karakter Homo Ludens dengan sendirinya sudah mencakup spirit Humanisme. Demi memaparkan bagaimana telaahnya atas esensi bermain manusia dalam kebudayaan, Huizinga memberikan empat ciri-ciri yang bisa dijadikan patokan. Pertama, permainan itu suatu aktivitas sukarela (&lt;em&gt;voluntary activity&lt;/em&gt;) , yang -walaupun disadari sebagai-“tidak sungguhan”. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, bermain selalu dipandang berada diluar kehidupan yang biasa (&lt;em&gt;not real life and only pretending&lt;/em&gt;) - dapat menyita seluruh perhatian pemain untuk berkonsentrasi memainkan peran tertentu ketika terlibat dalam permainan ; &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, tertutup dan terbatas (&lt;em&gt;secludedness and limitedness&lt;/em&gt;). Sebuah permainan hanya dimainkan dalam batas-batas waktu dan tempat tertentu. Ia berlangsung dan bermakna dalam dirinya sendiri. &lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, permainan menciptakan ketertiban (create &lt;em&gt;order, is order&lt;/em&gt;). Bahkan ia adalah ketertiban itu sendiri. Dalam sebuah permainan, seluruh pihak yang bermain harus taat pada sebuah aturan khusus yang harus dipatuhi. Ketidakrelaan mengikuti aturan membuat permainan tidak bisa lagi dijalankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi dari permainan menurut Huizinga, adalah insting mendasar manusia untuk tampil menunjukkan diri atau sesuatu. Pada tataran ini identitas menjadi kata kunci. Eksistensi manusia yang dipertunjukkan dalam permainan mewakili sifat dan fungsi permainan (Huizinga, 1950). Bila membicarakan permainan, maka kita akan menemukan upaya mencapai posisi ”juara”, ”nomor satu”, yang pada intinya adalah memenangkan permainan. Esensi kalah menang ini menjadi bagian integral dalam kehidupan. Bahkan menjadi kunci dalam interaksi kehidupan manusia sehari-hari. Dari pembacaannya atas energi ludens tersebut, Huizinga sebenarnya tengah memperhalus dan mengurai konsep relasi kuasa yang bersumber dari ‘hasrat berkuasa’ (will to power) dari Nietzche.  Sebuah hasrat yang menjadi fondasi pemikir-pemikir Prancis posmodern. Pada titik inilah kemudian menginterpretasi insting ludens tadi dalam fenomena kekinian akan menjadi sebuah kajian menarik. Tafsir yang ditawarkan adalah pembacaan atas hasrat ludens tadi dengan meminjam konsep-konsep Deleuze &amp; Guattari. Namun menjelaskan lebih dahulu tentang konsep hasrat nampaknya menjadi sebuah keharusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sedikit ilmuwan yang begitu peduli akan konsep hasrat ini, kita boleh menyebut Sigmund Freud lah yang paling detail dalam mengelaborasinya.  Terbukti dua abad sejak dia tuliskan, perbincangan hasrat semakin menemukan atmosfir untuk tumbuh dan berkambang.  Tersebutlah nama Lacan, Foucault, Derrida, Barthes, Deleuze &amp; Guattari, Irigaray, Lyotard, dan Kristeva, semuanya adalah pemikir dan filosof yang banyak membicarakan dinamika hasrat dalam rangkaian karya mereka. Freud menelusuri genesis hasrat dari pengalaman badani awal antara bayi dan ibunya. Manusia terlahir prematur. Dia tidak seperti kambing atau rusa yang langsung bisa berjalan beberapa saat setelah dilahirkan sang induk. Bayi manusia sepenuhnya tergantung atas perawatan sang ibu untuk pemenuhan kebutuhan biologisnya. Dinamika relasi antara anak, ibu, kecemburuan pada peran ayah serta ketakutan akan kartrasi (pengebirian) berakhir pada usaha keras Freud untuk menundukkan Id dalam selubung ego dan campur tangan super ego (Adian, 2006:25-43). Upaya penundukan itu ternyata tidak serta merta menghilangkan id sebagai kekuatan latent. Ia mengambil bentuk baru lewat penyingkapan fantasi. Hasrat atas kepuasan serta merta sementara mengalah guna mencapai kepuasan yang lebih tahan lama dan permanen sifatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formasi ego pun pada tataran selanjutnya melibatkan hasrat. Kehilangan ‘yang dicintai’ adalah pengalaman yang menyakitkan sehingga sebentuk ego mesti dibentuk lewat identifikasi dan inkorporasi. Identifikasi adalah proses di mana individu menginternalisasi atribut orang lain dan mentransformasi lewat imajinasi tak sadar. Identifikasi ini kemudian menjadi bagian dari individu melalui inkorporasi : pengambil-alihan-objek-sebagian atau seluruhnya-untuk menyusun basis dari ego. Dari sepenggal paparan ini, hasrat paling tidak bisa didefinisikan sebagai sebuah kekuatan alam bawah sadar yang menggarakkan manusia. Hasrat hadir karena posisi belum sempurnanya manusia sebagai makhluk yang berkeinginan. Keinginan yang karena munculnya peradaban berhasil dikekang dan dikendalikan. Namun pada saatnya terlihat bahwa inilah sebuah konsep yang mampu menjelaskan perilaku manusia abad ini. Seperti yang coba dibahas tuntas oleh para pemikir posmodern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D.Posmodernisme dan Hasrat : Me-luden-kan Kehidupan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam uraiannya tentang sosiologi posmodern, Scott Lash (2006:88-91) menegaskan bahwa untuk berbicara tentang hasrat, kita tidak bisa melepaskan diri dari ciri-ciri intelektual Prancis. Dengan tiga penulis utama Prancis – Foucault, Lyotard, dan Gilles Deleuze – Lash menyatakan bahwa pembicaan tentang hasrat akan sangat terkait dengan ciri tersebut, yakni kuatnya pemikiran posmodern. Dengan menggunakan tiga logika Foucault, Lash mengatakan bahwa sumbangan kaum neo-Nietzschean bukan hanya pada wilayah estetika, melainkan juga etika posmodernitas, yang telah mengangkat “perlawanan” dan “penemuan” melawan isu hirarki dan penaklukan. Kata pertama yang penting untuk melihat peralihan posmodern estetis menuju posmodern teoretis adalah mengangkat narasi atau “kisah” melawan diskursus. &lt;br /&gt;Di Prancis, posmodern teoretis terutama menjadi persoalan keterpisahan dengan strukturalisme. Dalam perkembangannya kemudian para teoretisi Prancis terbelah menjadi dua kubu. Di satu kutub ada para strukturalis atau modern seperti Barthes, Lacan, dan Derrida yang sangat terinspirasi oleh pendekatan bahasa Saussurean; di sisi lain ada kaum posmodernis seperti Foucault, Deleuze, dan Lyotard yang bersifat Nietzschean. Satu kutub pertama sangat mengidolakan bahasa menjadi pintu masuk menjelaskan fenomena, satu kutub berikutnya menjadikan hasrat diri sebagai upaya menjelaskan semuanya. Sekalipun keduanya berbeda jalan, namun keduanya memiliki sasaran kritik yang sama yakni melawan narasi besar modernitas. Seorang filosof kontemporer yang benar-benar menjadikan hasrat sebagai landasan berpikir melawan narasi besar itu adalah Gilles Deleuze. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu bentuk kekhawatiran atas terlalu kuatnya kecendrungan dehumanisasi manusia yang dihasilkan oleh modernitas, Gilles Deleuze &amp; Felix Guattari dalam masterpeice mereka “Anti-Oedipus : Skizophrenia &amp;  Capitalism” (2008) menawarkan konsep masyarakat Despot.  Seperti yang dilakukan Fromm dan Marcuse, kedua orang ini juga menggunakan analisis Freudian dalam membaca zaman dengan perspektif strukturalis. Untuk menyebut mereka sebagai penerus Freud nampaknya tidak sesuai dengan maksud buku mereka tadi, jadi lebih baik ide mereka berdua dinamakan sebuah upaya pelebaran (pembantahan) atas kritik besar Freud terhadap kemajuan peradaban yang terus menerus meninggalkan manusia pelaku peradaban itu sendiri. Saat Freud sama sekali tidak tertarik pada ide tentang masyarakat dan bagaimana masyarakat sebagai sebuah kesatuan sosial bisa terbentuk dan lalu hancur lebur, justru Deleuze &amp; Guattari berhasil memperluas ide mikro Freud menjadi senjata utama kritik menghancurkan narasi besar Marxian. Interpretasi Freud yang sangat personal individual, dipinjam untuk melihat perspektif lebih luas berupa kompleksitas dan dinamika masyarakat sosial. Dengan menggunakan konsep Schizophrenia, keduanya merelasikan antara hasrat dengan produktifitas Marxian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi antara hasrat yang produktif dan kekuatan antiproduksi merupakan bahasan yang penting di dalam karya Deleuze &amp; Guattari (2008).  Dengan dua konsep yang saling berelasi inilah mereka berusaha memecahkan logos hasrat yang selama ini berwajah Oedipus. Menurut mereka subyek yang ter-Oedipalisasi sudah merupakan sebuah produk atau hasil dari pertentangan antara hasrat produktif dengan kekuatan antiproduksi. Semuanya terjadi di bawah sadar, dan dengan cara pembacaan diri yang restropektif akan memungkinkan kita menyadari setelah pertarungan itu usai dan siapapun pemenangnya. Schizophrenia merupakan suatu kondisi dimana hasrat yang produktif dan kekuatan antiproduktif secara permanen bergantian menguasai koneksi atau diskoneksi tubuh-tanpa-organ. Sebuah revolusi permanen yang tanpa henti, dan tentunya tidak mengijinkan pembentukan subjek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membedakan konsep utamanya dengan psikoanalisis (yang terlanjur dianggap sebagai dogma) Deleuze &amp; Guattari (2008) menggunakan istilah Skizoanalisis. Formula yang ditawarkan oleh keduanya untuk keluar dari krisis kemanusiaan mengacu pada konsep schizophrenia yang menurutnya masih lebih bermartabat daripada apa yang ditawarkan kaum psikonalisis. Mereka bilang, “a schizophrenic out for a walk is a better model than a neurotic lying on the analyst’s couch” (2008:2). Seorang skizofrenik yang ingin sekali melangkah bisa jadi merupakan model yang lebih baik daripada model neurotik yang terbaring di atas dipan seorang analisis (pendekatan psikoanalisis). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan akan muncul ketika kekuatan antiproduksi memenangkan pertarungan dan membebaskan hasrat dari pengaruh insting atau kebiasaan yang menentukan. Ketika koneksi organ dan mesin hasrat terputus, hasrat yang produktif menjadi rentan untuk tertangkap di dalam representasi sosial yang represif, yakni bentukan-bentukan sosial tentang apa yang harusnya kita inginkan dan patuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari titik inilah kemudian skizoanalisis memulai proyeknya untuk memeriksa masyarakat sebagaimana memeriksa psikis manusia. Permainan mesin hasrat yang produktif dan kekuatan antiproduktif tidak hanya diam di dalam psikis individual, lebih lanjut di bawa ke ranah sosial untuk menunjukkan bagaimana hasrat yang selama ini dituduh sebagai kambing hitam sejarah justru memperoleh representasinya dari ranah sosial. Untuk membuktikan hal tersebut, Deleuze &amp; Guattari melakukan sebuah genealogi, metode pelacakan silsilah yang dikembangkan oleh Nietzsche &amp; Foucault. Tidak ketinggalan, pisau analisis Marx untuk memeriksa ekonomi sosial, strukturalis Lacan dan Levi-Strauss untuk memeriksa simbol, bahasa, dan bentuk-bentuk interaksi sosial, serta Freud. Dari pemikir sosial kontemporer, Deleuze &amp; Guattari yang pertama membawa psikoanalisis dalam bentuk barunya, yakni skizoanalisis, ke tahap yang menggabungkan analisis kuasa Nietzchean, analisis politik-ekonomi marxian, dan strukturalisme Lacanian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan untuk memindahkan konsep Marx tentang masyarakat sosial ke dalam prinsip psikis individual dibuktikan oleh Deleuze &amp; Guattari (2008). Tekanan mereka melihat hasrat sebagai yang ditekan namun tak tertiadakan. Ide awal mereka adalah dengan mengurai konsep Oedipus dari Freudian. Perlu diketahui bahwa sosok mitologi Yunani bernama Oedipus ini adalah gambaran Freud tentang sosok anak yang membunuh bapaknya untuk kemudian mengawini ibunya. Hasrat disederhanakan setara dengan kompleksitas sosok Oedipus. Setelah mengupas Oedipus versi Freud mereka berdua sampai pada pertanyaan kunci, apakah memang hasrat selalu mengambil bentuknya sebagai Oedipus di dalam kesejarahan manusia ? untuk memecahkan pertanyaan itu, Deleuze &amp; Guattari melakukan geneologi terhadap Oedipus dengan membagi momen kesejarahan manusia menjadi momen Savegery, Despotism, Capitalism, dan Permanent Revolution.  &lt;br /&gt;Membicarakan tentang hasrat sebagai konsep utama dalam teori-teori kritis sesungguhnya menandai membaurnya pendekatan posmodern untuk melihat apa yang sama sekali tidak terlalu dilirik oleh teori-teori tersebut. Dalam pandangan awal Ben Agger (2003) posmodernisme neoliberal dan multikultural sama sekali tidak mengeksplisitkan diri sebagai teori sosial kritis karena mereka tidak memunculkan tantangan radikal bagi sistem sosial yang telah mapan. Namun pada bagian akhir tulisannya, Agger menyarankan agar teori-teori sosial posmodern bisa dibaca dalam narasi besar teori kritis. Untuk mendukung asumsinya itu, Agger memberikan delapan asumsi terkait dengan dasar berpikir teori-teori posmodern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E.Homo Ludens Sebagai Kritik : Tawaran Simpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak ada dua skenario besar untuk mencoba menelaah hasrat yang bermetamorfosis dalam ke-bermain-an manusia abad ini. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, jika memang benar dia telah menjadi sebuah gejala masif (mempermainkan bentuk hasrat sedemikian rupa untuk mengelabui super ego) bagaimana cara menditeksi keberadaannya agar manusia tidak lagi terjebak pada labirin metamorfosis hasrat yang absurd ?  &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, jika memang dia tidak bisa direpresi sedemikian rupa oleh kekuatan imaji sosial masyarakat, maka dalam wujud dan rupa seperti apa dia bisa ditoleransi untuk merepresentasikan diri ? Kemampuan untuk menyembunyikan segala insting dengan formulasi yang sangat halus bisa dijawab dengan hasrat bermain (ludens).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep homo ludens sungguh datang pada saat yang tepat. Konsep yang ditawarkan lebih dari satu abad silam oleh Huizinga ini paling tidak menjadi alternatif menerangkan fenomena manusia kontemporer. Ternyata di luar dunia relijius, seni spontan, dan segi-segi manusiawi lain yang tidak bisa dibawahkan oleh hukum-hukum empirik dan rasionalitas instrumental belaka, masih ditemukan suatu dunia yang sangat manusiawi, spontan, dan asli dalam diri manusia, yang diharapkan dapat mengimbangi distorsi dunia rasionalitas yang ternyata adalah irasionalitas yang absurd. Dunia itu adalah dunia bermain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi ke-bermain-an manusia sangat erat hubungannya dengan spontanitas, autentisitas, dan aktualisasi dirinya secara asli menjadi manusia seutuh mungkin. Oleh karena itu ia menyangkut dunia dan iklim kemerdekaan manusia, pendewasaan, dan penemuan sesuatu yang dihayati sebagai sejati. Bermain mengandung aspek kegembiraan, kelegaan, penikmatan yang intensif, bebas dari kekangan atau kedukaan, berproses emansipatorik, dan semua itu hanya akan tercapai dalam alam dan suasana kemerdekaan. Dalam kondisi bermain itulah seharusnya manusia menikmati prinsip konsumsi. Menikmati hidup yang semakin berat. Mencoba untuk menafsir homo ludens dengan perspektif posmodern akan menghasilkan daya bongkar atas perilaku tak terjelaskan manusia kontemporer.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-1881295619233350085?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/1881295619233350085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=1881295619233350085' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/1881295619233350085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/1881295619233350085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2010/01/homo-ludens-huizinga-kritik-senyap.html' title='Homo ludens Huizinga : Kritik Senyap Modernitas'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-2355784811164370367</id><published>2009-12-24T16:25:00.000-08:00</published><updated>2009-12-24T16:32:19.313-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ide Tua - Ide Muda'/><title type='text'>Namanya Mira ...</title><content type='html'>Ini cerita tentang perempuan.&lt;br /&gt;Perempuan jalanan yang tidak pernah sadar bahwa hidup ini harus punya tujuan.&lt;br /&gt;Kepada perempuan itulah semua hasrat dan naluri kebinatangan aku tumpah dan tuangkan.&lt;br /&gt;Ini cerita tentang perempuan,&lt;br /&gt;Kata mereka sih semua untuk hidup dan untuk makan ….&lt;br /&gt;Namanya Mira, mengaku berumur 29 tahun. Namun bagiku mungkin itu adalah samaran dan karangannya semata. Kalau ditaksir sih mungkin sudah 35 atau bahkan lebih. Namun tidak apalah, malam ini awalnya aku hanya berinisiatif untuk menjernihkan otakku yang tegang dalam beberapa hari ini. Jam di tanganku menunjukkan pukul 18.00 WIB ketika aku menjalankan mobilku pelan-pelan keluar dari Salon Riska. Nama salon baru di tikungan sebuah jalan utama kota Jogja itu merupakan referensi yang berasal dari temanku, Ibtu. Katanya sih di sana menerima perawatan “lebih’. Jadi tadi sore aku coba-coba datang ke sana, Setelah di treatment cukup satu jam, aku memutuskan untuk mengakhiri perawatanku itu.  Tanpa menindaklanjuti  tentang informasi ‘plus’ dari Ibtu. Ada beberapa catatan atas tempat itu, Pertama, dia tidaklah seperti yang digembar-gemborkan temanku. Juru pijatnya tidak ada yang cantik dan memikat. Pelayanannya standar sekali (bisa jadi karena aku tidak terlalu tahu tentang kode-kode tersembunyi ketika menyampaikan maksudku sebenarnya datang kesitu). Kedua, tarif yang dibebankan padaku untuk satu jam murah banget. Untuk pijat selama satu jam, tarif yang dikenakan cuma 60 ribu. Wuaah kalau  ini  sih super murah dari beberapa tempat pijat di Yogyakarta yang pernah aku kunjungi. &lt;br /&gt;“Masih masa promosi sampai akhir bulan ini Mas, “ Kata pegawai dikasir pembayaran, Naah mumpung promosi makanya bisa jadi ada niat bagiku untuk kembali ke tempat itu. Tentu saja dengan strategi dan teknik yang berbeda. Tapi okelah ….. karena cukup murah, maka aku berpikir mungkin ada baiknya ntuk mencoba "hal lain", maka aku mulai memijit nomor hp ku dengan kepala dipenuhi satu nama yang kusebut tiga detik setelah hp kupencet :&lt;br /&gt;“ Hallo …. “ aku hela napas sejenak “ Mira ? “&lt;br /&gt;“ Heii ,,, siapa ini ? “ suara agak mendesah&lt;br /&gt;“ Ini Tole….. loe ada dimana ?” napasku memburu : “ Gue butuh banget kehadiran loe !”&lt;br /&gt;“ Kapan ?”&lt;br /&gt;“Ya malam ini lah !” Wajahku pasti cemberut. “Masak  tahun depan !!”&lt;br /&gt;“Wah .. aku ga bisa neh ..”&lt;br /&gt;“Mengapa ?” &lt;br /&gt;“Ada tamu ..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubrak ..! &lt;br /&gt;Dasar perempuan sialan, lagi dibutuhkan benar-benar malah asyik menjamu tamu. Dasar brengsek  sex  sex  sex …. Malam jahanam !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cerita tentang perempuan ...&lt;br /&gt;Otak kananku langsung memvonis bahwa Mira adalah perempuan panggilan yang tidak bisa dibilang muda lagi. Usianya sudah diatas 35 tahun (Lihat betapa cepatnya asumsi menjadi sebuah dakwaan dengan nada penuh kepastian!). Sepanjang yang aku lihat dan aku raba, aku tahu sudah ada bagian-bagian tubuhnya yang menonjolkan lemak disana-sini. Parasnya juga tidak terlalu menarik, bahkan cenderung biasa saja. Sekilas mirip-mirip penyanyi goyang ngebor Inul Daratista. Bedanya dia bukan berasal dari Jawa Timur dan kaya raya seperti halnya Inul. Dia lahir dan dibesarkan hanya di sebuah kecamatan kecil di Surakarta, lengkap dengan kesederhanaan dan kemiskinannya. Menikah di usia muda (15 tahun) dan ditinggalkan suaminya dalam kondisi mengandung anak pertama (katanya sih anaknya cowok !). Pernah mencoba bersuami dengan seorang langganan tetapnya yang dia kira bagai ksatria. Ternyata dia lagi-lagi ditinggalkan dalam kesusahan. Akhirnya di usia kepala tiganya, dia memutuskan untuk terus melakoni hidup sebagai perempuan panggilan dan &lt;em&gt;ready in used &lt;/em&gt;di salah satu sudut jalan Pasar Kembang, Yogyakarta. &lt;br /&gt;Apakah semua cerita hidupnya itu yang kemudian membuatku sangat gemar memboking dia ? &lt;br /&gt;Tidak man …… salah coy ... &lt;br /&gt;Tentu saja tidak ! …. &lt;br /&gt;Aku tak pernah trenyuh mendengar cerita kesedihan dan kenestapaan para pekerja sex komersial. Sudah terlalu biasa !! &lt;br /&gt;Kawin muda …&lt;br /&gt;Ditinggal suami …&lt;br /&gt;Punya anak ….&lt;br /&gt;Himpitan ekonomi keluarga …..&lt;br /&gt;Menghidupi anak …..&lt;br /&gt;Tetap jadi pelacur ……..&lt;br /&gt;Huh …. Terlalu biasa ….. biasa ….. jayus ….&lt;br /&gt;Sekali lagi bukan karena itu semua …&lt;br /&gt;Aku tertarik dengannya dan kerapkali memboking-nya semata-mata karena layanan seks yang diberikannya. Mira adalah sosok wanita hipersex dan hiperaktif yang paling dahsyat yang pernah kutemui. Segala jenis fantasi yang tersusun di kepalaku nyaris semuanya bisa dituntaskan dalam kamarnya yang sempit, remang-remang, tanpa ada satupun rasa malu dan rasa sungkan. Aku menjadi seorang psikoanalisis sejati apabila bersamanya.&lt;br /&gt;Setiap kali gelegak gairah dikepalaku sudah membuncah tak terkendali, maka aku tinggal memijit nomor hpnya. Janjian ketemu. Dan dia akan menunggu dengan segala persiapan maksimal. &lt;br /&gt;Tapi malam ini ?&lt;br /&gt;Malam dimana gairah dan nafsu begitu menghantam diriku ?&lt;br /&gt;Doi menyatakan tengah ada tamu …&lt;br /&gt;Berarti sekarang dia tengah bersimbah keringat dengan lelaki lain&lt;br /&gt;Entah om-om  …..&lt;br /&gt;Entah pemuda …..&lt;br /&gt;Entah aki’-aki’&lt;br /&gt;Entah lelaki penjelmaan iblis dari neraka …&lt;br /&gt;Entahlah …. Yang jelas semua itu syah … legal … dan bisa dibenarkan !&lt;br /&gt;Semuanya membayar. Habis perkara. &lt;br /&gt;Lha wong dia wanita panggilan !&lt;br /&gt;Aku tidak boleh marah ! terlebih-lebih lagi cemburu !&lt;br /&gt;Hua ha ha ha ha ha … apa pula itu&lt;br /&gt;Cemburu pada wanita panggilan ?&lt;br /&gt;Premis apa pula itu ?&lt;br /&gt;Tak adalah kata itu dalam kamus hidupku ..&lt;br /&gt;Tapi …..&lt;br /&gt;Nafsu sudah membumbung tinggi …&lt;br /&gt;Gimana dunk ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah instant dan sederhana adalah menjalankan mobil pelan-pelan menyusuri jalan Solo, sebuah ruas jalan utama kota Yogyakarta ini. Tekat bulat menuju timur. Maju terus pantang mundur. Pelan terus ke timur. Melewati sebuah kampus yang tengah dipugar dan dibangun dengan (katanya !) dana hibah dari Kairo atau Timur Tengah : megah dan jumawa. Terserahlah ! Terus ke timur. Melewati Ambarukmo Mall : sebuah mall yang hiruk pikuk dan berlebihan laku, dengan meninggalkan rentetan protes dan demo dari komunitas disekitar rencana bangunan megah itu. Katanya mall itu menjadi mall termegah di Jawa Tengah. Entahlah ….. malam ini pikiran itu cuma melintas cepat dikepalaku yang memang tengah tidak mau berpikir. Ada lintasan bergolak lain yang menekan semua rasionalitas di kepala atasku : bergolaknya hasrat di kepala bawahku !&lt;br /&gt;Kepala satunya yang terus menerus menuntut pemuasan ….&lt;br /&gt;Hasrat yang menggila …….&lt;br /&gt;Butuh pelepasan segera …….&lt;br /&gt;Segera ………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang begitulah jalan hidupku. Tanpa aku pernah berpretensi menjadi Brahmana atau manusia suci. Bagiku pemuasan kebutuhan seksual tidak bisa terus menerus dilakukan melalui onani. Bahwa katanya kemudian ada dua diantara tiga laki-laki remaja dan dewasa yang menggunakan tangannya untuk merancap dan masturbasi, itu adalah kenyataan dan fakta non riset yang tetap dipegang kebenarannya. Namun bagiku perilaku onani dan masturbasi sudah lewat. Bagi seorang lelaki dengan penghasilan diatas rata-rata seperti diriku, wajah yang juga di atas rata-rata, penampilan tidak terlalu menjemukan, dan ….. kemampuan berbicara yang cukup brilian, tentu bukan perkara sulit untuk menemukan satu sosok perempuan yang bisa menerima dan juga turut menikmati permainan seksual dunia yang tanpa batas. Inilah yang namanya hasrat, kata Baudrillard !&lt;br /&gt;Manusia sepanjang hidup terus menerus menuntaskan hasratnya&lt;br /&gt;Seumur hidup terus menerus menetralisir id dengan bermunafik diri berpegang pada superego ! itu kata Sigmund Freud.&lt;br /&gt;Ah, dasar Freud, mengapa pula sampai pada kesimpulan yang mengandung penuh kebenaran itu ? apa Deleuze &amp; Guattari belum juga sadar ? bahwa kemaluan mereka tetap saja bergerak dengan instink ala psikoanalisis. Dasar Yahudi sok pintar !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sepuluh menit menelusuri jalan Solo, sebelum nyampe pertigaan Janti di bawah jembatan layang, mobil aku belokkan ke kiri. Masuk pelan ke sebuah gang yang aku tahu menuju pada sebuah makam, dan berarti gangnya buntu ! Bukan makam itu yang jadi tujuan, namun aku tahu pasti bahwa sebelum makam itu, ada dua buah pondok yang menampung belasan gadis. Gadis-gadis itulah yang selalu tersedia untuk menampung segala kepenatan dan kemendesakan naluri binatang yang tengah berkecamuk dalam diri lelaki sepertiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Porsneling mobil aku pindah ke-2. Mobil melaju pelan. Lampu senja aku aktifkan. Inilah tanda yang aku pahami apabila memasuki jalan ini sebagai isyarat ’khusus’.&lt;br /&gt;Seorang laki-laki kekar cekatan menghampiri mobil sebelah kanan. Tepat di sisi sopir. Melempar senyum, ”met malam bozz..!”&lt;br /&gt;”Maleem?’ senyum terpaksa ku lemparkan : ”ada berapa orang ?”&lt;br /&gt;”Waah ..... masih banyak boz,” seringai senang itu keluar. ”masih lengkap !”&lt;br /&gt;”Baguslah...”&lt;br /&gt;Aku matikan mesin mobil. Kebisuan menyergap. Baru kusadari bahwa area pemakaman itu memang seram. Cocok benar mereka menempati area ini. Cukup menakutkan bagi orang yang tidak berpikiran jorok seperti aku. Menepis bayangan menakutkan seperti film-film kuntilanak dan sundal bolong, aku turun dari mobil dan menutup pintu. &lt;br /&gt;Brakk ...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanganku menyapu sekeliling. Dari jarak sekitar 3 meter aku mulai membiasakan diri dengan gelapnya malam untuk memastikan aku berada di tempat yang tepat. &lt;br /&gt;Di kiri mataku ada sebuah rumah dengan pagar separuh badan menutup halamannya. Lampu merah 5 atau 10 watt menyala temaram. Nampak beberapa kursi butut bersandar ke dinding disamping pintu masuk. Nampak dua laki-laki dan seorang wanita stw (setengah tua) cekikikan di sana. Asyik sekali bercengkrama. Kulirik sebelah kanan. Ada rumah kecil lagi dengan neon putih yang mulai menghitam di kedua ujungnya. Pasti udah saatnya diganti ! berbeda dengan suasana pelataran rumah di kiri, rumah ini nampak angkuh. Sepi sekali. Pintunya menghadap ke selatan. Satu setengah meter di depan pintunya ada tembok yang membuat kita harus membelok menghadap ke barat apabila keluar dari pintu itu. Sementara di sebelah barat ada tembok lagi yang lebih tinggi yang akan segera menghalangi penglihatan orang yang memandang dari sebelah barat. Ada tanah lapang sekitar 2 x 3 meter di utara tembok tinggi itu. Itulah tempat masuk menuju pintu tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku paling tak suka ditatap orang saat masuk ketempat beginian. Bagiku penyembunyian identitas menjadi permainan menarik. Menghadirkan “diriku” yang bukan diriku memberikan keasyikan tersendiri sepanjang hidupku di dunia hitam ini. Tentu aku bukan Michael Foucault yang terang-terangan mengaku dirinya ketagihan sodomasokis. Ini Yogyakarta coy, bukan New York yang membuat Foucault ketagihan. Atas dasar itulah aku menghindari menuju ke rumah sebelah kiri, karena dengan demikian berarti aku akan bertemu dan melewati tiga orang yang bercengkrama di teras rumah itu. &lt;br /&gt;”Baiklah,” aku menggerutu, dalam hati ”tampaknya rumah selatan deh”&lt;br /&gt;”Bagaimana boz ?”seringai itu keluar lagi, ”sebelah mana ?” seringai lagi, ”dua-duanya sama bagus kok !” mulut itu terus saja berpromosi.&lt;br /&gt;Aku senyum tak menjawab. Namun melangkah pelan menuju tanah 2 x 3 meter itu. Dari kegelapan di jarak 5 meter tadi, aku menyongsong lampu neon agak hitam itu. Pasti raut wajahku terlihat jelas. Ahh .. persetanlah... toh mereka cuma melihat uangku saja. Bukan siapa diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Di hotel mana boz ?” si seringai tadi mencoba beramah tamah. Ujungnya pasti komisi.&lt;br /&gt;”Saya belum check in..” aku malas-malas. Sudut mataku melirik manusia ’penjilat’ disamping ini, ”Nantilah saya cari tempat sekalian..”&lt;br /&gt;Aku merasa si seringai itu tersenyum, membayangkan dia akan dapat persenan lagi dari upaya mencarikan aku kamar di hotel yang telah menjadi network dia. Biasanya dalam dunia pelacuran begini, seluruh manusia yang mendapatkan manfaat dari bisnis ini akan membangun kolaborasi imbang yang saling menguntungkan. Germo akan mendapatkan sekitar 50% dari uang boking dan “uang pake”, terus sang bodyguard akan mendapat 2% dari kemampuan menarik konsumen, sementara itu hotel akan diwajibkan memberi sekadar ’tip’ pada bodyguard sebagai balas jasa sang pengawal sudah memberikan tamu untuk mengisi kamar hotelnya. Dengan pengetahuan akan sistem bagi hasil begitu, aku merasa muak dengan senyum dan seringai sok ramah dari bodyguard itu. Sama saja dengan senyum menertawakan kebodohan dan ketolollanku. &lt;br /&gt;”Ahh persetanlah ...” makiku dalam hati, sambil kupercepat langkahku..&lt;br /&gt;Saat menapaki ujung tanah lapang 2 x 3 meter itu mataku sudah melirik ke kiri, mengarah pada depan pintu masuk yang diterangi sorot lampu neon yang lebih benderang.. dan. Bruukk ..... ujung kakiku terantuk satu gundukan di kegelapan, sialan  .. gue terpeleset!&lt;br /&gt;”Hati-hati bozz  ..” tangkas sekali si bodyguard merespon, padahal doi pasti tersenyum geli.. dasar aku saja yang goblok.. Ini nih akibatnya kalau nafsu sudah di ubun-ubun ... he he he he he  ………  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu menit kemudian aku sudah berada di depan pintu rumah dengan lampu temaram itu. Ruang tamu memanjang. Sekitar 3 x 10 meter. Pada setiap sisinya terdapat kursi sofa empuk. Dibelakang deretan panjang kursi itu terdapat kaca cermin yang besar melekat di dinding yang posisinya berhadapan. Hingga setiap orang yang duduk di sofa itu akan melihat dirinya sendiri utuh di cermin depannya. Persis dipunggung sosok lain yang duduk di hadapannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mempersilahkanku duduk, sang bodyguard tadi memencet satu tombol persis diatas tempat duduk dia. Terdengar bunyi bel. Aku sudah paham maksud bel itu : semua gadis-gadis harus keluar memamerkan diri. Tak sampai lima detik, bermunculanlah rupa-rupa cantik menggairahkan dari dalam menuju sofa yang tadi ada cerminnya berhadap-hadapan.&lt;br /&gt;“Evi, Neni, Dian, Anggi, Siska, Rika, Leni ,..” dan entah berapa nama lagi yang disebutkan sang Bodyguard merangkap germo itu untuk menjelaskan masing-masing gadis yang keluar secara teratur. Yang pasti aku tak bisa mengingat semua. Mataku Cuma nanar menatap gadis mana yang sesuai seleraku. Putih, berambut panjang, dada menunjang, agak nakal, bokong sexy, fashionable... ahh ....&lt;br /&gt;“yang mana boz?” tanya germo itu .&lt;br /&gt;Ternyata semua gadis itu sudah duduk berhadap-hadapan sambil tersenyum memamerkan dirinya masing-masing. Pada saat seperti ini aku jadi teringat ungkapan Hatib Abdul Kadir dalam bukunya “Tangan Kuasa Dalam Kelamin”. Buku yang diantar Benedict Anderson itu mengetengahkan analisis menarik atas dunia pelacuran berikut sebab musababnya. Penyebab muncul dan bertahannya pelacuran menurut buku itu  bukanlah karena lemahnya pendidikan agama, kurang iman, dan lemahnya moral pelaku-pelaku itu, melainkan relasi timpang kekuasaan ekonomi yang menghimpit kelompok marjinal. Kesempatan berusaha dan mendapatkan penghasilan layak yang tidak merata bagi manusia di Indonesia ini membuat timpangnya pendapatan. Mereka yang kaya akan terus membangun sistem untuk mengukuhkan kekayaan dan status mereka, dan itu berarti akan senantiasa mengorbankan mereka yang miskin. Semakin miskin, semakin tersingkir. Pada titik ini pilihan untuk menjadi pelayan dan budak dari mereka yang memiliki uang sama sekali tidak bisa terelakkan. Inilah relasi borjuis dan proletar. Persis seperti yang digambarkan Kuntowijoyo atas peran kelas Borjuis di Eropa. Mereka yang menjadi pelacur adalah kelas proletar dengan modal tubuh yang dikuasai para germo. Dengan sistem pembagian yang lebih banyak menguntungkan sang germo, tepat sudahlah relasi kuasa itu memainkan peran dalam urusan perkelaminan. Dan aku menjadi sosok yang berkuasa, menjalin teori konspirasi dengan germo itu untuk meng-establish-kan posisi germo itu. Aku punya uang, bebas memilih mana tubuh yang akan kunikmati tiga jam ke depan. Dan ...&lt;br /&gt;“Yang paling kiri mantap lho bos !” ahh dasar otak promosi, “Namanya Vera.”&lt;br /&gt;Meski mengumpat dalam hati, toh lensa mataku juga bergerak seiring dengan perintah otak untuk tidak menyia-nyiakan secuil informasi itu. Duduk di kiri, sosok putih bersih (yang kusadari kemudian hanyalah pengaruh lampu yang terang benderang), dada membusung (pasti 36b), memakai rok jins super sexy, nampaknya germo ini tahu betul seleraku. Aku menyeringai bagai srigala lapar melihat anak rusa gemuk siap dimamah. Dasar bajingan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu aku teruskan. Apakah aku akan “mengambil” Vera atau tidak. Yang jelas Freud sudah tahu betul akan apa yang terjadi pada sisi tergelap manusia. Seks menjadi akar masalah peradaban. Seks menjadi sarana penguasaan. Seks telah menggantikan proses berketurunan sebagai sarana permainan yang mengasyikkan. Manusia memang makhluk menyimpang. Berdasarkan standar 4.300 spesies mamalia lain di dunia, dan berdasarkan standar kerabat kita yang paling dekat (menurut hukum Darwin), kera besar (Simpanse, bonobo, gorila, dan orang utan), kitalah spesies yang paling menyimpang. Minimal itu simpul yang kubaca di buku “Why is Sex Fun ? : The Evolution of Human Sexuality” yang ditulis Jared Diamond. Apabila spesies mamalia lain hanya memaknai persetubuhan sebagai sekadar cara memelihara keturunan dan berkembang biak, manusia memaknai persetubuhan sebagai ritual rekreasi dan kesenangan. Akibatnya, di dalamnya timbul pertaburan proses pencarian kesenangan, sensasi, fantasi, penguasaan satu sama lain, dan tentu saja uang yang melimpah ruah. Memang benar kata Freud : seks pencipta peradaban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya aku tak bisa bercerita lebih banyak lagi. Tubuh dengan dada membusung itu benar-benar telah berdiri di depanku. Kami berdua sudah berada dalam kamar sebuah hotel bintang empat. Punya garasi mobil di setiap kamarnya. Hotel yang resepsionisnya tidak norak dengan mempertanyakan KTP setiap tamu yang menginap. Cukup dengan memberikan tip satu lembar lima puluh ribuan, mulutnya akan diam. Mataku semakin nanar. Nafsu pasti berpendar. Blouse-nya telah terlepas. Berganti dengan BH merah menutup sepasang buah dada yang tadi membuncah. Aliran listrik tidak mampu lagi memaksimalkan fungsi otak kiriku. Yang ada sekarang hanya pijaran listrik berlebihan yang menyerang otak kanan. Dengan sigap aku menghambur ke depan ... Vera menyambut dengan senyum nakal dan lenguh berkepanjangan. Seks telah menjadi profan, memang begitulah peradaban ... Dua jam ke depan biasanya aku pasti akan menyadari, kalau aku memang Freudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepi Kali, Desember 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-2355784811164370367?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/2355784811164370367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=2355784811164370367' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/2355784811164370367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/2355784811164370367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/12/namanya-mira.html' title='Namanya Mira ...'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-6281633140745543945</id><published>2009-12-18T14:57:00.000-08:00</published><updated>2009-12-18T15:05:37.104-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blind&apos;s Communication'/><title type='text'>Menuju Pasif ! : Transisi Media Cetak Ke Elektronik</title><content type='html'>&lt;em&gt;“Radio and television based upon &lt;br /&gt;pure collective and institutional &lt;br /&gt;rather than individualistic authorship”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;-Anthony Smith, &lt;em&gt;Goodbye Gutenberg&lt;/em&gt;, 1980:325-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transisi media dari satu bentuk ke bentuk yang lain bukanlah berada di ruang vakum terpisah dari kondisi masyarakat. Persis seperti sejarah kelahirannya yang menghamba pada kebutuhan manusia untuk berkomunikasi satu sama lain, maka perkembangan berikut transformasinya juga tidak terlepas dari kondisi sosial dan politik. Sejak ditemukannya mesin cetak, sebenarnya proses evolusi manusia dalam menyampaikan pesan secara tidak langsung dan termediasi telah dimulai. Tentu dengan proses yang lama. Proses itu sangat tergantung dari kondisi sosial politik yang terjadi di Amerika dan Eropa. Kebutuhan perang dengan keinginan indoktrinasi propaganda membuat keberadaan media begitu penting. Dan nampaknya setting serupa juga tidak terlalu bergeser berabad-abad sesudahnya. Satu hal yang pasti : media selalu menjadi jembatan penghubung antara kebutuhan penyebar pesan dari seseorang atau sekelompok orang kepada pihak yang lain penerima pesan. Di dalamnya berkelindan tujuan menyampaikan informasi, menyebarkan pengetahuan, menghibur, dan bahkan menguasai pihak lain. Entah itu hanya bertujuan menyampaikan pesan maupun dinamika politis di dalamnya, media selalu mencatatkan dirinya dalam rangkai pergolakan dan relasi kekuasaan. Inilah &lt;em&gt;setting&lt;/em&gt; sosial dan politis keberadaan media. Mungkin itu akan terjadi sepanjang daur hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan berikut ini mencoba untuk mengurai secara singkat perjalanan media massa dalam konteks Eropa dan Amerika. Dari dua benua itulah asal usul media massa yang saat ini kita kenal. Pertama akan diulas tentang kondisi masyarakat dan kelahiran media cetak, lalu dilanjutkan dengan kehadiran media audio dalam wujud radio transistor. Melalui kemampuan transformasi pesan menjadi audio visual saya akan mengurai perpindahan sistem  manual menuju sistem digital dengan televisi sebagai ’sang bintang’. Tulisan akan diakhiri dengan revolusi besar-besaran dalam dunia komunikasi dengan munculnya internet sebagai roh &lt;em&gt;computer mediated communitacion &lt;/em&gt;(CMC). Akhirnya, saya akan coba rangkum tentang kontribusi media tersebut kepada kehidupan sosial politik kita. Nanti akan terlihat bahwa tidak hanya media massa yang terbentuk oleh media, melainkan sirkulasi efeknya menunjukkan bahwa media telah menjadi determinan penting dalam kondisi masyarakat itu sendiri. Tak jelas lagi mana sebab dan mana akibat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Media Cetak : Mujizatnya Mesin Cetak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bila mengacu pada cerita Asa Briggs &amp; Peter Burke (2006), akan terlihat bahwa kelahiran mesin cetak sebagai alat pertama yang mampu membuat sebaran pesan menjadi massif, menjadi penanda revolusi dalam bekerjanya relasi manusia. Lewat mesin cetak itu maka kitab-kitab religius tidak lagi ditulis secara tradisional kuno. Lewat mesin cetak itu kemudian seluruh kampanye politik tidak lagi memakan waktu berbulan-bulan yang dihabiskan dalam perjalanan calon presiden atau senator. Semua jadi lebih singkat. Lebih murah. Lebih tertata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak-jejak historis yang dipaparkan Briggs dan Burke dalam buku itu  memang relatif ensiklopedis. Lebih dari sekadar disuguhi dengan panorama pertumbuhan media komunikasi secara kronologis, kita diajak pula menyusuri konteks sosialnya: bagaimana teknologi media itu tumbuh bukan sebagai artefak yang lahir dari para insinyur dalam keadaan tanpa tujuan, melainkan jalin-menjalin dengan kepentingan ekonomi, menunggangi dan ditunggangi oleh gejolak sosial, serta dimanfaatkan dan memanfaatkan pertikaian antarpihak dan antargeografi. hal ini sangat dibenarkan oleh para pelacak sejarah media massa (Fidler, 2003 ; Mc.Chesney, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Einstein dengan rumus matematikanya yang menghasilkan bom atom pembunuh manusia (Bom atom sendiri adalah kreasi Julius Robert Oppenheimer, seorang PhD Cambridge University yang bekerja untuk proyek pemenangan perang presiden AS F.D. Roosevelt di tahun 1940-an), maka Gutenberg tidak pernah menyangka mesin cetaknya begitu berguna hingga hari ini. Gutenberg mencatatkan sejarah penemuannya dengan cerita manis . sebaliknya Einstein mencatat sejarah rumus matematikanya dengan penyesalan dan kegalauan karena membunuh berjuta-juta orang. Kita tidak sedang cerita bom atom khan ? Nah mari kembali pada cerita Gutenberg, sang pahlawan kelahiran koran, majalah, dan media cetak lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Gutenberg menciptakan alat cetak, ia meniatkannya untuk menyebarluaskan pengetahuan. Tapi kebutuhan, dan kepentingan, manusia ternyata melebihi itu. Media cetak tadi telah menghibur, menularkan dongeng, berbagi kesenangan, ini sebagai efek positif. Sementara efek negatifnya langsung muncul bagai dua sisi mata uang. Media cetak itu dijadikan alat untuk membujuk, menghasut, dan menikam demi kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Ulasan Briggs &amp; Burke (2006) berikutnya menggambarkan betapa media bergerak melampaui kehendak penciptanya. Sampai pada titik yang tak terkira. Inilah dilema media massa. Mungkin hingga hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh perkembangan media cetak yang ada (buku, majalah, surat kabar, dan sebagainya) ada satu sifat yang melekat erat pada dirinya. Setiap orang yang ‘terikat’ dengannya harus menjadi aktif untuk berinteraksi. ini artinya membaca buku, majalah, surat kabar, selalu memaksa orang untuk aktif melihat, berinteraksi dengan apa yang dibaca terlepas sadar atau tidak sadar (Emery &amp; Emery, 1996). Ini sama sekali tidak terjadi pada media elektronik yang muncul selepas sejarah gemilang media cetak yang membuat orang menjadi lebih pintar dan aktif tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Instan, Pasif, dan Melenakan : Fakta Media Elektronik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menjelang penyelesaian tulisan ini, saya masih kesulitan untuk menuliskan kesimpulan. Seperti biasa, saya punya masalah untuk menutup sebuah tulisan dengan kesimpulan yang bagus (tentu saja). Saya sangat tidak ahli dalam menyimpulkan.  Tahukah anda, apa yang begitu menggoda saya untuk membaringkan diri dan menunda kerja ?  Yup, televisi di depan saya ! Ada acara komedi yang mampu membuyarkan konsentrasi (Yang memang hanya tinggal separuh). Saya tak bisa menampik dan memungkiri bahwa televisi telah menjadi media penggoda utama dalam masyarakat modern. Juga terhadap diri saya. Dia hadir dengan kekuatan audio visual yang tak tertandingi. Ada konteks sosial politis yang luar biasa telah mengantar media televisi sebagai media terpopuler dan idola bagi khalayaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa adalah media yang digunakan dalam proses komunikasi massa (McQuail, 2000; Vivian,2008;  West &amp; Turner, 2009). Sosok riilnya bisa dilihat dalam rupa radio, televisi, komputer dengan internet. Hingga saat ini, televisi menjadi salah satu pengantar pesan yang paling digemari. Dalam sejarah panjangnya, televisi sebagai sosok revolusioner media elektronik telah memberi warna atas perkembangan masyarakat (Kellner, 1990; Arthur, 2004). Pada tataran paling ekstrem, televisi telah berhasil menciptakan budaya visual yang sangat kuat (Murray &amp; Quellette, 2004; Burton, 2007). Hal ini sebenarnya telah terjadi di awal sejarah radio. Namun lompatan pola akses media begitu ekstrem setelah kehadiran televisi. Seiring dengan berlalunya waktu, peran radio dan televisi telah menyatu sedemikian rupa dalam media interaktif dan bersifat konvergen. Komputer dengan internet telah merubah segalanya. Dalam konteks saluran dan sirkulasi informasi, ini betul-betul lompatan besar. Tengoklah apa yang terjadi dalam dunia jurnalisme &lt;em&gt;on-line &lt;/em&gt;saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan media pemberitaan berbasis Internet, segala macam pemberitaan sebagai hasil kerja jurnalistik dapat disampaikan dengan sangat cepat kepada masyarakat luas (massa). Inilah mengapa masyarakat kini cenderung lebih memilih Internet sebagai media pemberitaan yang efisien. Grafik pertumbuhan media Internet pun nampaknya menunjukkan peningkatan. Ini berkebalikan dengan angka koran atau media cetak yang terus saja mengalami penurunan perlahan. Sedangkan untuk media massa lain seperti radio dan televisi nampaknya masih bisa bernafas lega, karena teknologi penunjang bisnis media melalui Internet memungkinkan konvergensi kedua jenis media ini melalui Internet. Perkembangan teknologi multimedia yang pesat pun turut mempengaruhi prospek cerah Internet sebagai media komunikasi informasi yang cepat. Namun seiring dengan kecepatannya itu, dia menjadikan seseorang sebagai sosok pasif penerima informasi semata. Bahkan pada titik terjauh menjadikan media ini sebagai acuan hidup dan tempatnya bergantung. Google menjadi saksi kontemporer atas perubahan paradigma relasi antar manusia yang termediasi dengan komputer. Kita sampai di tepian yang paling berbahaya !&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Media Sebagai Berhala : ”Insya Google”  yang Berbahaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, televisi dan Internet telah membuat dunia terasa kian sempit dan jarak-waktu kian pendek. Seluruh dunia telah terhubung sedemikian rupa. Apa yang dibayangkan oleh Thomas L. Friedman (2006), bahwa dunia ini sudah sedemikian datarnya, nampak telah menjadi kenyataan. Begitu banyak keuntungan. Juga tak terhitung kerugian. Internet telah membuat kita berinteraksi secara menakjubkan bagi ayah dan ibu kita. Membuat orang kampung terpana tak terkira karena apa saja bisa didapat. Semua informasi telah tersedia di sana. Tinggal klik saja. Bereslah semua. Bahkan seorang teman dengan berseloroh berkata, “Google telah menjadi semacam tuhan bagi kita,” tentu dia seorang atheis. Lalu keluar kalimat religius darinya, “kalau mau cari sesuatu di internet, ucapkan saja Insya Google (kalau Google mengijinkan),” memang sangat keterlaluan ! Tapi faktanya mesin pencari karya Sergey Brin &amp; Larry Page ini telah menyediakan informasi apapun yang kita cari dan inginkan. Ini tentu dengan sendirinya membenarkan apa yang diramal Alfin Toffler tiga dekade sebelumnya (Vise &amp; Malseed, 2006).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media cetak yang telah menciptakan budaya aktif dalam peradaban Barat, ternyata tidak memiliki sejarah yang sama di peradaban Timur. Rata-rata negara di Timur yang baru saja merdeka tidak merasakan terpapar media secara tertib linear seperti di sana. Semua dialami secara holistik. Mereka mengenal surat kabar dan majalah hampir bersamaan dengan mereka mengenal radio, televisi, dan bahkan komputer. Media elektronik yang menyediakan fasilitas serba instan menjadikan audiens begitu pasif. Menjadi konsumen, tanpa pernah berpikir untuk berprestasi menjadi produsen pesan. Tiba-tiba kita sangat menikmati menonton televisi atau berselancar chatting di internet ketimbang duduk merenungi makna sebuah paragraf dari buku teks. Perkembangan dunia internet dengan daya beri informasi tak terbatas membuat kita semakin rakus memamah apa saja. Masyarakat semakin bergerak menjadi pasif. Anda punya pendapat lain ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Referensi Utama :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominick, Joseph R., (2009). The Dynamics of Mass Communication : Media in the Digital Age, Tenth Edition, McGraw-Hill International, Boston.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McQuail, Denis., (2000). McQuail’s Mass Communication Theory, 4th Edition, Sage Publications, London, Part V.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Severin, Werner J. , dan James W. Tankard, Jr. , (1992). Communication Theories :  Origins, Methods, and Uses in The Mass Media, Third Edition, Longman, New York, Part. IV.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-6281633140745543945?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/6281633140745543945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=6281633140745543945' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/6281633140745543945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/6281633140745543945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/12/menuju-pasif-transisi-media-cetak-ke.html' title='Menuju Pasif ! : Transisi Media Cetak Ke Elektronik'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-4036616790496708990</id><published>2009-12-12T05:56:00.000-08:00</published><updated>2009-12-12T06:02:28.042-08:00</updated><title type='text'>Mereka yang Bijak, Tentu tak Membajak !</title><content type='html'>&lt;em&gt;“bagi orang Barat, sulit membayangkan sebuah dunia tanpa hak cipta, ....&lt;br /&gt;sedangkan orang-orang yang lahir dan hidup di dalam budaya-budaya non-barat,&lt;br /&gt;tidak akan terlalu sulit membayangkannya !” &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;-James Boyle, 1996-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat teman-teman Dagadu meminta saya untuk urun rembug dalam diskusi terbatas menyongsong 16 tahun Dagadu, saya langsung menyetujuinya. Ini bukan tanpa alasan. Bagi saya ini sangat menarik. Membicarakan Dagadu adalah membicarakan tentang Yogya. Membicarakan Yogya tak lengkap tanpa menyebut Dagadu. Keduanya mungkin inheren satu sama lain. Untuk hal ini kami sepakat. Namun saat membicarakan tentang tema yang akan diangkat, muncul ketidaksepakatan. Terutama dari sudut pandang melihat masalah dalam tema yang akan diangkat. Tema yang diangkat hari ini adalah sebuah tema penting dan inheren dalam sejarah panjang peradaban kreatifitas manusia. Temanya tentang pembajakan (&lt;em&gt;piracy&lt;/em&gt;) ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat sejarah panjang pembajakan itu sendiri, kita tentu bisa tidak sepakat dalam beragam hal. Umpamanya, tentang implikasi bajak membajak dari beberapa sudut kepentingan. Dari sudut pandang industri, ini sangat merugikan dan berbahaya. Mengancam semangat kreativitas manusia. Tidak berpihak pada orang-orang kreatif yang meneteskan keringatnya demi sebuah karya. Namun dari sisi sosial kemasyarakatan, yang terjadi sangat bertolak belakang. Pembajakan telah ‘menghidupi’ beribu-ribu manusia dengan tingkat sosial ekonomi berbeda-beda. Dari sisi budaya, dicurigai bahwa spirit bajak-membajak memang berasal dari kebiasaan menirukan yang telah terdidik dan ditanamkan sejak masa kanak-kanak. Ini begitu ironis. Di satu sisi aktivitas ini dianggap hina dan tidak pantas dilakukan, sementara di sisi lain aktivitas ini menjadi ‘dewa penolong’ kehidupan alias menghidupi banyak orang.  Sebagai seseorang yang belajar ilmu sosial, saya diminta berbicara tentang pembajakan dari perspektif sosial. Dari situ pertanyaan bodoh saya muncul. &lt;em&gt;“sudut pandang sosial seperti apa ?” &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak berani mengklaim diri mampu menjelaskan secara komprehensif tentang aspek sosial ini. Tulisan berikut ini hanya bermaksud memaparkan tentang relasi signifikan antara kuatnya budaya konsumtif dengan tersedianya ‘lahan subur’ bagi praktek bajak membajak, lalu akan menghubungkannya dengan kenyataan ironis ‘sakitnya’ masyarakat kita. Asumsi dasar yang dipegang adalah bahwa geliat kapitalisme yang identik dengan tumpah ruahnya produk dan merek di pasaran, telah menjadi “buah simalakama” bagi dirinya sendiri. Buah itu adalah terfasilitasinya hasrat mengidentifikasi diri dengan citra merek tertentu sebagai realitas imajinatif, dengan kenyataan terbatasnya sumber daya finansial (daya beli) sebagai sebuah realitas empirik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Budaya Konsumtif : Dari mana Semua Bermula &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Upaya untuk menjelaskan konsep consumer culture dikemukakan oleh Mike Featherstone (2001) dengan memberikan tiga perspektif utamanya tentang consumer culture tersebut. Menurutnya  tiga perspektik itu adalah pertama, pandangan bahwa budaya konsumen dipremiskan dengan ekspansi produksi komoditas kapitalis yang memunculkan akumulasi besar-besaran budaya dalam bentuk barang-barang konsumen dan tempat-tempat belanja dan konsumsi. Perspektif  kedua berkaitan dengan pandangan bahwa kepuasan yang berasal dari benda-benda behubungan dengan akses benda-benda itu yang terstruktur secara sosial. Titik perhatiannya di sini adalah pada cara-cara yang berbeda dari orang-orang yang menggunakan benda-benda dalam rangka menciptakan ikatan atau pembedaan masyarakat. Ketiga, adalah masalah kesenangan emosional untuk konsumsi, mimpi-mimpi dan keinginan yang dimunculkan dalam bentuk artefak budaya konsumen dan tempat-tempat konsumen tertentu yang secara beragam memunculkan kenikmatan jasmaniah langsung serta kesenangan estetis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga perspektif yang digunakan Featherstone di atas menunjukkan bahwa ada kaitan yang erat antara budaya konsumen dengan prinsip-prinsip kapitalisme dalam industri. Perjalanan industrialisasi dari menghasilkan produk-produk terbatas pada Gilda-Gilda di Inggris sampai pada munculnya pabrik-pabrik raksasa di seluruh dunia ternyata juga menghasilkan evolusi konsep berkaitan dengan cara menjualnya. Pada masa sebelum revolusi industri, produsen tidak terlalu memikirkan tentang strategi menawarkan produk mereka pada konsumen, apa saja yang dibuat pasti dibeli. Bahkan kadangkala konsumen harus menunggu pesanan barangnya. Produsen berkuasa. Hal ini tidak lagi terjadi saat revolusi industri melakukan terobosan dengan produksi massalnya. Konsumen (pembeli) sangat dimanjakan oleh hadirnya beragam produk hasil kerja pabrik. Mereka memiliki kekuasaan untuk memilih. Suatu perobahan besar terjadi pada diri konsumen di saat mereka menyadari bahwa pasar tidak lagi bisa dipasok terus menerus dengan berharap habisnya produk. Konsumen semakin pintar, dengan daya beli yang fluktuatif. Tak ada pilihan lain bagi setiap produsen selain menempuh strategi jitu dalam upaya menjual produknya. Disinilah kemudian peranan keahlian pemasaran menjadi substansial. Dalam kaitannya dengan revolusi antara revolusi industri di Inggris itu dengan budaya konsumtif, Peter Corrigan (1997) memberikan tiga sudut analisis yaitu konsumsi dilihat dari aspek politik (&lt;em&gt;consumtion springs from politics&lt;/em&gt;), konsumsi dilihat dari aspek ekonomi (&lt;em&gt;consumption from economics&lt;/em&gt;), dan konsumsi dilihat dari aspek kehendak atau kesenangan hati (&lt;em&gt;consumption from heart&lt;/em&gt;). Masing-masing penjelasan Corrigan sangat terkait dengan kondisi dan situasi di Inggris ketika revolusi industri menunjukkan kekuatannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaparan dari aspek Sejarah yang dilakukan Corrigan mampu menjelaskan mengapa terjadi budaya konsumtif yang mengalami lompatan yang berbeda saat ini. Pola konsumsi modern yang bersifat mass consumption telah menjadi penanda betapa kuatnya mesin-mesin kapitalisme bekerja. Dalam upaya mendukung mass consumption ini maka segala strategi konstruksi pemaknaan diciptakan. Tak ada tempat untuk lari dari kekuatan pasar global yang terus menerus merekayasa citra yang akhirnya bermuara pada terbelinya produk mereka. Salah seorang tokoh postmodern yang kerapkali mengingatkan akan hal ini adalah Jean Baudrillard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu bukunya &lt;em&gt;La Societe de Consommation : Ses Mythes, ses Structures &lt;/em&gt;yang diterjemahkan dalam versi Inggris menjadi &lt;em&gt;The Consumer Society&lt;/em&gt;, Baudrillard mengatakan bahwa seluruh wacana tentang konsumsi, baik yang dipelajari ataupun yang dihasilkan, terartikulasi pada rangkaian mitologis dari fabel : seorang manusia. Seorang manusia yang “diberkati” dengan kebutuhan-kebutuhan yang “mengarahkannya” menuju objek-objek yang memberinya kepuasan (Baudrillard, 2001). Ada mitos yang tercipta berkaitan dengan diabaikannya sifat alami masyarakat konsumen. Yang terjadi adalah para pabrikan (produsen) mengendalikan perilaku, mengarahkan dan membentuk perilaku dan kebutuhan sosial. Dengan sangat garang Baudrillard menyebut fenomena itu sebagai kediktatoran total oleh sektor produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melihat relasi antara manusia dengan benda dalam konteks konsumsi, Baudrillard (2001) melihat bahwa yang muncul disana adalah nilai status hirarkhis dalam suatu sistem pertukaran simbolik. Menurutnya, nilai simbolik itu merupakan suatu insitusi sosial yang menentukan perilaku bahkan sebelum dipertimbangkan dalam kesadaran para pelaku sosial. Dalam suatu sistem pertukaran simbol-simbol, konsumsi lebih dimaknai sebagai penentu atas status sosial seseroang. Cara bekerjanya adalah melalui objek-objek, setiap pribadi dan kelompok mencari tempatnya dalam suatu aturan untuk sejenak kemudian mencoba menekankan aturan ini menurut lintasan pribadi. Dalam kondisi demikian, demikian Baudrillard, sama sekali tidak adan gunanya memperkirakan kehadiran suatu “objek empirik” (wujud fisik kebendaan) karena objek itu hanya memiliki arti sebagai suatu penanda relasi semata. Artinya pilihan untuk menggunakan handphone merek Nokia seri terbaru (tentu dengan harga lebih mahal) bukan hanya membeli alat komunikasi yang mobil semata, namun lebih karena membeli simbol yang disandang oleh merek tersebut sebagai penanda kemewahan, keberhasilan, gaul, bahkan menunjukkan status ekonomi seseorang. Hal yang sama berlaku bagi mobil mercedez, rumah dikawasan elit, dan bahkan minuman beralkohol merek tertentu. Bagi Baudrillard, setiap benda yang telah ditempatkan dalam konteks hubungan sosial manusia, maka ia akan memiliki fungsi dan nilai tertentu yang membuat dia berharga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran pola konsumsi masyarakat yang linear berdasarkan empat objek logika (nilai guna, nilai tukar, nilai simbol, dan nilai tanda) menunjukkan bagaimana lingkungan ‘melimpah ruahnya’ produk dan merek dihasilkan oleh industri pabrik. Keberlimpahan ini membawa konsekuensi logis terbuka lebarnya pilihan pada diri konsumen untuk memilih dan menggunakan produk dan merek manapun yang dia suka. Produk dan merek manapun yang dia mampu untuk beli, tentu yang sesuai dengan ‘isi kantong’ dia. Dari situ terciptalah habitat dan ruang hidup budaya bajak membajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fasilitasi Realitas Imajinatif : Energi Pembajakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat memulai bagian ini, ingatan saya terbang pada beberapa ciri khas manusia Indonesia yang diutarakan oleh Mochtar Lubis lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, 6 April 1977 waktu itu, Mochtar Lubis (ML) menyebut tidak kurang dari enam ciri manusia Indonesia. Keenam ciri itu adalah : (1). Hipokrit alias munafik, (2). Enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, (3). Berjiwa feodal, (4). Masih percaya takhyul, (5). Berwatak lemah, tak mampu memperjuangkan keyakinan, (6). Artistik. Kelima ciri utama yang disebutkan pertama nampaknya bermakna negatif. Semua tentang yang jelek-jelek. Namun tidak demikian halnya dengan ciri keenam. Hanya ciri keenam yang diakui oleh ML memiliki makna sangat positif. Apa kata dia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Karena sikapnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah, dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat pada alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasaan-perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistik dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serbaneka macamnya, variasinya, warna-warninya.” &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(Lubis, 2001:33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah satu-satunya sifat yang begitu dibanggakan ML dalam ceramahnya. Dan nampaknya kita bisa melihat bukti dari kebanggaan itu. Seluruh karya kreatif kita terbukti melesat dalam dua dekade terakhir. Lagu, seni lukis, tari, pahat, dan beragam karya cipta lainnya bahkan telah membuat iri dan klaim tak bersahabat dari negara sahabat. Ini fakta. Kita patut berbangga. Namun dari sifat dan ciri inilah nampaknya lingkaran perkara bajak membajak karya artistik bermula. Mengapa ? Saking inginnya berartistik ria, membajak pun tak apa. Dan ini nampaknya bukan cuma di Indonesia, melainkan juga di Asia sebagai kawasan dengan status pembajak terbesar di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembajakan memang marak di negara berkembang, dengan porsi yang terbesar ada di Asia (Callan, 1998). Upaya penangkal dari pemerintah setempat telah dilakukan dengan memberlakukan peraturan yang melindungi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan kesungguhan memberikan sangsi kepada pelaku pelanggaran HKI. Namun pemberlakuan hukum yang berkaitan dengan HKI tidak standar satu dengan lainnya, sehingga pemberlakuan penegakan hukum juga berbeda-beda. Misalnya China, Singapura, dan Indonesia telah memberlakukan UU HKI dengan sangsi yang keras, tetapi aktifitas pembajakan nampaknya tidak pernah surut. Semua tidak bisa diselesaikan hanya dengan jalur hukum. Seperti ditegaskan oleh Hidayat &amp; Mizerski (2005), bahwa penegakan hukum hanya merupakan salah satu faktor saja. Masih banyak faktor lain. Masalah ini harus ditilik dari sektor sosial, budaya, dan ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui dan dikecam oleh ML, bahwa ciri artistik pada manusia Indonesia apabila dia bergandengan dengan keengganan atau tidak perduli dengan tanggung jawab akan mendatangkan masalah mendasar. Tindak mencorat-coret dinding dan sudut kota dengan tulisan tak jelas sekaligus menjelaskan ciri artistik sekaligus tidak bertanggung jawab. Perlu diperhitungkan pula bahwa kebanyakan masyarakat bisnis Asia memiliki jiwa kewiraswastaan secara alamiah dan tidak ada kendala moral yang menahan penggunaan atribut orang lain untuk digunakan kepentingan sendiri. Kenyataan ini nampaknya juga didukung oleh budaya Asia yang mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan individual (Boyle, 1996). HKI dianggap sebagai kental dengan pengaruh budaya barat karena membela kepentingan individual di atas kepentingan bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilkie &amp; Zaichkowsky (dalam  Hidayat &amp; Mizerski, 2005) mengatakan bahwa budaya mengkopi atau meniru merupakan budaya yang sudah lama di Asia dan dapat dilihat dari sejarah dan sistem nilainya yang direflesikan ke dalam sistem hukumnya. Metode tradisional pendidikannya juga mengajarkan bagimana mengkopi sesuatu, meniru sesuatu yang dianggap bagus mIsalnya menulis halus, meniru huruf kanji yang artistik. Budaya Asia juga sangat mengutamakan keluarga dan setiap anggota keluarga saling membantu untuk kepentingan keutuhan bersama. Negara tidak memberikan manfaat secara langsung terhadap kebutuhan keluarga sehingga tidak menjadi prioritas perhatian. Itulah sebabnya barangkali tidak adanya hukum yang efektif untuk mencegah pengambilan keuntungan oleh wiraswastawan alamiah Asia dari perusahaan-perusahaan besar pemegang HKI, apalagi yang berasal dari luar Asia. Bangsa Asia yang terkenal dengan kepercayaan spiritualitasnya yang kuat, lebih bersandar pada prinsip religius yang memandang bahwa konsep meniru bukan sesuatu tindakan yang memalukan atau tindakan yang rendah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua faktor sosial, budaya dan ekonomi ini secara holistik berkelindan sedemikian rupa dalam masyarakat dan pelaku industri bajakan. Pada situasi masyarakatnya yang telah terjangkiti oleh budaya konsumtif akut, sementara kemampuan daya beli begitu lemah, produk dan merek bajakan merupakan solusi instan. Inilah saat mana seluruh pelaku karya seni dan artistik mendapatkan masalah serius (Smiers, 2009). Inilah saat mana masyarakat telah dikatakan sebagai masyarakat yang tidak sehat (Fromm, 1968). Hukum mau tidak mau akan diajak untuk melihat realitas sosial yang berdimensi kompleks (Hasibuan, 2008; Rahardjo, 2009). Seluruh analisis sosial dan hukum ini tentu bukan bermaksud untuk memberikan persetujuan tidak langsung atas perilaku pembajakan. Analisis ini lebih sebagai upaya ontologis dan epistemologis atas sebuah gejala industri dan masyarakat kapitalis yang nampaknya sudah demikian kuat merambah dibelahan dunia manapun juga. Akhirnya mungkin terlalu naif untuk berkata ‘orang bijak, tentu tak membajak’ ... dalam hal ini Anda tentu boleh untuk tidak sepakat. Diskusi mungkin bisa membawa kita pada ragam perspektif yang lebih ‘kaya’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepi Kali, Desember 09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;REFERENSI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baudrillard, Jean, (1998).  The Consumer Society : Myths and Structures, London : Sage Publications.&lt;br /&gt;_______________ , (2001). Galaksi Simulacra : Esai-Esai Jean Baudrillard, Editor M. Imam Aziz, Yogyakarta : LkiS.&lt;br /&gt;Boyle, James., (1996). Shaman, Software, and Spleens : Law and the Construction of the Information Society, Cambridge/ London : Harvard University Press. &lt;br /&gt;Callan, B. (1998), ‘The Potential for Translantic Cooperation on Intellectual Property in Asia, Working Paper, The Barkeley Roundtable on the International Economy, available :&lt;br /&gt;           http://www.ciaonet.org/wps/cab02/cab02.html &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Casavera, (2009). 15 Kasus Sengketa Merek di Indonesia, Yogyakarta : Graha Ilmu. &lt;br /&gt;Corrigan, Peter, (1997). The Sociology of Consumption : an Introduction, London : Sage Publication. &lt;br /&gt;Fromm, Erich., (1968). The Sane Society, London : Routledge &amp; Kegan Paul. Ltd.&lt;br /&gt;Hasibuan, Otto., (2008). Hak Cipta di Indonesia : Tinjauan Khusus Hak Cipta Lagu, Neighbouring Rights, dan Collecting Society, Bandung : PT Alumni.&lt;br /&gt;Hidayat, Anas, &amp; Katherine Mizerski, “Pembajakan Produk : Problema, Strategi, dan Antisipasi Strategi” dalam Jurnal Siasat Bisnis, No. 10 Vol 1, Juni 2005.&lt;br /&gt;Korten, David C., (2002). The Post-Corporate World : Kehidupan Setelah Kapitalisme, Penerjemah A. Rahman Zainuddin, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.&lt;br /&gt;Lubis, Mochtar, (2001). Manusia Indonesia : Sebuah Pertanggungjawaban, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. &lt;br /&gt;Rahardjo, Satjipto., (2009). Hukum dan Perubahan Sosial : Suatu Tinjauan Teoretis Serta Pengalaman-pengalaman di Indonesia, Yogyakarta : Genta Publishing.&lt;br /&gt;Smiers, Joost, (2009). Art Under Pressure : Memperjuangkan Keanekaragaman Budaya di Era Globalisasi, Penerjemah Umi Aryati, Yogyakarta : Insistpress.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-4036616790496708990?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/4036616790496708990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=4036616790496708990' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/4036616790496708990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/4036616790496708990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/12/mereka-yang-bijak-tentu-tak-membajak.html' title='Mereka yang Bijak, Tentu tak Membajak !'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-4067245794321430424</id><published>2009-12-06T01:31:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T01:37:29.245-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ide Tua - Ide Muda'/><title type='text'>Repetitions : The Destiny of History</title><content type='html'>Ada satu prinsip utama dalam melihat sejarah. Yakni melihatnya sebagai sebuah perulangan kejadian. Lewat perulangan itulah kita terus ‘membaca’ makna. Makna yang terwariskan. Sejarah nabi-nabi selalu identik dengan pengorbanan. Sejarah imperium selalu identik dengan penguasaan dan penaklukan. Sejarah poligami selalu identik dengan ketidakadilan. Sejarah perselingkuhan selalu identik dengan kekecewaan (untuk yang ini, anda boleh tak sepakat ! he he he). Apapun itu, sejarah adalah sebuah kejadian yang tercatat dan diberi makna karena keberulangannya. Masalahnya adalah siapa yang berwenang untuk mencatat dan memberikan makna atas kejadian yang disebut sejarah itu ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu tadi terbersit ketika saya membaca buku tentang strukturalisme dari Claude Levi-Strauss (Ras &amp; Sejarah, 2000), terutama pada bagian wawancara dia dengan Spiegel, seorang wartawan dari media cetak terkemuka di Prancis. wawancara itu memperlihatkan posisi seorang strukturalis sejati seperti Strauss yang sangat konsisten berpijak pada paham dan pendapatnya. Meskipun mendapatkan pertanyaan kritis dari Spiegel, dia tetap memperlihatkan kelurusan pemikiran sejak dimulai hingga berakhirnya wawancara. Percakapan menarik adalah tentang sejarah. Apa yang didapatkan manusia dari sejarah adalah rangkaian pengulangan yang konsisten. Tak ada sesuatu yang sesungguhnya baru alias original. Semua pengulangan semata. Paparan Strauss berintikan prinsip tersebut. Salah satu bagian yang sangat menarik perhatian saya dalam wawancara itu adalah ketika Spiegel mempertanyakan tentang landasan pemikiran Strauss tentang dikotomi masyarakat modern dan primitif. Sekalipun pada dasarnya telah tercipta oposisi biner tentang dua konsep tersebut, namun pertanyaan spiegel lebih mengacu pada citra yang melekat pada dua kondisi masyarakat tersebut. Bahkan melalui pemikiran para orientalis, Spiegel memperlihatkan betapa Strauss sangat mengagungkan konteks masyarakat primitif dengan semangat humanisasi dan harmonisasai mereka. Inti pemikiran Straus adalah bahwa kenyataan menunjukan kaum primitif yang pencitraannya dibuat oleh pada pemikir modern itu sendiri telah memiliki nilai-nilai kehidupan yang sejajar bahkan lebih sempurna bila dikomfarasikan dengan fenomena modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan yang sangat kuat pada diri strauss ini muncul dalam buku dia tentang sejarah ras manusia. Buku itu dimulai dengan cerita sekelompok peneliti (yang katanya modern !) dari Spanyol yang ingin meneliti masyarakat terasing di Antilla Raya. Fokus penelitian mereka adalah ingin mengetahui seluk beluk cara hidup dan kepercayaan mistis dari kelompok masyarakat terkebelakang itu. Cerita narsisnya, para peneliti ini ragu apakah penduduk pribumi di situ memiliki nyawa atau tidak. Namun yang terjadi selanjutnya adalah tertangkapnya kelompok peneliti tersebut oleh suku primitif. Mereka semua dibunuh, mayatnya dibalsem dan ditunggui. Apa yang tergambar dalam pikiran para primitif itu ? tidak lain bahwa mereka ingin mengetahui  apakah para peneliti itu mayatnya membusuk atau tidak, atau bisakah orang berkulit putih itu bisa hidup kembali setelah mereka bunuh ? Falsafah cerita itu adalah ternyata kekerasan dan penaklukan itu terus berlangsung sepanjang zaman dengan orang dan konteks yang berbeda-beda. Kekerasan  juga ada di masa lalu, kekejaman juga ada dimasa lalu. Penaklukan sudah menjadi menu wajib sejak zaman dahulu. Jadi sebenarnya tidak ada yang asing dengan konsep-konsep tersebut. Yang menjadi masalah adalah makna negatif yang melekat pada konsep itu. Dengan alasan apapun tampaknya kita memiliki konotasi negatif atas apa yang bernama kekerasan, pembunuhan, balas dendam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian itu terlepas dari kemungkinan dua sudut pandang yang berbeda atas konsep-konsep tersebut. Kepahlawanan Alexander Agung bermakna positif dan penuh heroik oleh pengagum sejarah kebesaran Romawi, terlepas berapa ribu nyawa yang telah direnggut oleh politik ekspansi Alexander Agung. Namun dari sudut pandang pihak yang dijajah Romawi, nama Alexander Agung identik dangan keserakahan, pembunuh berdarah dingin, bahkan penjahat perang ! Coba saja kita tanyakan bagaimana gambaran seorang Hitler dimata para pendukung neo Nazi. Pasti jawaban yang muncul adalah : Hitler seorang pahlawan, pengubah sejarah dunia, orang yang membela kehormatan ras Arya, dan sederetan citra positif dan membanggakan lainnya. Namun bila kita bertanya pada seorang dari turunan Yahudi, maka jawaban yang muncul tidak akan jauh-jauh dari gambaran seorang penjahat perang peringkat pertama, sadis, gila kekuasaan, atau (mungkin !) propagandis ulung yang pintar memutar balik fakta. Inilah realitas simbolis yang selalu muncul menyertai perjalanan sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya antara Strauss, Hitler, dan Alexander Agung itu ? sekalipun mereka tidak pernah berjabatan tangan berkenalan satu sama lain, namun Strauss kenal betul tentang cerita dua manusia terakhir. Pemahaman Strauss tentang dua orang itu paralel dengan pamahaman dia bahwa segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan, peperangan, ekspansi wilayah kekuasaan, dan semua akibat yang ditimbulkan konsep-konsep tersebut akan selalu berulang sepanjang hidup manusia. “Sejarah selalu berulang,” itu pesan Francis Fukuyama dalam &lt;em&gt;The End of History and The Last Man &lt;/em&gt;(1992). Jadi sebuah pertanyaan di akhir tulisan singkat ini : kapan manusia pernah belajar dari apa yang disebutnya sejarah ? Nampak sudah menjadi takdir bagi sejarah untuk terus diulang dan diulang. Tanpa manusia mau mengambil dan mempelajari apa yang telah terjadi. Terus aja mengulang-ulang kesalahan. Dan dengan kesalahan itulah peradaban kita tegakkan. Satu hal yang mungkin harus diingatkan : kita memang tidak bergerak kemana-mana. Manusia memang di situ-situ saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepi Kali, Desember 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-4067245794321430424?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/4067245794321430424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=4067245794321430424' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/4067245794321430424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/4067245794321430424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/12/repetitions-destiny-of-history.html' title='Repetitions : The Destiny of History'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-735444107302236319</id><published>2009-12-03T22:33:00.000-08:00</published><updated>2009-12-03T22:37:04.550-08:00</updated><title type='text'>From Psychology to Communication Studies</title><content type='html'>Siang ini terasa panas. Saya duduk di sebuah cafe kecil.  Cafe dengan beragam menu sederhana di sisi timur jalan Kaliurang, Yogyakarta. Sebuah ruas jalan utama di bagian utara kota Yogya yang tidak pernah sepi. Macet setiap hari. Meskipun suhu udara di dalam cafe sangat dingin karena ada tiga unit air conditioner (ac) yang beroperasi, tetap saja nuansa panas merayap pelan. Mungkin itu adalah kenyataan sesungguhnya, atau mungkin juga hanya sekadar efek dari suasana hati saya. Tak pentinglah untuk dibahas dan dianalisa. Lebih baik saya membahas keinginan saya untuk memaparkan ‘utang budi’ kajian komunikasi terhadap ilmu Psikologi. Salah seorang tokoh dan pendekar Psikologi yang ternyata memberikan kontribusi cukup signifikan  atas kajian ini adalah Sigmund Freud. Pendiri aliran psikoanalisis ini memberikan sesuatu yang sama sekali tak dia sadari tentang relasi dan interaksi sosial manusia. Saya akan mulai dari sedikit cerita personal tokoh ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigmund Freud (1856 – 1939) dididik sebagai seorang doktor medis, pendiri profesi psikoanalisis, dan pencipta teori psikoanalisis. Dia bukan seorang penemu dan ilmuwan sosial, namun memiliki pengaruh yang besar dalam ilmu-ilmu sosial. Teori Psikoanalisis memiliki pengaruh kuat dalam psikologi dan memiliki pengaruh luar biasa pada sosiologi, ilmu politik, dan antropologi. Hal ini secara langsung juga mempengaruhi lapangan pemikiran komunikasi melalui tokoh-tokoh aliran kritik (critical school), pada Palo Alto School, seperti Harold D. Lasswell, dan pengaruh berikutnya, melalui Carl I. Hovland. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontribusi utama Freud adalah pemikirannya atas konsep ketidaksadaran, yang mempengaruhi kekuatan psikologi dibawah kontrol rasional kita, dan peranan seksualitas dalam pengembangan psikologi individu dari masa kanak-kanak. Pencarian dia terkait dengan masa seksualitas anak meyakini bahwa segala bentuk antagonisme, muncul sebagai sesuatu yang tidak bisa dipersalahkan dan rasa kebebasan seksual setelah masa puber. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Freud adalah salah satu dari tiga sosok yang berpengaruh besar bagi dunia sosial dalam abad 19 di Eropa, seperti halnya yang kemudian terjadi di Amerika. Saat teori evolusi Darwin dan Materialisme Historisnya Marx mencapai level makro dalam masyarakat, Freud hadir dengan sisi mikro individualistiknya, melihat lebih pada tataran individual, terutama sisi individu anak-anak, percobaannya dan analisisnya melahirkan konsep ketidaksadaran, untuk menjelaskan tentang perilaku. Freud menekankan bahwa pengalaman masa kecil menyimpan sesuatu yang nantinya berpengaruh bagi perilaku dewasa. Hal itu menurutnya selalu merupakan suatu pengungkapan ketidaksadaran atas perilaku manusia. Satu hubungan atau bisa disebut kontribusi yang diberikan oleh psikoanalisis pada studi komunikasi adalah kenyataan bahwa satu perhatian penting dalam kajian komunikasi adalah melihat sisi sebaliknya (&lt;em&gt;inside&lt;/em&gt;) pada individu terutama faktor apakah yang menjadi pendorong perubahan perilaku, meskipun hal itu tidak semata-mata hanya bisa ditelaah dari sisi teori psikoanalisis saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa studi yang disebutkan Rogers (&lt;em&gt;A History of Communication Study : A Biographical – Approach&lt;/em&gt;,1994), notabene menggunakan pendekatan psikoanalisis : seperti penelitian Fritz Heider tentang Balance theory (1946), teori disonansi kognitif dari Leon Festinger (1957), dan elaboration likelihood model atas perubahan sikap dari Petty dan Cacioppo (1981, 1986). Seluruh teori-teori temuan di atas berasumsi pada ketidakseimbangan individu, inkonsistensinya, atau kondisi disonan, penyebab semua itu adalah rasa ketidaktenangan yang ada pada diri individu, yang akhirnya menuju pada terbentuknya perilaku individu tersebut dan perubahannya. Kajian serius atas riset-riset berbasis persuasi yang dilakukan oleh Carl I. Hovland dikembangkan dari teori learning- nya Clark Hull, yang dipengaruhi oleh teori Freudian. Teori Freud juga memiliki pengaruh atas studi psikoanalitis Harold D. Laswell pada studi awal politik, meskipun ini tidak secara langsung berakibat pada riset komunikasi beliau. Dari pemaparan Rogers ini, nampak bahwa kajian-kajian mendasar yang menjadi peletak batu pertama dunia komunikasi, sebenarnya banyak dipengaruhi oleh temuan Freud dalam teori psikoanalisisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori psikoanalisis Freudian dikombinasikan dengan Marxisme oleh aliran Frankfurt pada 1930 an dan pada tahun 1940 an memberikan pada kita teori-teori berperspektif kritis dalam teori komunikasi. Aliran kritis memberikan pengaruh pada studi prasangka, dilaporkan dalam “The Authoritarian Personality” oleh Adorno dan yang lainnya (1950), menyajikan sebuah teori psikoanalitis atas investigasi kepribadian dengan menggunakan metode psikologi kuantitatif. Bayang-bayang  pemikiran Freud telah menghantui peta dan lintasan studi komunikasi manusia hingga hari ini. Salah satu kajian yang berbasis teori psikoanalisis yang disebutkan Rogers adalah studi Palo Alto Group yang dilakukan oleh Gregory Bateson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pengakuan Beteson bahwa Palo Alto group hampir menjadi sebuah gerakan sosial, lingkaran dalam dari sebuah bangun teoritik yang  memiliki pandangan bahwa perilaku komunikasi merupakan sebuah tindakan interaksionis. Ketertarikan Beteson atas studi komunikasi telah dia ungkapkan dalam buku pentingnya yang kompleks “Steps to an Ecology of Mind” (1972). Penekanan secara konseptual pada buku itu melihat pada komunikasi individu dalam hubungan eratnya dengan orang lain, yang merefleksikan tesis utama dari Palo Alto Group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun catatan menarik dari Palo Alto group adalah bahwa kelompok ini tidak diorganisir selayaknya sebuah departemen universitas atau suatu paham, berpusat dalam disiplin akademik tertentu, namun lebih sebagai sebuah kumpulan sosok-sosok yang peduli untuk melihat bagaimana sebuah komunikasi bekerja dalam hubungannya dengan problem kesehatan mental, terapi keluarga, dan schizophrenia. Akhirnya kelompok ini memiliki problem orientasi (yang tak memiliki batasan, jika suatu saat dibutuhkan), untuk membongkar fenomena komunikasi manusia sebagai suatu jawaban utama dari semua pertanyaan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang bisa dilihat Rogers, satu pelajaran penting dari studi komunikasi yang dilakukan oleh Palo Alto Group adalah fokusnya pada permasalahan komunikasi seperti halnya yang kita kenal dengan anggapan positif  (the presumed positives). Ada kondisi-kondisi dimana komunikasi tidak selalu menghasilkan sesuatu yang linear, sama makna, namun juga kadang muncul ambiguitas di dalamnya. Seperti contoh bahwa studi komunikasi mengenai topik penyingkapan diri (self disclosure) dan keterbukaan (openness) seharusnya diimbangi dengan studi-studi ambiguitas, penipuan (deception), dan taktik berbelit-belit. Penyebabnya adalah dalam kasus-kasus seperti diplomasi, percintaan, dan negosiasi bisnis yang muncul adalah kejadian-kejadian ambigu ketimbang sesuatu yang bersifat langsung dan jelas, serta serba cepat disimpulkan.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan segala kerendahan hati seluruh pemerhati dan pelaku cerdik pandai studi komunikasi mau tidak mau harus mengakui betapa kuatnya pengaruh psikoanalisis yang diprakarsai Freud terhadap kelahiran dan perkembangan kajian ini. Sebuah fakta yang belum tentu disadari dan dimengerti oleh ribuan mahasiswa ilmu komunikasi, entah di Indonesia maupun di dunia. Sudah saatnya kita melihat ilmu komunikasi bukan hanya separangkat keahlian memotret, shooting film, membaca berita, atau sekadar menjadi public relations semata. Sebuah anggapan ‘berbahaya’ yang pada titik akhirnya malah menggelincirkan kajian komunikasi hanya sebagai sebuah praktek keahlian dan penghasil para ‘tukang’. Kajian komunikasi harus berkembang menjadi sebuah disiplin kuat membaca realitas hidup manusia. Pada suatu saat dia akan sejajar dengan Sosiologi, Antropologi, Ekonomi, Psikologi, dan ilmu-ilmu sosial mapan lainnya ..... semoga .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh .... siang ini masih tetap terasa panas. Sepanas suasana perdebatan orang-orang akan ramalan hari kiamat tahun 2012.  Sebuah perdebatan yang menurut saya nyaris tidak memiliki manfaat apa-apa. Hanya menjadi konsumsi media dan ajang promosi belaka. Ahh ... lagi-lagi panas hati semakin menjadi-jadi .... siang ini memang benar-benar panas ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Break Cafe, Desember 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-735444107302236319?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/735444107302236319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=735444107302236319' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/735444107302236319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/735444107302236319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/12/from-psychology-to-communication.html' title='From Psychology to Communication Studies'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-8451123969323563562</id><published>2009-11-22T15:26:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T15:33:10.682-08:00</updated><title type='text'>Society as Sacred Emile Durkheim ?</title><content type='html'>Bagi orang seperti Emile Durkheim, agama diakui sebagai sebuah realitas &lt;em&gt;sui generis&lt;/em&gt;. Maksudnya adalah bahwa representasi atau simbol-simbol agama bukanlah khayalan (&lt;em&gt;delusion&lt;/em&gt;), juga bukan sekadar mengacu kepada fenomena yang lain, seperti kekuatan-kekuatan alam. Melainkan sebuah fenomena sosial semata (Bellah, 2000). Ada relasi yang kuat antara ide pembentukan masyarakat dengan digunakannya agama sebagai alat pemersatu dan menjaga harmonisasi kehidupan masyarakat tersebut. Karya utama Durkheim yang terkait dengan hal ini adalah &lt;em&gt;The Elementary Form of Religious Life &lt;/em&gt;(1915). Tulisan berikut ini akan memokuskan diri pada pemahaman beberapa bagian dari ide Durkheim dalam buku tersebut melalui sudut pandang Daniel L. Pals (1996). Penjelasan akan bermula dari landasan pemikiran Durkheim tentang konsep komunitas sebagai penentu atas apa yang harus dilakukan setiap individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KOMUNITAS SEBAGAI DASAR : IDE AWAL DURKHEIM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengacu pada paham Baron de Montesquieu dan Saint Simon (Pals, 1996 : 91-93), Durkheim menandaskan bahwa pada diri manusia sejak dahulu kala selalu ada kebutuhan untuk terus menyatu dan terikat kepada suatu komunitas. Hal ini dia paparkan ketika mengulas kehidupan masyarakat purba dengan menggunakan konsep kontrak sosial. Dalam masyarakat pra-sejarah itu, setiap individu yang dilahirkan langsung mendapati dirinya berada dalam kelompok-kelompok, keluarga, klan, suku dan bangsa yang kesemuanya tumbuh dalam konteks kelompok. Prinsip utama yang ada dalam kelompok inilah yang seterusnya berkembang menjadi masyarakat. Manusia yang ada dalam kelompok itu mengembangkan suatu kesepakatan sosial yang berorientasi pada penciptaan harmoni dalam kehidupan kelompok tersebut. Kesepakatan sosial itu diantaranya terjewantah dalam bentuk agama. Ini nampak dalam fakta-fakta yang ditunjukkan Durkheim. Dalam masyarakat purba ini, kontrak sosial selalu terikat dengan sumpah-sumpah sakral keagamaan yang memperlihatkan bahwa setiap kesepakatan antara mereka tidak hanya bermakna ikatan antara dua belah pihak saja, namun melibatkan campur tangan dewa didalamnya, sebab yang merasakan implikasi yang ditimbulkan kesepakatan tersebut adalah seluruh anggota masyarakat. Kontrak sosial yang melibatkan para dewa tentu akan memiliki legitimasi yang sangat kuat.  Tesis ini paling tidak bermula dari bukunya &lt;em&gt;“The Division of Labor” &lt;/em&gt;(1893) tentang asal mula terciptanya kontrak sosial sebagai hakekat suatu masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;em&gt;“The Devision of Labor”&lt;/em&gt; itu,  Durkheim menuliskan penemuannya tentang perbedaan yang paling mendasar antara masyarakat purba dan modern dalam usaha mewujudkan kesatuan dan harmonisasi dalam masyarakat. Pada masyarakat purba, usaha untuk mewujudkan kesatuan terwujud dan bergerak dalam solidaritas mekanik. Pada masyarakat modern terjadi perubahan solidaritas mekanik menjadi pembagian jam kerja, setiap orang berbeda pekerjaannya. Masyarakat purba juga memiliki “kesadaran kolektif” yang kuat dan luas, dalam kesadaran ini terkandung kata sepakat tentang ketentuan yang benar dan yang salah dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Sedangkan dalam masyarakat modern yang menentukan salah benar adalah moral individualisme. Inilah prinsip moral yang terus hidup dalam masyarakat. Oleh karena itu kita tidak bisa memisahkan moralitas dan agama dalam kerangka sosial. Hal ini disebabkan konsensus tentang moral (terutama yang benar dan yang salah) terutama ditetapkan dalam agama. Jadi apabila konteks sosial dalam masyarakat berubah, maka dengan sendirinya agama dan moralitas pun berubah. Dalam peradaban Barat saat ini telah terjadi perubahan dari kesadaran kolektif purba diganti dengan moral individualistik yang pada akhirnya hak yang dimiliki agama dan moral telah berubah seiring dengan perubahan tatanan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab bertahannya agama secara konvensional menurut Durkheim adalah wejangan-wejangan yang menggugah dari pemuka agama, namun bertahannya agama dalam koridor fungsi sosial tidak disadari oleh setiap anggota masyarakat itu sendiri. Dalam pandangan sosiolog, keberhasilan pemuka agama tidak dinilai dari berapa banyak pendosa yang disadarkan para pemuka agama, tapi dari ragam peristiwa yang bisa mengembalikan perasaan bersama, saling berbagi rasa dan kepentingan kepada tetangga yang miskin terkucilkan dan putus asa. Dalam studinya tentang bunuh diri : “Suicide” (1895) yang diterbitkan tak lama setelah karyanya “Rule”,  Durkheim menyimpulkan bahwa kasus bunuh diri paling tinggi terjadi dalam masyarakat yang menganut agama Protestan, dan paling rendah pada masyarakat Katolik (Pals, 1996 : 97). Hal ini terjadi karena dalam masyarakat Protestan lebih memberikan kebebasan berpikir dan bertindak pada pengikutnya, dengan prinsip “manusia adalah pemilik utama dirinya sendiri“. Dalam masyarakat Katolik, individu-individu mempunyai integritas yang relatif lebih tinggi satu sama lain, dimana para pendeta menjadi perantara masyarakat dengan tuhan. Jadi semakin kuat ikatan sosial yang ada dalam masyarakat, maka akan semakin rendahlah angka rata-rata bunuh diri yang terjadi di dalamnya. Sumber dari kekuatan ikatan sosial itu adalah berhasilnya penanaman norma-norma dan nilai dari agama Katolik yang lebih berorientasi sosial apabila dibandingkan Protestan. Kekuatan agama inilah yang kemudian dipotret oleh Durkheim dengan menggunakan konsep dunia sakral dan dunia profan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DUNIA SAKRAL DAN DUNIA PROFAN : DUA KONSEP UTAMA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menceritakan tentang agama sebagai konstruksi sosial dari masyarakat, Durkheim melakukan analisis dengan memunculkan seluruh latar yang berbentuk kebiasaan dan adat istiadat dalam suatu masyarakat. Ia menolak penemuan dari Tylor, Freud dan Frazer yang memberikan definisi agama sebagai bentuk kepercayaan kepada kekuatan supernatural, seperti tuhan atau dewa-dewi (hal : 98-100). Durkheim menyatakan bahwa pada masa lalu, masyarakat primitif tidak berpikir tentang dua dunia, natural dan supernatural seperti yang dipikirkan oleh masyarakat beragama dalam kebudayaan modern. Masyarakat sekarang berfikir seperti itu karena mereka sangat terpengaruh dengan asumsi dan kaidah-kaidah dasar sains, sedangkan masyarakat primitif tidak. Mereka melihat semua peristiwa (mukjizat dan hal biasa) pada dasarnya sama. Disamping itu konsep tentang dewa-dewi juga dianggap bermasalah, karena tidak setiap agama mempercayai adanya tuhan, walaupun mereka meyakini adanya satu kekuatan supernatural. Berangkat dari pemikiran ini ia kemudian memberikan konsep dunia sakral dan dunia profan sebagai langkah awal memahami asal mula “terciptanya” agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durkheim menemukan karakteristik paling dasar dari setiap kepercayaan agama yang menurutnya tidak terletak pada elemen-elemen supernatural, tetapi pada konsep yang “sakral” (&lt;em&gt;the sacred&lt;/em&gt;). Dalam masyarakat beragama manapun, dunia dibagi menjadi dua arena :  arena yang sakral dan arena yang profan. Hal-hal yang sakral selalu diartikan sebagai sesuatu yang superior, berkuasa, dalam kondisi normal tidak tersentuh, dan selalu pantas mendapat penghormatan tinggi. Sebaliknya arena profan mengacu pada bagian keseharian dari hidup dan bersifat biasa-biasa saja. Ia juga memberikan definisi bahwa agama adalah satu kepercayaan dengan perilaku-perilaku yang utuh dan selalu dikaitkan dengan yang sakral, yaitu sesuatu yang terpisah dan terlarang. Perilaku-perilaku tersebut dapat disatukan kedalam satu komunitas moral yang disebut gereja, tempat dimana masyarakat memberikan kesetiaannya. Yang sakral memiliki pengaruh yang luas untuk menentukan kesejahteraan dan kepentingan seluruh anggota masyarakat. Sedangkan yang profan tidak memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan komunitas itu sehari-harinya. Hal yang profan ini adalah masalah-masalah kecil yang mencerminkan urusan setiap individu sehari-hari (Kegiatan dan usaha pribadi yang lebih kecil dari kehidupan pribadi dan keluarga dekat). Yang sakral muncul terutama berkaitan dengan apa yang menjadi konsentrasi sebuah masyarakat, sedangkan yang profan adalah apa yang menjadi perhatian pribadi dari seorang individu. Dalam usaha menjelaskan pemikirannya tersebut, Durkheim mengambil contoh pemujaan totem yang dilakukan oleh masyarakat Aborigin di Australia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TOTEMISME : &lt;br /&gt;YANG SAKRAL DAN YANG PROFAN SUKU ABORIGIN, AUSTRALIA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti para penulis tentang totem : Frezer, Roberston Smith, Freud, dan peneliti ataupun Antropolog yang lain, Durkheim juga terpukau dengan fakta terciptanya sistem totemisme yang dianggap sebagai agama pada berbagai suku primitif di dunia. Namun penjelasan Durkheim atas fenomena itu berbeda jauh dengan para peneliti tersebut. Dia mulai dengan menghubungkan sistem totem itu dengan gambaran tentang yang sakral dan yang profan untuk kemudian memaparkan implikasi dari totemisme itu bagi masyarakat atau suku bersangkutan (Pals,1996 : 101 –110). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durkheim berkeyakinan bahwa ide tentang pemujaan totem tidak lain adalah pemujaan terhadap masyarakat itu sendiri. Mengapa selalu yang menjadi totem adalah hewan atau binatang, karena masyarakat menginginkan obyek yang spesifik, nyata dan dekat dengan keseharian mereka. Sedangkan tujuan dari klan itu sendiri adalah untuk menyatakan kesaling terkaitan dengan berbagai hal, berbagai hubungan yang sangat mengikat seseorang dengan orang lain didalam klan, kaitan klan dengan alam fisik, dan kaitan-kaitan antara berbagai fenomena alam itu sendiri.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian akhir &lt;em&gt;“The Elementary Form of Religious Life”, &lt;/em&gt;Durkheim menyatakan bahwa sebenarnya perasaaan keagamaan pertama kali muncul bukan dari momen-momen pribadi, akan tetapi dari upacara-upacara klan yang bersifat komunal. Karena upacara pemujaan dari setiap klan dilakukan secara bersamaan dengan tujuan kesadaran tentang arti penting klan, dan memberikan perasaan bahwa mereka adalah bagian dari klan dan memastikan yang sakral selalu terhindar dari segala sesuatu yang profan. Bentuk pemujaan pertama kalinya biasanya berisi tentang larangan-larangan yang berhubungan dengan kemasyarakatan dan usaha untuk memperbaharui klan itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ide masyarakat itu ada dan hidup hanya didalam individu-individu, jadi jika ide tentang masyarakat itu dihilangkan sedangkan kepercayaan, tradisi, aspirasi dari kelompok-kelompok hanya dikembangkan secara individu maka dengan sendirinya masyarakat akan mati. Demikian juga dengan tuhan dan agama. Keduanya hanya akan ada sejauh dia memiliki tempat dalam kedaran masyarakat, jadi tuhan tidak akan bisa berbuat apa-apa jika tidak ada yang menyembah dan memikirkan-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;AGAMA SEBAGAI EKSPRESI SIMBOLIK : MENCOBA SIMPULAN &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan yang bisa diambil tentang agama adalah, bahwa keyakinan ritual keagamaan merupakan ekspresi simbolis dari kenyataan sosial. Jadi pemujaan terhadap Totem sesungguhnya adalah pernyataan kesetiaan terhadap klan. Hari dan upacara upacara suci diadakan hanya untuk menempatkan kembali masyarakat kedalam pikiran anggotanya, sekaligus menekan keinginan personal kembali ke posisi tempat mereka berasal yaitu hal-hal yang profan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik di dunia Timur maupun Barat, masyarakat modern ataupun purba, kepercayaan dan ritual keagamaan selalu mengekspresikan kebutuhan masyarakat, yaitu menuntut setiap anggotanya untuk lebih memikirkan kelompok ketimbang diri pribadi, merasakan arti penting dan kekuatan yang dimiliki masyarakat dan mau mengorbankan kepentingan pribadinya demi masyarakat. Dalam kenyataannya, ilmu pengetahuan jugalah yang telah membantu kelahiran agama, oleh karena itu agama tidaklah bersifat intelektual tapi lebih bersifat sosial. Agama berfungsi sebagai pembangkit perasaan sosial, memberikan simbol dan ritual-ritual yang memungkinkan masyarakat mengekspresikan perasaan mereka yang selalu terikat dengan komunitasnya, dan selalu untuk melindungi yang benar dan jiwa masyarakat. Oleh karena itu agama adalah sesuatu yang bersifat sangat sosial dan dalam setiap kebudayaan, agama adalah bagian yang paling berharga dari kehidupan sosial, agama melayani masyarakat dengan menyediakan ide, ritual dan kesadaran akan perasaan tertentu yang akan menuntun seseorang dalam hidup bermasyarakat, untuk kemudian memperkuat eksistensi masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai masalah ritual dan kepercayaan, Durkheim lebih mengutamakan ritual keagamaan, sebab ritual inilah yang lebih fundamental dalam melahirkan keyakinan. Jika ada sesuatu yang abadi dalam agama maka kebutuhan masyarakat akan hal yang bersifat ritual inilah sesuatu yang lebih abadi, berupa upacara-upacara yang bisa dimaknai peneguhan kembali dedikasi setiap anggota masyarakat. Kebutuhan untuk mengadakan upacara selalu ada karena merupakan sumber sebenarnya dari kesatuan sosial dan tali pengikat utama seluruh anggota masyarakat. Jika masyarakat masih memerlukan ritual keagamaan maka konsekuensinya adalah tidak akan ada satu masyarakat yang tidak memiliki suatu agama, walaupun ide-ide agama dianggap salah dan absurd oleh sebagian kalangan, namun perilaku keagamaaan akan selalu ada dalam setiap masyarakat karena hal ini yang memberikan kekuatan kepada masyarakat tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepi Kali, November 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-8451123969323563562?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/8451123969323563562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=8451123969323563562' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/8451123969323563562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/8451123969323563562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/11/society-as-sacred-emile-durkheim.html' title='Society as Sacred Emile Durkheim ?'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-5194783614337108493</id><published>2009-11-12T23:44:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T23:49:11.202-08:00</updated><title type='text'>Gaji Tinggi Berarti Tidak Korupsi ?</title><content type='html'>“Gaji yang tercatat Rp. 62 juta, dengan catatan hilang Rp. 25 juta karena membayar pajak,” kata Antasari, si pimpinan KPK. Dia ungkapkan itu pada sebuah kesempatan (Jawa Pos, 4 April 08), sisanya, ujar dia, paling hanya sekitar Rp. 40 juta.&lt;br /&gt;Sementara itu gaji sang ketua Mahkamah Agung (MA), Bagir Manan menurut catatan Jawa Pos per 28 Januari 2005 sebesar Rp. 24.390.000, terdiri atas gaji pokok Rp. 5.040. juta. Tunjangan jabatan Rp. 18,9 juta, dan uang paket Rp. Rp. 450 ribu. Lalu ditambah dengan tunjangan khusus (Rp. 31,1 juta). Alhasil si Manan ini setiap bulan akan membawa pulang Rp. 55.490.000, tanpa potongan pajak. Belum lagi penerimaan dari uang sidang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsat !” sumpah serapah muncrat dari mulutku, &lt;br /&gt;BRAKK ... Kursi kantor jadi sasaran kaki,&lt;br /&gt;“Dasar pejabat edan tak pernah mikir rakyat kelaparan !”. Sumpah lagi..&lt;br /&gt;Tentu saja sumpah itu terasa wajar ditengah-tengah semua orang sibuk mencari gas dan minyak tanah yang tiba-tiba hilang entah kemana. Terasa wajar ditengah banyaknya TKI kita di Malaysia dan Arab Saudi yang pulang hanya tinggal nama. Yang sampai ke Bandara Soekarno Hatta hanyalah “mayatnya”. Mereka mati. karena beratnya bekerja menanggung dan membiayai beban hidup mereka. Atau mereka mati karena disiksa majikan di negeri orang sana. Semua terasa wajar, wajar menyumpahi pejabat tak tahu diri ditengah kondisi seperti tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya juga pejabat,” suara parau menimpali&lt;br /&gt;“Mending kalau bekerja dengan benar,” tukang ketik di kantor itu bernada risau&lt;br /&gt;“Apa tidak malu yaa ?” suara cleaning service sekaligus merangkap office boy sekalian satpam.&lt;br /&gt;“Khan agar mereka tidak korupsi,” ada suara malaikat di sudut situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dia masalahnya coy !&lt;br /&gt;Meskipun telah ada kebijakan negara untuk memberikan gaji yang jumlahnya nyaris tak terpikirkan oleh masyarakat umum di Indonesia, toh perbuatan “main belakang”, praktek “meminta amplop tambahan”, “pungli” dan entah apalagi namanya begitu subur dilakukan oleh para pejabat bergaji tinggi itu tadi. Mulailah dari si Bagir Manan. Lembaga terhormat yang dipimpinnya itu pernah tersandung skandal BLBI yang jumlahnya tak tanggung-tanggung 6,2 milyar. Si Urip sebagai seorang jaksa agung muda tindak pidana korupsi tertangkap basah dengan uang sejumlah itu di tas yang dibawanya. Masalahnya adalah tertangkapnya itu selepas dia keluar dari rumah Syamsul Nursalim, si tersangka kasus BLBI yang baru saja diputus bebas. Orang goblok sekalipun akan bisa menghubungkan fenomena sederhana ini. Nursalim bebas, Urip dapat uang yang jumlahnya tak tanggung-tanggung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gampang,” kata si tukang jual minuman di depan kantor siang itu,”pasti itu uang suap !”&lt;br /&gt;“Bisa juga ucapan terima kasih,” timpal si penjual bakso, “khan udah jadi hal biasa,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah masalahnya coy !&lt;br /&gt;Apapun nama uang 6,2 milyar itu, bahkan si Urip sendiri mengaku bahwa uang itu adalah hasil bisnis permata dia dengan keponakan si Nursalim. Enak sekali dia bilang ! bisnis permata hingga milayaran rupiah. Kenapa baru terbongkar dan mengaku sekarang bahwa seorang pejabat tinggi yang sangat sensitif berhubungan dengan hajat pembongkaran korupsi dan “main mata” berbisnis ? sebuah dagelan yang sempurna (kata Andra &amp; The Backbone). Kemiskinan, ketidaknyamanan, kepahitan hidup yang dirasakan hampir merata oleh seluruh rakyat, nampaknya tidak membuat mereka paham bahwa hidup harus berhemat dan empatik pada rakyat. Di saat si Anto harus ngamen dan menjajakan koran untuk uang receh seratus dua ratus perak, di saat itu pula si Urip berbisnis permata milyaran rupiah. Hidup memang tidak adil. Kalau memang ini adalah sistem yang sudah diatur oleh Tuhan. Artinya ketidakadilan juga termasuk apa yang ditakdirkan Tuhan, aku akan bertanya : Mengapa harus ada ? apa tujuannya ? untuk membuat si miskin semakin potensial masuk neraka (karena mengumpat dan merutuk si kaya?), atau untuk membuat si kaya semakin potensial masuk surga karena uang kekayaannya bisa mendirikan masjid dan gereja ? ahh semakin banyak yang tidak bisa dimengerti dari fenomena ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin ketika membaca majalah Tempo, baru aku tahu bahwa di badan moral seperti Lembaga Sensor Film itu ternyata juga terjadi praktek percaloan. Calo yang berkeliaran menjadi traffic menghubungkan para produser dan sutradara dengan sepucuk surat keterangan atau stempel tanda “lolos sensor” dari LSF. Menurut cerita Tempo, pembayaran atas sensor itu bervariasi atas panjang dan durasi film. Ada yang dihitung berdasarkan panjang reel nya (film 33 mm), dan ada pula yang dihitung durasi tayangannya (film iklan dan sinetron). Sampai disitu semua wajar-wajar saja. Anggota LSF bekerja menyensor, lalu produser membayar biaya kerja itu. Ini wajar. Sekali lagi wajar. Nah .. menjadi tidak wajar kalau ternyata di kantor atau gedung Film itu, tidak konkret dimana tempat memberikan reel film yang akan disensor, semacam loket penerimaan dan loket pengembalian film begitulah (bayangkan saja saat kita mau buat SIM di kepolisian, khan banyak loket tuh). Artinya di gedung Film itu tidak ada sama sekali kegiatan orang hilir mudir membawa reel film dan apapunlah yang menunjukkan telah adanya bukti konkret film yang disensor. Terus transaksi penyerahan bahan film yang akan diedit itu dilakukan dimana ? he he .. yang paling ekstrem bisa dilakukan dilahan parkir ! Bagaimana caranya ? Begini neh, nanti akan ada “penghubung’ yang mendatangi mobil produser atau orang suruhan itu. Bicara tentang penghubung mungkin tak apa-apa. Masalahnya adalah “jasa” yang ditawarkan sang penghubung mampu mempercepat proses keluarnya surat tanda lulus sensor. Kecepatan itu akan berbanding lurus dengan berapa “ongkos” yang dititipkan pada sang penghubung. Artinya semakin besar duit yang dititipkan, maka semakin cepat proses penyuntingan dan pengecekan dari LSF. Itulah masalahnya. Jadi urusan lembaga sensor film bukan semata-mata hanya melihat dan mengecek kesesuaian film dengan moral dan budaya bangsa, melainkan juga terkait dengan seberapa besar duit yang disetor pada “kaki-tangan” lembaga tersebut. Ahh memang semakin banyak yang tidak bisa dimengerti dari fenomena ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus bagaimana nasib orang-orang seperti kita ini ?” &lt;br /&gt;“Diam sajalah,” Napas berat mengiringi, “diteguk dan ditelan saja,”&lt;br /&gt;“Kenapa kita harus diam ?”&lt;br /&gt;“Karena kita emang miskin dan tak mampu melawan,”&lt;br /&gt;“Sampai kapan ?” &lt;br /&gt;“Besok sampai mereka yang zalim itu sadar, “&lt;br /&gt;“Kapan mereka sadar ?”&lt;br /&gt;“Tunggu saja hingga kau terbiasa dizalimi,”&lt;br /&gt;“Jadi kudu kita yang terbiasa dan menganggap tak ada apa-apa ?”&lt;br /&gt;“Ya iyalah,” gigiku gemerutuk, “emang begitulah nasib kita,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ternyata ditengah segala ketidakadilan dan kezaliman yang mendera, tak ada yang bisa dilakukan selain membiasakan diri dengan ketidakadilan itu. Melihat dunia seolah-olah tak ada apa-apa. Menjalaninya dengan menutup mata. Membiasakan diri bahwa semua baik-baik saja. Larilah dari realitas dunia. Maka jangan pernah heran, di Indonesia segala bentuk sinetron dan film tentang mimpi, yang bintangnya kaya raya, pasti ditongkrongin dari ashar hingga isya. Memang inilah Indonesiaku tercinta. Tempat di mana uang sebesar 5,1 milyar hanya dititipkan lewat seorang kurir tanpa kejelasan apa-apa. Katanya untuk menyogok para ketua KPK. Lalu terjadi masalah pada wewenang dan kekuasaan, tempat segala dramaturgi dimainkan. Memang inilah Indonesiaku tercinta. Tempat di mana kita hanya bisa bermimpi dan mengumbar utopia tentang sejahtera nan merata, sambil berbincang lagenda ‘cecak &amp; buaya’.&lt;br /&gt;Percuma saja menggaji Antasari di atas rata-rata, percuma saja memberi Ketua MA nilai bulanan besar tak terkira. Itu semua tidak akan membuat mereka ogah menerima sogokan dan tekanan uang ‘pelicin’ dan apa namanya ? gratifikasi ? ahh istilah apa pula itu ! Begitu besar godaan uang dan kekuasaan. Begitu berat melawan naluri kehewanan. Jabatan tinggi dipertaruhkan. Terobos sana-terobos sini dengan menggunakan wewenang. Cara kerja kepolisian di republik ini telah memberi kita gambaran. Sekali lagi kita hanya bisa diam, menekan semua itu di alam bawah sadar. Tempat di mana kita hanya bisa bermimpi dan mengumbar utopia tentang sejahtera nan merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah masalahnya coy, dan nampaknya itu akan tetap jadi masalah kita. Bukan para petinggi di atas sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gondosuli, pukul 03 dinihari, 5 Agustus 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-5194783614337108493?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/5194783614337108493/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=5194783614337108493' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/5194783614337108493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/5194783614337108493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/11/gaji-tinggi-berarti-tidak-korupsi.html' title='Gaji Tinggi Berarti Tidak Korupsi ?'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-7089516902915338264</id><published>2009-11-08T01:11:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T01:19:28.363-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blind&apos;s Communication'/><title type='text'>Permintaan Maaf sang ” Buaya” ?</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengantar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu kita semua mungkin sempat menyaksikan konflik antar dua lembaga tinggi di negeri ini : Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI). Beragam versi penceritaan terkait dengan kasus pengusutan korupsi dan penyalahgunaan wewenang di tubuh dua lembaga itu terus berlanjut hingga hari ini. Di tengah-tengah gencarnya pemberitaan tentang fenomena tarik menarik kekuasaan antar dua lembaga itu, muncullah istilah unik untuk menggambarkan kedua belah pihak. Istilah itu adalah ‘Cecak dan Buaya’. Istilah itu muncul dari hasil wawancara wartawan media massa dengan salah seorang petinggi Markas Besar (Mabes) Polisi Republik Indonesia, yakni Kabareskrim Mabes Polri Komjen Susno Duaji. Analoginya untuk menggambarkan KPK dan Polri adalah dengan mengistilahkan  Cecak melawan Buaya. KPK dianggap sejajar dengan cecak, sementara Polri dianggap sebagai buaya. Sampai di situ tidak ada masalah, andai saja kata itu hanya sekadar dimaksudkan untuk mencari padanan yang tepat untuk membuat wartawan dan publik agar lebih mengerti. Masalahnya kemudian adalah penyertaan “nilai” pada kedua kata itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada kata Cecak yang dilekatkan pada KPK, opini publik terbawa pada makna dontotasi kapasitas tubuhnya yang kecil, dan lemah, menuju pada  makna konotasi ketidakberdayaan, pihak yang bakal kalah, pokoknya stereotipe keteraniayaan. Cecak ini harus berhadapan dengan buaya sebagai kata ganti lembaga kepolisian. Anda tahu khan buaya ? makhluk melata yang kuat luar biasa, tak tembus peluru pada bagian tubuh tertentu, dan memiliki kepekaan dan saraf sensor yang peka. Dia pemangsa. Ganas. Sulit untuk ditaklukkan. Apalagi diajak ‘berkawan’. Itulah makna konotasi atas lembaga kepolisian. Dari dua istilah ini kemudian, masalah terus bergulir. Pendek kata, publik kemudian meletakkan dua kata itu berhadap-hadapan, seperti halnya KPK dan POLRI yang berhadap-hadapan. KPK teraniaya, kepolisian jumawa dan arogan luar biasa. Merasa sudah terjebak dengan dua istilah itu, maka pada kesempatan berikutnya Kapolri, Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) menyatakan permohonan maaf atas problematika yang ditimbulkan dua istilah tersebut. Permintaan maaf itu kemudian beberapa kali diulangi dalam dengar pendapat dengan komisi  III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) beberapa hari lalu. Hal ini begitu menarik. Jarang sekali sebuah lembaga sebesar kepolisian dengan terbuka meminta maaf kepada publik atas ucapan seorang pejabatnya. Dari sisi dunia public relations, ini merupakan cerminan betapa beratnya menyandang dan mempertahankan citra positif. Sedikit saja salah mengeluarkan pernyataan, maka efek negatifnya akan membuat lembag sulit untuk lepas dari prasangka buruk publik. Sangat merugikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan berikut ini berupaya mensejajarkan pernyataan maaf Kapolri, jenderal BHD di atas sebagai sebuah representasi permintaan kelembagaan. Sudut pandangnya adalah strategi dan taktik public relations yang baik. Pemahaman kita akan dibangun dengan menguraikan beberapa konsep tentang public relations (PR), menyangkut peran dan fungsi PR, aplikasi praktek PR, kesenjangan aplikasi, dan akhirnya mencoba mencari ruang ‘negosiasi’ atas kesenjangan ranah praktek tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Pencitraan Positif : Peran &amp; Fungsi PR ?&lt;/&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan maaf yang disampaikan Kapolri sebenarnya menjadi sebuah strategi menarik dari sudut pandang praktek PR. Dengan melakukan itu, dia telah menyelamatkan institusinya. Lembaga yang dinilai telah menggunakan kekuasaannya secara sewenang-wenang.  Sebuah permintaan maaf yang disampaikan secara terbuka kepada publik menjadi penanda pahamnya institusi ini pada akibat negatif dari publisitas yang buruk. Hal ini tidak gampang dilakukan. Seperti dilansir oleh John Kador (2009) bahwa meminta maaf akan mampu menjadi kekuatan penyembuh secara psikologis. Kapolri telah melakukan itu. Namun masalah tidak serta merta selesai. Sebuah praktek PR yang baik bukan sekadar meminta maaf. Masih banyak rangkai strategis lain yang harus dibangun. Sebagai sebuah institusi bentukan pemerintah, Polri membutuhkan sebuah rangkai strategis PR jangka panjang. Beberapa catatan konseptual akan membantu kita memahami situasi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia public relations selalu diidentikkan dengan sebuah dunia program strategis menuju pencitraan positif kelembagaan di depan mata publik melalui kekuatan informasi dan publisitas maksimal (Lovel, 1982; Cutlip, et.al, 2000; Laermer &amp; Prichinello, 2009). Pada beragam konteks (Bank, 1995) peran dan fungsi PR dilekatkan dengan beragam kiat dan strategi yang sangat dinamis (Black, 1994; Gregory : 2003). Apabila kita merujuk pada peranan PR, maka kita akan membicarakan tentang bagaimana sebuah divisi dan bagian PR dalam sebuah lembaga atau institusi bekerja keras untuk mendesain beragam program strategis. Sementara itu, kalau kita berbicara tentang fungsi PR maka kita akan membicarakan tentang beragam kapasitas dan keahlian yang melekat pada lembaga maupun sosok personal yang terlibat dalam praktek penyelenggaraan PR. Kedua-duanya tidak selalu hadir bersamaan pada saat praktek PR dilaksanakan. Kadang-kadang sebuah lembaga tidak merasa harus memiliki sebuah departemen atau bagian PR. Untuk menangani berbagai masalah terkait dengan memberikan informasi, mereka menunjuk seseorang yang bertindak sebagai juru bicara. Inilah PR dalam konteks fungsional. Institusi merasa terlalu dini untuk membentuk sebuah divisi PR. Untuk itu mereka melekatkan peran itu ke dalam fungsi komunikasi personal seseorang yang ditunjuk tadi. Beberapa kasus perbankan, lembaga pemerintah, dan dunia bisnis di Indonesia telah melakukan ini. Saat krisis ekonomi tahun 2008 di Amerika, beberapa perusahaan besar seperti IAG, LG, menempatkan direktur utama dalam kapasitas dan fungsinya sebagai PR bagi perusahaan saat harus bernegosiasi dengan pemerintah. Hal ini memang penting guna menunjukkan kepedulian dan respek pada pemerintah (Dominguez, 1982). Pencitraan positif yang diharapkan sebagai tujuan akhir dari sebuah upaya strategis PR ini didapat melalui empat jalur utama yakni public understanding (pengertian publik), public confidence ( kepercayaan publik), public support (dukungan publik), dan public cooperation (kerjasama publik). Apa yang telah dilakukan oleh Kapolri adalah sebuah upaya pencapaian dan perbaikan atas empat jalur utama tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesenjangan Ruang Teori dan Praktek PR : Salah Siapa ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ungkapan permintaan maaf secara terbuka Kapolri, muncul pertanyaan : mengapa bukan kabag Hubungan Masyarakat (public relations officer -PRO) kepolisian saja yang meminta maaf ? Mengapa harus Kapolri sendiri yang mengucapkan hal itu ? Inilah sebuah aplikasi PR yang tidak melulu harus sesuai dengan beragam ranah teori dan konseptual di berbagai pelatihan PR. Bukan rahasia lagi berbagai praktek pelaksanaan program PR selalu tidak pernah persis sama dan sesui dengan rangkai teori dan ranah konseptual yang diajarkan di berbagai sekolah maupun kursus. Begitu besar nampaknya tugas yang harus diemban seorang PR officer, sehingga dia dituntut untuk pandai-pandai memahami situasi dan kondisi agar tujuan pencitraan dan reputasi tercapai tanpa mengorbankan atau ‘melacurkan’ konsep-konsep PR itu sendiri. Dalam beberapa dekade terakhir PR bahkan telah menjadi semacam alat dari rangkai strategi marketing dalam meningkatkan penjualan (Harris, 1998 ; Ries &amp; Ries, 2002 ; Scott, 2009). Padahal keinginan tertinggi dari para konseptor dan praktisi PR adalah menjadikan PR sebagai prinsip filsafat manajeman dan rancang strategis jangka panjang (Moore, 1987; White &amp; Mazur, 1995). Di mana titik permasalahan dan kesalahannya ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari siapa yang bersalah atas berkembangnya definisi dan aplikasi PR dalam kehidupan nyata sebuah institusi mungkin bukanlah langkah bijak. Penelusuran atas kebutuhan dan daya adaptasi PR atas berbagai masalah institusi dalam relasi dengan publiknya mungkin menjadi semacam ‘pintu masuk’ yang lebih tepat.  Dalam penjelasannya tentang sejarah PR, Cutlip et.al (2000) telah mengingatkan bahwa PR di masa depan mungkin akan bermetamorfosis menjadi sebuah strategi yang tidak pernah terbayangkan oleh para konseptor PR pada awalnya. Hal yang sama telah diungkapkan pula oleh Edward Barney saat melihat pesatnya perkembangan dunia PR (Seitel, 2001). Menurut Barney, pada saatnya nanti PR menjadi tak lebih dari sekadar alat untuk kepentingan lain yang lebih besar dari sebuah institusi. Pada satu titik, ini sangat menguntungkan bagi dunia PR. Pada titik lain kondisi mencampur adukkan PR dengan alat-alat publisitas lain (iklan, promosi penjualan, POP, event) akan membuat PR tidak lagi memiliki keistimewaan penjaga reputasi dengan prinsip proaktif. Tak bisa dipungkiri, keputusan di tingkat manajer tertinggi institusi akan berdampak pada cara pandang terhadap PR. Namun kemampuan para praktisi PR untuk menunjukkan kompetensi dirinya juga harus semakin dikembangkan. Perpaduan dua hal ini akan membuka ruang negosiasi antara kebutuhan manajeman institusi dengan kekuatan PR secara fungsional sebagai penjaga reputasi dan publisitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ruang Negosiasi yang Bukan Basa-Basi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan agar permintaan maaf langsung disampaikan oleh Kapolri menunjukkan betapa masalah wacana ‘cecak dan buaya’ ini menjadi begitu krusial bagi kepolisian. Apa yang kita pikirkan andai posisi kepolisian dianalogikan sebagai sang cecak, yang mendapat perlakuan semena-mena “buaya’ KPK ? Tentu Kapolri tidak perlu meminta maaf. Wacana publik menguntungkan mereka. Sungguh berbeda dengan situasi saat ini.  Mereka dirugikan. Untuk itu seluruh orientasi strategis saat ini diarahkan untuk pemulihan reputasi dan kredibilitas yang sudah dirintis sejak lembaga ini resmi ‘berpisah’ dengan TNI. Memandang kasus ini harus melihat luasnya ruang negosiasi antara teori PR dengan aplikasi prakteknya di lapangan. Praktek yang mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan konteks evolusinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan Frazier Moore (1987) untuk membuat PR sebagai sebuah filsafat manajemen bukanlah tanpa alasan. Menurutnya, prinsip-prinsip dasar PR itu selalu konsisten dan kekal. Namun dalam prakteknya, karena dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial, perkembangan teknik dan sains, serta lingkungan yang berubah terus-menerus, membuat dia terus ber-evolusi secara konsisten. Cakupan perkembangan yang dipetakan Moore secara tidak langsung menunjukkan luasnya peta evolusi tersebut. PR menurutnya telah berkembang paling tidak dalam ruang-ruang opini publik dan persuasi; teori, metode, dan evaluasi komunikasi; riset media; analisis isi; studi khalayak; manajemen; peraturan pemerintah dan hukum; bahkan pada titik pertanggungjawaban sosial (CSR). Terbukanya peluang PR diterapkan dalam dunia pemasaran membuat dunianya menjadi lebih menarik. Terlebih-lebih PR memiliki kedekatan dengan sisi publisitas media massa. Pemanfaatan prinsip PR dalam menghadapi fenomena media baru (new media) nampak mengemuka dalam satu dekade ini. McQuail (2000)  telah menempatkan empat kategori sebagai alat ukur kekuatan media baru yang bisa digunakan dalam dunia PR : media komunikasi interpersonal, kontribusi media interaktif, media pencari informasi, dan media untuk pertisipasi kolektif. Seperti yang disarankan oleh Scott (2009) bahwa memahami PR dalam konteks kompleksitas media informasi baru, akan menjadi area negosiasi antara sikap pihak manajeman dan kepasitas para praktisi PR. Sebuah ruang negosiasi yang akan terus menerus tercipta sepanjang PR itu harus tetap ‘hidup’ dan ‘berguna’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang negosiasi inilah yang memungkinkan PR menggunakan seluruh aktivitas untuk pencapaian tujuan menjaga reputasi institusi. Seperti diungkapkan Ananda (2002), terdapat duapuluh aktivitas PR yang bisa digunakan sebagai ruang negosiasi penerapan. Banyaknya aktivitas tersebut menunjukkan bahwa PR mampu menjadi strategi yang sangat lentur atas beragam alat aplikasi di lapangan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duapuluh aktivitas PR yang disodorkan Ananda pada dasarnya sudah sering dilakukan seorang praktisi PR, entah sadar atau tidak. Ruang negosiasi yang begitu terbuka lebar bagi praktisi PR sama sekali tidak dimaksudkan untuk ‘melacurkan’ PR.  Ini adalah sebuah upaya menciptakan energi baru terus menerus untuk &lt;em&gt;‘survival of the fittest’&lt;/em&gt; di tengah-tengah perubahan teknologi dan informasi yang demikian pesat dalam diri publik. Justru manajer dan praktisi PR yang tidak siap akan tergilas oleh perubahan itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Integrasi Sikap : Tawaran Simpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat PR menjadi sebuah rancang strategis yang dinamis dibutuhkan pemahaman dan pengertian dua sisi yang simetris. Pertama, pihak manajeman institusi wajib mengetahui asas dan esensi public relations itu sendiri sebagai sebuah filsafat manajeman strategis. Kedua, para praktisi di level menengah dan tenaga teknis PR harus memiliki standar keahlian dan kemampuan atas beragam teknik dan strategik aplikasi PR. Penggabungan kedua sisi ini secara strategis bisa mewujud ke dalam ruang-ruang negosiasi penerapan PR sejak dari tahapan manajerial hingga tahapan teknis di lapangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Referensi :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ananda, Ida Anggraeni, 2002. Public Relations : Sebuah Telaah dari Sudut Fungsi, Peran, dan Kedudukannya dalam Organisasi, Jurnal Visi Komunikasi, Jakarta:  Fakultas Ilmu Komunikasi Mercu Buana. &lt;br /&gt;Banks,  Stephen P., 1995. Multicultural Public Relations : A Social-Interpretive Approach, London : Sage Publications.&lt;br /&gt;Black, Sam,. 1994. The Essentials of Public Relations, London : Kogan Page Limited.&lt;br /&gt;Cutlip, Scott M., Allen H. Center, &amp; Glen M. Broom., 2000. Effective Public Relations, Eighth Edition, New Jersey : Prentice-Hall. Inc.&lt;br /&gt;Dominguez, George S., 1982. Government Relations : A Handbook for Developing and Conducting The Company Program, New York : John Willey &amp; Sons.&lt;br /&gt;Gregory, Anne., 2003, Planning, and Managing A Public Relations Campaign: A Step by Step Guide, New Delhi : Kogan Page Limited. &lt;br /&gt;Kador, John, 2009. Effective Apology : Merajut Hubungan, Memulihkan Kepercayaan, penerjemah Kunti Saptoworini &amp; Th. Dewi Wulansari, Jakarta : Penerbit Gemilang.&lt;br /&gt;Laermer, Richard, &amp; Michael Prichinello, 2009. Full Frontal PR : Membuat Orang Membicarakan Anda, Bisnis Anda, atau Produk Anda, Penerjemah Lenny Hidayat, Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer. &lt;br /&gt;Lovell, Ronald. P., 1982. Inside Public Relations, Boston : Allyn and Bacon. Inc. &lt;br /&gt;McQuail, Dennis, 2000. McQuail’s Mass Communication Theory, 4th edition, London : Sage Publication.  &lt;br /&gt;Moore, H. Frazier,. 1987. Hubungan Masyarakat : Prinsip, Kasus, dan Masalah, buku Satu, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;Scott, David Meerman, 2009. The New Rules of Marketing &amp; PR, Penerjemah Anastia Putri Ridiasa, Jakarta : Publishing One.&lt;br /&gt;Seitel, Fraser P., 2001. The Practise of Public Relations, Eighth edition, New Jersey : Prentice Hall.&lt;br /&gt;White, Jon, &amp; Laura Mazur., 1995. Strategic Communications Management : Making Public Relations Work, London : Addison-Wesley Publishing Company.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-7089516902915338264?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/7089516902915338264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=7089516902915338264' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/7089516902915338264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/7089516902915338264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/11/permintaan-maaf-sang-buaya.html' title='Permintaan Maaf sang ” Buaya” ?'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-1479532973201949956</id><published>2009-10-21T19:31:00.000-07:00</published><updated>2009-10-21T19:36:12.401-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blind&apos;s Communication'/><title type='text'>Menteri Baru dan Empat Masalah Komunikasi</title><content type='html'>Sebagai Menteri yang mengurusi masalah komunikasi dan informasi, mungkin banyak pihak menyangsikan sosok Tifatul Sembiring, yang pada Rabu Malam (21/10/09), jam 10.00 WIB, resmi dinyatakan SBY sebagai Menkominfo. Apa pasal ? biasanya sektor ini dijabat oleh mereka yang memiliki kompetensi di bidang komunikasi dan IT (Harmoko, ke laut aje !). Itu syarat minimal, mengingat kompleksitas problem IT di Indonesia memang berkutat pada perihal teknis. Seperti menteri Mohammad Nuh yang memiliki latar belakang bidang informatika. Kebijakannya berakhir pada hal yang sangat bersifat teknis : menyumbang komputer pada sekolah dan desa-desa ! Bagaimana dengan sosok Tifatul Sembiring ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya mengetahui latar belakang pendidikan dan wilayah kerja Tifatul Sembiring, mungkin kesangsian tadi sedikit terkikis. Beliau memiliki latar belakang sekolah informatika di Pakistan. Berlanjut pada kerja di bidang penerbitan. Begitu menjadi sosok penting di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dia menjabat Humas lalu kemudian menduduki posisi presiden partai bernafas Islam intelek tersebut. Dengan beberapa catatan ini, paling tidak sinyalemen ketidakpahaman dalam bidang IT akan tertepis dengan sendirinya. Lalu apabila secara personal dia tidak perlu diragukan, apa lagi yang menjadi saran dan kritik sebagai pekerjaan rumah besar beliau sebagai menteri yang nanti sangat terkait dengan isu &lt;em&gt;“dunia datar” (world is flat)&lt;/em&gt; versi Thomas L. Friedman itu. Mari kita mulai dengan empat problem IT di Indonesia yang nantinya akan menjadi ancang-ancang bekerjanya mantan presiden PKS ini. &lt;br /&gt;Seperti yang dilansir oleh AntaraNews (22/10/09) ada empat pekerjaan rumah yang bakal dihadapi oleh Menkominfo sesuai pengakuan Tifatul Sembiring. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, Indonesia memiliki masalah besar dalam hal perbedaan kemudahan akses di kota besar dan daerah terpencil.  &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, masalah kurangnya informasi edukatif dari media komunikasi tanah air. Ia berpendapat, komunikasi edukatif masih sangat lemah di mana 75 persen tayangan yang ada di media siaran Indonesia dinilai tidak mendidik. "Sebagai Menkominfo saya ingin komunikasi yang lancar dan informasi yang benar dalam arti lancar, mudah, dan bermanfaat," katanya. Masalah yang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;ketiga&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, infrastruktur ICT yang masih sangat lemah. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, layanan informasi di Indonesia masih sangat kurang. Keempat masalah ini bisa dilihat dalam konteks strategis dan kenteks teknis. Keduanya untuk melihat indikasi mana yang betul-betul urgen menjadi problem komunikasi dan informatika negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pisahkan Ranah Strategis dan Ranah Teknis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dikatakan telah terjadi perbedaan kemudahan akses terhadap informasi di kota besar dan daerah terpencil di Indonesia, nampaknya yang dimaksud oleh Menkominfo adalah tentang posisi masyarakat sebagai sumber informasi. Artinya akses disini dimaknai sebagai sebuah komunikasi timbal balik antara masyarakat di manapun mereka berada. Apabila akses yang dimaksud adalah dalam hal kemudahan mendapatkan informasi (pasif) maka saat ini masalah itu hampir tidak ada lagi. Hampir diseluruh pelosok negeri ini telah terjangkau oleh sebelas stasiun televisi nasional, dan puluhan televisi lokal yang memang ada di wilayah masing-masing. Ini menandakan masyarakat sebenarnya punya akses dalam memperoleh informasi. Masalahnya adalah kemudahan akses informasi tersebut tidak sejajar dengan posisi dan kapasitas masyarakat sebagai pemberi informasi. Computer mediated communication (CMC) yang mengejewantah dalam internet, hingga hari ini masih menjadi bahan gengsi dan mewah bagi banyak kalangan di pedesaan. Mereka baru melihat internet sebagai sarana hiburan. Terbukti akses yang kuat kepada pornografi nyaris mewarnai negeri-negeri dengan peta geografis pedesaan mereka yang mayoritas. Pokok problemnya adalah, masalah akses adalah permasalahan teknis. Penyiapan mentalitas akan kebutuhan informasi yang harus melebihi insting mendapatkan kesenangan sebagai fungsi hiburan media harus segera diantisipasi kementrian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kedua berlanjut sebagai respon atas insting hiburan dan bermain (ludens) yang memang kuat pada diri audiens di Indonesia. Seringkali terjadi perdebatan antara LSM yang berpihak pada media literasi dengan para kapitalis swasta pemilik stasiun televisi berikut segala variannya. Mereka yang berada pada kubu media literasi selalu melihat media sebagai ‘biang kerok’ menguatnya insting menghibur diri dan bermain-main manusia. Media menghadirkan tayangan melulu hiburan, memberikan isi laporan dengan frame bombastis dan gosip-gosip. Sementara pihak media(terutama stasiun televisi) mengklaim bahwa apa yang mereka sajikan semata-matas sebagai respon atas keinginan besar pemiras semata. Lembaga rating berkali-kali mengamini hal tersebut, setiap mereka melaporkan hasil riset mingguan mereka tentang acara yang paling banyak ditonton pemirsa. Bagi penggiat LSM media literasi, media penyebab. Bagi stasiun televisi, media sebagai akibat. Hasil komprominya adalah munculnya beragam terma unik sebagai judul acara di televisi Indonesia. Sebagai contoh adalah penggabungan unsur hiburan dan pendidikan (namanya edutainmen), dan juga bergabungnya unsur informasi dan hiburan (namanya infotainmen). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ketiga adalah masalah duit dan modal. Ini tentang infrastuktur. Di Indonesia, teknologi memang masih menjadi barang mahal. Sekaligus bergaya. Sangat biasa di negeri ini bahwa yang mahal itu identik dengan hedon dan gengsi. Internet masuk dalam bagian itu. Saat ini banyak orang menjinjing laptop hanya sekadar menunjukkan bahwa dirinya punya laptop dan termasuk dalam masyarakat informasi ala Alvin Toffler. Barang mewah meminta gaya mewah. Ada identitas di dalamnya. Identitas yang bisa menafikan wilayah fungsi dari sebuah produk maupun jasa. Menjinjing laptop masih belum sejajar dengan menggenggam handphone. Mengingat masih mahalnya teknologi, sudah sewajarnya pemerintah dan lembaga swasta mendukung pengadaan infrastruktur baik dengan regulasi maupun dengan bantuan konkret. Masalahnya : bagaimana kita menganggap bahwa menyediakan prasarana fisik bukanlah sebuah solusi atas akses itu tadi, melainkan akan menjadi pembuka masalaha baru saat masyarakat melihat dan merasa menggunakan internet lebih sebagai gaya ketimbang fungsi pencari informasi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah layanan informasi bukanlah masalah teknis. Melayani dalam memberikan informasi tidak semata-mata identik dengan menyediakan perangkat personal computer di setiap sudut jalan, sudut mall-mall dan pusat perbelanjaan, serta menyediakan mobil informasi keliling bertuliskan pusat informasi turis (tourism information center). Khusus untuk pencarian informasi, masyaraka Indonesia masih sangat terbawa oleh tradisi oral mereka. Sekalipun telah jelas-jelas terpampang informasi tentang keberangkatan kereta di papan pengumuman stasiun, toh para penumpang kebanyakan masih sibuk mencari satpam atau para calo untuk sekadar bertanya langsung tentang hal yang sama dengan apa yang terpampang tadi. Tak cukup hanya membaca, mereka butuh penjelasan kata-kata. Informasi oral dibutuhkan untuk meyakinkan diri. Itulah mental oral. Tak mudah percaya dengan apa yang tertulis dan terpampang. Dari kenyataan itu tadi, makna menyediakan informasi tidak selesai hanya dengan menghadirkan perangkat teknis. Dibutuhkan seperangkat regulasi untuk menciptakan mental menyeimbangkan kepercayaan terhadap tradisi literal disamping keyakinan tradisi oral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mulai dengan Fact Finding&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta bahwa audiens di Indonesia sangat plural, sudah selayaknya menjadi prioritas perhatian sang Menkominfo baru ini. Pluralitas yang paling signifikan adalah tingkat pendidikan yang tidak selalu sejajar dengan peta area geografis. Sebagai contoh, di sebuah desa terpencil di Kalimantan, seorang lulusan sarjana Hukum ternyata sangat membutuhkan layanan internet dengan akses di atas rata-rata. Ini terjadi karena sarjana ini mengecap pendidikan tinggi di pulau Jawa, dengan mental terdidik yang didapatnya di pulau termaju Indonesia itu, kebutuhan akan informasi up date dia tidak lagi bisa disuplai oleh Kompas, Media Indonesia, Bulletin Siang, dan program-program &lt;em&gt;built up &lt;/em&gt;lain (&lt;em&gt;bullet theory&lt;/em&gt;). Dia butuh komunikasi interaktif sesuai dengan kebutuhannya (&lt;em&gt;uses and gratifications&lt;/em&gt;). Kondisi ini memaksa pemegang otoritas tidak semata-mata terpana dengan prinsip kuantitas dan statistik dalam memutuskan diseminasi informasi dan pengadaan prasarana fisik infrastuktur bidang komunikasi. Ada wilayah kualitas yang terkait dengan pemaknaan dan penghargaan atas informasi yang jauh lebih penting dari sekadar melandasi diri dengan fakta berupa angka betapa “katro’ nya kita di depan PC atau laptop yang terhubung dengan sistem internet. Simpulnya, mengetahui bahwa prasarana fisik yang disediakan benar-benar digunakan sesuai kebutuhan jauh lebih berarti dan bermakna positif dibanding menyediakan prasarana fisik infrastuktur tadi hanya untuk kebutuhan hedonis, gaya, dan intertain semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila yang terjadi adalah yang kedua maka, kementrian itu akan lebih disibukkan dengan fakta banyaknya pengakses situs dengan kata kunci Maria Ozawa, Miyabi, pornography, sex, dan sejenisnya. Takutnya, kita merasa telah berbuat menyelesaikan masalah, padahal yang terjadi adalah kita berhasil menciptakan masalah demi masalah.  Berikutnya, kita serahkan segala keputusan pada sang Menteri baru agar bisa manakar dan menimbang atas segala keputusannya nanti. Dan tidak terpancing pada gebyar parade dan promosi keberhasilan program menteri melalui beragam iklan di radio, koran, dan televisi. Karena Menteri bukanlah selebriti. Itu pasti !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pojok Ruang Daihatsu, Oktober 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-1479532973201949956?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/1479532973201949956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=1479532973201949956' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/1479532973201949956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/1479532973201949956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/10/menteri-baru-dan-empat-masalah.html' title='Menteri Baru dan Empat Masalah Komunikasi'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-4112862662166616007</id><published>2009-10-19T07:39:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T07:56:18.754-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blind&apos;s Communication'/><title type='text'>Media Massa dan Ideologi</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Saya akan memulai tulisan kali ini dengan mengutip tekanan analisis Dominick Strinati dalam buku menariknya &lt;em&gt;“Populer Culture : Pengantar Menuju Teori Budaya Populer”&lt;/em&gt; (Terjemahan Bentang 2003) tentang relasi ideologi dan media massa. Menurutnya, perspektif ekonomi politis memandang media massa menyampaikan nilai-nilai dan asumsi-asumsi dominan yang berasal dari dan melayani berbagai kepentingan kelas penguasa, dan mereproduksi struktur kepentingan kelas yang merata. Namun demikian, sedikit atau bahkan nyaris tidak ada bukti langsung yang menunjukkan bahwa ideologi-ideologi yang ditampilkan oleh media massa mempunyai dampak-dampak yang dikehendaki tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana nampaknya Strinati ingin mengatakan bahwa siapapun yang menguasai media tidak langsung bisa diartikan dia akan memiliki kuasa pula mengendalikan pemikiran khalayak yang mengonsumsi medianya. Larry Page &amp;amp; Sergey Brin adalah penguasa abad ini dengan bertahta di Google Inc. tapi apakah mereka lalu seenak hati menggunakan Google untuk menancapkan kuasa hegemonik ? di Indonesia ada Dhamoo Punjabi dan kerajaan Punjabi-punjabi lainnya yang baru saja berhasil memecahkan rekor atas tontonan 4 juta orang untuk film Ayat-ayat Cinta mereka. Lalu apakah film itu membawa anasir-anasir ke Hinduan ? justru film itu membawa pesan ke Islaman yang berbeda sekali dengan ajaran Hindu yang dianut keluarga Punjabi. Perspektif Marxis yang direkatkan saat melihat kehidupan media massa mungkin sudah waktunya diturunkan dari tahtanya. Terlebih-lebih saat kita mencoba menyeruak dalam kehidupan budaya populer. Namun sebelum berpanjang-panjang, ijinkan saya untuk terlebih dahulu mengupas makna kata ideologi dan dinamika konsep ini, baru kemudian kita relasikan dengan kritik Strinati di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dua Perspektif Ideologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Secara historis, dunia mengenal dua sudut pandang utama yang mengulas konsep ideologi : Marxis dan non Marxis (Jary &amp;amp; Jary, 1991). Sesuai dengan namanya, sudut pandang pertama sangat berbau Karl Marx. Pemahaman ekonomi politik kelas yang dikembangkan Marx membuat pandangan tentang ideologi tidak jauh-jauh dari fetisisme komoditas. Kelas penguasa akan mempergunakan segala elemen dan instrumen untuk menjaga status quo mereka. Paham ini laris manis dimamah biak Antonio Gramsci, lalu dimuntahkan kembali dengan konsep hegemoniknya (Nemeth,1980). Pada tataran lebih tegas, Althusser memberikan kita konsep state apparatus untuk menunjukkan bagaimana ideologi bekerja dengan sangat baik demi kepentingan kekuasaan (Althusser,2004). Logika sederhana pendekatan marxis adalah bahwa ada pihak berkuasa (kelas penguasa) yang identik dengan kebenaran, melakukan praktek penguasaan dan mendominasi dengan ide-ide dan gagasan atas sekelompok pihak lain yang lemah (otomatis dikuasai) dengan kesalahan dan kealpaan mereka. Dalam bidang media, paham ini diamini oleh Noam Chomsky dengan merelasikan dinamika kehidupan institusi media massa dengan beragam kepentingan ekonomi politik (Herman &amp;amp; Chomsky, 1988).&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, sudut pandang non marxis sangat identik dengan sosok Karl Mannheim. Kalau Marx dan pengikutnya adalah orang yang memapankan persoalan ideologi sebagai bagian yang tidak bisa ditinggalkan dalam diskusi tentang masalah sosial dan politik, maka Karl Mannheim adalah orang yang menghasilkan elaborasi komprehensif pertama dan terakhir tentang teori ideologi. Inilah pengakuan David McLelland, yang menyebut buku Mannheim “&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ideology and Utopia”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; sebagai buku talaah ideologi paling komprehensif (McLelland,2005). Buku itu terbit pertama kali tahun 1929 di tengah-tengah kacaunya kehidupan sosial dan politik yang mencabik-cabik Republik Weimar. Telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan pengantar oleh Arief Budiman dengan judul yang sama (1991). Mannheim mengarahkan perhatiannya untuk mengembangkan wawasan Mark serta tokoh lainnya yang sejalan, dan untuk menghasilkan sebuah teori ideologi yang komprehensif. Teori ini (yang kemudian terkenal dengan nama “sosiologi pengetahuan’ ) akan menyibak keterbatasan serta karakter parsial dari seluruh sudut pandang politis sepanjang sejarah, dan kemudian dia ingin memberikan landasan bagi penafsiran yang lebih harmonis, integratif, dan progresif tentang politik yang penuh pertentangan pada masanya. Usahanya itu memunculkan sebuah program penelitian untuk melakukan perlawanan terhadap kehancuran nilai yang diakibatkan oleh semakin menyebarnya kapitalisme industrial. Analisis ideologi gaya Marx yang berujung pada benar salah pada salah satu pihak, digantikan oleh analisis relasionisme gaya Mannheim. Baginya bukan perkara kebenaran subjektif yang relatif, melainkan bagaimana cara mengungkapkan setiap pemikiran orang dalam setiap zaman (berikut tokoh dan pengusanya) dengan eksistensi kehidupan orang-orang itu. Mungkin menjadi sedikit masuk akal melihat betapa bencinya Geert Wilders dengan Al-Qur’an mengingat konteks hidup masa remajanya di tepi barat Sungai Jordan yang sering ditembaki orang Palestina. Umur 17 hingga 19 tahun menjadi masa kritis dalam pemikirannya tentang landasan keimanan orang Islam. Pemahaman menyeluruh atas Timur Tengah menuntunnya pada kesimpulan bahwa penyebab tindakan gerilyawan Pelestina itu adalah tafsir atas kitab suci mereka. Jadilah sebuah ideologi yang terus bercokol di kepalanya tentang kekejaman dan sadistis Islam. Outputnya adalah film berdurasi 15 menit yang menghebohkan : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Fitna&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Relasi ideologis Wilders dengan konteks hidup dan eksistensinya inilah yang menjadi sasaran analisis bagi sosok Mennheim dengan konsep relasionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini kita sudah memaparkan dua sudut pandang dalam melihat ideologi. Terlihat sekali bahwa ideologi sebagai sebuah konsep, begitu jauh meninggalkan niat awal sang penemu kata tersebut : Antoined Destutt de Tracy, seorang filsuf Prancis. Awalnya, Tracy melihat ideologi sebagai sebuah ilmu tentang pikiran manusia yang mampu menunjukkan arah yang benar menuju masa depan. Ini sejajar dengan makna logi sama dengan logos, saat dia digunakan dalam kata biologi dan zoologi. Mengingat masa hidup Tracy adalah saat gerakan rasional yang menuju pada pencerahan, maka dia juga bertekat untuk menciptakan pemetaan pemikiran manusia untuk mencapai terwujudnya manusia yang baik di abad 19 dan seterusnya (Eatwell &amp;amp; Wright, 2004). Namun dalam perkembangannya, ideologi ini kemudian dimaknai sebagai sebuah bentuk yang negatif. Semua ini tak lepas dari tujuan politik Napoleon Bonaperte (1769-1821). Dia menjadikan ideologi sebagai sebuah aspek ontologis yang terlepas dari segala bau ilmiah. Jadilah dia sebuah kekuatan legitimasi tradisional hingga Napoleon bisa berkuasa dengan legitimasi berupa ideologi. Iluminati yang digagas Tracy telah bergeser menjadi tujuan pencapaian kekuasaan itu sendiri. Tak ada yang namanya bahasa netral ketika menggunakan konsep ideologi. Dia telah diberikan muatan negarif oleh Napoleon Bonaparte. Persis seperti kita mengeryitkan dahi dan mencurigai setiap orang yang terlalu banyak bicara tentang partai politik di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marx dan Mannheim tentu sudah sangat jauh meninggalkan Tracy. Disamping itu, kedua orang ini juga memiliki sudut pandang yang berbeda. Perspektif politis yang diemban Marx memiliki esensi yang berbeda dengan perspektif sosiologis yang dipaparkan Mannheim. Sosiologi pengetahuan dengan bahan dasar dialektika antara konstruksi ideologi dan eksistensi manusianya, bagi Mannheim lebih mampu untuk menjelaskan dan menghargai manusia sebagai subyek. Apa yang diungkap oleh Mannheim merupakan satu varian dari rangkaian tafsir realitas yang disampaikan Peter Berger &amp;amp; Thomas Luckman dalam buku &lt;em&gt;&lt;strong&gt;“Social Construction of Reality”.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Meskipun berada dalam ranah fenomenologi, namun membahasakan sosiologi pengetahuan dari Berger &amp;amp; Luckman nampak bisa menjadi roh bagi pembahasan konstruksi ideologi yang diutarakan Mannheim. Dari sudut pandang inilah sebenarnya kita bisa mengurai budaya pop sebagai sebuah mesin kerja ideologi luar biasa dari kapitalisme. Mari kita sedikit bersabar mengurai konsep budaya populer ini sebagai ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Budaya Populer Sebagai Ideologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya populer biasanya didefinisikan oleh kepercayaan dan nilai, oleh perilaku dan nilai, dan oleh pemahaman terhadap sejarah dan terhadap keberbedaan. Dari perspektif Marxis sebenarnya tidaklah layak sebuah kelas memaksakan pandangannya terhadap kelas yang lain sepanjang itu menyangkut nilai dan pemahaman tertentu. Namun realitas dunia menunjukkan negasinya. Perspektif elit yang menjembatani pemahaman kita atas kewarasan (para psikolog), surga dan neraka (kyai dan pendeta), standar hidup sehat (dokter dan antek-anteknya), hidup gaya dan gaul (selebriti) menunjukkan bahwa selalu ada kooptasi oleh suatu kelompok sosial tertentu terhadap kelompok sosial yang lain. Sebenarnya setiap kelompok sosial niscaya memiliki budaya sendiri-sendiri (Burton, 2008). Dengan logika itulah Graeme Burton menegaskan enam konsep kunci melihat budaya populer. Enam konsep kunci itu adalah pemahaman tentang perbedaan dan identitas, bagaimana identitas direpresentasikan, bagaimana budaya diproduksi, relasi sosial dan budaya bersinonim dengan barang-barang, makna perbudakan yang diproduksi dalam teks, dan bagaimana ideologi beroperasi dalam praktik dan barang-barang kebudayaan (hal.53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baudrillard dalam &lt;em&gt;&lt;strong&gt;"Consumer Society"&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (1998) telah menunjukkan betapa implikasi bekerjanya budaya populer adalah terciptanya masyarakat konsumtif. Mesin kerja ideologi konsumtif yang diantar oleh budaya populer muncul dalam beragam bentuk seperti fashion, gaya hidup, yang kesemuanya telah menjadi simulakra. Terjadi pergeseran dari nilai tukar dan nilai guna yang dikumandangkan Marx menjadi nilai tanda (&lt;em&gt;sign value&lt;/em&gt;) yang digerakkan logika hasrat. Tak pernah ada habisnya. Sementara itu, dengan logika yang sama, Andrew Wernick (1991) menunjukkan betapa iklan menjadi kekuatan dahsyat sebagai sebuah ideologi yang membentuk sebuah struktur masyarakat konsumtif. Ia menyebut iklan sebagai sebuah mata rantai dalam putaran publisitas (&lt;em&gt;vortex of publicity&lt;/em&gt;) yang membawa ideologi tersendiri melalui beragam simbol kebudayaan (&lt;em&gt;cultural symbol&lt;/em&gt;). Pengakuan atas dua pemahaman penyumbang ideologi ini diberikan oleh Sean Nixon (dalam Paul du Gay,1997:182-186). Melalui tulisannya Nixon menegaskan bahwa nilai tanda yang disampaikan Baudrillard dan kompleksitas semiologi oleh Wernick, telah menjadi semacam mesin budaya konsumen. Ideologi kapitalis yang dikhawatirkan Marx telah merasuki relung-relung budaya setiap sisi hidup manusia. Keduanya sepakat, media massa-lah yang menjadi jembatan penghubungnya. Sementara itu gambaran masyarakat konsumtif yang sangat menarik adalah seperti yang ditunjukkan gambar yang termuat pada &lt;em&gt;iloblog.mattiaspettersson.com/blog&lt;/em&gt; yang memperlihatkan seorang anak hasil kerja kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang terlahir dalam era masyarakat konsumtif adalah sosok bayi yang telah tertato dengan rangkaian merek dari berbagai simbol kapitalisme dunia global. Ada Coca-cola, Levi’s, Sony, BMW, MTV, dan berbagai merek lainnya. Tak ada tempat untuk mengelak dalam konteks kapitalisme ini. Seperti yang ditunjukkan dengan serangkaian bukti menarik oleh George Ritzer dalam buku uniknya &lt;em&gt;"&lt;strong&gt;McDonaldization&lt;/strong&gt;"&lt;/em&gt; (2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Media dan Budaya Populer &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mencermati budaya populer dan media massa, Strinati sampai pada kesimpulan sulitnya melakukan analisis hanya dengan menggambarkan relasi keduanya dengan mengandalkan teori-teori yang berciri khas Marxis. Penekanan Marxis yang terlalu kuat pada aspek determinisme ekonomis membuat analisis atas budaya populer tidak begitu berarti untuk memetakan dinamikanya (Strinati, 2003:200-201). Perspektif Marxis yang gagal menerjemahkan budaya populer ini sudah diantisipasi oleh para gerakan Birmingham di Inggris. Melalui tokohnya Raymond Williams, mereka menciptakan mazab tersendiri yang berbeda dengan mazab Frankfurt di Jerman. Itulah mazab Birmingham dengan cultural studies-nya (Guins &amp;amp; Cruz,2005). Dan mazab inilah yang pada era postmodern sangat mendominasi pemikiran. Dia tidak terkotak-kotakkan oleh establisnya sebuah ilmu. Dia bebas meminjam ilmu apapun untuk memotret apa yang dinamakan budaya. Dalam semua masyarakat, dalam semua entitas, dan dalam segala masa. Beberapa tokoh besar berjejer di belakang nama kajian itu, diantaranya ada Raymond Williams (tentu saja), Stuart Hall, Walter Benjamin, Fredric Jameson, John Fiske,Victor Hugo, dan beberapa nama lainnya yang bertebaran dalam teks-teks kajian budaya bila kita ketik sandi itu di google.com. Dunia sudah mengakui gerakan ini sebagai gerakan pencerahan atas dialektika budaya. Apa yang dipandang kaku dan biner dalam perspektif Marxis, menjadi lentur dari perspektif ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memaparkan bagaimana cara kerja kajian budaya, Angela McRobbie (2006) menganggapnya sebagai sebuah model yang bisa dibaca dari beragam perspektif teoritis. Dia menggunakan teori yang dipaparkan Stuart Hall untuk melihat bagaimana relasi antara media, politik, dan ideologi. Dia melihat dari sudut pandang Paul Gilroy ketika memetakan relasi musik dengan budaya pop. Menggunakan perspektif kolonial yang dibangun Homi Bhabha untuk menjelaskan resistensi dalam budaya pop, lalu menggunakan Bourdieu untuk melihat kebutuhan dan norma (needs and norms), dan khusus untuk menghubungkan kajian budaya dengan postmodernitas, dia membingkainya dengan pemikiran Fredriec Jameson. Kajian budaya sebagai sebuah model bagi McRobbie bisa ditumpangi pendekatan dan perspektif apapun. Sejauh objek kajiannya adalah kompleksitas dan dinamika budaya. Salah satu varian yang serius dipelajari adalah budaya populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya populer menjadi sarana bagaimana kapitalisme menjajakkan kakinya dengan jumawa. Prinsip bekerjanya ideologi dengan mesin hegemoni seperti dintrodusir Gramsci telah menemukan habitusnya yang sangat pas. Dia tak bisa dilawan, karena memang mengasyikkan. Dia tak bisa dicerca, karena sadar atau tidak kita larut di dalamnya. Kesungguhan untuk mempelajarinya adalah sebuah gerakan penyadaran untuk bisa membentengi diri dari imbas merusak dan merugikan sebuah budaya populer. Karena, seperti yang diungkapkan Strinati, perspektif Marx melalui Gramsci mungkin sedikit mampu memberikan peta penyadaran tersebut. Bahwa ada "siluman" (meminjam bahasa John B. Thompson) dan “hantu” (meminjam bahasa Marx namun dengan tafsir beda) yang bernama budaya pop yang masuk dalam sendi-sendi kehidupan kita. Tentu saja untuk melapangkan jalan bagi kapitalisme untuk beranak pinak (Featherstone, 2001; Budiman, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya Strinati percaya bahwa dengan menggunakan ideologi versi Gramsci kita akan bisa melakukan analisis lebih mendalam tentang media massa. Tepat seperti yang ditahbiskan Gramsci bahwa media massa menjadi salah satu kekuatan yang memediasi pesan-pesan penguasa, namun bukan melalui sebuah paksaan dan pemelintiran kebenaran. Media dengan kekuatan persuasifnya menjadi sebuah narasi besar akan kebenaran dan ketertundukan. Di abad ini media massa telah menjadi tertuduh atas merebaknya budaya konsumtif (Storey, 2007; Ritzer, 2008). Pada titik itulah media massa menjadi salah satu mesin kerja yang memediasi budaya pop. Lebih tegas bisa dikatakan, bahwa media massa selain sebagai sebuah kendaraan bagi ideologi, mungkin saja media massa itu sendirilah yang telah menjadi ideologi. Namanya media culture, seperti ditegaskan oleh Dauglas Kellner (1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kesadaran bahwa media massa memiliki posisi sentral dalam permainan ideologi (ideology games) mengharuskan kita lebih cerdas dalam membina relasi dengan media. Media bukanlah hidup di ruang &lt;em&gt;vacum &lt;/em&gt;tanpa kepentingan apa-apa. Pembacaan media dengan menggunakan empat perspektif utama yakni &lt;em&gt;institusi media, isi media, khalayak media&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;konteks media&lt;/em&gt;, seperti yang ditawarkan oleh Jensen &amp;amp; Jankowski (1991) sangat berguna untuk terus dimasyarakatkan. Tentu saja tantangannya tidak ringan. Sebuah upaya memberikan kesadaran kepada masyarakat yang merasa dirinya nyaman untuk terus hidup dalam ketidaksadaran. Terhipnotis oleh budaya belanja, kartu kredit, dan dugem ria. Semuanya diperantarai secara kognitif oleh kemegahan dan hedonisme media massa. Mari kita mulai berdoa saja ... semoga para malaikat surga memberi catatan positif atas itu semua ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Referensi :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Allthusser, Louis, (2004). &lt;em&gt;Tentang Ideologi : Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis&lt;/em&gt;, Cultural Studies, Penerjemah Olsy Vinoly Arnof, Yogyakarta : Jalasutra.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Baudrillard, Jean, (1998). &lt;em&gt;The Consumer Society : Myths and Structures&lt;/em&gt;, London : Sage Publications.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Burton, Graeme, (2008). &lt;em&gt;Pengantar Untuk Memahami Media dan Budaya Populer&lt;/em&gt;, editor Alfathri Adlin, Yogyakarta : Jalasutra. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Budiman, Hikmat, (2002). &lt;em&gt;Pembunuhan yang Selalu Gagal : Modernisme dan Krisis Rasionalitas Menurut Daniel Bell, &lt;/em&gt;Yogyakarta : Pustaka Pelajar. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Eatwell, Roger, &amp;amp; Anthony Wright (Ed), (2004). &lt;em&gt;Ideologi Politik Kontemporer&lt;/em&gt;, Penerjemah R.M. Ali, Yogyakarta : Jendela. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Gay, Paul du (ed), (1997). &lt;em&gt;Production of Culture/ Cultures of Production&lt;/em&gt;, London : Sage Publications.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Guins, Raiford, &amp;amp; Omayra Zagaroza Cruz (Ed), (2005). &lt;em&gt;Popular Culture : a Reader&lt;/em&gt;, London : Sage Publications Ltd.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Herman, Edward S., &amp;amp; Noam Chomsky, (1988). &lt;em&gt;Manufacturing Consent : The Political Economy of the Mass Media,&lt;/em&gt; New York : Pantheon Books.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Jary, David, dan Julia Jary, (1991). &lt;em&gt;Collins Dictionary of Sociology&lt;/em&gt;, HarperCollins Publisher.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Jensen, Klaus Bruhn &amp;amp; Nicholas W. Jankowski, 1991. A&lt;em&gt; Handbook of Qualitative Methodologies for Mass Communication Research&lt;/em&gt;, London : Routledge. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Kellner, Douglas, (1995). &lt;em&gt;Media Culture : Cultural Studies, Identity and Politics between the Modern and the Postmodern&lt;/em&gt;, London : Routledge. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;McRobbie, Angela (2006). &lt;em&gt;The Uses of Cultural Studies&lt;/em&gt;, London : Sage Publications Ltd.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Strinati, Dominick, (2003).“&lt;em&gt;Populer Culture : Pengantar Menuju Teori Budaya Populer&lt;/em&gt;” , Penerjemah Abdul Mukhid, Yogyakarta : Bentang Budaya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Wernick, Andrew, (1991). &lt;em&gt;Promotional Culture : Advdertising, Ideology and Symbolic Expression,&lt;/em&gt; London : Sage Publications. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-4112862662166616007?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/4112862662166616007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=4112862662166616007' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/4112862662166616007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/4112862662166616007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/10/media-massa-dan-ideologi.html' title='Media Massa dan Ideologi'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-2165289465828413048</id><published>2009-10-09T01:24:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T01:33:12.110-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blind&apos;s Communication'/><title type='text'>Keraguan yang Bermakna : Curhat Anak Isoda</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;“Hidup berarti untuk tertarik pada sesama,&lt;br /&gt;Menjadi bagian dari keseluruhan,&lt;br /&gt;dan menyumbangkan bagianku&lt;br /&gt;untuk kesejahteraan umat manusia.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;-Alfred Adler- 2006&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu,  selepas mengajar mata kuliah &lt;em&gt;“Ilmu Sosial Dasar”,&lt;/em&gt; biasa disingkat Isoda, saya membuka-buka halaman &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; saya. Terdapat satu pesan antar dinding (&lt;em&gt;wall&lt;/em&gt;) yang menarik. berasal dari seorang mahasiswa tingkat pertama. Angkatan 2009. Isinya tentang pengakuan diri. Nampaknya dia berkeluh kesah. Selengkapnya pesan tersebut berbunyi begini : &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Mas Sulhan, kemaren pas kuliahe njenengan, njenengan bilang " Kalau kalian belum bisa nyaman dengan jurusan komunikasi, lebih baik pindah jurusan lain." begitu kalau ku tak salah ingat. saya sendiri masih berusaha untuk nyaman di sini, karen belum benar2 ada rasa mantap seratus persen di jurusan ini. waktu um kukira ga mungkin masuk komunikasi, paling banter masuk&lt;/em&gt; ..... (saya harus sensor karena menyebut nama jurusan lain)  &lt;em&gt;tapi ternyata sekarang disini. Pindah jurusan... huh... rasanya seperti jalan keluar...tapi di sisi lain rasanya seperti ingin melarikan diri...saya ingin terus ada di komunikasi, sampai nanti ada aba2 dari universitas kalau saya dinyatakan tak cukup layak untuk lulus.” &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah sarana tukar menukar gagasan, tempat belajar sesuatu yang baru, bagi saya kuliah selalu saja mengasyikkan. Sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk lari atau pindah ke jurusan selain Komunikasi. Tapi tentu saja saya bukanlah mahasiswa yang curhat tadi. Setiap orang memiliki perasaan dan penilaian diri yang tidak sama. Kita semua berbeda. Penuh keunikan. Bahkan begitu ekstrim. Namun nampaknya diantara kita semua, setiap orang yang beruntung pernah mengecap pendidikan di perguruan tinggi, minimal memiliki satu kesamaan. Kesamaan berupa mimpi untuk menjadi orang yang berhasil. Terjemahan bebasnya adalah &lt;em&gt;“menjadi lebih baik dari hari ini”.&lt;/em&gt; Itu tanda kita melihat ke depan. Mencoba mentransformasi lamunan menjadi sebuah mimpi positif bagi diri sendiri, orang tua, dan pihak lain yang dekat dengan kita. Lewat upaya menjadi lebih baik itulah kita bisa &lt;em&gt;“dibanggakan”&lt;/em&gt; orang lain. Lebih tepatnya &lt;em&gt;“menjadi berarti”&lt;/em&gt; di mata orang lain. Mengapa demikian ? karena kita adalah makhluk sosial. Sesosok spesies yang hanya akan bermakna dengan keberadaan kita ditengah-tengah keberadaan orang lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat sebuah buku yang berhasil menceritakan betapa berartinya “diri” ini ditengah-tengah orang lain. Bahasanya bagus. Penulisnya Alfred Adler. Seorang tokoh aliran Psikoanalisis. Dalam bukunya &lt;em&gt;“Jadikan Hidup Lebih Bermakna”&lt;/em&gt; (2006) murid Sigmund Freud ini menegaskan tentang mengapa kita seringkali bertanya&lt;em&gt;,”apa sebenarnya makna hidup ?”.&lt;/em&gt; Menurutnya pertanyaan itu sering muncul saat kita merasa kalah. Sedang putus asa atas hidup ini. Justru pada saat inilah kita mengevaluasi diri kita sendiri. Merasa sangat tidak berarti. Menariknya, menurut Adler, justru pada saat merasa lemah dan mulai bertanya-tanya tentang diri sendiri, justru pada saat itulah kita sebenarnya tengah menyadari keberadaan kita. Setiap kali kita menyadari kebaradaan kita, maka pastinya kita telah menyadari keberadaan orang lain. Singkatnya, kesadaran personal itu akan menarik kita dari tepian dunia sosial menuju sentral kedirian. Jelas bahwa ketika kita merasa tidak berarti, maka ketidakberartian itu bukan semata-mata dalam “&lt;em&gt;kesendirian&lt;/em&gt;” kita, namun telah dikerangkai oleh dimensi sosial kita. Teman mahasiswa tadi merasa dengan masuk dan belajarnya dia di Jurusan Ilmu Komunikasi, tercipta ketidakpercayaan akan pilihan. Ada nada gundah dan ragu dalam setiap kata yang ditulisnya. Artinya dia sudah membandingkan dirinya dengan sistem pembelajaran di Jurusan Ilmu Komunikasi. Dia telah menarik dirinya keluar dari gugusan sistem pembelajaran di jurusan ini. Kesadaran dia akan kepasrahan dan kegundahan menjadi penanda dia telah berada dalam ruang sosial. Inilah perasaan terbuang dari dalam komunitas. Bahasa ilmiahnya &lt;em&gt;“alienasi”&lt;/em&gt; (tersisih, terbuang, ter-&lt;em&gt;objek&lt;/em&gt;-kan). Bagaimana energi untuk melawan rasa itu agar berbuah rasa nyaman dan bermuara positif ? Mari kita kembalikan pada tiga batasan utama atas kehidupan yang dipetakan Adler. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Alfred Adler menyodorkan tiga realitas untuk dipikirkan sebagai jawaban kesadaran kita atas kehidupan ini. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, kita hidup di permukaan planet yang miskin. Kemiskinan planet itu akan menciptakan kematian andai kita tidak mau bekerja keras untuk menemukan jawaban atas setiap pertanyaan yang membuat bumi ini semakin miskin. Bumi harus diperkaya. Baik dengan pemikiran, unjuk kerja, dan aplikasi kebergunaan. Mulai sekarang pikirkan apa yang bisa anda sumbangkan untuk membangun peradaban. Sekecil apapun itu. Menjadi mahasiswa adalah sebuah cara sederhana. Jadi tetaplah menjadi mahasiswa sampai akhirnya menjadi sarjana. Perlu tekat kuat untuk itu, yang muncul dalam batasan kedua.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Batasan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;kedua&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; menyatakan bahwa kita bukan satu-satunya anggota dari ras manusia. Sampai di sini, sebagai mahasiswa komunikasi, kita harus sadar bahwa kita tidak sendirian. Ada banyak mahasiswa lain di jurusan. Lebih dari 150 mahasiswa baru. Itu untuk UGM. Belum lagi kalau menghitung berapa jumlah mahasiswa komunikasi di Indonesia. Lalu hitung jumlah lainnya di dunia ini. Semua pasti punya masalah yang kurang lebih sama. Jadi kenapa harus merasa sendirian ? Mereka semua cuma menampakkan rasa percaya diri semata ? Semua mungkin takut dan gelisah. Tapi menyembunyikannya. Agar semua terlihat baik-baik saja. Saat semua masalahnya dianggap kurang lebih sama, mengapa kita tidak berpikir untuk menjawab dan menyelesaikan masalahnya bersama-sama pula ? Wahai teman yang sedang bingung, percayalah bahwa Anda tidak sendirian ! &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Batasan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;ketiga&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; yang membuat kita terikat adalah sebuah fakta sosial bahwa ras manusia dan spesies manusia ini terlahir, hidup, dan berkembang dengan basis gender adanya dua jenis kelamin. Orang terdekat yang bisa membantu kita adalah pasangan kita dari jenis kelamin yang berbeda tersebut. Kesadaran atas dua jenis kelamin ini adalah energi positif yang membuat spesies kita ini tidak punah. Jadi tunggu apa lagi ? segera cari pacar ! segera cari teman untuk curhat ! carilah cara untuk membicarakan masalah itu dengan seseorang yang dirasa paling dekat ?  mari buat masalahnya ringan dengan membaginya pada banyak orang. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Tiga batasan ini tadi menetapkan tiga masalah utama : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;pertama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, bagaimana menemukan pekerjaan yang memungkinkan kita untuk bertahan dalam batasan yang ditetapkan oleh alam. Anda harus berhasil sebagai mahasiswa komunikasi. Lulus. Bekerja. Dan itu berarti mampu berdiri di atas kaki sendiri. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, bagaimana menemukan posisi yang tepat di antara sesama, sehingga dapat bekerjasama dan berbagi keuntungan dari kerjasama tersebut. Sadari bahwa Anda bukan satu-satunya mahasiswa di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM ini. Dan mungkin bukan satu-satunya mahasiswa komunikasi di dunia ini. Segera temukan posisi dan peran Anda. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Terakhir&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, bagaimana menolong diri sendiri dengan adanya realitas bahwa kita hidup dalam dua jenis kelamin, dan keberlanjutan pada masa depan umat manusia, dimana tergantung pada kehidupan cinta kita. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Jadi buat siapa saja yang merasa seperti mahasiswa yang curhat tadi, segera saja membuat pilihan. Sebuah pilihan yang berkesadaran : mau pindah atau tetap di Jurusan Ilmu Komunikasi ! semakin lama dalam keraguan, maka akan semakin membuat kesadaran itu menjadi hilang. Berujung kekalahan. Tidak ada manusia yang mau kalah. Semua ingin jadi pemenang. Minimal pemenang atas hasrat dan irasionalitas. Kenapa ? karena kita adalah makhluk yang berpikir dan itulah yang membedakan kita dengan hewan. Tentu Anda tidak mau dianggap sama dengan hewan, bukan ?&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Tepi Kali, Oktober 09&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-2165289465828413048?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/2165289465828413048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=2165289465828413048' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/2165289465828413048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/2165289465828413048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/10/keraguan-yang-bermakna-curhat-anak_09.html' title='Keraguan yang Bermakna : Curhat Anak Isoda'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-6523538378685263765</id><published>2009-10-08T15:57:00.000-07:00</published><updated>2009-10-08T16:04:47.097-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ide Tua - Ide Muda'/><title type='text'>Keraguan yang Bermakna : Curhat Anak Isoda</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;“Hidup berarti untuk tertarik pada sesama,&lt;br /&gt;Menjadi bagian dari keseluruhan,&lt;br /&gt;dan menyumbangkan bagianku&lt;br /&gt;untuk kesejahteraan umat manusia.”&lt;br /&gt;-Alfred Adler- 2006&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Beberapa hari yang lalu, sesudah selesai mengajar satu mata kuliah berjudul “&lt;em&gt;Ilmu Sosial Dasar”,&lt;/em&gt; biasa disingkat ISODA, saya membuka-buka halaman &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; saya. Terdapat satu pesan antar dinding (&lt;em&gt;wall&lt;/em&gt;) yang menarik. Isinya tentang pengakuan diri. Dari seorang mahasiswa tingkat pertama. Nampaknya dia berkeluh kesah. Selengkapnya pesan tersebut berbunyi demikian : &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Mas Sulhan, kemaren pas kuliahe njenengan, njenengan bilang " Kalau kalian belum bisa nyaman dengan jurusan komunikasi, lebih baik pindah jurusan lain." begitu kalau ku tak salah ingat. saya sendiri masih berusaha untuk nyaman di sini, karen belum benar2 ada rasa mantap seratus persen di jurusan ini. waktu um kukira ga mungkin masuk komunikasi, paling banter masuk .....&lt;/em&gt; (saya harus sensor karena menyebut nama jurusan lain)&lt;em&gt;  tapi ternyata sekarang disini. Pindah jurusan... huh... rasanya seperti jalan keluar...tapi di sisi lain rasanya seperti ingin melarikan diri...saya ingin terus ada di komunikasi, sampai nanti ada aba2 dari universitas kalau saya dinyatakan tak cukup layak untuk lulus.” &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Sebagai sebuah tempat belajar tukar menukar gagasan, tempat belajar sesuatu yang baru, bagi saya kuliah selalu saja mengasyikkan. Sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk lari atau pindah ke jurusan selain Komunikasi. Tapi tentu saja saya bukanlah mahasiswa yang curhat tadi. Setiap orang memiliki perasaan dan penilaian diri yang tidak sama. Kita semua berbeda. Penuh keunikan. Bahkan begitu ekstrim. Namun nampaknya diantara kita semua, setiap orang yang beruntung pernah mengecap pendidikan di perguruan tinggi, minimal memiliki satu kesamaan. Kesamaan berupa mimpi untuk menjadi orang yang berhasil. Terjemahan bebasnya adalah &lt;em&gt;“menjadi lebih baik dari hari ini”.&lt;/em&gt; Itu tanda kita melihat ke depan. Mencoba mentransformasi lamunan menjadi sebuah mimpi positif bagi diri sendiri, orang tua, dan pihak lain yang dekat dengan kita. Lewat upaya menjadi lebih baik itulah kita bisa “dibanggakan” orang lain. Lebih tepatnya “menjadi berarti” di mata orang lain. Mengapa demikian ? karena kita adalah makhluk sosial. Sesosok spesies yang hanya akan bermakna dengan keberadaan kita ditengah-tengah keberadaan orang lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat sebuah buku yang berhasil menceritakan betapa berartinya “diri” ini ditengah-tengah orang lain. Bahasanya bagus. Penulisnya Alfred Adler. Seorang tokoh aliran Psikoanalisis. Dalam bukunya &lt;em&gt;“Jadikan Hidup Lebih Bermakna”&lt;/em&gt; (2006) murid Sigmund Freud ini menegaskan tentang mengapa kita seringkali bertanya,”apa sebenarnya makna hidup ?”. Menurutnya pertanyaan itu sering muncul saat kita merasa kalah. Sedang putus asa atas hidup ini. Justru pada saat inilah kita mengevaluasi diri kita sendiri. Merasa sangat tidak berarti. Menariknya, menurut Adler, justru pada saat merasa lemah dan mulai bertanya-tanya tentang diri sendiri, justru pada saat itulah kita sebenarnya tengah menyadari keberadaan kita. Setiap kali kita menyadari kebaradaan kita, maka pastinya kita telah menyadari keberadaan orang lain. Singkatnya, kesadaran personal itu akan menarik kita dari tepian dunia sosial menuju sentral kedirian. Jelas bahwa ketika kita merasa tidak berarti, maka ketidakberartian itu bukan semata-mata dalam “kesendirian” kita, namun telah dikerangkai oleh dimensi sosial kita. Teman mahasiswa tadi merasa dengan masuk dan belajarnya dia di Jurusan Ilmu Komunikasi, tercipta ketidakpercayaan akan pilihan. Ada nada gundah dan ragu dalam setiap kata yang ditulisnya. Artinya dia sudah membandingkan dirinya dengan sistem pembelajaran di Jurusan Ilmu Komunikasi. Dia telah menarik dirinya keluar dari gugusan sistem pembelajaran di jurusan ini. Kesadaran dia akan kepasrahan dan kegundahan menjadi penanda dia telah berada dalam ruang sosial. Inilah perasaan terbuang dari dalam komunitas. Bahasa ilmiahnya “alienasi” (tersisih, terbuang, ter-objek-kan). Bagaimana energi untuk melawan rasa itu agar berbuah rasa nyaman dan bermuara positif ? Mari kita kembalikan pada tiga batasan utama atas kehidupan yang dipetakan Adler. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Alfred Adler menyodorkan tiga realitas untuk dipikirkan sebagai jawaban kesadaran kita atas kehidupan ini. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, kita hidup di permukaan planet yang miskin. Kemiskinan planet itu akan menciptakan kematian andai kita tidak mau bekerja keras untuk menemukan jawaban atas setiap pertanyaan yang membuat bumi ini semakin miskin. Bumi harus diperkaya. Baik dengan pemikiran, unjuk kerja, dan aplikasi kebergunaan. Mulai sekarang pikirkan apa yang bisa anda sumbangkan untuk membangun peradaban. Sekecil apapun itu. Menjadi mahasiswa adalah sebuah cara sederhana. Jadi tetaplah menjadi mahasiswa sampai akhirnya menjadi sarjana. Perlu tekat kuat untuk itu, yang muncul dalam batasan kedua. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Batasan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;kedua&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; menyatakan bahwa kita bukan satu-satunya anggota dari ras manusia. Sampai di sini, sebagai mahasiswa komunikasi, kita harus sadar bahwa kita tidak sendirian. Ada banyak mahasiswa lain di jurusan. Lebih dari 150 mahasiswa baru. Itu untuk UGM. Belum lagi kalau menghitung berapa jumlah mahasiswa komunikasi di Indonesia. Lalu hitung jumlah lainnya di dunia ini. Semua pasti punya masalah yang kurang lebih sama. Jadi kenapa harus merasa sendirian ? Mereka semua cuma menampakkan rasa percaya diri semata ? Semua mungkin takut dan gelisah. Tapi menyembunyikannya. Agar semua terlihat baik-baik saja. Saat semua masalahnya dianggap kurang lebih sama, mengapa kita tidak berpikir untuk menjawab dan menyelesaikan masalahnya bersama-sama pula ? Wahai teman yang bingung, percayalah bahwa Anda tidak sendirian ! &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Batasan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;ketiga &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;yang membuat kita terikat adalah sebuah fakta sosial bahwa ras manusia dan spesies manusia ini terlahir, hidup, dan berkembang dengan basis gender adanya dua jenis kelamin. Orang terdekat yang bisa membantu kita adalah pasangan kita dari jenis kelamin yang berbeda tersebut. Kesadaran atas dua jenis kelamin ini adalah energi positif yang membuat spesies kita ini tidak punah. Jadi mengapa sekarang tunggu apa lagi ? segera cari pacar ! segera cari teman untuk curhat ! carilah cara untuk membicarakan masalah itu dengan seseorang yang dirasa paling dekat ?  mari buat masalahnya ringan dengan membaginya pada banyak orang. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Tiga batasan ini tadi menetapkan tiga masalah utama : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;pertama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, bagaimana menemukan pekerjaan yang memungkinkan kita untuk bertahan dalam batasan yang ditetapkan oleh alam. Anda harus berhasil sebagai mahasiswa komunikasi. Lulus. Bekerja. Dan itu berarti mampu berdiri di atas kaki sendiri. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, bagaimana menemukan posisi yang tepat di antara sesama, sehingga dapat bekerjasama dan berbagi keuntungan dari kerjasama tersebut. Sadari bahwa Anda bukan satu-satunya mahasiswa di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM ini. Dan mungkin bukan satu-satunya mahasiswa komunikasi di dunia ini. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Terakhir&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, bagaimana menolong diri sendiri dengan adanya realitas bahwa kita hidup dalam dua jenis kelamin, dan keberlanjutan pada masa depan umat manusia, dimana tergantung pada kehidupan cinta kita. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Jadi buat siapa saja yang merasa sama seperti mahasiswa yang curhat tadi, segera saja membuat pilihan. Sebuah pilihan yang berkesadaran : mau pindah atau tetap di Jurusan Ilmu Komunikasi ! semakin lama dalam keraguan, maka akan semakin membuat kesadaran itu menjadi hilang. Berujung kekalahan. Tidak ada manusia yang mau kalah. Semua ingin jadi pemenang. Minimal pemenang atas hasrat dan irasionalitas diri sendiri. Kenapa ? karena kita adalah makhluk yang berpikir dan itulah yang membedakan kita dengan hewan. Tentu Anda tidak mau dianggap sama dengan hewan, bukan ?&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Tepi Kali, Oktober 09&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-6523538378685263765?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/6523538378685263765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=6523538378685263765' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/6523538378685263765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/6523538378685263765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/10/keraguan-yang-bermakna-curhat-anak.html' title='Keraguan yang Bermakna : Curhat Anak Isoda'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-3301338138391871119</id><published>2009-10-02T15:54:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T16:01:54.998-07:00</updated><title type='text'>Gempa Bumi dan Kehancuran Peradaban</title><content type='html'>Dalam seminggu ini, bisa dipastikan wacana media massa (terutama televisi) Indonesia akan sangat terkonsentrasi pada bencana gempa bumi di Padang, Sumatera Barat. Dari menit ke menit kita disodori tayangan memilukan. Dari menit ke menit kepada kita dihadirkan narasi penderitaan. Mulai dari tayangan langsung (&lt;em&gt;live&lt;/em&gt;), hingga ulasan dan komentar para pakar. Dari pendapat ahli geologi yang mengerti betul tentang aspek kebumian hingga komentar ahli politik yang ngomong ngawur mencari kambing hitam. Semuanya memberikan fakta bahwa ada yang perlu kita renungkan. Ada yang salah dari perilaku kita terhadap alam. “&lt;em&gt;Bumi lagi marah”&lt;/em&gt;, itu pesan implisit yang ditulis Alan Wiesman dalam bukunya “&lt;em&gt;The World Without Us”&lt;/em&gt; (2007). Bumi tidak khawatir andai manusia tidak lagi hidup dan bercokol di dalamnya. Tanpa manusia. Tanpa kita-kita ini, toh bumi akan baik-baik saja. Manusialah yang merusak bumi lewat segala perilaku jahatnya. Manusia “memakan” batu bara, manusia yang rakus menebangi hutan, menggunduli bukit-bukit, melubangi bukit itu untuk terowongan, serta beragam aktivitas lain yang tidak mungkin dilakukan oleh &lt;em&gt;species&lt;/em&gt; selain kita (gorilla umpamanya ?). Hanya manusia yang dengan sombong melakukan itu semua. Tanpa manusia merasa bersalah dengan itu. Semua dengan alasan rasionalitas atas nama kemajuan peradaban. Padahal kita dengan sendirinya tengah berjalan menghancurkan peradaban. Gempa bumi menjadi sebuah contoh konkret kehancuran fisik. Namun dibalik itu semua, ada kehancuran lain yang lebih parah, yang saat ini tengah terjadi persis di depan mata. Sebuah kehancuran peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya &lt;em&gt;“Civilization and Discontents”&lt;/em&gt; (Pertama kali terbit tahun 1955), yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “&lt;em&gt;Peradaban dan Kekecewaan-kekecewaan” &lt;/em&gt;(2002), Sigmund Freud melihat sebuah masa depan peradaban yang suram. Sesuram instink dari &lt;em&gt;id&lt;/em&gt; yang pada akhirnya tidak bisa lagi dibendung oleh &lt;em&gt;super ego&lt;/em&gt;, terlebih oleh &lt;em&gt;ego&lt;/em&gt; itu sendiri. Masa dimana kehancuran melanda, saat manusia hanya diperbudak oleh nafsu dan keinginan kehewanan mereka. Nafsu yang selama ini tertekan oleh katup pengaman norma dan relasi sosial kemasyarakat. Dia menyeruak bukan karena terus ditekan, melainkan masyarakat sebagai katup pengaman telah terjalari pula oleh &lt;em&gt;id&lt;/em&gt; itu sendiri. Boleh dikata karya Freud ini adalah sebuah puncak penggambarannya atas id yang semakin liar. Seperti ide besar yang ditawarkan oleh Freud pada buku-buku utamanya tentang relasi &lt;em&gt;id, ego&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;super ego&lt;/em&gt; (Wollheim &amp;amp; Hopkins, 1982; Freud, 1998; )  &lt;em&gt;Id&lt;/em&gt; yang tidak lagi bertahta dalam singgasana kedirian seseorang, namun telah keluar menuju ranah sosial mempengaruhi lingkungan manusia. Sebuah dimensi sosial yang terjalari oleh &lt;em&gt;id&lt;/em&gt; tanpa kekuatan &lt;em&gt;super ego&lt;/em&gt; untuk mengamankan &lt;em&gt;id&lt;/em&gt; yang semakin ‘nakal’ dan ‘tak terkendali’. Saat ini manusia sudah dengan beringas menebang semua pohon yang melindungi ekosistem mereka. Manusia sudah dengan pongah mendirikan gedung-gedung di atas tanah yang rapuh tanpa memperhitungkan kondisi ideal struktur dan daya dukung. Manusia dengan bangga membuat terowongan menembus bukit tanpa berpikir struktur bukit itu akan menjadi labil dengan lubang di tengahnya. Semua adalah gambaran hasrat &lt;em&gt;id&lt;/em&gt; yang tidak terkendali. Hasrat untuk dipandang berhasil menciptakan kemajuan teknologi. Memberinya makna sebagai kemajuan peradaban. Padahal ini salah sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah inti dari kekhawatiran Freud. Kita telah mendorong diri sendiri pada tepian kehancuran peradaban. Dia serius menganalisis tentang hal ini. Sayang sekali upaya untuk mulai mengeritisi ranah sosial dengan pendekatan psikoanalisis ini tenggelam di tengah-tengah keterkenalan Freud sebagai ahli terapis yang hanya berhubungan dengan orang sakit jiwa (neorosis). Freud meninggal di tengah-tengah upaya memulai elaborasi tersebut. Untunglah kemudian pemikirannya tidak lantas selesai seiring dengan kematian. Elaborasi selanjutnya atas kritik ideologi yang diberikan Freud ditangkap oleh Erich Fromm. Seorang anggota Mazhab Frankfurt yang berhasil menghubungkan antara psikoanalisis dengan pendekatan Marxian. Psikoanalisis yang sangat personal individual, terhubungkan dengan Marxisme yang sosial komunal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tulisan Sindhunata (1983) diakui bahwa teori psikoanalisis Freud juga memberikan kontribusi terhadap aliran Frankfurt. Menurut Sindhunata, asal muasal psikoanalisa Freud dimasukkan dalam aliran Frankfurt  ini bermula dari sosok Erich Fromm. Murid terbaik sekaligus murtad Freud ini menjadi anggota Mazhab Frankfurt pada tahun 1932. Sebagai komandan Frankfurt, Horkheimer dan kawan-kawannya mendapat kecaman keras karena merekrut aliran psikoanalisa ke dalam ajaran Marx. Namun dengan yakinnya Horkheimer menegaskan bahwa &lt;em&gt;“psikoanalisa merupakan kebutuhan mendesak bagi teori kritis untuk menghadapi masyarakat modern ini”&lt;/em&gt; (Sindhunata, 1983:54). Ini tentu saja tidak lepas dari sepak terjang Fromm sebelum bergabung dengan mazhab ini. Hal mana membuat kekaguman tersendiri dari Horkheimer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum masuk ke sekolah Frankfurt, Fromm sudah menulis suatu karya &lt;em&gt;"The Dogma of Christ"&lt;/em&gt; (1963). Para tokoh Frankfurt menganggap bahwa karya tersebut sebagai contoh konkret integrasi ajaran Freud dan Marx. Dalam karyanya tersebut, Fromm menunjukkan bahwa Marxisme membutuhkan psikoanalisa, sebab psikoanalisa dapat makin mempertajam kritik ideologi dari Marx. Pemahaman Marx yang melihat bahwa segala sesuatu hanya demi meteri, dan untuk memeroleh materi itu orang kemudian melakukan manipulasi (ini dia namakan konsep ideologi) dengan orientasi membenarkan segala perilaku dan keinginannya. Dalam prakteknya, ideologi yang sebenarnya merongrong martabat insani diterangkan dan dibenarkan atas nama gagasan-gagasan luhur. Penganut ideologi berusaha menegaskan bahwa praktek ini dan praktek itu sesuai dan dituntut oleh gagasan ini dan gagasan itu. Jadi segala sesuatu yang mengontruksi kebutuhan atas materi itu sebenarnya berasal dari penciptaan gagasan-gagasan saja. Terkait dengan ideologi, menurut Marx ideologi itu lahir bukan dari kesadaran manusia itu sendiri tapi dari kebutuhan dan kepentingan material manusia secara nyata. Melalui pemaparan inilah Fromm menawarkan “proyek damai” antara psikoanalisa dan Marxisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kritik ideologi ini, Fromm menganggap bahwa Marx kurang memberikan alasan secara persis kenapa kesadaran langsung ditentukan oleh kenyataan. Menurutnya ada &lt;em&gt;missing-link&lt;/em&gt; antara bangunan atas yang ideologis dan basis (bawah) yang sosio-ekonomis dalam kritik ideologi Marx. Psikoanalisalah yang kiranya dapat menerangkan dengan tepat hubungan antara basis (kehidupan material yang real) dan bangunan atas kesadaran manusia. Seperti yang diajarkan Freud, Fromm (2001; 2002) menunjukkan bahwa dalam psikis terdapat dua naluri dasar yang selalu berkonflik, yakni naluri seksual dan naluri mempertahankan diri (&lt;em&gt;self preservation drive&lt;/em&gt;).  Satu &lt;em&gt;Eros &lt;/em&gt;dan yang lainnya &lt;em&gt;Thanatos.&lt;/em&gt; Naluri mempertahankan diri selalu minta dipuaskan secara langsung, misalnya rasa lapar hanya bisa dipuaskan dengan makanan. Sedang naluri seksual dapat digantikan, disublimasikan dan dipuaskan dalam fantasi. Jadi naluri seksual itu lebih luwes terhadap kondisi sosial yang tidak dapat memuaskannya, sedangkan naluri mempertahankan diri sangat kaku terhadap lingkungannya. Maka ideologi mestinya ditinjau dalam hubungan dengan naluri seksual ini, karena ideologi adalah semacam fantasi yang dapat memuaskan naluri seksual itu. Naluri seksual itulah kunci untuk memahami ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dengan menjabarkan naluri-naluri seksual ke dalam berbagai kebutuhan konkret, kita akan memahami bahwa ideologi justru merupakan semacam represi atau penundaan terhadap kebutuhan tersebut. Dan patut dikemukakan bahwa dorongan-dorongan psikis itu tidak hanya bersifat biologis, melainkan juga historis yang artinya mereka juga merupakan produk dari situasi sosial tertentu. Dengan demikian psikoanalisa tidak hanya dapat menerangkan gejala-gejala yang sifatnya individual, tapi juga sosial. Analisa terhadap dorongan-dorongan psikis yang sifatnya sosial ini, tentu akan makin membantu untuk menyelami berbagai bentuk “rasionalisasi sosial” yang terkandung dalam ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fromm, teori Freud tentang superego memberi alasan jelas mengapa masyarakat dapat memanipulir naluri-naluri bawaan demi suatu identifikasi yang disodorkan masyarakat. Dengan teorinya tentang &lt;em&gt;Oedipus kompleks&lt;/em&gt; yang diterapkan kepada masyarakat secara luas, Freud menerangkan bahwa “&lt;em&gt;ego ideal”&lt;/em&gt; atau “&lt;em&gt;superego”&lt;/em&gt; dapat berbentuk pribadi, kelompok yang mungkin saja dibenci dan dimusuhi secara aktif (seperti anak terhadap bapak dalam sebuah keluarga) namun individu atau kelompok tertarik dan kagum padanya. Pada zaman ini ajaran Freud itu bisa berbunyi, kendati penguasa itu dibenci dan tidak disukai, toh kelas yang ditindas oleh penguasa tetap tertarik secara emosional kepada penguasa tersebut. Superego tersebut bisa berbentuk rasionalisasi atau ideologi penguasa yang terus-menerus menentukan dan mungkin memaksa anggota masyarakat, tapi anggota masyarakat mematuhinya. Padahal dibalik superego tersebut tersembunyi berbagai kepentingan untuk manipulasi dan penindasan. Kita tahu bahwa menebang pohon sama saja dengan merusak ekosistem perlahan-lahan. Namun karena ada alasan-alasan pembenaran atas penebangan (pembukaan perumahan, penciptaan perkotaan, bahkan jelas-jelas untuk dijual atas nama &lt;em&gt;eksport&lt;/em&gt; kebanggaan), kita mengamini dan secara diam-diam ikut berpartisipasi di dalamnya. Itulah ideologi pembenaran. Semakin modern manusia, semakin mampu dia menciptakan pembenaran atas segala perilakunya. Jelaslah bila bicara tentang pembenaran ini, teori &lt;em&gt;superego&lt;/em&gt; bisa memberi penjelasan tentang pengertian dan timbulnya ideologi yang tersembunyi dibalik segala apologi tadi. Saran Freud dan Fromm, Lewat kritik terhadap superegolah maka bisa dijalankan kritik ideologi yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bahwa kemudian manusia telah terjebak pada pembenaran-pembenaran mereka sendiri dalam merusak alam, menghisap rakus air bersih, mengebor habis sumber gas alam, menghilangkan sawah dan menggantinya dengan deretan gedung dan perumahan, telah menjadi bukti gagalnya sang super ego membatasinya hasrat liar sang id.  Semua itu adalah ideologi yang terlembagakan atas nama kebenaran dan kemajuan. Kita terlena. Kita merasa bangga. Tanpa menyadari bahaya semakin mengancam kita. Implikasi dari semua itu telah kita rasakan hari ini. Mungkin akan terus terjadi. Saat bumi menunjukkan amarahnya. Dia akan sangat menakutkan. Bumi yang marah itu membelah. Bumi yang marah itu mengguncangkan. Bumi yang marah itu menciptakan tangis dan kesedihan.  Bumi yang marah itu membuahkan penderitaan.  Dia ungkapkan ketidaksenangannya. Dia berikan “kenikmatan” rasa beda. Sebuah kenikmatan untuk menghargai betapa mahalnya kehidupan. Sebuah anugerah kehidupan yang telah semakin kita kurangi seiring dengan rakusnya kita menuju kehancuran peradaban. Minimal Freud dan Fromm telah berupaya mengingatkan. Sebelumnya para nabi dan rasul juga telah melakukan hal serupa. Namun manusia memang selalu mengulang-ulang kesalahan. Kita memang telah berada di tepian peradaban.&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepi Kali, Oktober 09&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-3301338138391871119?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/3301338138391871119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=3301338138391871119' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/3301338138391871119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/3301338138391871119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/10/gempa-bumi-dan-kehancuran-peradaban.html' title='Gempa Bumi dan Kehancuran Peradaban'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-7336002273435140266</id><published>2009-09-23T12:03:00.000-07:00</published><updated>2009-09-23T12:08:45.497-07:00</updated><title type='text'>Kita Memang Tidak Kemana-mana !</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;(Sebuah Renungan Ironis dari Erich Fromm)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia abad ini, kata Erich Fromm telah menjadi seperti manusia yang hidup di 2.000 tahun sebelum Masehi. Dia sampaikan keluh kesahnya itu dalam buku luar biasa, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;“The Sane Society”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (1955). Meskipun buku ini sudah bisa dianggap klasik, alias sudah kadaluarsa bin ketinggalan zaman, namun apa yang ditulisnya cukup mampu membuat saya sulit memejamkan mata. Bukan karena saya insomnia, juga bukan karena buku itu semata-mata. Ada sebab lain mengapa saya sulit memejamkan mata. Malam ini perut saya lapar tak terkira, sementara tak ada makanan sedikitpun di atas meja. Lalu ditambah pasangan pengantin baru di samping rumah yang bertengkar dan suaranya keras menyeruak, menyebelah (&lt;em&gt;huss&lt;/em&gt; .. tak baik menebar fitnah, mungkin saja mereka tengah memadu kasih dan cinta dengan cara yang berbeda ?). Baiklah, saya kembali ke Erich Fromm saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erich Fromm mengatakan bahwa Saat itu manusia lagi sibuk-sibuknya mencari makna atas kehadirannya di muka bumi. Saat itu manusia berada di zaman Arkhais. Mereka tak bisa baca tulis. Mereka tak mampu menganalisis diri sendiri. Mereka memiliki keterbatasan berpikir di tengah-tengah usaha keras melangsungkan kehidupan di tengah alam yang garang menakutkan. Pada saat itu hadirlah perasaan rendah diri di tengah-tengah kekuatan alam semesta sebagai kosmos. Tuhan hadir seketika. Dia disembah dalam segala wujud dan rupa. Gunung, pohon, lembah, hujan, angin, petir, semua dianggap memiliki kekuatan mengatur atas kehidupan manusia. Itulah dewa berkekuatan luar biasa. Itu masa evolusi besar bangsa manusia. Saat mereka menyadari keberadaan mereka di alam raya. Saat mendengar dongeng dan mungkin membaca tentang cerita tadi, pasti dalam hati kita berbisik, &lt;em&gt;”bodoh sekali mereka ?”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kini,&lt;br /&gt;berabad-abad selepas itu, ternyata kita tidak kemana-mana. Kita masih di sini-sini saja. Masih tidak mampu mencinta dan menggunakan akal budi. Tidak mampu membuat keputusan-keputusan, tidak mampu menghargai kehidupan dan karena itu siap dan bahkan rela menghancurkan apa saja. Dunia kembali terpisah-pisah dan kehilangan kesatuannya. Manusia kembali pada kerinduannya. Kerinduan pada kekuatan luar pengatur diri mereka. Mulailah pencarian Tuhan. Mulailah  memberhalakan bermacam benda. Persis seperti 2.000 tahun sebelum Masehi tadi. Namun dengan perbedaan yang sangat ironis tentunya. Benda-benda pada masa evolusi besar itu dimaknai sebagai bagian dari kekuatan alam yang didewakan. Wajarlah menyembah sesuatu yang berasal dari luar diri. Kekuatan kosmos yang di luar kendali. Tapi kini, benda-benda yang disembah itu tak lain dan tak bukan adalah berhala buatan tangan-tangan mereka sendiri. Berhala baru hadir seketika. Katanya muncul karena kekuatan akal dan budi manusia. Ada rumah, gedung, mobil, dan pakaian serba mewah. Semua dijadikan tujuan. Semua memiliki kekuatan luar biasa bagai dewa mengatur orientasi kehidupan manusia. Tapi ada beda antara kita dengan manusia yang hidup 2.000 tahun sebelum Masehi itu. Mereka ada dalam situasi ketidaksadaran ketika mendewakan kekuatan kosmos. Sebaliknya kita sadar sepenuhnya saat mendewakan hasil kerja tangan kita. Mereka &lt;em&gt;‘sadar’&lt;/em&gt; dalam &lt;em&gt;‘ketidaksadarannya’&lt;/em&gt;, sementara kita &lt;em&gt;‘tidak sadar’&lt;/em&gt; persis ditengah-tengah &lt;em&gt;‘kesadaran kita’&lt;/em&gt;. Selepas membaca dan mendengar sendiri tentang dongeng manusia abad ini, apakah hati kita masih bisa berbisik, &lt;em&gt;“bodoh sekali kita ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja kita bodoh sekali,”&lt;/em&gt; membatin saya karena yakin Anda tidak mau berbisik. Namun lebih bodoh lagi seseorang yang malam buta tetap tak bisa memejamkan mata. Bukan karena insomnia, tapi karena kelaparan tak terkira. Ditambah mendengar rintihan dan lenguhan manja dari tetangga, pasangan pengantin baru yang tengah gemar-gemarnya bermain cinta ... ha ha ha ha ...&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Kota Tua, Ujung September 09&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-7336002273435140266?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/7336002273435140266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=7336002273435140266' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/7336002273435140266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/7336002273435140266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/09/kita-memang-tidak-kemana-mana.html' title='Kita Memang Tidak Kemana-mana !'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-2371433463510481032</id><published>2009-09-11T14:25:00.000-07:00</published><updated>2009-09-11T14:39:27.421-07:00</updated><title type='text'>Kebohongan Sebagai Ibadah Sosial ?</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;“Berbohong secara tepat” !&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Apa pula itu ? apa lagi yang dimaksud dengan kalimat pendek itu ? pemicu utama mengapa saya menjadi tertarik untuk berbicara dan menulis tentang kebohongan ini adalah setelah membaca buku J.A Barnes (1994) dengan judul &lt;em&gt;&lt;strong&gt;A Pack of Lies : Toward a Sociology of Lying&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Buku yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebelas tahun kemudian (2005) dengan judul sama ini mencoba menyibak selubung kabut pertanyaan abadi dalam sejarah hidup manusia : mengapa manusia selalu berbohong ?&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Membenarkan apa yang menjadi latar belakang Barnes dalam menulis buku tentang kebohongan itu, saya memang kadang terpana dengan kemampuan berbohong yang saya miliki, terkagum-kagum dengan bingkai kebohongan yang diciptakan abang-abang saya, terpesona dengan kebohongan yang diucapkan kakak saya, para teman saya, mahasiswa saya, terlebih-lebih dengan kebohongan yang dikatakan para pejabat publik di negeri ini. Pembenaran ini merujuk pada sebuah kesimpulan Barnes : kebohongan telah menjadi epidemi. Ini segera mengingatkan saya pada prinsip penulisan buku Malcolm Gladwell tentang epidemi. Gladwell menulis dalam &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tipping Point&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (2002) bahwa perilaku “menguap” saat kita mengantuk bisa menjadi semacam epidemi. Ini contoh yang paling saya sukai. Kita sering langsung ingin menguap ketika melihat orang di dekat kita menguap. Inilah epidemi yang nampaknya merupakan sesuatu yang sederhana. Sama sederhananya dengan penilaian kita atas kebohongan. Namun di sebalik itu, kebohongan bisa dinilai dari beragam sudut yang sangat kompleks. Sebuah sudut penilaian mendasar yang selama ini dipakai oleh manusia adalah sudut pertimbangan moral dan etika. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal lagi saat kita berbicara dari perspektif ini, muncul nama-nama besar yang sangat tidak sepakat dengan kebohongan. Sekadar menyebut contoh muncul nama John Locke, David Hume, Imanuel Kant, Martin Luther, Mahatma Gandhi, dan bejibun nama lainnya. Kesimpulan perspektif ini tetap tidak berubah sepanjang zaman, yakni kebohongan sebagai sebuah kejahatan, dan karenanya jangan pernah sekalipun untuk berniat atau melakukan kebohongan. Atas dasar ini pula kita cenderung tidak pernah berkompromi dengan kebohongan. Siapa saja yang telah berbohong akan kita vonis “tamat” dalam folder memori kebaikan kita. Atas dasar ini pula kita cenderung lebih mudah mengingat saat mana kita telah dibohongi orang lain, ketimbang memberikan sedikit ruang di otak kita untuk mengingat berapa kali kita telah membohongi seseorang. Padahal masalah kedua sebenarnya lebih serius untuk dikaji ketimbang masalah pertama. Pada titik inilah perspektif lain tentang kebohongan yang diusung oleh Barnes menemukan relevansinya.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kartu Domino Yang Bertumbangan : Dua Energi Kebohongan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam upaya untuk menjelaskan alasan mengapa seseorang berbohong, maka muncullah rangkaian penelitian dan studi ilmiah. Lahirlah para sosiolog kebohongan (seperti halnya kriminolog Mulyana W. Kusumah itu), pelaku kebohongan publik (Antasari Azhar ?) para psikolog akal bulus, dan para psikiater yang mendeteksi kebohongan pasiennya, serta beragam bidang keahlian untuk menjelaskan fenomena kebohongan. Nah buku Barnes ini lahir dari perspektif  ini. Banyak analisis dan alasan yang dirangkum Barnes untuk memetakan kebohongan. Sebagai contoh, dia melihat bahwa kebohongan merupakan area personal sekaligus area &lt;em&gt;societal&lt;/em&gt; (masyarakat) di mana sosok bersangkutan tinggal dan hidup. Di titik lain, kebohongan juga permasalahan kultural (budaya). Kecenderungan berbohong berbeda-beda dari komunitas satu ke komunitas yang lain, dan juga antara wilayah satu dengan wilayah kehidupan sosial yang lain (hal.15). Salah satu faktor yang sangat mendasar dari sebuah kajian tentang mengapa seseorang berbohong dikutip Barnes dari hasil penelitian Stanley Granville Hall (1891), yang menyebutkan bahwa penyebab mereka melakukan kebohongan adalah : mereka berpikir, kalau mereka tidak melakukannya, maka orang lain akan melakukan hal itu pada mereka (hal.19). Sangat ironis : ketimbang menjadi korban kebohongan, mengapa kita tidak memilih berbohong saja ? alasan ini mungkin pada titik ekstrem bisa disamakan dengan : ketimbang dibunuh, mending membunuh ! Norak bin edan tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi pada premis di atas tentu mengisyaratkan sebuah fenomena sosial dan kultural yang memprihatinkan layaknya rentetan kartu domino yang jatuh bertumbangan. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, Kecendrungan tidak jujurnya seseorang selalu mengendap dalam pikiran kita. Kecendrungan berprasangka buruk, menilai seseorang dari sudut negatif, prejudice, nampaknya betul-betul menjadi dasar berpikir dan bertindak kita sehari-hari. Kita berbohong karena tidak yakin orang lain berkata jujur. Agama tidak lagi bisa menihilkan anggapan utama otak kita ini. Ancaman pedihnya siksa di akhirat karena berbohong semakin hari semakin luntur seiring dengan seringnya kita menjadi korban kebohongan. Sungguh ironis : kuatnya tekanan lingkungan yang dijumpai setiap hari membuat kita sama sekali tidak menyadari keterjebakan pembenaran atas sesuatu yang dahulunya salah. Tanyakan pada diri Anda, yakinkah Anda bahwa saat ini tidak dibohongi oleh wakil-wakil kita di DPR ? Jujurkah jawaban mereka saat ditanya berapa penghasilan perbulan ? Berapa mobil yang mereka miliki ? Berapa uang sidang rata-rata yang mereka peroleh untuk sekadar tanda tangan kehadiran ? Rasa-rasanya semangat berprasangka sudah hadir mendahului perintah otak untuk menanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, pergesaran tata nilai dan standar perilaku telah benar-benar terjadi, melebihi prediksi para filosof dan pengusung etika seperti di atas. Hari ini, dan entah bagaimana esok hari : berbohong telah menjadi menu wajib dalam pergaulan sehari-hari. Tidak 'gaul' rasanya kalau tidak berbohong. Bahkan ada rasa bangga yang menyelinap kalau seandainya kita bisa mengklaim diri kita lebih hebat berbohongnya ketimbang orang lain. Seorang haji di kampung saya, Sukamara, sebuah kota di perbatasan propinsi Kalimantan Barat dengan Kalimantan Tengah, selalu membusungkan dada setiap menceritakan kehebatan dia membohongi  pembelinya saat mengembalikan uang milik pelanggan dengan jumlah yang sengaja dibuat salah (yang tentu menguntungkan dia). Dan pelanggan itu percaya dengan tidak lagi menghitung ulang uang kembalian. Haji ini bangga sekali. Bangga membohongi pelanggan. Dia tertawa. Tak pernah merasa salah. Malah merasa dirinya hebat. Dalam bahasa anak muda sekarang klaim narsis ini muncul dalam kalimat pendek : &lt;em&gt;&lt;strong&gt;buaya loe kadalin !&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Kebohongan, seperti diungkap Barnes telah menyeruak ke seluruh ruang dalam kehidupan. Lebih kompleks lagi pada sisi keilmuan. Titik ini dimana sebuah kebohongan telah mengorganisir diri sedemikian rupa sehingga tidak lagi bisa dicandra. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penelitian : Institusi Kebohongan ?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kebohongan dalam ilmu sosial menurut Barnes (2005 : 127) berasal dari data yang dihasilkan oleh mesin kerja penelitiannya.  Sebagian besar data mengandung pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh si peneliti yang berasal dari pernyataan orang lain tentang keadaan dunia dan tentang pikiran mereka sendiri. Namun dari fakta kebohongan tersebut tetap ada ambang batas toleransi yang diproklamasikan Barnes atas nama kekeliruan, dan bukan penipuan. Kesesatan data muncul dalam dua pola panarikan data dalam ilmu sosial yang diakui Barnes : etnografis dan riset survey. Dalam konteks pengumpulan data itu tercipta relasi antara peneliti dan yang diteliti. Melalui serangkaian daya baca yang mengagumkan atas berbagai hasil penelitian (Geertz, Yerkes &amp;amp; Berry, Asch, Laperre, dan peneliti lainnya), Barnes menyimpulkan bahwa terdapat satu pertanyaan kunci dari semua aktivitas riset : siapakah yang sedang ditipu, ilmuwan sosial yang percaya pada kebenaran model yang mereka bangun ataukah audiens awam yang mereka pengaruhi ? kesimpulan yang disampaikan Barnes adalah bahwa jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial menampilkan pola-pola penipuan yang lebih kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kuatnya sebuah kebohongan meng-institusionalkan dirinya, sampai-sampai saya sendiri begitu khawatir jangan-jangan berbohong sudah memiliki konotasi positif dalam konteks mencapai keseimbangan sosial. Berinteraksi dengan orang lain tidak cukup menarik tanpa dibumbui kebohongan (berapa pun takarannya). Menjaga perasaan orang lain saat berinteraksi haruslah diselingi dengan kemampuan berakting (menciptakan manajeman kesan sekalipun seumur hidup kita tak pernah ikut &lt;em&gt;casting&lt;/em&gt;). Berbohong menjadi suatu prasayarat agar hubungan sosial menjadi positif dan bermanfaat. Hingga dalam konteks relasi sosial berprespektif agama, dia sudah menjadi semacam ibadah sosial. “&lt;em&gt;Tidak apalah sedikit berbohong,”&lt;/em&gt; membatin seorang suami saat mencicipi sayur masakan istrinya dalam masa satu bulan pernikahan mereka. Dia tahu istrinya baru saja belajar memasak. Sayurnya asin luar biasa. Tidak enak tentunya. Sambil tersenyum memasang muka takjub gembira, dia memandang istrinya, &lt;em&gt;“luar biasa, enak sekali Dinda !”&lt;/em&gt;  Gubraak ....&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gondosuli, September 09&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-2371433463510481032?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/2371433463510481032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=2371433463510481032' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/2371433463510481032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/2371433463510481032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/09/kebohongan-sebagai-ibadah-sosial.html' title='Kebohongan Sebagai Ibadah Sosial ?'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-3409405998884677476</id><published>2009-09-10T19:30:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T19:33:39.388-07:00</updated><title type='text'>Ten Commandments dan Laporan KKN</title><content type='html'>Sore kemarin saya fokus menulis laporan hasil KKN. Sebuah laporan yang harus dibuat sebagai tanda bahwa saya telah menjalankan tugas administratif sebagai seorang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Saat menulis laporan akhir itu, satu lamunan nakal menyeruak dalam pikiran saya. Lamunan yang terbungkus dalam sebuah gumam kurang ajar : ”&lt;em&gt;andai saja melaksanakan Kuliah Kerja Nyata termasuk dalam Sepuluh Perintah Tuhan, tentu hasilnya akan jauh lebih baik dari ini !” &lt;/em&gt;sambil mata saya tetap tertuju pada laporan teman-teman KKN yang harus saya kompilasi. Mohon maaf apabila ada pembaca yang tersinggung dengan pernyataan usil tadi. Bukan maksud saya menyulut emosi di bulan suci ini. Tapi baiklah, dari pada berkepanjangan, sebelum rasa tersinggung itu berubah menjadi caci maki (bahkan vonis mati) ijinkan saya menjelaskan dari mana gumam itu berasal.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang pengetahuan saya, Sepuluh Perintah Tuhan (&lt;em&gt;ten commandments&lt;/em&gt;) adalah sebuah pedoman tingkah laku dan aturan dunia yang paling simpel, jelas, dan tegas yang diturunkan Tuhan langsung kepada Nabi Musa di Gunung Sinai.  Simpel, karena cuma ada sepuluh perintah. Jelas, karena tak ada multitafsir di dalamnya. Begitu tegas karena persuasif dalam setiap butirnya. Implikasi kepada umat nabi Musa (atau pada umat seluruh dunia ?) juga sangat jelas. Semua patuh. Semua tunduk. Semua melakukan perintah dengan ketaatan tingkat tinggi. Sepuluh perintah itu menjadi patokan umat yang berpedoman Taurat dalam menjalin relasi dengan sesama manusia, alam, dan Tuhan mereka. Relasi kepasrahan. Relasi ketundukan. Penyerahan diri sepenuhnya. Mengapa mereka bisa begitu pasrah ? Mengapa mereka begitu taat ? Karena sadar bahwa dengan menjalankan sepuluh perintah itu, maka hidup di dunia dan di akherat mereka akan di selamatkan. Masuk surga. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya dengan Kuliah Kerja Nyata ? Tentu saja terkait dengan nilai keihlasan dalam menjalan perintah Tuhan itu tadi. Artinya bila kita menganggap KKN sudah berelasi dengan keberadaan dan kuasa Tuhan, maka kita bisa mengharapkan hasil yang jauh lebih baik dari pada saat ini. Itu inti lamunan saya. Mencoba menghubungkan KKN dengan perintah Tuhan adalah muara dari besarnya harapan akan perbaikan sistem KKN yang sudah ada ini di masa depan nanti. Bila KKN sudah dianggap sebagai perintah Tuhan yang harus dijalankan, dilakoni dengan serius, tentu segenap pihak yang terlibat di dalamnya akan menjalankannya dengan sepenuh hati. Tidak lagi ada embel-embel duniawi. Entah itu nilai A. Entah itu silau dan harapan akan puja-puji (mungkinkah begini?), atau bahkan upaya menganggapnya sebagai proyek peras sana-sini (keterlaluan sekali !). Di dalamnya mahasiswa peserta KKN akan dengan niat tulus dan mantap pula dalam menjalankannya. Di lain pihak, bila KKN ini menjadi bagian Sepuluh Perintah Tuhan, maka organisasi penyelenggaranya tentu akan lebih profesional dalam mengorganisir segala aspek kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga atau organisasi itu bernama LPPM. Akronim dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Berada sebagai unit pelaksana teknis organisir kegiatan KKN yang resmi di bawah UGM. Lembaga yang seharusnya sudah begitu kompeten dalam menjalankan ritual KKN. Meskipun dalam beberapa hal kinerja dan profesionalisme orang-orang dalam organisasi ini sangat baik, namun dalam beberapa hal lain masih harus ditingkatkan. Sepanjang saya menjalankan tanggung jawab saya sebagai Dosen Pembimbing Lapangan KKN di Lombok, Nusa Tenggara Barat, terasa sekali lembaga ini masih membutuhkan perbaikan dan peningkatan kualitas di sana-sini. Namun gumam tetaplah hanya sebatas gumam. Daya dobraknya hanya sampai di pikiran saya. Selebihnya saya serahkan sepenuhya kepada para pengambil kebijakan UGM di atas sana. Tentu kita tidak harus menunggu program KKN masuk dalam salah satu perintah dari &lt;em&gt;ten commandments&lt;/em&gt; agar dia terselenggara menjadi lebih baik? itu terasa naif !&lt;br /&gt;Semoga saja lamunan itu tadi tidak menjadi harapan sia-sia ....&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Bulaksumur, September 09&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-3409405998884677476?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/3409405998884677476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=3409405998884677476' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/3409405998884677476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/3409405998884677476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/09/ten-commandments-dan-laporan-kkn.html' title='Ten Commandments dan Laporan KKN'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-2000149909618469762</id><published>2009-08-13T21:01:00.000-07:00</published><updated>2009-08-13T21:06:34.133-07:00</updated><title type='text'>Kekuatan Kontrol yang Tak Mampu Mengontrol</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;“Melihat dunia dalam sebutir pasir,&lt;br /&gt;dan surga dalam bunga hutan,&lt;br /&gt;peganglah Yang Tidak Terbatas di&lt;br /&gt;telapak tanganmu, dan Keabadian&lt;br /&gt;dalam satu jam.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;-William Blake - &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Setelah Rene Descartes memberikan penegasan betapa berkuasanya akal pikiran untuk mengatur diri dan dunia di sekeliling kita, sampailah kita pada masa di mana akal telah kehilangan kekuatannya. Pendewaan pada akal telah mengakibatkan hilangnya kekuatan imajinatif, puitis, dan simbolis, bahkan pada sudut terjauh telah menghilangkan visi akan landasan etis. Sebuah landasan yang menjadi rahim peradaban. Kekuatan imajinatif yang seharusnya kita kelola dengan otak kanan, telah kita dorong dan kembangkan dengan otak kiri. Ini kemungkinan yang tidak mungkin. Seperti tuduhan telak Kevin O’Donnell (2009) bahwa saat otak kiri meminta konkritisasi atas apapun di dunia ini, lahirlah materialisme. Dia telah membuat visi tentang keindahan tidak lagi bermakna apa-apa. Semua diubah menjadi komoditas dan bukan ekosistem yang halus dan menakjubkan. Kekuatan akan penciptaan dan penghayatan akan keindahan hanya bisa dihadirkan dengan mekanisme otak kanan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Namun saat ini, dengan ikut campurnya otak kiri untuk mengapresiasi beberapa hal tadi, kita telah menghancurkan semuanya. Mau bukti ? berjalan-jalanlah di sepanjang gerai yang dipajang di Mall Ambarukmo Plaza (Jogja). Kita akan temukan semua nilai kehidupan yang mewujud dalam baju, celana, kamera, komputer, mobil, sepeda, dan aneka komoditas lainnya. Semua bercerita tentang diri. Mengonstruksinya. Membingkainya. Menekan kita. Pernahkan kita berpikir terlalu lama untuk memilih salah satunya ? satu-satunya yang mungkin kita pikirkan adalah “masih cukupkah uang kita untuk membelinya ?” Panjang lebar Jean Baudrillard mengurai ini dalam The Consumer Society (1998), yang dengan lebih radikal disuarakan Martyn J Lee (2006). Mereka khawatir dengan budaya hidup konsumtif. Pada titik terjauh saat ini kita akan melihat parade pameran bertitel unjuk budaya setiap daerah di Indonesia yang muncul dalam rupa kerajinan tangan, baju adat, rumah adat, makanan khas daerah, serta beragam hasil kreasi budaya lainnya. Ironisnya, semua ditempa dalam wujud material yang harus laku jual. Mau bukti ? kunjungi saja Pameran Investasi Daerah se-Indonesia yang setiap tahun digelar di Jogja Expo Center (JEC). Budaya sebagai artefak diperdagangkan di sana. Hasil budaya telah dihilangkan nilai sakralnya. Itulah komoditas. Sebuah bukti kerja budaya yang sarat dengan nilai keindahan dan abstraksi seni tingkat tinggi, telah dinilai dengan berapa dollar dan berapa rupiah dia terbeli. “uang berbicara, dan semua adalah imej dan super-realitas !” begitu kata Baudrillard.&lt;br /&gt;Otak yang pada dasarnya kita gunakan untuk berpikir segala sesuatu yang memang layak untuk dipikir, telah menyimpang untuk menilai sesuatu yang selayaknya tidak perlu dipikirkan. Keindahan, kebahagiaan, kesenangan, adalah sesuatu yang tidak meminta untuk dipikirkan. Dia hanya meminta dirasa dan dinikmati. Dijalani. Semua sudah mengalir dengan sendirinya. Semua telah dikupas tuntas oleh Malcolm Gladwell (2009) dengan menggunakan terma &lt;em&gt;blink &lt;/em&gt;sebagai ungkapan bahwa manusia bisa mengembangkan kemampuan berpikir tanpa berpikir. Inilah energi besar yang terlupakan (atau sengaja dilupakan) oleh otak. Pertanyaan besarnya adalah : bisakah otak kita gunakan tidak sekadar untuk berpikir ? tentu bisa. Asal berikan sesuai porsi mereka. Otak kiri telah diberikan kemampuan sebagai sentral berpikir manusia. Untuk sisi yang lain terkait dengan keindahan dan daya cipta kebahagiaan, telah tersedia sudut kanan untuk memamahnya. Biarkanlah dia bekerja. Rasakan saja. Ketika semua ingin dimamah oleh otak kiri, maka peradaban manusia telah didorong pada komoditas tiada henti. Sesuatu yang tak berujung. Tak pernah berhenti. Mesin komoditas telah menciptakan komoditas atas dirinya sendiri. Namanya bisa apa saja. Lengkungan emas McDonald yang lebih dikenal daripada salib kristen (Ritzer,2002), kosmetik yang menjadi acuan kecantikan (Davis, 1995; Wolf, 2004), dan hampir keseluruhan nilai seni yang telah tergusur menjadi komoditi jual beli (Smiers,2009). Inilah abad dimana bahkan seks sebagai media penerus keberlangsungan spesies manusia, telah dijadikan komoditas dengan daya jual luar biasa (Diamond, 2007).&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Dengan menukik lebih dalam dari filsafat posmodern Gilles Deleuze &amp;amp; Felix Guattari, Yasraf Amir Piliang (2004) telah membuka pemikiran tentang pergeseran peradaban kita menuju nilai tanda (&lt;em&gt;sign value&lt;/em&gt;). Sebuah nilai yang sungguh lentur dengan beragam makna yang terus berubah. Seiring dengan kekuatan terbesar konsumsi masyarakat itu sendiri. Masalahnya adalah, disaat semua orang terlena dengan aktualisasi diri mereka, terlena dengan narsisme mereka, tanpa sadar kita tergiring pada pinggiran peradaban tak bertujuan. Sebuah epidemi akan narsisisme yang sangat dikhawatirkan Jean M. Twenge &amp;amp; Keith Campbell (2009).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Akar dari semua fenomena tadi adalah saat akal dianggap memiliki kemampuan membuat segala sesuatunya bisa dipahami. Termasuk emosi. Kita merasa bahwa akal bisa mengontrol kita untuk mencapai kebaikan. Justru masalahnya adalah di saat kita merasa bisa mengontrol, kita tengah jatuh ke dalam ketidakmampuan mengontrol. Itulah batas nalar, seperti dikatakan Donald B. Calne (2005). Kreasi budaya, hasil narasi seni dan rasa, tidak cukup mampu diterjamahkan dalam bilik “kemasuk akalan”. Bila itu dipaksakan, kita memang telah jatuh dalam pemberhalaan akal pikiran. Kita kehilangan sensitifitas keindahan. Rasa tertinggi kemanusiaan. Berikutnya musnahlah peradaban ...&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt; Bantaran Kali Kesunyian, Agustus 09 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-2000149909618469762?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/2000149909618469762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=2000149909618469762' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/2000149909618469762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/2000149909618469762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/08/kekuatan-kontrol-yang-tak-mampu.html' title='Kekuatan Kontrol yang Tak Mampu Mengontrol'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-4856832104708293151</id><published>2009-07-30T19:48:00.000-07:00</published><updated>2009-07-30T19:54:27.261-07:00</updated><title type='text'>Menjadi Dosen Pembimbing Lapangan KKN : Sebuah Kesalahan ?</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Menjadi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) bukanlah sebuah aktivitas favorit di kalangan dosen-dosen. Dalam satu dekade karier saya sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada, tak sekalipun saya menjumpai dosen di fakultas saya (FISIPOL) yang bangga, gembira dan rela menjadi DPL. Terbayang di mata saya bahwa menjadi DPL adalah aktivitas dosen yang kurang kerjaan. Mau bersusah-susah mengurus anak-anak mahasiswa di dusun dan kampung yang jauh dari pusat peradaban dan simbol-simbol modernitas. Merekapitulasi laporan dari mahasiswa yang sebagian besar salah. Atau aktivitas apalagi yang menjemukan dan membosankan. Itu terasa hampir dua tahun belakangan. Dan menjadi sesuatu yang tidak habis saya pikirkan, mengapa kemudian saya mau menandatangani formulir permintaan menjadi dosen pembimbing lapangan dari Dira, Ria, dan beberapa teman lain mahasiswa jurusan ilmu komunikasi 2006 pada bulan Mei 2009 lalu. Begitu gampang saja saya mengiyakan permintaan mereka untuk menjadi dosen pembimbing lapangan. Selepas menandatangani, jujur saya mulai berpikir : “ini sebuah kesalahan !” &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Mereka bilang akan melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di desa Sugian, Sambelia, Lombok Timur. Mendengar nama desa itu saja baru satu kali seumur hidup saya, apalagi membayangkan tempatnya. Pasti jauh dan terpencil sekali. Semakin memikirkan hal itu, semakin pula saya berpikir bahwa telah melakukan sebuah kesalahan. “Mengapa saya tandatangani ?”  itu mengganggu pikiran seiring dengan berbagai masalah yang kemudian muncul yang mengharuskan saya berurusan dengan lembaga payung yang menaungi kegiatan KKN ini, namanya Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UGM. Sebuah lembaga yang nampaknya sangat kerepotan mengurusi berbagai tetek bengek mahasiswa dikarenakan kekurangan sumber daya dan ketidakmampuan manajeman mereka. Mulailah terjadi masalah. Pertama, proposal KKN anak bimbingan saya ditolak oleh LPPM. Teman-teman mahasiswa sedih. Setelah berupaya menyusun proposal, melakukan survey ke desa Sugian, proposal mereka ditolak. Terjadi negosiasi. Akhirnya LPPM menyetujui dengan syarat teman-teman mengganti tema dan judul proposal menyesuaikan dengan apa yang diinginkan oleh LPPM. “just do it, “ komentar saya saat teman-teman menanyakan itu. Akhirnya jadilah saya sebagai DPL harus bolak-balik turun naik tiga lantai untuk datang ke kantor LPPM di gedung pusat UGM. Sampai disitu masalah selesai. Tapi dalam hati saya kembali berpikir : “sebuah kesalahan menjadi DPL !”&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Masalah kedua, tentu saja erat kaitan dengan dana operasional mereka. Kebutuhan akan dana program yang hampir 80 jutaan, pada akhirnya sama sekali tidak bisa ditanggung dengan mengandalkan sponsor. Sampai menjelang keberangkatan, tidak ada sponsor yang bisa mereka dapatkan. Kapasitas saya sebagai DPL berikut berbagai kesibukan pekerjaan membuat saya tidak mampu terlibat terlalu jauh dalam upaya mencarikan sponsor. Saya hanya bisa menelpon beberapa teman dan selalu mendapat jawaban mengambang dan “masukan saja proposalnya !”. Padahal saya tahu, teman-teman KKN sangat tergantung pada dana itu untuk transport, akomodasi, dan konsumsi, berikut berjalannya program di lapangan. Waktu sudah begitu mepet. Padahal saya juga tahu bahwa keterbatasan dana akan membuat pemangkasan berbagai item di atas. Terus terang ini membuat hati saya galau dan gelisah. Dalam hati saya kembali mengumpat : “sebuah kesalahan menjadi DPL !” &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Benar dugaan saya. Pemangkasan dana pertama adalah dana transportasi. Berbagai alternatif moda transport yang ditawarkan begitu jauh dari jangkauan dana teman-teman. Dengan jumlah anggota KKN sebanyak 25 orang maka perhitungan untuk naik bus dari Jogjakarta – Lombok sangat mustahil. Boro-boro naik pesawat. Janganlah menyindir saya dengan pernyataan itu. Mengapa ? dari kebutuhan 80 juta yang dianggarkan mereka, dana yang bisa mereka gunakan hanya sekitar 19 juta. Itu sudah termasuk untuk makan, program, dan transportasi. Bisa dibayangkan betapa miskinnya mereka nanti. Dan dugaan tentang kemiskinan itu berubah menjadi kenyataan setelah saya mendengar keputusan mereka tentang cara mencapai Lombok. Mereka akan menggunakan sistem estafet. Wah apa pula itu ?  &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Begini. Mereka akan naik kereta api ekonomi dari stasiun lempuyangan, Jogjakarta menuju stasiun Banyuwangi, sebuah stasiun yang paling dekat dengan feri penyeberangan Ketapang. Selepas itu berjalan kaki menuju pelabuhan Ketapang. Berlanjut menumpang feri penyeberangan ke Gilimanuk, Bali. Dari Gilimanuk mereka akan menumpang bus ekonomi untuk seterusnya menuju pelabuhan Padang Bai, ujung timur Bali. Dari sana akan estafet menumpang feri penyeberangan menuju Lembar, pelabuhan sebelah barat Lombok. Dari Lembar mereka akan naik angkutan kota menuju desa Sugian, Sambelia, lombok Timur, setelah melewati kota Mataram. Dengan model estafet begitu dana yang akan ditanggung setiap anggota KKN berkisar sekitar Rp. 125.000,-. Whats ? ... sebegitu murah untuk mencapai Lombok ? dari Jogja pula ?  sampai disitu saya terkekeh-kekeh. Membayangkan dan membandingkannya dengan dana rekreasi yang telah dihabiskan fakultas saya dahulu untuk pergi ke Bali. Sebuah kegiatan rekreasi setiap 2 tahun sekali yang dilaksanakan oleh FISIPOL dengan melibatkan seluruh staf dosen dan keluarganya. Kebetulan saya selalu menjadi panitia. Kalau tidak salah ingat dana yang dihabiskan untuk rekreasi ke Bali saat itu sekitar 400 hingga 500 juta. Berbeda sekali dengan dana anak-anak KKN ini yang cuma 19 juta. Woalah pasti anak-anak ini akan menderita sekali di perjalanan. Sampai saat itu bahkan saya mulai berpikir : “KKN adalah sebuah kesalahan !”&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Namun entah mengapa begitu diberitahu tentang model estafet itu, naluri petualang saya (yang sudah saya matikan sejak menjadi dosen)  tiba-tiba tergelitik. Satu pertanyaan yang memantiknya “apa mungkin perjalanan sejauh itu bisa sebegitu murah ?” lalu bagaimana susahnya perjalanan semurah itu ? dari berbagai rasa penasaran itu akhirnya sama memutuskan untuk mencoba saja, dari pada menduga-duga dan membayangkan. Hal terpenting bagi saya adalah berupaya untuk terus empati di tengah kekurangan dana dan berbagai masalah yang muncul dalam rombongan yang notabene sudah menjadi tanggung jawab saya. Untuk itu saya putuskan untuk ikut serta dengan rombongan mereka. Well, begitulah saya mengambil keputusan. Meskipun dalam hati tetap saja membisikan “KKN adalah sebuah kesalahan !”&lt;br /&gt;Kami harus berangkat selepas pemilihan presiden tanggal 8 Juli. Berangkat dari stasiun lempuyangan, Jogjakarta pagi hari tanggal 9 Juli 2009, jam 7.30 WIB. Padahal hingga tanggal 7 itu saya masih berada di Jakarta, setelah sebelumnya berada di Gorontalo, dan Makasar. Ditengah-tengah kesibukan pembagian jadwal dan manajeman waktu saya yang benar-benar buruk, tanggal 8 Juli saya harus menyoblos calon presiden RI. Sisa hari tanggal 8 itu harus saya habiskan di kantor mengerjakan policy brief sebuah draft undang-undang yang harus diajukan ke DPR RI. Ditambah malamnya saya harus mengoreksi dua mata kuliah hasil ujian akhir mahasiswa saya. Betul-betul sebuah minggu yang melelahkan. Sampai disitu saya kembali berpikir : menjadi DPL adalah sebuah kesalahan !&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, pada tanggal 9 Juli 2009. Pagi hari saya harus bangun. Padahal saya baru bisa tidur jam 3 dinihari selepas mengoreksi hasil ujian mata kuliah Psikologi Komunikasi yang tersisa. Satu tas kuning pakaian lengkap telah dipersiapkan istri saya, Erni. Sosok istri terbaik sepanjang dunia ini. Sosok istri yang sangat mengerti segala kesibukan dan kenakalan suaminya. Dia yang telah memelihara buah hati kami berdua, Harsa. Ingat Harsa, saya masuk ke kamarnya. Saya pandangi wajah gantengnya. Dua kali saya mencium kening Harsa, anak saya semata wayang yang masih lelap dalam mimpi. Dia baru berusia tiga tahun. Terlalu sering ditinggal pergi ayahnya. Mungkin nanti dia akan bertanya-tanya mengapa ayah selalu pergi ?  saya tepis segala lamunan cengeng di kepala, lalu memanggul tas berisi laptop dan beragam dokumen lain. Saya minta diantar istri naik sepeda motor untuk sampai ke Lempuyangan. Cuma butuh 3 menit. Rumah saya dekat sekali dengan stasiun itu. Sesampai di sana, saya jumpai wajah-wajah ceria dan semangat dahsyat ke 23 teman mahasiswa. Oh iya, dari 25 orang anggota KKN, yang kemudian memastikan untuk ikut serta hanya tinggal 23 orang. Beragam masalah dan kesibukan membuat dua orang mengundurkan diri. Tak mengapa. Yang tersisa sudah lebih dari cukup untuk menjadi satu rombongan luar biasa. Itu faktanya. Mereka penuh canda. Gembira. Memanggul tas masing-masing berikut membantu membawakan tas temannya. Saya segera bergabung dengan mereka. Sambil di telinga saya terdengar bisik lirih : “yakinlah, menjadi DPL bukanlah sebuah kesalahan !”&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Jam 07.30 WIB tepat kereta ekonomi yang penuh dengan manusia itu berangkat. Berderak-derak. Aku duduk ditengah-tengah mahasiswa. Mereka membawa banyak makanan rakyat. Membawa kebahagiaan. Sama sekali tidak terlihat canggung dan menyesali keadaan. Inilah model transportasi rakyat Indonesia. Sampai di titik itu saya malu dengan mereka. Malu dengan kesungguhan hati mereka. Betapa sangat berbeda dengan saat saya menikmati perjalanan ke Gorontalo, Makasar, Jakarta, Singapura, yang sama sekali tidak menyisakan kesusahan. Semua sudah tersedia. Duduk manis dalam pesawat. Dijemput dengan mobil berpendingin buatan. Tidur nyenyak di kamar hotel berbintang empat. Sungguh kontras. Tapi mungkin itulah dunia. Perbedaan menjadi niscaya. Tinggal keinginan untuk berempati dan mau merasakan kehidupan orang lain. Dan itu nampak pada tekad dan semangat teman-teman mahasiswa. Mereka telah memberi pelajaran tentang kesusahan dan kebersamaan. Sampai di sini dalam hati saya berkata : “KKN bukanlah sebuah kesalahan !” &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Butuh waktu satu hari penuh untuk menyelesaikan perjalanan hingga tiba di stasiun Banyuwangi. Rombongan baru tiba di statiun Banyuwangi pada jam 22.00 WIB. Maklumlah, kereta ekonomi harus mampir-mampir dulu di Surabaya setelah beberapa stasiun kecil sepanjang perjalanan dari Jogja. Persis seperti bus ekonomi yang selalu berhenti setiap ada lambaian tangan penumpang di pinggir jalan. Tak perduli di manapun tempatnya. Dalam hati saya bergumam, untung kereta api tidak perlu berhenti di sembarang tempat semaunya sang Masinis. Dia hanya berhenti di setiap stasiun saja. Merskipun itu adalah satu-satunya faktor yang membuat perjalanan menjadi sangat lama bila dibandingkan dengan menumpang kereta api eksekutif. Beragam pikiran itu terus berkecamuk dalam hati sepanjang perjalanan, diantara tawa ramai dan terbahak-bahak teman-teman KKN. Pada saat itu barulah saya tahu betapa susahnya untuk buang air kecil alias kencing dalam perjalanan kerata api kelas ekonomi. Dalam satu kesempatan, karena tidak mampu lagi menahan tekanan dan kodrat alami untuk pipis, saya mencoba bergerak menuju toilet. Di sela-sela kursi manusia penuh berdesak-desakan, saya harus menerobos dengan resiko berkali-kali menginjak kaki manusia. Tentu saja ada makian dan protes karena kakinya saya injak. Dan itu terjadi lebih dari tiga kali. Saya Cuma tersenyum dan minta maaf sambil terus bergerak menuju toilet yang terdapat persis di sambungan antar gerbong. Setelah berjuang lebih dari 15 menit, saya mencapai ujung gerbong. Saya tersenyum mengingat jarak kursi tempat duduk saya hanya berkisar tiga meter dari sambungan gerbong tempat toilet berada. Saya tempuh lebih dari 15 menit dengan keringat membanjir. “Luar biasa !” gumam saya dalam hati. Meski begitu hati saya sungguh gembira, sebentar lagi acara buang hajat saya pasti terlaksana. Indahnya dunia !! saya bergegas menuju pintu toilet sebelah kiri, dan melengok ke dalam karena pintu toilet dalam posisi terbuka dengan tiga atau empat orang berdesakan di depannya. Mata saya tiba-tiba tertumbuk pada sebuah karung besar sekali yang nangkring di atas dudukan toilet. Disampingnya berdiri santai seorang tua sambil memegangi karung itu. Sebuah tindakan simbolis untuk menyatakan bahwa karung itu miliknya. Bagi saya tindakan itu juga sekaligus ingin menegaskan bahwa toilet berikut dudukan dan seisinya telah menjadi kuasa dia. Saya menatap dan mencoba tersenyum padanya. Berharap dia mengerti keinginan buang hajat ini. Wajah bapak itu dingin. Tak ada senyum. Melengos. Cukup untuk mengomunikasikan ketidakrelaan berbagi istana kecil seukuran 1 meter persegi itu. Hukum rimba telah terjadi. Dan dalam hati saya cuma bergumam &lt;em&gt;“batalkan saja niat buang hajat itu bung !”&lt;/em&gt; sambil ditambah, &lt;em&gt;“daripada cari ribut ?”&lt;/em&gt; . sekelebat pemikiran itu membuat saya menelan kembali senyum saya. Nyengir dan berbalik posisi kembali ke tempat duduk saya. Kursi no 15 D gerbong 2. Dalam hati terbersit : “DPL yang malang !”. Berjuanglah menahan hajat kecilmu itu ! Kereta terus melaju dengan tangis dan rengekan anak kecil yang menambah keakraban suasana. Suasana sebagai rakyat kecil yang harus rela dengan fasilitas tak seberapa. Dalam hati saya menghibur diri. Paling tidak saya tidak sendirian terjebak dalam labirin kasta struktural masyarakat negeri ini. Sisa perjalanan masih harus ditempuh enam jam lagi. Hati saya berbisik : “sebuah kesalahan naik kereta api kelas ekonomi !”&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Pukul 23.00 WIB kereta sampai di Banyuwangi. Stasiun tujuan akhir kereta ini. Hari  sudah gelap dan sepi. 23 orang anggota rombongan turun dan harus memanggul tas masing-masing untuk berjalan sejauh 500 meter menuju pelabuhan Ketapang. Bagi mereka nampak sudah biasa. Namun tidak bagi saya. Setelah 10 tahun tidak lagi menjadi mahasiswa, dan terlanjur dimanjakan oleh berbagai fasilitas sebagai dosen, tentu memanggul tas dan berjalan sejauh itu bukanlah sesuatu yang biasa bagi saya. Tetap aja megap-megap dan berat he he he .Hanya prinsip dramaturgi dan manajeman kesan yang membuat saya tidak menunjukkan perilaku yang mengendorkan semangat mereka. Sampai di pelabuhan Ketapang, rombongan hanya tinggal membayar 5.700 per orang untuk sampai ke Gilimanuk, Bali. Perjalanan menyeberang ditempuh lebih dari satu jam. Tentu saja mata saya mengantuk. Tapi mimpi tentang tidur nyenyak akan tetap sebagai mimpi. Setelah makan dan merokok, sisa waktu saya habiskan dengan membaca buku. Buku tentang dokter yang melawan aturan dunia kesehatan. Cerita yang akan menjadi bahan presentasi saya nanti dalam pelatihan tentang komunikasi kesehatan di fakultas kedokteran. Feri penyeberangan yang membawa kami merapat ke Gilimanuk pukul 1 tengah malam waktu Bali.Lagi-lagi rombongan kecil ini harus berjalan sekian puluh meter menuju terminal di Gilimanuk. Sebuah bus kelas ekonomi sudah menanti. Tarif senilai Rp. 35.000,- tentu lebih murah ketimbang Rp.200.000,- apabila kami langsung naik bus dari Ketapang tadi. Anak-anak ini memang super irit. Mungkin juga pelit he he he...&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Pukul 2 dinihari bus bergerak. Saya sudah tidak bisa bicara lagi. Antimo yang 15 menit sebelumnya telah saya telan mulai menunjukkan pengaruhnya. Saya langsung tertidur. Mungkin lebih tepat disebut pingsan. Kelelahan. Sudah tidak terasa lagi bagaimana lajunya bus itu. Mata saya terbuka saat bus sudah sampai di pelabuhan penyeberangan Padang Bai, ujung timur pulau Bali.  Dari situ kami bisa naik feri penyeberangan seharga Rp. 31.000,- menuju Lembar (dibaca seperti kita mengucapkan huruf ‘e kedua’ pada kata sepeda !). Pelabuhan paling barat pulau Lombok. Menurut keterangan mahasiswa, dalam kondisi laut tenang perjalanan menuju Lembar bisa diarungi selama 4 jam. Namun bila laut menggila, kita harus siap lebih dari 6 jam. Sebuah perjalanan yang melelahkan. Ini hari Jum’at. Ada ritual sholat Jum’at bagi umat Islam. Tapi katanya musafir tak diharuskan untuk sholat Jum’at. Saya tersenyum. Mungkin sudah lebih dari dua tahun tidak pernah sholat Jum’at. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Pukul 8 pagi feri penyeberangan siap diberangkatkan. Selepas sarapan saya dan semua anggota KKN ini masuk ke feri. Menikmati perjalanan 4 jam saya isi sepenuhnya dengan tidur dan membaca. Selepas tengah hari tibalah kami di Lembar. 24 orang ini turun dan mengepak barang masing-masing menuju angkot yang khusus kami carter yang akan membawa kami menuju desa Sugian, Sambelia. Saya sama sekali tidak memiliki bayangan bagaimana wujud desa tersebut. Yang saya nikmati sepenuhnya adalah semangat dan canda yang tiada henti meluncur dari mulut teman-teman mahasiswa. Jawaban atas ketidaktahuan itu saya dapat mulai empat jam kemudian setibanya kami di Sugian. Sebuah desa yang tepat berada di tepi laut. Dari desa ini kita bisa melihat permukaan laut yang rata dengan tanah. Membiru di mana-mana. Begitu indah. Sulit digambarkan dengan kata-kata.  Rencananya desa ini akan terus diproyeksikan menjadi salah satu desa wisata di kepulauan Lombok. Empat hari lamanya saya menginap di desa itu. Beragam kenangan dan pelajaran saya dapat. Semakin banyak pengalaman berbaur dengan para mahasiswa, semakin hati saya  berbisik : begitu banyak pelajaran yang didapat dari KKN. Daya tempa semangat. Kekuatan pembentuk mental dan karakter. Membina teamwork. Saling menghargai antar teman. Dan saya yakin dalam dua bulan mereka di desa tersebut, akan banyak sekali pelajaran hidup yang mereka dapat. Mengapa ? karena hanya dalam empat hari di sana, saya sendiri mendapat begitu banyak pelajaran berguna untuk hidup. Perlahan tapi pasti hati saya berbisik, “menjadi DPL bukanlah sebuah kesalahan !” .... terima kasih teman-teman ..&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Sugian, Sambelia, 12 Juli 09&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-4856832104708293151?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/4856832104708293151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=4856832104708293151' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/4856832104708293151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/4856832104708293151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/07/menjadi-dosen-pembimbing-lapangan-kkn.html' title='Menjadi Dosen Pembimbing Lapangan KKN : Sebuah Kesalahan ?'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-8347077526752850108</id><published>2009-06-18T16:53:00.000-07:00</published><updated>2009-06-18T16:57:31.929-07:00</updated><title type='text'>Adakah Surga di Bumi ?</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Apakah yang akan terjadi andai saja, surga yang didengungkan akan didapatkan orang beriman setelah mati itu dipindahkan dan hadir di bumi ini ? wow, tentu sebuah pertanyaan yang menarik, sekaligus juga memiliki implikasi keimanan serius. Aku bahkan sempat berpikir bahwa seluruh sisi baik manusia, seluruh amalan manusia di dunia, seluruh upaya berbuat kebajikan manusia di sini, semuanya dalam rangka membangun sebuah fondasi keterimaan mereka di surga. Hanya gara-gara ada surgalah kemudian manusia menjadi terpacu untuk berbuat kebajikan dan menahan diri untuk tidak berbuat kerusakan. Formulasi kunci untuk memahami dan menjadi landasan aksiologis atas itu adalah agama. Agama adalah pencerita terbaik tentang keberadaan surga dan neraka. Agama sekaligus juga pendongeng yang cakap atas segala ketakwaan nabi-nabi dan rasul-rasul. Agama memang luar biasa. Agama juga yang menjelaskan tentang konsep surga yang baru kita dapatkan setelah kita menjalani kematian. Dia berbeda dimensi dengan kehidupan di dunia ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Logika surga yang ditawarkan selepas kita menemui kematian itu terkadang menyerupai tempat, terkadang menyerupai perasaan, terkadang menyerupai hasrat. Dan begitu banyak lagi tentang konsep surga ditawarkan dalam berbagai kitab suci. Semua selalu berbanding terbalik dengan neraka. Keduanya adalah binary opposition satu dengan yang lainnya. Semua digambarkan akan kita dapatkan selepas kita melepas nyawa dan roh kita. Lalu adakah yang percaya bahwa surga akan hadir di dunia ? Pastilah ada. Sosok anak kecil yang digambarkan Vittorio Hosle memiliki kemampuan nalar yang mencengangkan para filosof. Seorang bocah perempuan 11 tahun dengan kemampuan filosofis tingkat tinggi. Dan digambarkan telah membuat para filosof itu sangat merindukan surat-suratnya. Namanya Nora K. Semua korespondensi mereka berdua dibukukan dengan judul &lt;em&gt;“Das Cafe Der Toten Philosophen”.&lt;/em&gt; Buku ini dicetak edisi Inggris tahun 2004, namun di-Indonesiakan baru tahun 2007.&lt;br /&gt;Kembali pada ide surga di bumi. Nora K. sangat percaya bahwa nanti akan tercipta surga di bumi. Artinya kita tidak perlu harus menunggu-nunggu kematian untuk hanya merasakan surga. Tidak mencari-cari mati seperti para santri kanjeng Syekh Siti Jennar. Surga bisa muncul dibumi. Minimal karena dua alasan yang dikemukakan Nora K. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, surga pastilah untuk manusia, dan karenanya ia mesti dapat dipahami oleh kita sebagai manusia. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, apa makna penciptaan bumi apabila taman surga bukan datang dari sini ?  &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terpikir oleh Nora saat menyebutkan bahwa surga pasti diciptakan Tuhan untuk manusia ? karena menurutnya untuk memahami surga pastilah seseorang (atau sesuatu) harus memiliki akal pikiran terlebih dahulu. Justru karena dia punya akal pikiranlah maka dia memahami prinsip oposisi biner antara kebaikan dan keburukan, antara kebajikan dan kejahatan. Dan itu pasti hanya terdapat pada diri manusia. Coba aja tanya pada srigala, macan, harimau, atau (yang paling dekat dengan spesies kita) simpanse, apakah mereka itu mengenal surga ? jangankan menjawab, mengerti pertanyaan anda saja binatang-binatang ini tidak mampu. Karena mereka binatang ! tak punya akal pikiran ! untuk itulah ketika gambaran binatang yang serba tak berakal ini dibalik penjelasannya oleh Garth Stein dalam novel inspiratifnya &lt;em&gt;“The Art of Racing in The Rain”&lt;/em&gt; (2008) banyak sekali orang yang meneteskan air mata saat membacanya. Seekor anjing yang bernama Enzo telah mengambil alih peran seorang filsuf untuk menjelaskan dan memaknai kehidupan dirinya. Sebuah sindiran telak untuk manusia yang sudah terlalu lupa untuk mencandra diri dan kehidupannya sendiri. Karena sudah terlalu lupa dengan diri sebagai manusia, maka mereka bahkan sudah bersikap dan berperilaku tak lebih daripada seekor anjing !&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Binatang, kata Nora, tak pernah terlalu sibuk berpikir dan merenung tentang neraka dan surga. Mereka pasrah menjalani takdirnya. Tak ada dinamika dalam kehidupan mereka. Jadi untuk apa mereka terlalu resah dengan surga dan neraka ? hanya manusia yang memiliki kehendak bebas (free will) dan layak ditagih oleh Tuhan sebagai implikasi kebebasan berkehendaknya itu. Jadi karena hanya manusia yang sibuk dengan telaah dan repot dengan surga dan neraka itu, pastilah surga itu juga diciptakan untuk manusia. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan menarik untuk Adam sebagai manusia pertama adalah : mengapa Tuhan memilih bumi sebagai “kurungan” dan penjara setelah dia melanggar perintah Tuhan ? Bumi dipilih agar manusia seperti Adam dipastikan kuat menjalani masa hukuman tersebut. Ingat, Tuhan tidak akan memberi cobaan yang melebihi daya tahan makhluknya ! saya bayangkan andai waktu itu Adam dan Hawa dilempar ke Jupiter, pastilah siang dan malam kita akan lebih panjang (betapa lamanya menahan lapar saat puasa he he he). Atau mereka berdua dilemparkan ke Markurius saja, tak bisa dibayangkan betapa uniknya tubuh kita, karena penuh pijaran listrik dari cipratan energi matahari yang membara saking dekatnya (betapa uniknya baju dan celana kita, he he he ). &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Bumi dipilih tentu dengan sebuah pertimbangan maha cerdas. Bumi dipilih tentu dengan sebuah alasan masuk akal. Di planet bumi inilah manusia diberi pilihan untuk menciptakan surga dan nerakanya sendiri. Untuk itulah bagi seorang James Canton (2009) yang menulis buku &lt;em&gt;“The Extreme Future”,&lt;/em&gt; menjadi kebebasan penuh bagi manusia untuk membangun surga atau neraka di muka bumi ini. Kita hancurkan bumi dengan rasa penasaran atas ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa mau lebih menahan diri untuk menjaganya, maka neraka akan segera tercipta. Kehancuran ekosistem, kehancuran habitat, penggundulan hutan, penggunaan senyawa kimia, pemanasan global, hingga ribuan contoh-contoh lain yang membuat Canton yakin kita hanya mengulang-ulang cerita “ingin tahu”nya Adam saja. Ujung dari rasa ingin tahu berlebihan itu akan melemparkan kita pada jurang hukuman persis seperti saat Adam dihukum Tuhan hijrah dari surga ke bumi. Jadi bagi seorang Nora, surga bisa kita ciptakan di bumi. Artinya seluruh sifat surga yang indah, nyaman, dan nikmat bisa kita ciptakan di sini, di bumi ini. Apa syaratnya ? asal kita sama-sama mau saja.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Masalah keinginan untuk menciptakan bumi yang seperti surga inilah dalam sejarah peradabannya mendistorsi peran manusia dalam kelindan ilmu pengetahuan dan keimanan. Persis yang digambarkan oleh Angels &amp;amp; Demons bahwa pertikaian antara agama dan ilmu pada dasarnya dengan tujuan yang sama : kemaslahatan seluruh umat manusia. Selama ini ilmu dipandang membawa petaka karena sifat rakus dan keras kepalanya (bahkan melawan dalil atas tuhan). Selama itu pula agama dipandang menggariskan sejarah ketololannya sendiri dalam menerjemahkan petanda alam, sehingga muncul kepasrahan dan kedunguan yang menghentikan eksistensi manusia sebagai homo sapiens.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Surga bukanlah konsep tempat. Surga adalah suasana. Surga adalah rasa. Kenyamanan, ketentraman, penghargaan, dan kasih sayang berlimpah. Kalau cuma itu yang selalu digambarkan tentang surga, maka mungkin kita bisa mengonstruksi surga itu di sini, di bumi ini. Hidup terus damai dengan orang lain, tanpa mengobarkan kebencian. Hidup terus belajar untuk mencapai kepintaran memudahkan proses hidup yang pendek ini. Hidup dengan terus menghargai karya orang lain. Memberikan diri untuk terbuka pada orang lain dengan mengikis habis prasangka buruk dalam hati. Begitu banyak energi yang bisa dibangkitkan untuk “menciptakan” surga itu. Masalah utamanya hanya satu : kita memang tidak pernah mau belajar dari sejarah yang sudah-sudah ! kita hanya mengulang cerita yang sama berkali-kali tanpa kita menyadari. Jadi sekarang aku tahu mengapa lewat surat-suratnya  Nora K. mampu menghipnotis dan membuat kagum para filsuf. Anak kecil itu telah mengajarkan sesuatu yang bahkan tidak sempat terpikirkan oleh para filsuf besar tadi, karena mereka terlalu asyik dengan egonya sendiri-sendiri. Nora telah mentransformasi pemikiran para filsuf. Ide esensialnya adalah kalau memang kita mampu mengapa tidak berupaya menciptakan surga di bumi saja ? tak berlebihan memang. Terima kasih Nora ....&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Baturetno, Juni 09  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-8347077526752850108?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/8347077526752850108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=8347077526752850108' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/8347077526752850108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/8347077526752850108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/06/adakah-surga-di-bumi.html' title='Adakah Surga di Bumi ?'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-2862032244806656677</id><published>2009-05-30T20:35:00.001-07:00</published><updated>2009-05-30T20:42:06.477-07:00</updated><title type='text'>Harsa dan Narsisisme ?</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Selalu saja ada yang menarik setiap kali menghabiskan waktu bersama Harsa, anakku. Terkadang aku baru menyadari bahwa dunia anak-anak adalah dunia dimana simbol bermain dengan kebebasan sepenuhnya telah tercipta. Pada dunia anaklah segala macam “dunia” bisa diciptakannya. Ia bisa manganggap apapun menjadi sesuatu apapun juga. Tak terbatasi oleh kungkungan rasionalitas dan emosionalitas. Dua hal yang selalu mendera manusia dewasa, yang tak pernah sadar hidup hanya dikendalikan oleh egonya. Itulah Harsa. Hari ini tanggal 31 Mei 2009 mungkin dia tidak pernah tahu bahwa dia sudah berumur tiga tahun tujuh bulan. Usia yang masih sangat muda. Selalu menjanjikan permainan demi permainan. Homo luden dalam tataran sangat awal. Akupun terkadang ikut larut dalam permainan dunianya. Ikut tertawa bersamanya. Kadang menuntaskan kejengkelan dengan menghardiknya (ini seh terbawa gejala hipertensiku .. he he he). Sangat membanggakan apabila dia berperilaku nakal dan unik sebagai sebuah ciri khas. Dunia Harsa memang menarik. Sama menariknya dengan dunia anak-anak lain. Namun ada satu kebiasaan Harsa yang menurutku sangat unik. Dia sangat menikmati ketika mamandang dirinya di cermin atau foto dirinya sebagai hasil japretan istriku, Erni.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Perilaku sangat menikmati wajah dirinya dicermin, lalu kemudian senyam-senyum sendiri sering membuatku terkekeh-kekeh karena gembira. Dia telah belajar langsung teori fase cermin dari Jacques Lacan (Bracher, 1997). Dia mengenal dirinya, sekaligus menikmati dirinya dalam sebingkai cermin. Sekalipun mungkin nanti setelah dia besar aku akan menjelaskan bahwa yang muncul dicermin itu bukanlah dirinya. Itulah diri konstruksi. Tapi itu mungkin nanti saja, setelah dia dewasa dan mau mengerti tentang diri. Saat ini dia masih terlalu kecil. Harsa memang suka bercermin. Suka menikmati wajah dirinya. Mungkin dia menemukan keasyikan tersendiri ketika berinteraksi dengan “dirinya” yang lain, sosok yang muncul di cermin. Tapi secara awam orang akan mengkategorikan perilaku itu sebagai manifestasi narsis atas diri. Sebuah kata dari labirin psikoanalisis Freudian. Narsisisme diambil dari mite Narcissus dari Yunani. Kata itu bisa menunjuk pada sebuah perversi seksual dimana orang memperlakukan tubuhnya sendiri seperti obyek seks yang didambakan. Pengertian lain mengatakan bahwa narsisme merupakan investasi libido apapun di dalamnya karena itu kateksis dari aspek diri yang berlawanan dengan obyek eksternal. Narsisisme bukanlah patologi. Di dalamnya tersimpan sejuta energi percaya diri. “Mending narsis ketimbang minder”, katanya sih begitu. Kata terakhir ini menciptakan sosok-sosok yang neurosis secara sosial.  &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan segala keyakinanku, aku berani mengatakan Harsa tidaklah terperangkap dalam neurosis demikian. Yang terjadi saat ini pada dirinya hanyalah sebatas senang melihat diri yang lain yang muncul di cermin. Tak kurang tak lebih. Membayangkan apabila nanti setelah dia besar aku akan bercerita gaya nakal dan genit dia di depan cermin tentu akan membuat kesan romantisme tersendiri dalam dirinya. Biasanya kita akan sangat ingin tahu seperti apa kita saat masih kecil. Saat mana tak satupun dari peristiwa-peristiwa itu sempat terekam oleh otak kita. Mengingat otak kita baru bisa merekam sempurna saat kita berumur empat hingga lima tahun. Nah tahun-tahun sebelum itu lebih banyak dinamakan fase “kegelapan” dalam diri kita. Kita tak tahu dunia. Kita tak terlalu bisa membedakan mana paman, ayah, dan bahkan kakek. Secara instingtif kita hanya merasa bahwa salah satu lebih lembut dan lebih sayang dibanding lain. Semua berdasarkan instingtif semata. Otak belum bisa banyak membantu. Dia berkembang seiring waktu. Tapi percayalah, bahwa justru saat-saat itulah saat yang paling menarik dan terindah dalam hidup. Saat mana kita tak memiliki kehendak bebas. Otomatis itu menjadi saat-saat dimana kita tidak dituntut untuk bertanggung jawab atas apapun yang kita lakukan. Merdeka seutuhnya. Egois sepenuhnya. Memang enak menjadi manusia tanpa tanggung jawab. Harsa berada dalam fase itu. Aku selalu suka memproyeksikan diriku seperti halnya dia. Membayangkan betapa aku sangat disayang, dimanja, dituruti kemauannya oleh ayah, ibu, dan kakak-kakakku. Harsa memiliki kekurangan dibanding diriku yang ditakdirkan lahir sebagai anak bungsu. Kakakku sembilan. Aku sendiri anak ke sepuluh. Harsa anak sulung. Dia tidak memiliki kakak. Persis seperti takdir istriku yang terlahir sebagai anak sulung. Biasanya mereka adalah orang-orang yang tegar. Tak mau bermanja-manja. Tahan terhadap cobaan dan tantangan. Berbeda 180 derajat dengan anak bungsu sepertiku. Anak sulung akan labih cenderung merasa dirinya berkuasa atas adik-adiknya. Dia memiliki beban lebih berat dalam menempuh hidup. Mungkin Harsa akan menjadi seperti itu. Terlepas dari mampu atau tidaknya dia, harapanku cuma agar dia tidak pernah terdikte untuk menjadi “sosok lain” dari apa yang dirasa nyaman olehnya. Baiklah ..... kita kembali pada ide awal tulisanku kali ini. Sebuah tulisan yang berupaya menjelaskan seberapa besar ide dan perilaku narsis melekat dalam diri anak sulungku itu. Harsa yang narsis. Sekaligus juga mengoreksi kesalahan terminologi dan konseptual yang terus berlangsung hingga hari ini atas kata “narsis”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Asal Mula ...&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Narsisisme diambil dari mite Narcissus dari Yunani, yang berkembang menjadi batasan akan perversi seksual, dimana orang memperlakukan tubuhnya sendiri seperti obyek seks yang didambakan. Dalam teori Freud, investasi libido atas apapun di dalamnya yang mengakibatkan terjadinya kateksis dari aspek diri yang berlawanan dengan obyek eksternal. Kebanyakan orang mengira bahwa narsis ini patologis. Namun sesungguhnya dia bukanlah sesuatu yang merugikan dan bisa dimaknai sebuah “kekurang normalan”. Dia diperlukan untuk mencari dan mengidentifikasi diri dalam konteks membina relasi dengan lingkungan sosial dan orang lain. Setiap kita membutuhkan sejumput narsis. Tentu agar memahami apa nilai lebih dan kekuatan kita. Pemahaman yang saya kutip dari Ensiklopedi Psikologi (1996) yang disusun Rom Harre &amp;amp; Roger Lamb tadi mensiratkan kompleksitas yang diemban oleh terminologi narsis dan narsisisme tadi. Kesalahan terbesar biasanya bermula ketika kita memberikan muatan negatif atas kata itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Gambaran sederhana tentang narsisisme ini diberikan oleh Jeremy Holmes (2003) dalam bukunya Narcissism. Kata itu mewujud nyata dalam bentuk cermin yang kita pandang setiap hari. Kita sering sekali dibuat kagum oleh cermin. Mengapa ? kita asyik mengagumi diri kita saat bercermin. Cermin merupakan objek yang seketika berubah menjadi subjek saat kita sudah terpaku berdiri dihadapannya. Muncul dua rasa yang berbeda, suka cita atau kengerian tiada tara. Yang pertama dirasakan oleh seseorang yang merasa yakin bahwa dirinya menarik, pantas, bangga atas elemen dan tekstrur wajah dan tubuh yang hadir dalam cermin dihadapannya. Sementara rasa kedua muncul dari ketidakrelaan menerima sosok yang ada di dalam cermin dikarenakan dia tidak sesuai dengan “diri ideal” yang dicitrakan dalam media dan konsensus masyarakat. Holmes menyebutkan inilah sisi dilematis dari narsisisme. Pemahaman narsisisme lebih mengacu pada tindak lanjut dari rasa yang pertama. Apakah seseorang yang merasa yakin akan kejelekan wajahnya mau berlama-lama bercermin dan mematut diri ? apakah seseorang yang rusak sebagian besar wajahnya mau berlama-lama di depan cermin ? Dia benci cermin. Itu manifestasi benci dengan keadaan dirinya. Mungkin setelah kecelakaan pertama yang menimpa dirinya sebelum dia mati karena narkoba, salah satu barang yang paling dibenci Alda Risma adalah cermin. Mengapa ? karena kecelakaan itu telah menghancurkan wajah ayu dan melankolisnya. Kenyataan yang membuat dia mencari pelarian dan terjerat lebih dalam pada narkoba, berujung maut yang menimpa. Sejak Havelock Ellis pada akhir abad ke-19 sebagai seorang seksologis menjadi orang pertama yang menghubungkan mitos Narcissus klasik dengan hambatan psikologis, maka sejak saat itu kajian tentang narsisisme menyeruak ke dalam ranah kesadaran manusia akan hakekat dirinya. Secara teoritis, aliran psikologi yang cukup serius mengurai narsisisme adalah psikoanalisis. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penjelasan Psikoanalisis ...&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam upaya menjelaskan tentang konsep tersebut, Freud (2006: 478-479) sendiri membedakan antara konsep narsisisme yang dibandingkan dengan konsep egoisme. Menurutnya, narsisisme adalah pelengkap libidinal egoisme. Ketika kita berbicara tentang egoisme, kita sedang berpikir hanya tentang orang yang bersangkutan, narsisisme juga berhubungan dengan pemuasan kebutuhan libidinalnya. Adalah mungkin untuk menindaklanjuti keduanya secara terpisah untuk jarak yang cukup jauh sebagai motif praktis dalam kehidupan. Seseorang mungkin secara mutlak egoistis tetapi memiliki keterikatan libido yang kuat dengan objek, sejauh pemuasan libido dalam sebuah objek merupakan kebutuhan egonya. Egoismenya kemudian akan melihat bahwa keinginannya terhadap objek tidak melukai egonya. Seseorang mungkin egoistis dan pada waktu yang sama juga sangat narsisistik (yaitu tidak merasa butuh terhadap objek), dan ini terjadi lagi entah dalam bentuk yang diambil oleh kebutuhan akan pemuasan seksual langsung atau dalam bentuk perasaan yang lebih tinggi yang berasal dari kebutuhan seksual yang secara umum disebut “cinta”, dan dengan cara tersebut dikontraskan dengan “sensualitas”. Dalam semua situasi ini egoisme adalah unsur yang jelas dengan sindirinya dan konstan, dan narsisisme variabelnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Gagasan psikoanalisis tentang narsisisme bisa dibagi ke dalam tiga bagian yang berbeda : narsisisme libidinal (berkaitan dengan libido), narsisisme destruktif (bersifat merusak), dan narsisisme yang sehat. Tak penting untuk terlalu mengungkap mana dari tiga bagian itu yang telah secara prinsipil layak diwaspadai, seperti yang dikatakan Freud bahwa narsisisme destruktif akan membawa pada kehancuran. Namun secara psikologis masyarakat Amerika saat ini tengah kebingungan dengan sebuah epidemi narsisisme sebagai buah dari over-confidence mereka sendiri. Seperti ditulis dengan cerdas oleh Twenge &amp;amp; Campbell (2009) bahwa over-confidence dalam masyarakat AS akan menciptakan fenomena sama seperti halnya obesitas. Penikmatan atas konsumsi makanan menciptakan generasi yang selalu bermasalah dengan berat badan. Mereka menyadari kelebihan berat badan akan bermasalah bukan cuma secara sosial, namun juga akan berbuah kematian. Tapi anehnya mereka menemukan dan menyadari itu setelah habis-habisan mempraktekkan pola konsumsi yang tidak sehat. Seperti itulah narsisme yang muncul karena kita habis-habisan ingin memperoleh dan mendapatkan confidence atas diri kita. Hasilnya adalah over-confidence. Kegelisahan atas epidemi narsisisme ini dituangkan dalam buku mereka untuk mengingatkan akan bahaya kepercayaan diri yang terlalu berlebihan justru akan menciptakan masyarakat anarki. Tidak ada lagi sosok yang mau menjadi anak buah. Semua ingin jadi pemimpin !&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada kebiasaan bercermin si Harsa, anakku. Sungguh aku yakin bahwa dia tidak akan menjadi sosok pencipta masyarakat seperti yang dikatakan Twenge &amp;amp; Campbell di atas. Dia hanya menikmati cermin sebatas have fun anak kecil yang selalu asyik dengan dunia interaksionisme simboliknya. Semoga memang demikian .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Referensi :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bracher, Mark (1997). &lt;em&gt;Lacan, Discourse, and Social Change : A Psychoanalytic Cultural Criticism&lt;/em&gt;, Cornel University Press, New York.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Freud, Sigmund, (2006). &lt;em&gt;Pengantar Umum Psikonalisis Sigmund Freud&lt;/em&gt;, Penerjemah Haris Setiowati, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Holmes, Jeremy (2003). &lt;em&gt;Narsisisme&lt;/em&gt;, Penerjemah Basuki Heri Winarno, Penerbit Pohon Sukma, Jogjakarta. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Twenge, Jean M., &amp;amp; W. Keith Campbell, (2009). &lt;em&gt;The Narcissism Epidemic : Living in the Age of Entitlement,&lt;/em&gt; Free Press, New York. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-2862032244806656677?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/2862032244806656677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=2862032244806656677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/2862032244806656677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/2862032244806656677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/05/harsa-dan-narsisisme.html' title='Harsa dan Narsisisme ?'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-3314665039261714188</id><published>2009-05-26T02:36:00.002-07:00</published><updated>2009-05-26T02:44:02.280-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ide Tua - Ide Muda'/><title type='text'>Ilmuwan dan Penguasa : Relasi Pemanfaatan ?</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Sebagai seorang manusia yang mencoba mengabdikan dirinya sebagai ilmuwan, aku ingin berkeluh kesah sambil menelisik sejarah. Tentang kehidupan ilmuwan yang ternyata tidak juga berubah.  Ada fakta menarik ditengah-tengah sejarah barbarisme para Khalifah Abbasiyah yang memerintah Islam setelah beberapa abad kematian Nabi Muhammad. Sudah menjadi fakta sejarah bahwa para penguasa dan khalifah saat itu menggunakan pendekatan Marchavelian dalam menjalankan kekuasaan. Gunakan cara apapun untuk mempertahankan kekuasaan. Tak penting menilai cara, yang penting hasilnya ! Imbas prinsip itu juga menelan banyak korban para ilmuwan Islam. Sebagai gambaran adalah ketika khalifah al-Manshur memerintah sebagai barisan dinasti Abbasiyah.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali jumlah para fuqaha atau imam besar Islam di masa khalifah al-Manshur. Tersebutlah Abu Hanifah, Imam Malik, al-Auza’i, Umar bin Ubaid, Sufyan as-Tsauri, Ubbad bin Katsir, Ja’far bin Muhammad as-Shadiq, dan lain-lain. Rata-rata mendapatkan penyiksaan, andai mereka berseberangan dengan penguasa. Abu Hanifah disiksa dengan cara dikurung, dicambuk, dan akhirnya diracuni hingga mati, hanya karena Abu Hanifah menolak untuk memimpin peradilan masanya. Penyiksaan al-Manshur terhadap Imam Malik, dengan cara melecutnya dalam kondisi telanjang bulat agar ia merasa terhina, tidak lain karena Imam Malik menyebutkan hadis yang tidak disukai al-Manshur. Namun cerita itu belumlah seberapa. Yang paling tragis adalah perlakuan yang diterima oleh ulama Ibnu Muqaffa.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Sosok ahli fiqih ini mengirimkan sebuah buku tipis kepada al-Manshur. Judulnya Risalah al-tahabah (Risalah tentang para sahabat). Di situ tertulis antara lain nasihat untuk khalifah agar pandai-pandai memilih para pembantu dan memperbaiki sistem pengelolaan masyarakatnya. Meski nasihat disampaikan dengan bahasa yang sangat santun, namun tanggapan al-Manshur menunjukkan betapa isi buku itu begitu menyinggung urat-urat kekuasaan dia. Bagi al-Manshur fungsi tertinggi dari seorang sastrawan adalah menyampaikan puja-puji. Peranan terakhir seorang pemikir tak lain dan tak bukan adalah memberi legitimasi. Bila melenceng dari itu, apalagi mengeritik penguasa, maka layak diberi pelajaran ! Ibnu Muqaffa ditangkap. Tungkai dan lengannya dicincang satu per satu. Potongan dagingnya dipanggang di atas bara api, tepat dihadapannya. Karena saat dicincang tangannya itu Muqaffa masih hidup. Dia masih bernapas ! setelah potongan daging itu matang, satu persatu pula daging panggang itu dijejalkan ke mulutnya. Dia harus memakan daging tangannya sendiri ! Ibnu al – Muqaffa menjalani penderitaan tiada tara sampai ajal pun menjemputnya. Apakah anda masih dapat membayangkan peristiwa itu bisa terjadi di abad modern ini ? rasa-rasanya sekeblinger-blingernya George W. Bush, sebrengseknya Saddam Husain, atau sekejam-kejamnya Hitler, mereka tidak pernah memiliki daya kreatifitas sehebat al-Manshur dalam memberikan hukuman. Kita bangga, kita jauh lebih beradab. Memang tak salah Islam diturunkan di tanah Arab. Sebuah tanah dimana kedunguan dan kezaliman menemukan habitatnya. Celakanya, apa yang kita dengar dari buku sejarah tentang al-Manshur ? cerita penyiksaan tadi tidak pernah ditulis. Yang ada cuma al-Manshur adalah seorang negarawan besar. Pemberi jalan terang bagi kekhalifahan dinasty Abbasiyah. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Sejarah memang milik para pemenang. Pihak yang kalah tidak memiliki kuasa dalam menuliskan sejarah. Tidak ada objektivitas dalam sejarah. Hidup dan cerita kehidupan para ilmuwan pun mengalami beragam versi dan seri tertentu sesuai dengan setting penceritaan. Namun banyak sekali martir ilmu pengetahuan yang biasanya mengambil sikap berhadapan dengan penguasa, saat mereka menyadari bahwa penguasa sudah keluar dari garis kewajarannya. Padahal tidak ada kuasa politik yang wajar-wajar saja. Semua penuh manipulasi dan tipu daya. Demi kursi untuk berkuasa. Tak ada yang salah. Sekaligus juga tak ada yang benar. Para ilmuwan Eropa juga harus lari terbirit-birit saat Adolf Hitler memegang kekuasaan di Jerman. Mereka yang berkumpul di Amerika untuk masa berikutnya membuat negara ini menjadi adidaya dengan pemikiran sains dan sosialnya. Itulah hikmah. Namun perlu pula kita ingat, bahwa diantara banyaknya ilmuwan yang menjadi martir kebenaran itu, lebih banyak lagi yang memposisikan diri sebagai pelegitimasi kekuasaan.&lt;br /&gt;Sejajar dengan pemahaman al-Manshur tentang posisi ilmuwan sebagai pelegitimasi, begitu pula peran mereka di abad ini. Mungkin saja dahulu ilmuwan mendukung khalifah (sekalipun buruk perilakunya) karena ketakutan akan bayangan penyiksaan dan teror mengerikan. Saat ini tak ada alasan penyiksaan gaya khalifah Abbasiyah diberlakukan. Dunia akan mengutuk itu. Namun ada alat penarik yang luar biasa berpengaruh pada posisi membela legitimasi itu. Kekuatan itu adalah uang dan kenikmatan hidup. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Ilmuwan saat ini adalah ilmuwan profesional. Begitu kata mereka. Begitu pengakuan mereka. Ilmuwan dibayar sesuai dengan kontribusi keahlian mereka. Sebutlah mereka sebagai kaum puritan elitis. Kaum yang menempatkan ilmu di atas segala-galanya. Membawahi kebenaran itu sendiri. Ilmu berada di puncak singgasananya. Hanya tinggal direngkuh dan diterapkan saja. Tak ada hubungan antara ilmu dengan pembelaan posisi dan kekuasaan seseorang, entah itu raja, gubernur, presiden, maupun ketua partai berlambang sapi jantan. Secara teoretis begitu gampang. Tapi di situlah sudut berkelit yang maha menarik. Dengan menjadikan ilmu sebagai landasan, maka posisi keberpihakan dan penjilatan kepada pengusaha menjadi terhaluskan. Bahkan unsur legitimasi tidak bisa lagi dibedakan dengan unsur hegemoni. Ilmuwan dalam posisi ini telah dimanjakan dengan proyek dan kehidupan lengkap duniawi. Mereka digaji tinggi. Dicukupi kebutuhan itu dan ini. Fungsi kritis dan hati nurani menjadi mati. Pikiran sederhana mendukung itu : “ketimbang bersusah susah berbeda dengan penguasa, menimbulkan kegetiran dan penderitaan, mengapa tidak dukung dan kuatkan kekuasaan pemerintahan ?” sambil tersenyum merasa menang, “Toh kita-kita tetap diuntungkan,”.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Ilmuwan memang telah terbeli di sepanjang zaman. Tak perlu lagi kita ragukan. Hanya tinggal memilih : mau menjadi ilmuwan yang dimanfaatkan, atau mau menjadi penguasa yang memanfaatkan tenaga dan pikiran ilmuwan. Simpel khan ? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-3314665039261714188?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/3314665039261714188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=3314665039261714188' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/3314665039261714188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/3314665039261714188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/05/ilmuwan-dan-penguasa-relasi-pemanfaatan.html' title='Ilmuwan dan Penguasa : Relasi Pemanfaatan ?'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-7067436510871259886</id><published>2009-05-16T04:59:00.001-07:00</published><updated>2009-05-16T05:04:34.159-07:00</updated><title type='text'>APA KATA BERNARD PODUSKA TENTANG KEPRIBADIAN ?</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Membaca tentang teori-teori kepribadian memang menarik. Paling tidak ini membuat kita bisa intropeksi diri, lewat upaya komfarasi teori-teori kepribadian dan mulai menempatkan diri kita cenderung berada di titik mana. Salah satu buku tentang kepribadian yang aku ulang lagi membacanya hari ini adalah buku &lt;em&gt;&lt;strong&gt;“Empat Teori Kepribadian”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; karya Bernard Poduska &amp;amp; R. Turman Sirait. Buku yang sudah dicetak empat kali (1990, 1997, 2000, 2002) diterbitkan oleh Restu Agung, Jakarta. Paling tidak beberapa waktu terakhir ini aku berusaha menyeimbangkan sumber buku (terutama penerbit) yang aku beli. Beberapa kali ada penerbit yang nampaknya kurang bertanggung jawab ketika berani menerbitkan buku yang terjemahannya sendiri masih “amburadul” (nah kalo ini ingat ama lagu Ruth Sahanaya yang nemenin tiap malam saat bikin resume buku !) akhirnya malah bikin pusing ketika membacanya. Jadi ada kalanya membeli buku terbitan Jakarta, dan ada kalanya juga membeli buku terbitan Yogyakarta, Bandung, dan Solo. Setiap kota membawa implikasi harga buku yang berbeda, karena discount yang berbeda … terus karena discount yang berbeda .. heyyy .. kok malah ngomongin tentang harga ya ……. kapan bicara isi bukunya ?&lt;br /&gt;“ he . he. He.. sabar … man..”&lt;br /&gt;“Jangan terburu-buru….!” Ini baru sebangsa preface atas sebuah buku yang menurutku layak untuk dibeli dan dibaca karena gaya populernya.  Gaya populer ??  nah ini dia kehebatan Poduska dan Sirait. Mereka menawarkan empat teori (sebenarnya perspektif atau konsepsi) tentang diri manusia. Keempat perspektif itu adalah : Eksistensialis, Behavioris, Psikoanalitik, dan Aktualisasi Diri.  Pembicaraan secara teoritis atas empat konsepsi itu sebenarnya sangat njelimet, kompleks, dan butuh bacaan banyak&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8266645081495971099#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. Tapi disinilah hebatnya Poduska dan Sirait ini. Mereka nampaknya tidak mau terjebak pada penuturan teori-teori dasar yang kompleks. Mereka justru memberikan beragam contoh dan fenomena hidup riil sehari-hari yang mengacu dan menggambarkan implementasi dari teori-teori tersebut. Sebagai contoh : untuk menjelaskan konsep berat seperti superego, mereka mengambil gambaran kehidupan seperti berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Super ego ………. Berlaku dalam kemutlakan, hitam atau putih, benar atau salah. Selama tingkat-tingkat internalisasi dini, hati nurani anda terutama berjalan dalam suatu prinsip “semua atau tidak sama sekali”. Anda berbuat salah satu, mencurinya atau tidak mencurinya. Anda menipu atau tidak melakukannya. Anda berdusta atau tidak, sebagaimana waktu Ibu berkata kepada seorang penjaja (sales)  di depan pintu bahwa dia tidak mungkin diganggu karena mau pergi ke dokter gigi. Reaksi anak mungkin, “Hm, ibu berdusta.”  .. “Ya, tidak sesungghunya. Saya akan mengadakan janji dengan dokter gigi. Memang tidak sekarang tetapi nanti”…. “tapi itu suatu dusta, Bu. “ anak itu keluar pintu dan berseru “ Ibu bohong.. ibu bohong….” (hal. 81). Itulah superego yang ditanamkan. Dia hanya tahu hitam atau putih, benar atau salah, dan tidak pernah ada area abu-abu. Gaya bercerita seperti itu menarik karena kemampuan aplikasinya dalam kehidupan riil sehari-hari. Sepanjang buku tersebut cara bercerita yang dibangun selalu sama seperti di atas. Juga ketika mereka menjelaskan tentang kepribadian menurut perspektif Eksistensialis, Behavioris, maupun Humanistik. Namun tujuanku sebenarnya ketika mencoba menulis isi buku ini adalah guna memaparkan bagaimana kepribadian bisa tercermin dari beragam perspektif yang berbeda. Marilah kita lihat dua perspektif dulu dari empat perspektif yang ditawarkan itu. Oke .… tarik   coyyyy ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepribadian menurut Eksistensialisme&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliran yang dipopulerkan Jean Paul Sartre ini memiliki daya terobos yang luar biasa atas kemapanan sistem dan fungsionalis. Bagi Sartre dirilah yang berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kalimat pusaka dari aliran eksistensialis tentang kepribadian adalah “ Anda adalah anda karena anda menghendaki demikian”. Untuk membongkar makna kalimat itu kita harus sadar suatu prinsip bahwa lingkungan kita sama sekali tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap diri. Kita adalah seorang penafsir atau penerjemah lingkungan itu, dan sesuai dengan tafsiran kita, kita sudah memilih menjadi orang atau pribadi seperti apa keadaan kita sekarang. Dengan sudah memilih menjadi orang seperti kita sekarang, tidaklah berarti bahwa kita menghendaki menjadi yang kita pilih. Pilihan disini hanya berarti bahwa kita bertanggung jawab akan pilihan kita itu, yaitu pribadi kita sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertamakali kita mengenal aliran ini, kita mungkin melihat bahwa konsep pertanggungjawaban ini menimbulkan rasa kurang enak atau kita cenderung menolaknya, karena dengan demikian tak ada lagi kambing hitam. Tidaklah kesalahan siapapun yang membuat kita menjadi kita. Beberapa orang cenderung untuk memaafkan kegagalan mereka dalam kehidupan ini dengan mengatakan  bahwa kekurangan atau kegagalan itu karena kesalahan orang tua atau orang lain. Namun terlepas dari itu semua, yang menjadi dasar untuk mengkaji eksistensialis adalah persepsi kita terhadap lingkungan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan tidak membuat kita harus menanggapinya dalam satu cara tertentu, lingkungan itu hanya menghidangkan alternatif-alternatif yang dapat kita perhatikan atau abaikan. Kita harus bebas untuk menanggapi dunia ini sebagai dunia busuk ataupun menakjudkan, atau menanggapi dunia atau Tuhan kita sebagai murah hati, penolong, pendendam &amp;amp; tidak kenal ampun, atau hidup kita sebagai yang berharga atau tidak berharga dan penuh dosa. Kita bebas untuk memilih. Dalam kondisi tertentu sebenarnnya kita tidak memiliki kuasa memaksa dan membuat orang lain bahagia kalau dirinya memilih untuk tidak bahagia. Cerita seorang istri yang merasa tidak tahan dengan kebaikan suaminya (cerita tentang &lt;em&gt;perfectionis&lt;/em&gt; sang suami) kemudian menceraikannya, membuat bingung sang suami. Suami bermaksud membahagiakannya dengan kesempurnaan dan kemudian tidak meninggalkannya, namun ternyata sang istri memilih untuk menanggapi sebaliknya. Akhirnya kita tidak dapat membuat seseorang menjadi sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realisasi bahwa hanya kita yang dapat membuat membuat diri kita bahagia, sedih, marah, tertekan, atau sesuatu emosi lainnya, untuk pertama kali memang sukar. Kita dapat memilih untuk memepertahankan, bahwa walaupun seseorang tak dapat membuat kita merasakan sesuatu, dia (obyek)  masih dapat mempengaruhi kita. Dia tidak dapat, kecuali kita memilih untuk dipengaruhinya. Seseorang mungkin memilih untuk melakukan banyak perbuatan yang hati-hati dan dipikirkan untuk mempengaruhi reaksi emosi kita terhadapnya. Kita mungkin memilih untuk menjawabnya dengan ucapan terimakasih, atau kita bisa memilih untuk merasa salah karena kita tidak pernah berpikir melakukan perbuatan-perbuatan terencana yang timbal-balik. Ingat cerita Victor Frank ketika disiksa dan dianiaya tentara Nazi ? dia dengan tegas mengatakan bahwa dirinyalah yang berhak atas rasa sakit atau rasa nikmat yang mendera tubuhnya. Sekalipun dicambuk dan dipukuli, Frank tidak pernah mengeluh kesakitan. Tentara Jerman bengong !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepribadian dari Behaviorisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pengikut aliran behavioris lebih tertarik pada perilaku yang terjadi, dalam merubah perilaku tertentu, dan dalam meramalkan perilaku dimasa mendatang. Mereka sangat percaya bahwa “manusia adalah hasil dari sejumlah kondisi-kondisi yang mempengaruhinya !”. Kalaupun kemudian ada kesimpulan bahwa seorang bayi kelaparan, bukanlah kelaparan bayi itu yang menjadi penanda laparnya dia, namun lebih karena stimulus tangisan dari bayi tersebut. Dengan perilaku menangis itulah maka si bayi menunjukkan dirinya lapar. Jadi lingkungan kitalah yang memberikan stimulus atas segala perilaku yang akan kita tunjukkan. Pada kasus diri, orangtua, agama, dan segala sesuatu dalam lingkungan kita, semua itu bertanggung jawab, mempengaruhi bagaimana jadinya kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut behavioris tidak ada dan tetap tidak akan pernah ada kebebasan memilih. Dalam realitas behavioris, kebebasan memilih dan kebebasan menentukan tidaklah ada. Hanya hukum perangsang dan jawaban terhadap perangsang itu (the laws of stimulus dan response) yang ada. Jika kita percaya bahwa kita mempunyai kebebasan memilih, itu adalah hanya karena kita sudah dipengaruhi atau dikondisikan untuk mempercayai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat bagaimana hukum stimulus &amp;amp; respons maka Thorndike memberikan beberapa pertimbangan. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, hubungan yang anda buat antara suatu respon dan akibat-akibat dari respon itu, dapat diperkuat ataupun diperlemah oleh akibat-akibat dari respon itu. Ada konsep belajar yang dipegang oleh prinsip ini. Belajar adalah suatu perubahan dalam perbuatan atau dalam melakukan sesuatu yang berhubungan dengan beberapa pengalaman. Jika tidak ada perubahan dalam pelaksanaan atau cara melakukan itu yang dapat dilihat atau diamati, maka tidak ada hal belajar yang terjadi. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, pengikut behavioris hanya tertarik mengenai hasilnya, yaitu perubahan dalam perilaku yang menyatakan bahwa hal belajar sudah terjadi. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, perubahan dalam sering terjadinya perbuatan itu sebagai suatu indikasi hal belajar. Setiap perubahan mengenai seringnya terjadi, diukur sejak dari respon pertama. Jika seringnya perbuatan itu bertambah atau berkurang, maka sudah ada perubahan dalam perilaku, dan hal belajar sudah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting untuk dipahami adalah bahwa jika perubahan-perubahan itu tidak terjadi, maka hal belajar tidaklah terjadi. Kekuatan behaviorisme terletak dalam membuat hal belajar itu terjadi. Sebagaimana halnya dengan penerapan dari setiap kekuatan, kekuatan itu dapat disalahgunakan Namun, penerapan yang menguntungkan adalah maksud yang utama dari kebanyakan pengikut behaviorisme. Ahli-ahli behavioris sudah menerapkan teknik mereka dalam rumah sakit jiwa dengan sangat berhasil. Mereka sudah membuka atau menyingkirkan penghalang-penghalang yang sukar, dimana banyak aliran-aliran psikologi yang lain sudah menemui jalan buntu. Mereka juga sudah membuat kemajuan-kemajuan yang besar dalam perawatan anak-anak atau orang yang bermental terbelakang, dimana aliran psikologi yang lain sudah gagal. Dan mereka sudah mempengaruhi bidang-bidang teori belajar dengan dampak yang lebih besar dari yang dilakukan aliran psikologis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan dua yang lainnya ? psikoanalisis dan aktualisasi diri ? ahh kapan-kapanlah akan aku bongkar lagi. Minimal saya butuh membaca beberapa buku lain sebagai penyeimbang karena hari ini terlalu banyak membaca buku psikologi. Nampaknya bermain-main dengan si ganteng Harsa, anakku, menjadi lebih menarik untuk menghabiskan hari ini. Gitu dehh ... he he he he &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Catatan :&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8266645081495971099#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Minimal ketika menyarankan begini aku jadi ingat saat menyampaikan kuliah Psikologi Komunikasi tentang empat konsepsi itu. Aku gunakan buku Linda L. Devidoft  “Psikologi Suatu Pengantar” untuk betul-betul mengantarkan mahasiswa mengenal psikologi. Hasilnya empat konsepsi itu terlalu permukaan untuk dipelajari dari buku tersebut. Mungkin harus menelaah dan mengelaborasi lebih dalam dari setiap teori dan konsepsi ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-7067436510871259886?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/7067436510871259886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=7067436510871259886' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/7067436510871259886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/7067436510871259886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/05/apa-kata-bernard-poduska-tentang_16.html' title='APA KATA BERNARD PODUSKA TENTANG KEPRIBADIAN ?'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-5752473693641913156</id><published>2009-05-16T04:06:00.001-07:00</published><updated>2009-05-16T04:15:11.005-07:00</updated><title type='text'>APA KATA BERNARD PODUSKA TENTANG KEPRIBADIAN ?</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;Membaca tentang teori-teori kepribadian memang menarik. Paling tidak ini membuat kita bisa intropeksi diri, lewat upaya komfarasi teori-teori kepribadian dan mulai menempatkan diri kita cenderung berada di titik mana. Salah satu buku tentang kepribadian yang aku dapatkan baru-baru ini adalah buku &lt;em&gt;&lt;strong&gt;“Empat Teori Kepribadian”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; karya Bernard Poduska &amp;amp; R. Turman Sirait. Buku yang sudah dicetak empat kali (1990, 1997, 2000, 2002) diterbitkan oleh Restu Agung, Jakarta. Paling tidak beberapa waktu terakhir ini aku berusaha menyeimbangkan sumber buku (terutama penerbit) yang aku beli. Beberapa kali ada penerbit yang nampaknya kurang bertanggung jawab ketika berani menerbitkan buku yang terjemahannya sendiri masih “amburadul” (nah kalo ini ingat ama lagu jadul Ruth Sahanaya yang kadang nemenin saat bikin resume buku zaman dahulu kuliah S-1 !) akhirnya malah bikin pusing ketika membacanya. Jadi ada kalanya membeli buku terbitan Jakarta, dan ada kalanya juga membeli buku terbitan Yogyakarta, Bandung, dan Solo. Setiap kota membawa implikasi harga buku yang berbeda, karena discount yang berbeda … terus karena discount yang berbeda .. heyyy .. kok malah ngomongin tentang harga ya ……. kapan bicara isi bukunya ?&lt;br /&gt;“ he . he. He.. sabar … man..”&lt;br /&gt;“Jangan terburu-buru….!” Ini baru sebangsa &lt;em&gt;preface&lt;/em&gt; atas sebuah buku yang menurutku layak untuk dibeli dan dibaca karena gaya populernya.  Gaya populer ??  nah ini dia kehebatan Poduska dan Sirait. Mereka menawarkan empat teori (sebenarnya perspektif atau konsepsi) tentang diri manusia. Keempat perspektif itu adalah : Eksistensialis, Behavioris, Psikoanalitik, dan Aktualisasi Diri.  Pembicaraan secara teoritis atas empat konsepsi itu sebenarnya sangat njelimet, kompleks, dan butuh bacaan banyak&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8266645081495971099#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. Tapi disinilah hebatnya Poduska dan Sirait ini. Mereka nampaknya tidak mau terjebak pada penuturan teori-teori dasar yang kompleks. Mereka justru memberikan beragam contoh dan fenomena hidup riil sehari-hari yang mengacu dan menggambarkan implementasi dari teori-teori tersebut. Sebagai contoh : untuk menjelaskan konsep berat seperti superego, mereka mengambil gambaran kehidupan seperti berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Super ego ………. Berlaku dalam kemutlakan, hitam atau putih, benar atau salah. Selama tingkat-tingkat internalisasi dini, hati nurani anda terutama berjalan dalam suatu prinsip “semua atau tidak sama sekali”. Anda berbuat salah satu, mencurinya atau tidak mencurinya. Anda menipu atau tidak melakukannya. Anda berdusta atau tidak, sebagaimana waktu Ibu berkata kepada seorang penjaja (sales)  di depan pintu bahwa dia tidak mungkin diganggu karena mau pergi ke dokter gigi. Reaksi anak mungkin, “Hm, ibu berdusta.”  .. “Ya, tidak sesungghunya. Saya akan mengadakan janji dengan dokter gigi. Memang tidak sekarang tetapi nanti”…. “tapi itu suatu dusta, Bu. “ anak itu keluar pintu dan berseru “ Ibu bohong.. ibu bohong….” (hal. 81). Itulah superego yang ditanamkan. Dia hanya tahu hitam atau putih, benar atau salah, dan tidak pernah ada area abu-abu (seperti warna CD Rachel Maryam di VCD “pengintip” yang saat ini lagi marak …. He.. he… lho kok malah nyasar kesono ? sekali lagi aku mau katakan bahwa aku emang payah dan suka ngawur ... he… he….he …). Gaya bercerita seperti itu menarik karena kemampuan aplikasinya dalam kehidupan riil sehari-hari. Sepanjang buku tersebut cara bercerita yang dibangun selalu sama seperti di atas. Juga ketika mereka menjelaskan tentang kepribadian menurut perspektif Eksistensialis, Behavioris, maupun Humanistik. Namun tujuanku sebenarnya ketika mencoba menulis isi buku ini adalah guna memaparkan bagaimana kepribadian bisa tercermin dari beragam perspektif yang berbeda. Marilah kita lihat dua perspektif dulu dari empat perspektif yang ditawarkan itu. Oke .… tarik   coyyyy ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepribadian menurut Eksistensialisme&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliran yang dipopulerkan Jean Paul Sartre ini memiliki daya terobos yang luar biasa atas kemapanan sistem dan fungsionalis. Bagi Sartre dirilah yang berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kalimat pusaka dari aliran eksistensialis tentang kepribadian adalah “ Anda adalah anda karena anda menghendaki demikian”. Untuk membongkar makna kalimat itu kita harus sadar suatu prinsip bahwa lingkungan kita sama sekali tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap diri. Kita adalah seorang penafsir atau penerjemah lingkungan itu, dan sesuai dengan tafsiran kita, kita sudah memilih menjadi orang atau pribadi seperti apa keadaan kita sekarang. Dengan sudah memilih menjadi orang seperti kita sekarang, tidaklah berarti bahwa kita menghendaki menjadi yang kita pilih. Pilihan disini hanya berarti bahwa kita bertanggung jawab akan pilihan kita itu, yaitu pribadi kita sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertamakali kita mengenal aliran ini, kita mungkin melihat bahwa konsep pertanggungjawaban ini menimbulkan rasa kurang enak atau kita cenderung menolaknya, karena dengan demikian tak ada lagi kambing hitam. Tidaklah kesalahan siapapun yang membuat kita menjadi kita. Beberapa orang cenderung untuk memaafkan kegagalan mereka dalam kehidupan ini dengan mengatakan  bahwa kekurangan atau kegagalan itu karena kesalahan orang tua atau orang lain. Namun terlepas dari itu semua, yang menjadi dasar untuk mengkaji eksistensialis adalah persepsi kita terhadap lingkungan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan tidak membuat kita harus menanggapinya dalam satu cara tertentu, lingkungan itu hanya menghidangkan alternatif-alternatif yang dapat kita perhatikan atau abaikan. Kita harus bebas untuk menanggapi dunia ini sebagai dunia busuk ataupun menakjudkan, atau menanggapi dunia atau Tuhan kita sebagai murah hati, penolong, pendendam &amp;amp; tidak kenal ampun, atau hidup kita sebagai yang berharga atau tidak berharga dan penuh dosa. Kita bebas untuk memilih. Dalam kondisi tertentu sebenarnnya kita tidak memiliki kuasa memaksa dan membuat orang lain bahagia kalau dirinya memilih untuk tidak bahagia. Cerita seorang istri yang merasa tidak tahan dengan kebaikan suaminya (cerita tentang perfectionis sang suami) kemudian menceraikannya, membuat bingung sang suami. Suami bermaksud membahagiakannya dengan kesempurnaan dan kemudian tidak meninggalkannya, namun ternyata sang istri memilih untuk menanggapi sebaliknya. Akhirnya kita tidak dapat membuat seseorang menjadi sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realisasi bahwa hanya kita yang dapat membuat membuat diri kita bahagia, sedih, marah, tertekan, atau sesuatu emosi lainnya, untuk pertama kali memang sukar. Kita dapat memilih untuk memepertahankan, bahwa walaupun seseorang tak dapat membuat kita merasakan sesuatu, dia (obyek)  masih dapat mempengaruhi kita. Dia tidak dapat, kecuali kita memilih untuk dipengaruhinya. Seseorang mungkin memilih untuk melakukan banyak perbuatan yang hati-hati dan dipikirkan untuk mempengaruhi reaksi emosi kita terhadapnya. Kita mungkin memilih untuk menjawabnya dengan ucapan terimakasih, atau kita bisa memilih untuk merasa salah karena kita tidak pernah berpikir melakukan perbuatan-perbuatan terencana yang timbal-balik. Ingat cerita Victor Frank ketika disiksa dan dianiaya tentara Nazi ? dia dengan tegas mengatakan bahwa dirinyalah yang berhak atas rasa sakit atau rasa nikmat yang mendera tubuhnya. Sekalipun dicambuk dan dipukuli, Frank tidak pernah mengeluh kesakitan. Tentara Jerman bengong !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepribadian dari Behaviorisme&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pengikut aliran behavioris lebih tertarik pada perilaku yang terjadi, dalam merubah perilaku tertentu, dan dalam meramalkan perilaku dimasa mendatang. Mereka sangat percaya bahwa “manusia adalah hasil dari sejumlah kondisi-kondisi yang mempengaruhinya !”. Kalaupun kemudian ada kesimpulan bahwa seorang bayi kelaparan, bukanlah kelaparan bayi itu yang menjadi penanda laparnya dia, namun lebih karena stimulus tangisan dari bayi tersebut. Dengan perilaku menangis itulah maka si bayi menunjukkan dirinya lapar. Jadi lingkungan kitalah yang memberikan stimulus atas segala perilaku yang akan kita tunjukkan. Pada kasus diri, orangtua, agama, dan segala sesuatu dalam lingkungan kita, semua itu bertanggung jawab, mempengaruhi bagaimana jadinya kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut behavioris tidak ada dan tetap tidak akan pernah ada kebebasan memilih. Dalam realitas behavioris, kebebasan memilih dan kebebasan menentukan tidaklah ada. Hanya hukum perangsang dan jawaban terhadap perangsang itu (the laws of stimulus dan response) yang ada. Jika kita percaya bahwa kita mempunyai kebebasan memilih, itu adalah hanya karena kita sudah dipengaruhi atau dikondisikan untuk mempercayai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat bagaimana hukum stimulus &amp;amp; respons maka Thorndike memberikan beberapa pertimbangan. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, hubungan yang anda buat antara suatu respon dan akibat-akibat dari respon itu, dapat diperkuat ataupun diperlemah oleh akibat-akibat dari respon itu. Ada konsep belajar yang dipegang oleh prinsip ini. Belajar adalah suatu perubahan dalam perbuatan atau dalam melakukan sesuatu yang berhubungan dengan beberapa pengalaman. Jika tidak ada perubahan dalam pelaksanaan atau cara melakukan itu yang dapat dilihat atau diamati, maka tidak ada hal belajar yang terjadi. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, pengikut behavioris hanya tertarik mengenai hasilnya, yaitu perubahan dalam perilaku yang menyatakan bahwa hal belajar sudah terjadi. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, perubahan dalam sering terjadinya perbuatan itu sebagai suatu indikasi hal belajar. Setiap perubahan mengenai seringnya terjadi, diukur sejak dari respon pertama. Jika seringnya perbuatan itu bertambah atau berkurang, maka sudah ada perubahan dalam perilaku, dan hal belajar sudah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting untuk dipahami adalah bahwa jika perubahan-perubahan itu tidak terjadi, maka hal belajar tidaklah terjadi. Kekuatan behaviorisme terletak dalam membuat hal belajar itu terjadi. Sebagaimana halnya dengan penerapan dari setiap kekuatan, kekuatan itu dapat disalahgunakan Namun, penerapan yang menguntungkan adalah maksud yang utama dari kebanyakan pengikut behaviorisme. Ahli-ahli behavioris sudah menerapkan teknik mereka dalam rumah sakit jiwa dengan sangat berhasil. Mereka sudah membuka atau menyingkirkan penghalang-penghalang yang sukar, dimana banyak aliran-aliran psikologi yang lain sudah menemui jalan buntu. Mereka juga sudah membuat kemajuan-kemajuan yang besar dalam perawatan anak-anak atau orang yang bermental terbelakang, dimana aliran psikologi yang lain sudah gagal. Dan mereka sudah mempengaruhi bidang-bidang teori belajar dengan dampak yang lebih besar dari yang dilakukan aliran psikologis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan dua yang lainnya ? psikoanalisis dan aktualisasi diri ? ahh kapan-kapanlah akan saya bongkar lagi. Minimal saya butuh membaca beberapa buku lain sebagai penyeimbang karena hari ini terlalu banyak membaca buku psikologi. Nampaknya bermain-main dengan si ganteng Harsa, anakku, menjadi lebih menarik untuk menghabiskan hari ini. Gitu dehh ... he he he he &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Catatan :&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8266645081495971099#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Minimal ketika menyarankan begini aku jadi ingat saat menyampaikan kuliah Psikologi Komunikasi tentang empat konsepsi itu. Aku gunakan buku Linda L. Devidoft  “Psikologi Suatu Pengantar” untuk betul-betul mengantarkan mahasiswa mengenal psikologi. Hasilnya empat konsepsi itu terlalu permukaan untuk dipelajari dari buku tersebut. Mungkin harus menelaah dan mengelaborasi lebih dalam dari setiap teori dan konsepsi ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266645081495971099-5752473693641913156?l=hanharsa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hanharsa.blogspot.com/feeds/5752473693641913156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266645081495971099&amp;postID=5752473693641913156' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/5752473693641913156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266645081495971099/posts/default/5752473693641913156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hanharsa.blogspot.com/2009/05/apa-kata-bernard-poduska-tentang.html' title='APA KATA BERNARD PODUSKA TENTANG KEPRIBADIAN ?'/><author><name>HanHarsa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00241065017358336737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_vnE2bd2NLHI/STQH2SpflBI/AAAAAAAAACk/R92vz3JXwFo/S220/sulhan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266645081495971099.post-7972184210767012840</id><published>2009-05-02T02:03:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T02:23:04.321-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blind&apos;s Communication'/><title type='text'>Nonton Film, Siapa Takut ?</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Implikasi Film Sebagai Media Massa&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;“Hollywood movies .... rather than&lt;br /&gt;serving your socialization need,&lt;br /&gt;They are probably serving some of your social need”&lt;br /&gt;-Samuel L. Becker-&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dunia perfilman Indonesia saat ini dinilai banyak pihak telah mengalami fase kebangkitan dan kegairahan yang sangat menarik. Betapa tidak, jika pada tahun 2007 lalu, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mengeluarkan 77 izin produksi film dengan 55 film yang baru disensor, menjelang tutup tahun 2008, mereka sudah mengeluarkan izin produksi sebanyak hampir 200 judul film. Sebuah angka produksi yang fantastis untuk ukuran negara yang lagi krisis dihantam berbagai masalah pelik politik, ekonomi, sosial budaya, dan menjelang pemilihan presiden (yang ini agak diragukan relasinya). Di satu sisi kita mungkin layak berbangga dengan prestasi kuantitas itu. Sementara dari sudut kualitas, eforia Ayat-Ayat Cinta dan hiruk pikuknya Laskar Pelangi membuktikan sisi kualitas yang tak bisa dianggap remeh. Namun seberapa jauh sebenarnya film memberikan kontribusi atas kehidupan sosial, politik, ekonomi ? apakah dia sedemikian penting sehingga dianggap memiliki relasi kuat dengan terbentuknya budaya atau bahkan karakter moral sebuah bangsa ? bagaimanakah sebenarnya pengaruh film sebagai sebuah media komunikasi massa ? Lembar-lembar berikut ini mencoba menelusuri seberapa besar pengaruh film bagi struktur kognitif, afektif, bahkan perilaku audiens. Saya akan urai dari fenomena relasi film bernuansa religius di Amerika dan Indonesia, selepas itu akan coba dipaparkan bagaimana film sebagai sebuah media dalam komunikasi massa dengan segala implikasinya lewat analisis efek media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Film dan Religiusitas : Keyakinan yang Diperdagangkan ?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kejadian menarik yang diceritakan oleh C. Marvin Pate &amp;amp; Sheryl L. Pate (2007) saat mereka berniat menonton film &lt;em&gt;The Passion of the Christ&lt;/em&gt; karya Mel Gibson pada paruh kedua bulan Maret 2004. Pate menceritakan bahwa ketika mereka tiba di bioskop lebih awal satu setengah jam sebelum giliran pemutaran film berikutnya, mereka terkejut melihat tempat parkir yang luas telah penuh dengan mobil-mobil yang diparkir di sepanjang jalan menuju jalan utama.  Tak lama kemudian, orang-orang mulai mengalir ke luar dari gedung bioskop. Tak ada yang berbicara. Para pelanggan bioskop itu berjalan santai dari gedung bioskop seperti kebanyakan penonton film setelah menonton film. Mereka berjalan lesu dan kelihatannya asyik dengan pikiran mereka sendiri. Beberapa di antaranya menyeka mata mereka dengan kertas tisu ketika mereka berjalan melewati mobil Pate. Sementara itu, beberapa penonton lainnya berjalan dengan wajah serius, kelihatan merenung atau bahkan terguncang. Perbedaan menyolok dengan emosi yang biasa ditunjukkan oleh penonton film-film lainnya berlanjut sampai ke jalan keluar dari tempat parkir. Tidak ada konfrontasi sedikitpun walau kira-kira tiga ribu orang semuanya berusaha untuk mengeluarkan mobilnya ke luar secara bersamaan. Para pengendara mobil tidak membunyikan klakson dengan kasar. Tidak ada tanda-tanda ketidaksabaran di wajah mereka. Sebaliknya mereka saling mengalah, kesabaran dan sopan santun merebak dalam cara yang tidak pernah Pate &amp;amp; Pate saksikan sebelumnya. “Kami melihat satu reaksi kepada Yesus pada hari itu !” simpul mereka berdua. Itu di Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belahan dunia lain, pertengahan Maret 2008, empat tahun kemudian. Tepatnya di Cilegon, Banten. Serombongan ibu majelis Ta’lim bersepakat menyewa angkutan kota. Bukan pergi ke masjid tempat biasa mereka menghadiri pengajian bersama-sama. Mereka dengan kerudung masing-masing beramai-ramai mendatangi studio 21 di kotanya. Merelakan jam pengajian di surau dan mushola mereka digantikan dengan acara nonton bersama film &lt;em&gt;Ayat-Ayat Cinta&lt;/em&gt;. Film besutan Hanung Bramantyo yang menghadirkan fenomena relasi cinta tidak biasa. Percintaan yang dirajut dengan nuansa kental keagamaan.  Fenomena sama juga terjadi saat orang rapi berjejer antri untuk mendapatkan karcis. Terkadang harus merelakan menonton tidak sesuai dengan jadwal yang sudah dirancang dari rumah. Maksud hati nonton jam 11.00 ternyata dapat tiket pertunjukan jam 15.30 WIB. Hasil dari menontonnya pun ternyata menghadirkan fenomena kurang lebih sama. Rata-rata sekeluar dari bioskop, mereka masih menyeka mata. Di angkutan kota, ibu-ibu tadi masih saja asyik menceritakan adegan demi adegan yang membuat hati mereka tersentuh. Di Ibu kota negara ini, para pejabat sibuk mengalokasikan waktunya untuk sekadar duduk menyaksikan &lt;em&gt;Ayat-Ayat Cinta&lt;/em&gt;. Presiden, mantan presiden, para menteri, juga segenap jajarannya ikut larut dalam hipnotis cinta yang dibalut nuansa Islam di film ini. Hasilnya film itu menghasilkan satu fenomena serupa bagi penontonnya : menitikkan air mata ! “Film ini memperlihatkan wajah Islam yang ramah dan toleran,” kata mantan presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. Itu di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua setting cerita di atas paling tidak menunjukkan bahwa ada sebuah kekuatan besar yang hadir ketika orang datang dan bersedia duduk diam dikegelapan bioskop. Menatap layar putih dengan ribuan gambar berjalan teratur. Tidak hanya di Amerika, di seluruh belahan dunia film sebagai sebuah wujud nyata komunikasi massa telah menciptakan sihir yang mampu menghipnotis audiens-nya masuk ke dalam jaring rangkaian ceritanya. Kondisinya tentu tidak sama dengan apa yang terjadi dua abad silam. Saat mana film masih hanya merupakan gambar hitam putih tanpa suara (Jowett &amp;amp; Linton, 1980; Monaco, 1981; Becker, 1987; Price, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan  kemampuannya untuk mengemas setting religius dalam bentuk cerita yang runtut, film biasanya menjadi ajang kontroversi tersendiri yang menarik untuk diikuti. Relasi film dengan agama menghadirkan dua titik ekstrem seiring dengan penolakan dan penerimaan manusia. Penolakan atas agama dan penerimaan penuh atas ajaran agama. Beberapa diantaranya selalu terkait dengan novel yang meledak untuk kemudian difilmkan. &lt;em&gt;Da Vinci Code&lt;/em&gt; salah satunya. Film yang berasal dari novel laris Dan Brown ini laris karena kontroversi yang ditimbulkannya. Bagi umat Katolik karya ini merupakan sebuah fiksi dan film yang paling menggemaskan. Bahkan pada tingkat yang lebih tinggi, dia akan menggoncangkan keimanan dan keyakinan mereka yang lemah. Novel Brown ini menarasikan gagasan yang menggerus arus utama teologi kekristenan. Banyak hal yang mapan dalam realitas keagamaan yang dipertanyakan kembali dan dikonstruksi ulang oleh novel tersebut. Sebagai buah dari kontroversinya, novel tersebut sukses luar biasa. Terjual lebih dari 40 juta kopi di seluruh dunia. Inilah yang menggoda sosok setiap produser untuk mengangkat cerita novel itu ke layar lebar. Hasilnya tak kurang tak lebih . &lt;em&gt;Da vinci Code&lt;/em&gt; mampu membekukan pendapatan lebih dari US$ 750 juta dari hasil penjualan tiket di seluruh dunia. Agama memang selalu kontroversi apabila disajikan sebagai sebuah budaya populer. Hal ini telah dipraktekkan sejak lama di Amerika. Kemampuan sineas Hollywood untuk mengangkat sosok Yesus dalam berbagai film membuat implikasi keuntungan finansial yang cukup menggiurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yesus dan Narasi Religius dalam Film&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Semangat epik dan rohani dalam film Hollywood sebagian besar diwarnai oleh ruh biblikal Kristiani. Hal tersebut mengingat 83 persen masyarakat Amerika adalah pemeluk iman Kristiani, dimana sosok Yesus adalah figur sentralnya. Tentunya kenyataan demografi ini sungguh menguntungkan bagi pasaran produk film epik rohani yang memasang Yesus Kristus atau Jesus Christ sebagai ikon utama. Film-film dengan tema Yesus sendiri dibuat pertama kali pada tahun 1898, empat tahun setelah karya film pertama dibuat oleh Thomas Alva Edison dengan judul &lt;em&gt;Fred Ott’s Sneeze&lt;/em&gt; (1894, judul copyrightnya Record of a Sneeze). Adele Reinhartz (Cunningham, Phillip A., et. al, 2004) menyebut judul &lt;em&gt;The Passion Play at Oberammergau&lt;/em&gt; sebagai judul film bertema Yesus yang pertama kali dibuat. Sumber lain menyebutkan &lt;em&gt;Jésus devant Pilate&lt;/em&gt; (1898) karya Alice Guy adalah yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tema ini menjadi dianggap sentral maka cukup signifikan jika Adele Reinhartz (Cunningham, Phillip A., et. al, 2004) menjadikan film-film sejenis dikategorisasikan dalam sebuah genre yang ia sebut sebagai Jesus Film Genre atau genre film Yesus. Film bergenre Yesus ini sebagian besar bercerita tentang babakan kehidupan Yesus; Lahir, Masa Kecil, Masa Berkarya (khotbah di atas bukit dan pengajaran), memasuki Yerusalem, Perjamuan Kudus (Last Supper),  Pengkhianatan Yudas, Penangkapan dan Pengadilan Yesus, Kematian Yesus,  Kebangkitan Yesus dan Naiknya Yesus ke Surga. Kisah Yesus, terutama pada bagian kesengsaraan (&lt;em&gt;The Passion&lt;/em&gt;), memiliki syarat untuk menjadi sebuah genre karena memiliki kekuatan pada karakter, dan plot yang berisi dengan suspense dan ketegangan jika mengacu pada pemikiran Aristoteles tentang tragedi. Dalam sejarah panjang perfilman Amerika, nampaknya film religius selalu latah untuk mengemas sosok Yesus dalam berbagai rangkai episode hidupnya. Hasilnya, sebuah kekuatan keimanan seperti yang digambarkan Pate &amp;amp; Pate di awal tulisan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Narasi Religius di Layar Lebar Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bila di Amerika sosok Yesus menjadi ikon menarik untuk selalu diangkat ke layar lebar, di Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim tidak otomatis mengangkat Nabi Muhammad SAW sebagai ikon pula dalam film-film religius (itu tidak mungkin ! Nabi SAW tidak boleh digambarkan wujud fisiknya). Narasi Islam di sinema Indonesia dimunculkan dalam sosok-sosok lagenda Islam dari berbagai penjuru nusantara. Dengan penceritaan unik, pada tahun 1984 film Sunan Kalijaga dianggap sebagai film terlaris kedua dengan jumlah penonton 575.631 orang. Film yang menceritakan kehidupan ala “Robin Hood” zaman Majapahit itu memiliki narasi babakan kehidupan Raden Mas Said sebagai putera Temenggung Wilarikta. Sejak dia ramaja, memutuskan menjadi perampok, berguru pada Sunan Bonang, dan menjalani kehidupan sebagai seorang sunan. Rangkaian adegan oposisi biner “hitam putih” menghiasi film tersebut. Banyak kemudian penonton Indonesia yang tahun-tahun itu tergerak hatinya untuk membantu kaum fakir dan mendermakan sebagian hartanya untuk orang miskin. Kekuatan film itu diceritakan tidak hanya sebatas jumlah penontonnya yang banyak (untuk ukuran waktu itu), namun telah menggerakkan orang untuk saling membantu satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tahun 1900-an film religius benar-benar menghilang dari pasaran karena kuatnya genre film seks dan &lt;em&gt;action&lt;/em&gt;, maka tahun 2000-an dianggap banyak kalangan sebagai kebangkitan kedua film religius Indonesia. Ditandai dengan suksesnya &lt;em&gt;Ayat-Ayat Cinta&lt;/em&gt;, berturut-turut kemudian hadir &lt;em&gt;Kun Fayakun, Ketika Cinta Bertasbih, Doa yang Mengancam, 3 Doa 3 Cinta,&lt;/em&gt; dan terakhir &lt;em&gt;Perempuan Berkalung Surban. &lt;/em&gt;Film-film inilah yang kemudian membawa genre religius semakin kuat sebagai &lt;em&gt;setting&lt;/em&gt; cerita. Terlepas dari kontroversi tentang kualitas filmnya, sebuah harapan baru muncul seperti halnya yang dikatakan produser &lt;em&gt;Kun Fayakun&lt;/em&gt;, Yusuf Mansyur bahwa film religius akan memberikan kekuatan keimanan pada setiap orang yang menontonnya. Benarkah demikian ? tentu tidak gampang untuk menjawabnya. Saat kita melihat film dalam wujud sebagai media massa, maka kita akan menerapkan hukum efek media untuk mendiskusikan tentang seberapa besar efek film tersebut memasuki ruang hidup bermasyarakat, berbudaya, dan beragama audiens Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengaruh Film, Siapa Takut !&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Henry Ford, sang konglomerat pemilik pabrik dan perusahaan mobil Ford telah memperingatkan akan betapa kuatnya propaganda Yahudi dengan menggunakan film sebagai medianya  (Shafa Taj, 2007).  Jauh sebelum itu, sosok Lenin sangat memperhatikan akan pengaruh maksimal dari media layar lebar tersebut sebagai alat politis propaganda (Tjasmadi, 2008). Kita bisa menyebut lagi beberapa tokoh besar dunia yang sangat was-was dan paham betul dengan kekuatan film : Soekarno, Hitler, Mussolini, dan Eisenhower. Bagi Monaco (1981)  film sebagai sebuah media tidak hanya semata-mata dilihat sebagai perangkat seni dan karya impresif dari seorang sutradara dan produser. Film dalam sejarah hidupnya telah dipakai sebagai sebuah instrumen dahsyat mengarahkan pikiran, sikap, dan perilaku audiens. Sebuah penelitian tentang sikap dan semangat pertempuran tentara Amerika saat perang dunia II menjadikan film sebagai elemen kunci menstimulus reaksi mereka. Film &lt;em&gt;Mr. Biggot&lt;/em&gt; yang diputar dengan pola satu sisi (&lt;em&gt;one side&lt;/em&gt;) telah membakar semangat tentara Amerika untuk berperang membela kepentingan sekutu, dan memenangkan perang itu (Rogers,1990).&lt;br /&gt;&lt;br
